Terima kasih atas info dari Sdri. Masalah sejarah memang kita tidak perlu kita lupakan karena itu sekarang bagaimana saran dari anda solusinya, kita mau tahun. saya sebagai pemabca tidak hanya itu saja yang kita kenang-kenang. jika kita tidak mulai kapan lagi mohon solusinya. terima kasih
----- Original Message -----
From: Titik
Sent: Friday, April 19, 2002 6:15 AM
Subject: Re: [RantauNet] GLOBALISASI ORANG MINANG (Indra piliang-Detikcom)

Asslamu'alaikum wr. wb,
 
Tulisan sanak IJP ko iyo rancak dan paralu diinokkan.
Apo kini sistim nagari alah bajalan di minang, tolong di infokan bagi nan tahu.
Salam
SBN
----- Original Message -----
From: "uda yoel" <[EMAIL PROTECTED]>
> Iko tulisan sanak kito indrapiliang di detikcom

Sekalipun pernah mendapatkan sebutan sebagai propinsi paling maju dalam pembangunan, dalam Pelita III dan IV Orde Baru, hingga mendapatkan Parasamya Purnakarya Nugraha, ternyata lindasan ideologi developmentalisme represif Orde Baru yang berhimpitan dengan kapitalisme global yang masuk ke ruang-ruang pribadi penduduk  telah menimbulkan implikasi luar biasa. Terkumpulnya lebih dari 10 ribu masyarakat ketika mendesakkan Maklumat 21 November itu, sungguh mencengangkan,
karena belum pernah terjadisebelumnya. 
 
Saya tak akan membahas khusus masalah ini. Saya hanya ingin mencoba berefleksi, atas sejarah orang Minang, dalam konteks yang lebih luas, serta "pengaruh" kebijakan Jakarta atas mereka. Untuk itu, menarik juga mengikuti perhelatan dua hari, Jum'at dan Sabtu (21-22 September 2001), 40 orang anggota Panitia Ad Hoc II  Badan Pekerja MPR. Mereka mengadakan seminar dan lokakarya tentang budaya Minang di Bukittinggi. Kota yang pernah menjadi ibukota negara RI selama Pemerintahan Darurat RI itu, kembali dijadikan sebagai  tempat pencarian tatanan kehidupan kebangsaan kedepan ditengah situasi "darurat" berupa krisis kebudayaan yang dihadapi bangsa ini.
Upaya itu tentulah menarik, di tengah sedikitnya pembicaraan sekitar reformasi dan reformulasi kebudayaan nasional kita. Hampir seluruh agenda reformasi, termasuk yang dituntut mahasiswa, terhubung dengan agenda-agenda politik dan ekonomi.
Tentu kita bertanya, kenapa harus Minang? Tanpa  bermaksud untuk "mencermati" apa yang terjadi di Bukittinggi sana, penulis menghubungkan kebudayaan  Minang itu dengan dua agenda besar bangsa ini: transisi demokrasi dan sekaligus globalisasi dunia menyangkut keikut-sertaan Indonesia dalam AFTA tahun  2003, dan APEC tahun 2020. Kesiapan menghadapi dua hal  ini, sangat terkait dengan kebudayaan atau mentalitas bangsa Indonesia, karena bisa saja transisi mengalami setback kearah rezim otoritarian, apabila kebudayaan yang menopang masyarakat Indonesia belum sepenuhnya  demokratis.
Rezim otoritarian itu bukan hanya sebagai bentuk pemerintahan, yang bersandar kepada budaya feodal, melainkan telah berubah menjadi rezim pikiran. Dalam pemikiran Islam, misalnya, tanah Jawa sendiri sudah mengalami berbagai bentuk pemikiran alternatif - seperti komunitas Islam Liberal yang sekarang bermarkas di Utan Kayu --, sedangkan Minang justru  terbelit dengan feodalisme akibat sedikitnya kontribusinya kedalam komunitas majemuk Indonesia. Hal terakhir ini ditunjukkan dengan Rencana Perda
Pemberantasan Maksiat (Pekat). 
Biografi Orang Minang 
Padahal, apabila kita melirik catatan-catatan sejarah, biografi orang Minang dikenal sebagai kontributor > utama kalangan intelektual, negarawan, dan agamawan  Indonesia. Basis filosofis yang dibangunpun beragam,  mulai dari Marxisme, Komunisme, Sosialisme,  Nasionalisme, Islamisme, dan Liberalisme.  Masing-masingnya terhubung dengan anak-anak Minang  generasi pertama abad 20, antara lain Agus Salim, Tan  Malaka, Mohammad Hatta, Nasir Sutan Pamuncak, Rasuna  Said, Rahmah el Yunusiah, Rohana Kudus, Muhammad  Yamin, Sutan Syahrir sampai Chaerul Saleh, Chairil  Anwar, AA Navis, dan HAMKA. Biografi individu-individu  itu menjadi menarik untuk disimak, sebagai gambaran  betapa demokrasi telah menemukan alamnya di ranah  Minang dan tertanam dalam diri masyarakatnya.   Sebagai komponen masyarakat Minang, ternyata kemudian  individu-individu itu menyangga banyak sekali pemikiran moderen di zamannya. Pengejawantahan dari  masing-masing pemikiran itu juga tak bersifat mutlak,  bahkan siap untuk didialogkan dan diterapkan secara  sangat ketat, tanpa harus melanggar kebebasan orang  lain. Apabila biografi sebagian besar suku bangsa  lainnya di Indonesia terlihat seperti monografi,  karena kulturnya yang homogen, biografi orang Minang  justru sangat heterografi. Unsur heterogen begitu  menonjol, bahkan tanpa segan-segan untuk  mempertentangkannya di muka umum.
Pada dasarnya, generasi itulah yang langsung menjadi perantara dari pemikiran-pemikiran terbaru di dunia Barat dan Timur ke Indonesia. Tetapi kemudian, dalam  perjalanannya, ketika terjadi character assasination  terhadap orang-orang Minang pasca PRRI, biografi  orang-orang Minang mengalami kegoncangan. Saat itu,  sebagian nama-nama orang Minang yang mengambil dari  bahasa Arab atau ayat-ayat dalam Al Qur'an, digantikan  dengan nama-nama asing, mulai bahasa Inggris, sampai
Sanskerta, bahkan Jawa (seperti nama Irwan Prayitno  yang keluarganya merupakan aktifis PRRI). Ketika
keluarga Kennedy begitu populernya di USA akhir tahun  1950-an sampai awal 1960-an (pasca PRRI), di Minang  lahir bayi-bayi yang mengambil mentah-mentah nama  keluarga Kennedy, bahkan nama baptisnya "F". Memang,  ketika nama Saddam Husein muncul ke permukaan dalam  Perang melawan pasukan multi nasional, bayi-bayi di  Minang juga kemudian banyak yang mengambil nama dari  penguasa Irak itu.   Intervensi biografi orang Minang paling hebat terjadi  selama Javanese Autocracy (istilah yang dilansir oleh  FEER edisi Agustus 2001). Demokrasi menjadi kehilangan  bentuknya, ketika sistem pemerintahan nagari  digantikan dengan model-model desa di Jawa. Fungsi  niniak mamak, urang sumando, ulama, bundo kanduang dan  cerdik cendekia serta pemuda, yang biasanya ketika  menyelesaikan perkara berada dalam status yang  sejajar, menjadi hilang dan hanya bersifat seremonial  dalam upacara perkawinan.  Begitu juga fungsi "tigo tungku sajarangan" (istilah  yang bermuara kepada pemikiran Trias Politika),  kehilangan basis sosialnya, mengingat dominannya  peranan pemerintahan pusat akibat sentralisasi  kekuasaan. Dari pintu birokrasi daerah yang harus  menjalankan fungsi sabdo pandito ratu kepada  pemerintahan pusat inilah, masuk feodalisme tanah  Jawa, yang di Jawa sendiri mulai ditinggalkan. Ranah  Minang akhirnya disibukkan dengan usaha memproduksi  kaum birokrat, sebagaimana tercatat dalam komposisi  Kabinet Pembangunan Orde Baru yang pernah didominasi  orang-orang sipil dari Minang. Demokrasi mengalami  mati suri, di tanahnya yang paling subur.
Perantau dan Globalisasi
Tradisi merantau kemudian hanya menjadi kegiatan ekonomi, bukan lagi kegiatan intelektual. Padahal  generasi pertama awal abad ke-20 menggunakan  perantauan sebagai sarana untuk menimba ilmu  pengetahuan, sekalipun harus hidup miskin, seperti  ditempuh Chairil Anwar, Tan Malaka, atau Agus Salim.
Kesadaran menggunakan budaya Minang sebagai local genius untuk melakukan filterisasi kebudayaan lainnya  diluar ranah Minang, dibentuk oleh seperangkat  nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil. Bahkan ketika  terjadi lompatan pemikiran yang tak dikenal di  masyarakat Minang, katakanlah komunisme, tetap saja  basis sosialnya dikembalikan ke sistem masyarakat Minang.
Tan Malaka, dalam bukunya Madilog, sangat menonjolkan kecintaan kepada ibunya, sebagai bentuk ketundukan atas garis matrilineal, dan juga tak melakukan pendiskreditan agama Islam yang disebutnya
sebagai agama rasional.
Dalam abad ke 18 dan 19, memang kota-kota pantai di  Minang sudah menjadi kota kosmopolitan untuk ukuran  zamannya. Di kota kelahiran saya, Pariaman, sampai  sekarang masih terdapat bangunan dan makam orang-orang Cina, sekalipun sekarang tak ada lagi seorangpun orang  Cina tinggal disana akibat pembantaian yang dilakukan pada tahun 1940-an (versi dari peristiwa ini pernah  penulis jadikan sebagai rencana skripsi). Kaum  "keling" (keturunan India beragama Islam) juga masih  ada di Pariaman dan menguasai sejumlah sektor  perdagangan, selain keturunan Arab.
Upacara Tabut, yang kalau ditelusuri terhubung dengan  riwayat kematian Hasan dan Husein, putra Ali bin Abi  Thalib, sebetulnya bisa dikatakan sebagai bagian dari  "budaya" kaum Syiah - sebagaimana ditemukan di  Pakistan - tetapi proses akulturasi membuat upacara  itu dilakukan oleh penganut Ahlul Sunnah Wal Jamaah.
Belum lagi kunjungan berbagai kaum muslimin dari  daerah lain ke makam Syeh Burhanuddin, seorang ulama besar yang berasal dari Aceh.  Minang memang tercatat sebagai daerah Sumatera kedua,  setelah Aceh, sebagai tempat berlabuhnya pedagang dan  ulama-ulama Muslim dari Gujarat.  Kota-kota pantai itulah yang melahirkan kultur pesisiran (maritim/perdagangan) sebagai miniatur awal  dari embrio demokrasi di Minang, dan berhadapan secara  kontras dengan kultur pedalaman (petani) di  kerajaan-kerajaan Jawa. Daerah pesisir itu juga yang  menjadi daerah rantau pertama bagi orang-orang Minang  yang berasal dari "darek", daerah pedalaman Minang,  seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Padang Panjang dan 50  Kota. Tetapi kemudian, daerah rantau itu juga yang  paling cepat berubah, sementara daerah-daerah "darek"  makin mengental nilai-nilai keagamaannya.  Ketika Islam pindah ke "darek" dari "rantau", wajah Islam menjadi puritan, sekalipun tidak mengalami  sinkretisme seperti yang dikenal di tanah Jawa. Sedangkan daerah pesisiran menjadi tempat yang paling  terpengaruh oleh sekularisme.   Itulah sebabnya, globalisasi bukan lagi menjadi  persoalan aneh, apabila dilihat dari perjalanan  panjang kebudayaan Minang. Untuk ekstrimnya saja,  bahkan raja orang Minang (Adityawarman) merupakan anak
raja Jawa, dengan ibu yang berasal dari negeri Campa  (India). Ibu "asing" inilah yang kemudian menjadi Bundo Kanduang, dan menurunkan garis matrilineal  kepada orang Minang, sebagaimana juga berlaku di India. Sekalipun garis matrilineal bertentangan dengan  Islam, toh tetap dipakai sampai sekarang, sebagaimana  halnya dengan tradisi "bajapuik" berupa lamaran pihak  perempuan kepada pihak laki-laki, terutama di Pariaman (tidak semua orang Minang menganutnya). Dengan ukuran  itu, sebetulnya orang Minang tak berpatokan kepada  garis sejarah yang bersifat linear. Gustaf Sakai,  dalam novelnya Tambo, telah dengan sangat jelas  mengungkapkan itu dengan nada satire. Dengan begitu,  orang Minang tak melihat orang, tetapi apa kontribusi  orang itu, sebelum "ditundukkan" oleh feodalisme yang  dipaksakan oleh rezim Orba. Individualisme, sebagai  satu ciri masyarakat moderen, telah tertanam dalam  riwayat orang Minang.
Indonesia
Kalau memang ada upaya menggali kebudayaan alternatif, sebagai pengganti feodalisme yang dipakai selama  Indonesia ada, memang nilai-nilai yang tertanam dalam  kebudayaan Minang menjadi satu kontributor. Tetapi  Indonesia bukan hanya Minang. Indonesia juga Bugis,  Batak, Nias, Aceh, Madura, Dayak, Ambon, Bali, Jawa,  Papua, dan etnis serta budaya lokal lainnya yang  terbentang di seluruh Nusantara. Lebih tepat lagi  kalau apa yang terjadi di Bukittinggi dibawa ke forum  yang bersifat lintas etnis, lintas budaya. Jangan  sampai ada klaim historis bahwa ada ras Arya di  Nusantara ini, mengingat klaim itu sendiri akan  membawa masalah dimasa depan. Klaim itu juga tak  sesuai dengan biografi orang Minang.
Konflik etnis yang terjadi selama beberapa tahun ini, semestinya juga tak terjadi, apabila masing-masing etnis merasa bahwa mereka mempunyai saham dalam  bangunan kebangsaan Indonesia. Yang menyebabkan  rusaknya wajah ke-Indonesia-an justru ketika  homogenisasi dan bahkan personalisasi kekuasaan  terjadi.  Ketika satu pemikiran, budaya, sistem ekonomi, atau  katakanlah ideologi, menjadi begitu dominan, justru  yang terjadi adalah penolakan diam-diam oleh yang  tidak dominan. Dengan demikian persoalan Mayoritas dan  Minoritas mestinya juga tak disuarakan lagi, mengingat  konsep itu juga abstrak ketika yang dilihat adalah  individu-individu yang menyuarakannya.  Untuk itu, alangkah sejuk dan indahnya, apabila  Indonesia menyatakan dirinya sebagai bagian dari  masyarakat dunia, sebagaimana tahun 1960-an  dikemukakan oleh kelompok Manifes Kebudayaan yang  berdiri dalam paham humanisme universal. Biografi  orang Minang yang terhubung dengan bangsa-bangsa  diluarnya, menunjukkan itu, betapa sebetulnya tak ada  yang benar-benar asli atau murni berdarah tertentu.
Bukan berarti tribalisme tidak diperlukan, justru  penghormatan terhadap hak-hak ulayat atau indigenous people mutlak dilakukan, sebagai bagian dari  penghormatan atas kemanusiaan dan diri sendiri.
Apabila memang benar nenek moyang manusia itu berasal  dari satu ayah dan satu ibu, entah itu secara genetikal merupakan keturunan dari manusia purba atau  bukan, dan entah itu berasal dari Adam dan Hawa bagi  umat beragama, buat apa kemudian manusia-manusia  Indonesia bertengkar dengan saudaranya, darah-dagingnya, sendiri? Wallahu 'Alam. @
Jakarta, November 2001

Kirim email ke