Iko tulisan sanak kito indrapiliang di detikcom
-Jakarta, November 2001 nan lalu, tapi bagi nan alun
mambaco, rancak juo kito ulang2 baliak.

 Sekalipun pernah mendapatkan sebutan sebagai propinsi
paling maju dalam pembangunan, dalam Pelita III dan IV
Orde Baru, hingga mendapatkan Parasamya Purnakarya
Nugraha, ternyata lindasan ideologi developmentalisme
represif Orde Baru yang berhimpitan dengan kapitalisme
global yang masuk ke ruang-ruang pribadi penduduk
telah menimbulkan implikasi luar biasa. Terkumpulnya
lebih dari 10 ribu masyarakat ketika mendesakkan
Maklumat 21 November itu, sungguh mencengangkan,
karena belum pernah terjadisebelumnya. 

Saya tak akan membahas khusus masalah ini. Saya hanya
ingin mencoba berefleksi, atas sejarah orang Minang,
dalam konteks yang lebih luas, serta �pengaruh�
kebijakan Jakarta atas mereka. Untuk itu, menarik juga
mengikuti perhelatan dua hari, Jum�at dan Sabtu (21-22
September 2001), 40 orang anggota Panitia Ad Hoc II
Badan Pekerja MPR. Mereka mengadakan seminar dan
lokakarya tentang budaya Minang di Bukittinggi. Kota
yang pernah menjadi ibukota negara RI selama
Pemerintahan Darurat RI itu, kembali dijadikan sebagai
tempat pencarian tatanan kehidupan kebangsaan kedepan
ditengah situasi �darurat� berupa krisis kebudayaan
yang dihadapi bangsa ini. 
Upaya itu tentulah menarik, di tengah sedikitnya
pembicaraan sekitar reformasi dan reformulasi
kebudayaan nasional kita. Hampir seluruh agenda
reformasi, termasuk yang dituntut mahasiswa, terhubung
dengan agenda-agenda politik dan ekonomi. 
Tentu kita bertanya, kenapa harus Minang? Tanpa
bermaksud untuk �mencermati� apa yang terjadi di
Bukittinggi sana, penulis menghubungkan kebudayaan
Minang itu dengan dua agenda besar bangsa ini:
transisi demokrasi dan sekaligus globalisasi dunia
menyangkut keikut-sertaan Indonesia dalam AFTA tahun
2003, dan APEC tahun 2020. Kesiapan menghadapi dua hal
ini, sangat terkait dengan kebudayaan atau mentalitas
bangsa Indonesia, karena bisa saja transisi mengalami
setback kearah rezim otoritarian, apabila kebudayaan
yang menopang masyarakat Indonesia belum sepenuhnya
demokratis. 
Rezim otoritarian itu bukan hanya sebagai bentuk
pemerintahan, yang bersandar kepada budaya feodal,
melainkan telah berubah menjadi rezim pikiran. Dalam
pemikiran Islam, misalnya, tanah Jawa sendiri sudah
mengalami berbagai bentuk pemikiran alternatif �
seperti komunitas Islam Liberal yang sekarang
bermarkas di Utan Kayu --, sedangkan Minang justru
terbelit dengan feodalisme akibat sedikitnya
kontribusinya kedalam komunitas majemuk Indonesia. Hal
terakhir ini ditunjukkan dengan Rencana Perda
Pemberantasan Maksiat (Pekat). 
Biografi Orang Minang 
Padahal, apabila kita melirik catatan-catatan sejarah,
biografi orang Minang dikenal sebagai kontributor
utama kalangan intelektual, negarawan, dan agamawan
Indonesia. Basis filosofis yang dibangunpun beragam,
mulai dari Marxisme, Komunisme, Sosialisme,
Nasionalisme, Islamisme, dan Liberalisme.
Masing-masingnya terhubung dengan anak-anak Minang
generasi pertama abad 20, antara lain Agus Salim, Tan
Malaka, Mohammad Hatta, Nasir Sutan Pamuncak, Rasuna
Said, Rahmah el Yunusiah, Rohana Kudus, Muhammad
Yamin, Sutan Syahrir sampai Chaerul Saleh, Chairil
Anwar, AA Navis, dan HAMKA. Biografi individu-individu
itu menjadi menarik untuk disimak, sebagai gambaran
betapa demokrasi telah menemukan alamnya di ranah
Minang dan tertanam dalam diri masyarakatnya. 
Sebagai komponen masyarakat Minang, ternyata kemudian
individu-individu itu menyangga banyak sekali
pemikiran moderen di zamannya. Pengejawantahan dari
masing-masing pemikiran itu juga tak bersifat mutlak,
bahkan siap untuk didialogkan dan diterapkan secara
sangat ketat, tanpa harus melanggar kebebasan orang
lain. Apabila biografi sebagian besar suku bangsa
lainnya di Indonesia terlihat seperti monografi,
karena kulturnya yang homogen, biografi orang Minang
justru sangat heterografi. Unsur heterogen begitu
menonjol, bahkan tanpa segan-segan untuk
mempertentangkannya di muka umum. 
Pada dasarnya, generasi itulah yang langsung menjadi
perantara dari pemikiran-pemikiran terbaru di dunia
Barat dan Timur ke Indonesia. Tetapi kemudian, dalam
perjalanannya, ketika terjadi character assasination
terhadap orang-orang Minang pasca PRRI, biografi
orang-orang Minang mengalami kegoncangan. Saat itu,
sebagian nama-nama orang Minang yang mengambil dari
bahasa Arab atau ayat-ayat dalam Al Qur�an, digantikan
dengan nama-nama asing, mulai bahasa Inggris, sampai
Sanskerta, bahkan Jawa (seperti nama Irwan Prayitno
yang keluarganya merupakan aktifis PRRI). Ketika
keluarga Kennedy begitu populernya di USA akhir tahun
1950-an sampai awal 1960-an (pasca PRRI), di Minang
lahir bayi-bayi yang mengambil mentah-mentah nama
keluarga Kennedy, bahkan nama baptisnya �F�. Memang,
ketika nama Saddam Husein muncul ke permukaan dalam
Perang melawan pasukan multi nasional, bayi-bayi di
Minang juga kemudian banyak yang mengambil nama dari
penguasa Irak itu. 
Intervensi biografi orang Minang paling hebat terjadi
selama Javanese Autocracy (istilah yang dilansir oleh
FEER edisi Agustus 2001). Demokrasi menjadi kehilangan
bentuknya, ketika sistem pemerintahan nagari
digantikan dengan model-model desa di Jawa. Fungsi
niniak mamak, urang sumando, ulama, bundo kanduang dan
cerdik cendekia serta pemuda, yang biasanya ketika
menyelesaikan perkara berada dalam status yang
sejajar, menjadi hilang dan hanya bersifat seremonial
dalam upacara perkawinan. 
Begitu juga fungsi �tigo tungku sajarangan� (istilah
yang bermuara kepada pemikiran Trias Politika),
kehilangan basis sosialnya, mengingat dominannya
peranan pemerintahan pusat akibat sentralisasi
kekuasaan. Dari pintu birokrasi daerah yang harus
menjalankan fungsi sabdo pandito ratu kepada
pemerintahan pusat inilah, masuk feodalisme tanah
Jawa, yang di Jawa sendiri mulai ditinggalkan. Ranah
Minang akhirnya disibukkan dengan usaha memproduksi
kaum birokrat, sebagaimana tercatat dalam komposisi
Kabinet Pembangunan Orde Baru yang pernah didominasi
orang-orang sipil dari Minang. Demokrasi mengalami
mati suri, di tanahnya yang paling subur. 
Perantau dan Globalisasi 
Tradisi merantau kemudian hanya menjadi kegiatan
ekonomi, bukan lagi kegiatan intelektual. Padahal
generasi pertama awal abad ke-20 menggunakan
perantauan sebagai sarana untuk menimba ilmu
pengetahuan, sekalipun harus hidup miskin, seperti
ditempuh Chairil Anwar, Tan Malaka, atau Agus Salim. 
Kesadaran menggunakan budaya Minang sebagai local
genius untuk melakukan filterisasi kebudayaan lainnya
diluar ranah Minang, dibentuk oleh seperangkat
nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil. Bahkan ketika
terjadi lompatan pemikiran yang tak dikenal di
masyarakat Minang, katakanlah komunisme, tetap saja
basis sosialnya dikembalikan ke sistem masyarakat
Minang. Tan Malaka, dalam bukunya Madilog, sangat
menonjolkan kecintaan kepada ibunya, sebagai bentuk
ketundukan atas garis matrilineal, dan juga tak
melakukan pendiskreditan agama Islam yang disebutnya
sebagai agama rasional. 
Dalam abad ke 18 dan 19, memang kota-kota pantai di
Minang sudah menjadi kota kosmopolitan untuk ukuran
zamannya. Di kota kelahiran saya, Pariaman, sampai
sekarang masih terdapat bangunan dan makam orang-orang
Cina, sekalipun sekarang tak ada lagi seorangpun orang
Cina tinggal disana akibat pembantaian yang dilakukan
pada tahun 1940-an (versi dari peristiwa ini pernah
penulis jadikan sebagai rencana skripsi). Kaum
�keling� (keturunan India beragama Islam) juga masih
ada di Pariaman dan menguasai sejumlah sektor
perdagangan, selain keturunan Arab. 
Upacara Tabut, yang kalau ditelusuri terhubung dengan
riwayat kematian Hasan dan Husein, putra Ali bin Abi
Thalib, sebetulnya bisa dikatakan sebagai bagian dari
�budaya� kaum Syiah � sebagaimana ditemukan di
Pakistan � tetapi proses akulturasi membuat upacara
itu dilakukan oleh penganut Ahlul Sunnah Wal Jamaah.
Belum lagi kunjungan berbagai kaum muslimin dari
daerah lain ke makam Syeh Burhanuddin, seorang ulama
besar yang berasal dari Aceh. 
Minang memang tercatat sebagai daerah Sumatera kedua,
setelah Aceh, sebagai tempat berlabuhnya pedagang dan
ulama-ulama Muslim dari Gujarat. 
Kota-kota pantai itulah yang melahirkan kultur
pesisiran (maritim/perdagangan) sebagai miniatur awal
dari embrio demokrasi di Minang, dan berhadapan secara
kontras dengan kultur pedalaman (petani) di
kerajaan-kerajaan Jawa. Daerah pesisir itu juga yang
menjadi daerah rantau pertama bagi orang-orang Minang
yang berasal dari �darek�, daerah pedalaman Minang,
seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Padang Panjang dan 50
Kota. Tetapi kemudian, daerah rantau itu juga yang
paling cepat berubah, sementara daerah-daerah �darek�
makin mengental nilai-nilai keagamaannya. 
Ketika Islam pindah ke �darek� dari �rantau�, wajah
Islam menjadi puritan, sekalipun tidak mengalami
sinkretisme seperti yang dikenal di tanah Jawa.
Sedangkan daerah pesisiran menjadi tempat yang paling
terpengaruh oleh sekularisme. 
Itulah sebabnya, globalisasi bukan lagi menjadi
persoalan aneh, apabila dilihat dari perjalanan
panjang kebudayaan Minang. Untuk ekstrimnya saja,
bahkan raja orang Minang (Adityawarman) merupakan anak
raja Jawa, dengan ibu yang berasal dari negeri Campa
(India). Ibu �asing� inilah yang kemudian menjadi
Bundo Kanduang, dan menurunkan garis matrilineal
kepada orang Minang, sebagaimana juga berlaku di
India. Sekalipun garis matrilineal bertentangan dengan
Islam, toh tetap dipakai sampai sekarang, sebagaimana
halnya dengan tradisi �bajapuik� berupa lamaran pihak
perempuan kepada pihak laki-laki, terutama di Pariaman
(tidak semua orang Minang menganutnya). Dengan ukuran
itu, sebetulnya orang Minang tak berpatokan kepada
garis sejarah yang bersifat linear. Gus tf Sakai,
dalam novelnya Tambo, telah dengan sangat jelas
mengungkapkan itu dengan nada satire. Dengan begitu,
orang Minang tak melihat orang, tetapi apa kontribusi
orang itu, sebelum �ditundukkan� oleh feodalisme yang
dipaksakan oleh rezim Orba. Individualisme, sebagai
satu ciri masyarakat moderen, telah tertanam dalam
riwayat orang Minang. 
Indonesia 
Kalau memang ada upaya menggali kebudayaan alternatif,
sebagai pengganti feodalisme yang dipakai selama
Indonesia ada, memang nilai-nilai yang tertanam dalam
kebudayaan Minang menjadi satu kontributor. Tetapi
Indonesia bukan hanya Minang. Indonesia juga Bugis,
Batak, Nias, Aceh, Madura, Dayak, Ambon, Bali, Jawa,
Papua, dan etnis serta budaya lokal lainnya yang
terbentang di seluruh Nusantara. Lebih tepat lagi
kalau apa yang terjadi di Bukittinggi dibawa ke forum
yang bersifat lintas etnis, lintas budaya. Jangan
sampai ada klaim historis bahwa ada ras Arya di
Nusantara ini, mengingat klaim itu sendiri akan
membawa masalah dimasa depan. Klaim itu juga tak
sesuai dengan biografi orang Minang. 
Konflik etnis yang terjadi selama beberapa tahun ini,
semestinya juga tak terjadi, apabila masing-masing
etnis merasa bahwa mereka mempunyai saham dalam
bangunan kebangsaan Indonesia. Yang menyebabkan
rusaknya wajah ke-Indonesia-an justru ketika
homogenisasi dan bahkan personalisasi kekuasaan
terjadi. 
Ketika satu pemikiran, budaya, sistem ekonomi, atau
katakanlah ideologi, menjadi begitu dominan, justru
yang terjadi adalah penolakan diam-diam oleh yang
tidak dominan. Dengan demikian persoalan Mayoritas dan
Minoritas mestinya juga tak disuarakan lagi, mengingat
konsep itu juga abstrak ketika yang dilihat adalah
individu-individu yang menyuarakannya. 
Untuk itu, alangkah sejuk dan indahnya, apabila
Indonesia menyatakan dirinya sebagai bagian dari
masyarakat dunia, sebagaimana tahun 1960-an
dikemukakan oleh kelompok Manifes Kebudayaan yang
berdiri dalam paham humanisme universal. Biografi
orang Minang yang terhubung dengan bangsa-bangsa
diluarnya, menunjukkan itu, betapa sebetulnya tak ada
yang benar-benar asli atau murni berdarah tertentu.
Bukan berarti tribalisme tidak diperlukan, justru
penghormatan terhadap hak-hak ulayat atau indigenous
people mutlak dilakukan, sebagai bagian dari
penghormatan atas kemanusiaan dan diri sendiri. 
Apabila memang benar nenek moyang manusia itu berasal
dari satu ayah dan satu ibu, entah itu secara
genetikal merupakan keturunan dari manusia purba atau
bukan, dan entah itu berasal dari Adam dan Hawa bagi
umat beragama, buat apa kemudian manusia-manusia
Indonesia bertengkar dengan saudaranya,
darah-dagingnya, sendiri? Wallahu �Alam. @ 
Jakarta, November 2001


detikcom - Pengambil-alihan PT Semen Padang dengan
�Maklumat 1 November 2001� menarik untuk dijelaskan,
dalam konteks biografi orang Minang. Terlepas dari
persoalan ekonomi dan implikasi hukum yang
mengiringinya, juga hubungan yang buruk antara
Pemerintah Pusat dan Daerah selama bergulirnya era
reformasi, proses itu mungkin �muara� dari sejumlah
persoalan psikologis masyarakat Minang atas Jakarta. 
Sekalipun pernah mendapatkan sebutan sebagai propinsi
paling maju dalam pembangunan, dalam Pelita III dan IV
Orde Baru, hingga mendapatkan Parasamya Purnakarya
Nugraha, ternyata lindasan ideologi developmentalisme
represif Orde Baru yang berhimpitan dengan kapitalisme
global yang masuk ke ruang-ruang pribadi penduduk
telah menimbulkan implikasi luar biasa. Terkumpulnya
lebih dari 10 ribu masyarakat ketika mendesakkan
Maklumat 21 November itu, sungguh mencengangkan,
karena belum pernah terjadisebelumnya. 

Saya tak akan membahas khusus masalah ini. Saya hanya
ingin mencoba berefleksi, atas sejarah orang Minang,
dalam konteks yang lebih luas, serta �pengaruh�
kebijakan Jakarta atas mereka. Untuk itu, menarik juga
mengikuti perhelatan dua hari, Jum�at dan Sabtu (21-22
September 2001), 40 orang anggota Panitia Ad Hoc II
Badan Pekerja MPR. Mereka mengadakan seminar dan
lokakarya tentang budaya Minang di Bukittinggi. Kota
yang pernah menjadi ibukota negara RI selama
Pemerintahan Darurat RI itu, kembali dijadikan sebagai
tempat pencarian tatanan kehidupan kebangsaan kedepan
ditengah situasi �darurat� berupa krisis kebudayaan
yang dihadapi bangsa ini. 
Upaya itu tentulah menarik, di tengah sedikitnya
pembicaraan sekitar reformasi dan reformulasi
kebudayaan nasional kita. Hampir seluruh agenda
reformasi, termasuk yang dituntut mahasiswa, terhubung
dengan agenda-agenda politik dan ekonomi. 
Tentu kita bertanya, kenapa harus Minang? Tanpa
bermaksud untuk �mencermati� apa yang terjadi di
Bukittinggi sana, penulis menghubungkan kebudayaan
Minang itu dengan dua agenda besar bangsa ini:
transisi demokrasi dan sekaligus globalisasi dunia
menyangkut keikut-sertaan Indonesia dalam AFTA tahun
2003, dan APEC tahun 2020. Kesiapan menghadapi dua hal
ini, sangat terkait dengan kebudayaan atau mentalitas
bangsa Indonesia, karena bisa saja transisi mengalami
setback kearah rezim otoritarian, apabila kebudayaan
yang menopang masyarakat Indonesia belum sepenuhnya
demokratis. 
Rezim otoritarian itu bukan hanya sebagai bentuk
pemerintahan, yang bersandar kepada budaya feodal,
melainkan telah berubah menjadi rezim pikiran. Dalam
pemikiran Islam, misalnya, tanah Jawa sendiri sudah
mengalami berbagai bentuk pemikiran alternatif �
seperti komunitas Islam Liberal yang sekarang
bermarkas di Utan Kayu --, sedangkan Minang justru
terbelit dengan feodalisme akibat sedikitnya
kontribusinya kedalam komunitas majemuk Indonesia. Hal
terakhir ini ditunjukkan dengan Rencana Perda
Pemberantasan Maksiat (Pekat). 
Biografi Orang Minang 
Padahal, apabila kita melirik catatan-catatan sejarah,
biografi orang Minang dikenal sebagai kontributor
utama kalangan intelektual, negarawan, dan agamawan
Indonesia. Basis filosofis yang dibangunpun beragam,
mulai dari Marxisme, Komunisme, Sosialisme,
Nasionalisme, Islamisme, dan Liberalisme.
Masing-masingnya terhubung dengan anak-anak Minang
generasi pertama abad 20, antara lain Agus Salim, Tan
Malaka, Mohammad Hatta, Nasir Sutan Pamuncak, Rasuna
Said, Rahmah el Yunusiah, Rohana Kudus, Muhammad
Yamin, Sutan Syahrir sampai Chaerul Saleh, Chairil
Anwar, AA Navis, dan HAMKA. Biografi individu-individu
itu menjadi menarik untuk disimak, sebagai gambaran
betapa demokrasi telah menemukan alamnya di ranah
Minang dan tertanam dalam diri masyarakatnya. 
Sebagai komponen masyarakat Minang, ternyata kemudian
individu-individu itu menyangga banyak sekali
pemikiran moderen di zamannya. Pengejawantahan dari
masing-masing pemikiran itu juga tak bersifat mutlak,
bahkan siap untuk didialogkan dan diterapkan secara
sangat ketat, tanpa harus melanggar kebebasan orang
lain. Apabila biografi sebagian besar suku bangsa
lainnya di Indonesia terlihat seperti monografi,
karena kulturnya yang homogen, biografi orang Minang
justru sangat heterografi. Unsur heterogen begitu
menonjol, bahkan tanpa segan-segan untuk
mempertentangkannya di muka umum. 
Pada dasarnya, generasi itulah yang langsung menjadi
perantara dari pemikiran-pemikiran terbaru di dunia
Barat dan Timur ke Indonesia. Tetapi kemudian, dalam
perjalanannya, ketika terjadi character assasination
terhadap orang-orang Minang pasca PRRI, biografi
orang-orang Minang mengalami kegoncangan. Saat itu,
sebagian nama-nama orang Minang yang mengambil dari
bahasa Arab atau ayat-ayat dalam Al Qur�an, digantikan
dengan nama-nama asing, mulai bahasa Inggris, sampai
Sanskerta, bahkan Jawa (seperti nama Irwan Prayitno
yang keluarganya merupakan aktifis PRRI). Ketika
keluarga Kennedy begitu populernya di USA akhir tahun
1950-an sampai awal 1960-an (pasca PRRI), di Minang
lahir bayi-bayi yang mengambil mentah-mentah nama
keluarga Kennedy, bahkan nama baptisnya �F�. Memang,
ketika nama Saddam Husein muncul ke permukaan dalam
Perang melawan pasukan multi nasional, bayi-bayi di
Minang juga kemudian banyak yang mengambil nama dari
penguasa Irak itu. 
Intervensi biografi orang Minang paling hebat terjadi
selama Javanese Autocracy (istilah yang dilansir oleh
FEER edisi Agustus 2001). Demokrasi menjadi kehilangan
bentuknya, ketika sistem pemerintahan nagari
digantikan dengan model-model desa di Jawa. Fungsi
niniak mamak, urang sumando, ulama, bundo kanduang dan
cerdik cendekia serta pemuda, yang biasanya ketika
menyelesaikan perkara berada dalam status yang
sejajar, menjadi hilang dan hanya bersifat seremonial
dalam upacara perkawinan. 
Begitu juga fungsi �tigo tungku sajarangan� (istilah
yang bermuara kepada pemikiran Trias Politika),
kehilangan basis sosialnya, mengingat dominannya
peranan pemerintahan pusat akibat sentralisasi
kekuasaan. Dari pintu birokrasi daerah yang harus
menjalankan fungsi sabdo pandito ratu kepada
pemerintahan pusat inilah, masuk feodalisme tanah
Jawa, yang di Jawa sendiri mulai ditinggalkan. Ranah
Minang akhirnya disibukkan dengan usaha memproduksi
kaum birokrat, sebagaimana tercatat dalam komposisi
Kabinet Pembangunan Orde Baru yang pernah didominasi
orang-orang sipil dari Minang. Demokrasi mengalami
mati suri, di tanahnya yang paling subur. 
Perantau dan Globalisasi 
Tradisi merantau kemudian hanya menjadi kegiatan
ekonomi, bukan lagi kegiatan intelektual. Padahal
generasi pertama awal abad ke-20 menggunakan
perantauan sebagai sarana untuk menimba ilmu
pengetahuan, sekalipun harus hidup miskin, seperti
ditempuh Chairil Anwar, Tan Malaka, atau Agus Salim. 
Kesadaran menggunakan budaya Minang sebagai local
genius untuk melakukan filterisasi kebudayaan lainnya
diluar ranah Minang, dibentuk oleh seperangkat
nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil. Bahkan ketika
terjadi lompatan pemikiran yang tak dikenal di
masyarakat Minang, katakanlah komunisme, tetap saja
basis sosialnya dikembalikan ke sistem masyarakat
Minang. Tan Malaka, dalam bukunya Madilog, sangat
menonjolkan kecintaan kepada ibunya, sebagai bentuk
ketundukan atas garis matrilineal, dan juga tak
melakukan pendiskreditan agama Islam yang disebutnya
sebagai agama rasional. 
Dalam abad ke 18 dan 19, memang kota-kota pantai di
Minang sudah menjadi kota kosmopolitan untuk ukuran
zamannya. Di kota kelahiran saya, Pariaman, sampai
sekarang masih terdapat bangunan dan makam orang-orang
Cina, sekalipun sekarang tak ada lagi seorangpun orang
Cina tinggal disana akibat pembantaian yang dilakukan
pada tahun 1940-an (versi dari peristiwa ini pernah
penulis jadikan sebagai rencana skripsi). Kaum
�keling� (keturunan India beragama Islam) juga masih
ada di Pariaman dan menguasai sejumlah sektor
perdagangan, selain keturunan Arab. 
Upacara Tabut, yang kalau ditelusuri terhubung dengan
riwayat kematian Hasan dan Husein, putra Ali bin Abi
Thalib, sebetulnya bisa dikatakan sebagai bagian dari
�budaya� kaum Syiah � sebagaimana ditemukan di
Pakistan � tetapi proses akulturasi membuat upacara
itu dilakukan oleh penganut Ahlul Sunnah Wal Jamaah.
Belum lagi kunjungan berbagai kaum muslimin dari
daerah lain ke makam Syeh Burhanuddin, seorang ulama
besar yang berasal dari Aceh. 
Minang memang tercatat sebagai daerah Sumatera kedua,
setelah Aceh, sebagai tempat berlabuhnya pedagang dan
ulama-ulama Muslim dari Gujarat. 
Kota-kota pantai itulah yang melahirkan kultur
pesisiran (maritim/perdagangan) sebagai miniatur awal
dari embrio demokrasi di Minang, dan berhadapan secara
kontras dengan kultur pedalaman (petani) di
kerajaan-kerajaan Jawa. Daerah pesisir itu juga yang
menjadi daerah rantau pertama bagi orang-orang Minang
yang berasal dari �darek�, daerah pedalaman Minang,
seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Padang Panjang dan 50
Kota. Tetapi kemudian, daerah rantau itu juga yang
paling cepat berubah, sementara daerah-daerah �darek�
makin mengental nilai-nilai keagamaannya. 
Ketika Islam pindah ke �darek� dari �rantau�, wajah
Islam menjadi puritan, sekalipun tidak mengalami
sinkretisme seperti yang dikenal di tanah Jawa.
Sedangkan daerah pesisiran menjadi tempat yang paling
terpengaruh oleh sekularisme. 
Itulah sebabnya, globalisasi bukan lagi menjadi
persoalan aneh, apabila dilihat dari perjalanan
panjang kebudayaan Minang. Untuk ekstrimnya saja,
bahkan raja orang Minang (Adityawarman) merupakan anak
raja Jawa, dengan ibu yang berasal dari negeri Campa
(India). Ibu �asing� inilah yang kemudian menjadi
Bundo Kanduang, dan menurunkan garis matrilineal
kepada orang Minang, sebagaimana juga berlaku di
India. Sekalipun garis matrilineal bertentangan dengan
Islam, toh tetap dipakai sampai sekarang, sebagaimana
halnya dengan tradisi �bajapuik� berupa lamaran pihak
perempuan kepada pihak laki-laki, terutama di Pariaman
(tidak semua orang Minang menganutnya). Dengan ukuran
itu, sebetulnya orang Minang tak berpatokan kepada
garis sejarah yang bersifat linear. Gus tf Sakai,
dalam novelnya Tambo, telah dengan sangat jelas
mengungkapkan itu dengan nada satire. Dengan begitu,
orang Minang tak melihat orang, tetapi apa kontribusi
orang itu, sebelum �ditundukkan� oleh feodalisme yang
dipaksakan oleh rezim Orba. Individualisme, sebagai
satu ciri masyarakat moderen, telah tertanam dalam
riwayat orang Minang. 
Indonesia 
Kalau memang ada upaya menggali kebudayaan alternatif,
sebagai pengganti feodalisme yang dipakai selama
Indonesia ada, memang nilai-nilai yang tertanam dalam
kebudayaan Minang menjadi satu kontributor. Tetapi
Indonesia bukan hanya Minang. Indonesia juga Bugis,
Batak, Nias, Aceh, Madura, Dayak, Ambon, Bali, Jawa,
Papua, dan etnis serta budaya lokal lainnya yang
terbentang di seluruh Nusantara. Lebih tepat lagi
kalau apa yang terjadi di Bukittinggi dibawa ke forum
yang bersifat lintas etnis, lintas budaya. Jangan
sampai ada klaim historis bahwa ada ras Arya di
Nusantara ini, mengingat klaim itu sendiri akan
membawa masalah dimasa depan. Klaim itu juga tak
sesuai dengan biografi orang Minang. 
Konflik etnis yang terjadi selama beberapa tahun ini,
semestinya juga tak terjadi, apabila masing-masing
etnis merasa bahwa mereka mempunyai saham dalam
bangunan kebangsaan Indonesia. Yang menyebabkan
rusaknya wajah ke-Indonesia-an justru ketika
homogenisasi dan bahkan personalisasi kekuasaan
terjadi. 
Ketika satu pemikiran, budaya, sistem ekonomi, atau
katakanlah ideologi, menjadi begitu dominan, justru
yang terjadi adalah penolakan diam-diam oleh yang
tidak dominan. Dengan demikian persoalan Mayoritas dan
Minoritas mestinya juga tak disuarakan lagi, mengingat
konsep itu juga abstrak ketika yang dilihat adalah
individu-individu yang menyuarakannya. 
Untuk itu, alangkah sejuk dan indahnya, apabila
Indonesia menyatakan dirinya sebagai bagian dari
masyarakat dunia, sebagaimana tahun 1960-an
dikemukakan oleh kelompok Manifes Kebudayaan yang
berdiri dalam paham humanisme universal. Biografi
orang Minang yang terhubung dengan bangsa-bangsa
diluarnya, menunjukkan itu, betapa sebetulnya tak ada
yang benar-benar asli atau murni berdarah tertentu.
Bukan berarti tribalisme tidak diperlukan, justru
penghormatan terhadap hak-hak ulayat atau indigenous
people mutlak dilakukan, sebagai bagian dari
penghormatan atas kemanusiaan dan diri sendiri. 
Apabila memang benar nenek moyang manusia itu berasal
dari satu ayah dan satu ibu, entah itu secara
genetikal merupakan keturunan dari manusia purba atau
bukan, dan entah itu berasal dari Adam dan Hawa bagi
umat beragama, buat apa kemudian manusia-manusia
Indonesia bertengkar dengan saudaranya,
darah-dagingnya, sendiri? Wallahu �Alam. @ 
Jakarta, November 2001




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Tax Center - online filing with TurboTax
http://taxes.yahoo.com/

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke