Ciek lai, dari Kompas. Alah subana binguang urang-urang tuo awak. Alah sabana sibuk jo maso saisuak. Alah lupo jo buluah parindu, aie tajun Silaiang, Ngarai Sianok, hinggo paralu bana manjaja-jajakan gala jo nagari, ka urang jauah. Baa nasib pandidikan, nasib masyarakaik bansaik, kurang bana diparhatikan.
 
Selasa, 30 April 2002

Sultan HB X Dianugerahi Gelar Sasangko Minangkabau

Kompas/Yurnaldi
Batusangkar, Kompas - Sultan Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas dari Ngayogyakarta Hadinigrat, resmi menjadi mamak orang Minang. Dalam suatu Sidang Majelis Adat di Istano Pagaruyuang, Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, Senin (29/4), mereka dianugerahi gelar kehormatan Sangsako Adat Minangkabau dari pewaris kerajaan Pagaruyuang, yang ditandai dengan pemasangan destar dan keris kepada Sultan dan pemasangan takuluak bapalak dan selendang tanah liek kepada Ratu Hemas.

Sultan bergelar Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati (atau dalam bahasa Indonesia Yang Dipertuan Maharaja Alam Sakti) dan Ratu Hemas bergelar Puan Gadih Puti Reno Indaswari (Puan Gadis Putri Reno Inderaswari).

Ketua Umum Kerapatan Adat Alam Minangkabau H Kamardi Rais Datuk P Simulie dalam sambutannya mengatakan, pengangkatan Sultan Hamengku Buwono Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati sebagai mamak orang Minang di Yogyakarta, karena antara Yogyakarta dan Bukittinggi (Sumatera Barat) terdapat persamaan sejarah, mengambil peran yang sama sebagai ibu kota negara Indonesia dalam keadaan darurat.

"Ketika Belanda melakukan serangan besar-besaran terhadap Maguwo, pada waktu subuh 19 Desember 1948 dan kemudian Yogya diduduki, maka pada saat yang genting itu Bukittinggi tampil menggantikan peranan Yogyakarta," katanya.

Kemudian, ketika terbentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS), 14 Desember 1949, maka Yogyakarta dan Suma-tera Barat sama-sama berteguh hati tetap berada dalam Republik Indonesia, ditambah dengan daerah Aceh. Kalau Presiden RIS adalah Bung Karno, maka Presiden RI adalah Mr Assaat Dt Mudo. Kalau Perdana Menteri RIS Bung Hatta, maka Perdana Menteri RI (Yogya) adalah Dr A Halim. Ketiga jabatan penting itu dijabat orang Minang.

Adanya tokoh-tokoh besar bangsa asal Minang di Yogyakarta, menurut Audrey Kahin yang dikutip sejarawan Dr Mestika Zed dalam bukunya PDRI Somewhere in the Jungle, dapat dikatakan bahwa Pemerintah Yogya adalah Peme-rintahan Minangkabau. Tokoh bangsa lainnya yang berasal dari Minang adalah Sjahrir, Haji Agus Salim, Moh Yamin, Natsir, Tan Malaka, dan lain-lain.

Ketika hubungan pemerintah pusat dengan daerah-daerah bergolak sangat panas pada awal tahun 1958, maka Dewan Banteng dari Sumatera Barat mengultimatum pemerintah pusat. Ultimatum tersebut berisi antara lain: agar dalam masa 5x24 jam Pemerintah membubarkan Kabinet Djuanda dan untuk gantinya supaya Presiden Soekarno menunjuk Bung Hatta dan Sultan Hamengku Bowono IX sebagai formatur Zaken Kabinet.

"Tokoh Minang dan Yogya dipersandingkan karena tak diragukan lagi. Keduanya orang jujur, bersih, cerdas, dan beribawa, serta diyakini akan ikut menentramkan kemelut nasional waktu itu.

Titik simpul pemersatu

Sementara itu, Sultan Hamengku Buwono X Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati menilai, Istana Basa Pagaruyuang sebagai lambang pemersatu adat Minangkabau. Artinya, ia dan keluarga Keraton berada pada titik simpul pemersatu budaya etnik di antara keberagaman adat dan budaya Nusantara.

"Kehadiran seperti ini menjembatani polarisasi kutub budaya Jawa dan Minang, seperti unsur Ying dan Yang sebagaimana kata sosiolog Mochtar Naim, bisa saling melengkapi dan pada suatu saat bisa saling berseberangan. Dan secara implisit, budaya etnis lain diposisikan berada pada dua kutub besar itu," katanya.

Sultan menyatakan setuju dengan filosofi adat Minangkabau tentang kemungkinan adanya perbedaan: nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Hal serupa juga ada dalam budaya Jawa. Benar seperti diungkapkan Mpu Tantular bahwa bangsa ini Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam keberagaman budaya dan memahami perbedaan itu sebagai sunnatullah.

Salah satu contoh dalam budaya Jawa, seperti tari yang diciptakan Sultan Hamengku Buwono IX, di mana tari keraton itu memakai 14 tipologi gerak silat Minangkabau.

Kesamaan antara dua kutub itu, Jawa dan Minang, seperti melihat Gunung Merapi di Sumbar dan Yogyakarta. Dari jauh, kata Sultan, kita sama melihat keindahan panorama yang sama. Walaupun indah dipandang, tetap saja ada perbedaan pada dalamnya ngarai dan terjalnya tebing.

Kemudian tentang orang Minang di Yogyakarta, menurut Sultan, dinilainya pandai bergaul, gigih, ulet, dan tekun. (NAL)

<<2904ha23.jpg>>

Kirim email ke