Sultan HB
X Dianugerahi Gelar Sasangko Minangkabau
;) |
| Kompas/Yurnaldi
|
|
|
Batusangkar, Kompas - Sultan
Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas dari Ngayogyakarta Hadinigrat, resmi
menjadi mamak orang Minang. Dalam suatu Sidang Majelis Adat di Istano
Pagaruyuang, Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, Senin (29/4), mereka
dianugerahi gelar kehormatan Sangsako Adat Minangkabau dari pewaris
kerajaan Pagaruyuang, yang ditandai dengan pemasangan destar dan keris
kepada Sultan dan pemasangan takuluak bapalak dan selendang tanah liek
kepada Ratu Hemas.
Sultan bergelar Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati (atau dalam bahasa
Indonesia Yang Dipertuan Maharaja Alam Sakti) dan Ratu Hemas bergelar Puan
Gadih Puti Reno Indaswari (Puan Gadis Putri Reno Inderaswari).
Ketua Umum Kerapatan Adat Alam Minangkabau H Kamardi Rais Datuk P
Simulie dalam sambutannya mengatakan, pengangkatan Sultan Hamengku Buwono
Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati sebagai mamak orang Minang di Yogyakarta,
karena antara Yogyakarta dan Bukittinggi (Sumatera Barat) terdapat
persamaan sejarah, mengambil peran yang sama sebagai ibu kota negara
Indonesia dalam keadaan darurat.
"Ketika Belanda melakukan serangan besar-besaran terhadap Maguwo, pada
waktu subuh 19 Desember 1948 dan kemudian Yogya diduduki, maka pada saat
yang genting itu Bukittinggi tampil menggantikan peranan Yogyakarta,"
katanya.
Kemudian, ketika terbentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS), 14
Desember 1949, maka Yogyakarta dan Suma-tera Barat sama-sama berteguh hati
tetap berada dalam Republik Indonesia, ditambah dengan daerah Aceh. Kalau
Presiden RIS adalah Bung Karno, maka Presiden RI adalah Mr Assaat Dt Mudo.
Kalau Perdana Menteri RIS Bung Hatta, maka Perdana Menteri RI (Yogya)
adalah Dr A Halim. Ketiga jabatan penting itu dijabat orang Minang.
Adanya tokoh-tokoh besar bangsa asal Minang di Yogyakarta, menurut
Audrey Kahin yang dikutip sejarawan Dr Mestika Zed dalam bukunya PDRI
Somewhere in the Jungle, dapat dikatakan bahwa Pemerintah Yogya adalah
Peme-rintahan Minangkabau. Tokoh bangsa lainnya yang berasal dari Minang
adalah Sjahrir, Haji Agus Salim, Moh Yamin, Natsir, Tan Malaka, dan
lain-lain.
Ketika hubungan pemerintah pusat dengan daerah-daerah bergolak sangat
panas pada awal tahun 1958, maka Dewan Banteng dari Sumatera Barat
mengultimatum pemerintah pusat. Ultimatum tersebut berisi antara lain:
agar dalam masa 5x24 jam Pemerintah membubarkan Kabinet Djuanda dan untuk
gantinya supaya Presiden Soekarno menunjuk Bung Hatta dan Sultan Hamengku
Bowono IX sebagai formatur Zaken Kabinet.
"Tokoh Minang dan Yogya dipersandingkan karena tak diragukan lagi.
Keduanya orang jujur, bersih, cerdas, dan beribawa, serta diyakini akan
ikut menentramkan kemelut nasional waktu itu.
Titik simpul pemersatu
Sementara itu, Sultan Hamengku Buwono X Yang Dipatuan Maharajo Alam
Sati menilai, Istana Basa Pagaruyuang sebagai lambang pemersatu adat
Minangkabau. Artinya, ia dan keluarga Keraton berada pada titik simpul
pemersatu budaya etnik di antara keberagaman adat dan budaya Nusantara.
"Kehadiran seperti ini menjembatani polarisasi kutub budaya Jawa dan
Minang, seperti unsur Ying dan Yang sebagaimana kata sosiolog Mochtar
Naim, bisa saling melengkapi dan pada suatu saat bisa saling
berseberangan. Dan secara implisit, budaya etnis lain diposisikan berada
pada dua kutub besar itu," katanya.
Sultan menyatakan setuju dengan filosofi adat Minangkabau tentang
kemungkinan adanya perbedaan: nan elok dipakai, nan buruak dibuang.
Hal serupa juga ada dalam budaya Jawa. Benar seperti diungkapkan Mpu
Tantular bahwa bangsa ini Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam keberagaman
budaya dan memahami perbedaan itu sebagai sunnatullah.
Salah satu contoh dalam budaya Jawa, seperti tari yang diciptakan
Sultan Hamengku Buwono IX, di mana tari keraton itu memakai 14 tipologi
gerak silat Minangkabau.
Kesamaan antara dua kutub itu, Jawa dan Minang, seperti melihat Gunung
Merapi di Sumbar dan Yogyakarta. Dari jauh, kata Sultan, kita sama melihat
keindahan panorama yang sama. Walaupun indah dipandang, tetap saja ada
perbedaan pada dalamnya ngarai dan terjalnya tebing.
Kemudian tentang orang Minang di Yogyakarta, menurut Sultan, dinilainya
pandai bergaul, gigih, ulet, dan tekun.
(NAL)