Agiah gala sih ndak baa.. tapi paralu juo dipikian bara banyak rang minang 
nan busung lapar, nan kecek pak pimpinan kayo jo hasil alam.

Dukun-caniago


>From: "Indra Piliang" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [RantauNet] Ciek Lai...Urang Tuo Di Titik NOL
>Date: Tue, 30 Apr 2002 10:05:59 -0700
>
>       Ciek lai, dari Kompas. Alah subana binguang urang-urang tuo awak. 
>Alah sabana sibuk jo maso saisuak. Alah lupo jo buluah parindu, aie tajun 
>Silaiang, Ngarai Sianok, hinggo paralu bana manjaja-jajakan gala jo nagari, 
>ka urang jauah. Baa nasib pandidikan, nasib masyarakaik bansaik, kurang 
>bana diparhatikan.
>
>       Selasa, 30 April 2002
>
>
>
>       Sultan HB X Dianugerahi Gelar Sasangko Minangkabau
>
>
>             Kompas/Yurnaldi
>
>       Batusangkar, Kompas - Sultan Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas dari 
>Ngayogyakarta Hadinigrat, resmi menjadi mamak orang Minang. Dalam suatu 
>Sidang Majelis Adat di Istano Pagaruyuang, Batusangkar, Kabupaten 
>Tanahdatar, Senin (29/4), mereka dianugerahi gelar kehormatan Sangsako Adat 
>Minangkabau dari pewaris kerajaan Pagaruyuang, yang ditandai dengan 
>pemasangan destar dan keris kepada Sultan dan pemasangan takuluak bapalak 
>dan selendang tanah liek kepada Ratu Hemas.
>
>       Sultan bergelar Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati (atau dalam bahasa 
>Indonesia Yang Dipertuan Maharaja Alam Sakti) dan Ratu Hemas bergelar Puan 
>Gadih Puti Reno Indaswari (Puan Gadis Putri Reno Inderaswari).
>
>       Ketua Umum Kerapatan Adat Alam Minangkabau H Kamardi Rais Datuk P 
>Simulie dalam sambutannya mengatakan, pengangkatan Sultan Hamengku Buwono 
>Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati sebagai mamak orang Minang di Yogyakarta, 
>karena antara Yogyakarta dan Bukittinggi (Sumatera Barat) terdapat 
>persamaan sejarah, mengambil peran yang sama sebagai ibu kota negara 
>Indonesia dalam keadaan darurat.
>
>       "Ketika Belanda melakukan serangan besar-besaran terhadap Maguwo, 
>pada waktu subuh 19 Desember 1948 dan kemudian Yogya diduduki, maka pada 
>saat yang genting itu Bukittinggi tampil menggantikan peranan Yogyakarta," 
>katanya.
>
>       Kemudian, ketika terbentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS), 
>14 Desember 1949, maka Yogyakarta dan Suma-tera Barat sama-sama berteguh 
>hati tetap berada dalam Republik Indonesia, ditambah dengan daerah Aceh. 
>Kalau Presiden RIS adalah Bung Karno, maka Presiden RI adalah Mr Assaat Dt 
>Mudo. Kalau Perdana Menteri RIS Bung Hatta, maka Perdana Menteri RI (Yogya) 
>adalah Dr A Halim. Ketiga jabatan penting itu dijabat orang Minang.
>
>       Adanya tokoh-tokoh besar bangsa asal Minang di Yogyakarta, menurut 
>Audrey Kahin yang dikutip sejarawan Dr Mestika Zed dalam bukunya PDRI 
>Somewhere in the Jungle, dapat dikatakan bahwa Pemerintah Yogya adalah 
>Peme-rintahan Minangkabau. Tokoh bangsa lainnya yang berasal dari Minang 
>adalah Sjahrir, Haji Agus Salim, Moh Yamin, Natsir, Tan Malaka, dan 
>lain-lain.
>
>       Ketika hubungan pemerintah pusat dengan daerah-daerah bergolak 
>sangat panas pada awal tahun 1958, maka Dewan Banteng dari Sumatera Barat 
>mengultimatum pemerintah pusat. Ultimatum tersebut berisi antara lain: agar 
>dalam masa 5x24 jam Pemerintah membubarkan Kabinet Djuanda dan untuk 
>gantinya supaya Presiden Soekarno menunjuk Bung Hatta dan Sultan Hamengku 
>Bowono IX sebagai formatur Zaken Kabinet.
>
>       "Tokoh Minang dan Yogya dipersandingkan karena tak diragukan lagi. 
>Keduanya orang jujur, bersih, cerdas, dan beribawa, serta diyakini akan 
>ikut menentramkan kemelut nasional waktu itu.
>
>       Titik simpul pemersatu
>
>       Sementara itu, Sultan Hamengku Buwono X Yang Dipatuan Maharajo Alam 
>Sati menilai, Istana Basa Pagaruyuang sebagai lambang pemersatu adat 
>Minangkabau. Artinya, ia dan keluarga Keraton berada pada titik simpul 
>pemersatu budaya etnik di antara keberagaman adat dan budaya Nusantara.
>
>       "Kehadiran seperti ini menjembatani polarisasi kutub budaya Jawa dan 
>Minang, seperti unsur Ying dan Yang sebagaimana kata sosiolog Mochtar Naim, 
>bisa saling melengkapi dan pada suatu saat bisa saling berseberangan. Dan 
>secara implisit, budaya etnis lain diposisikan berada pada dua kutub besar 
>itu," katanya.
>
>       Sultan menyatakan setuju dengan filosofi adat Minangkabau tentang 
>kemungkinan adanya perbedaan: nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Hal 
>serupa juga ada dalam budaya Jawa. Benar seperti diungkapkan Mpu Tantular 
>bahwa bangsa ini Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam keberagaman budaya dan 
>memahami perbedaan itu sebagai sunnatullah.
>
>       Salah satu contoh dalam budaya Jawa, seperti tari yang diciptakan 
>Sultan Hamengku Buwono IX, di mana tari keraton itu memakai 14 tipologi 
>gerak silat Minangkabau.
>
>       Kesamaan antara dua kutub itu, Jawa dan Minang, seperti melihat 
>Gunung Merapi di Sumbar dan Yogyakarta. Dari jauh, kata Sultan, kita sama 
>melihat keindahan panorama yang sama. Walaupun indah dipandang, tetap saja 
>ada perbedaan pada dalamnya ngarai dan terjalnya tebing.
>
>       Kemudian tentang orang Minang di Yogyakarta, menurut Sultan, 
>dinilainya pandai bergaul, gigih, ulet, dan tekun. (NAL)
>
>


A

_________________________________________________________________
MSN Photos is the easiest way to share and print your photos: 
http://photos.msn.com/support/worldwide.aspx


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke