|
Assalamualaikum,
Yth. mak Rajo Imbang di mana
saja.
Percayalah pada hatimu bahwa
sepanjang pengetahuan saya, tidak seorang aktivis keperempuanan pun
mengawali "karier" mereka dengan membuat sesuatu yang sepele menjadi
rumit. Kalau mereka bicara ttg perkawinan mereka hanya bicara ttg perkawinan
yang penuh pengertian ( I'entete conjugale, entah lah ini kata siapa)
dan bukan bagaimana agar semua perempuan pintar
melawan para suami. Habis gimana yah? Selama ratusan tahun
masyarkat kita dibangun dari kode2 instruksi dan tulisan2 yang kabur yang
dengan cerdik kemudian dicoba diintreprestasikan bahwa ada ruang diantara dua
kutub. Celakanya ruang lelaki lebih luas dari ruang perempuan sehingga
justifikasi machismo sak karepe dewe ambil tempat. Banyak yang cemas tapi
banyak pula yang tidak. Bagi yang cemas dan kebetulan dikarunia sensitivesme
berat bahwa ternyata perempuan merasa bahwa cinta dan rasa
hormat sebagai sebuah keajaiban dari hubungan lelaki-perempuan tidak bisa
dituntut secara hukum dari para suami. Oleh karena itu lah para aktivis
perempuan itu menganjurkan kepada kaumnya untuk mepergunakanlah kepala mereka
agar mampu menembus ruang itu yang selama berabad2 digunakan sebagai perangkat
untuk mengontrol tingkah laku mereka secara seksual.
Begitu pun ketika para aktivis
itu bicara soal kesetaraan gender, mereka tidak pernah bicara bahwa
perempuan boleh menegak aturan2 sosialnya sendiri. Semisal bila jatuh cinta pada
seorang lelaki romantis sepanjang abad, mereka boleh datang ke rumah lelaki itu
dan memberikan lamaran seperti yang dilakukan oleh Ummu Syarik dan Laila binti
Khatim kepada Nabi Muhammad berabad2 lalu. Mungkin Anda pernah mendengar sebuah ungkapan yang paling tidak
membahagiakan kebanyakan kaum perempuan, "Mintalah pendapat istrimu tapi
ikutilah pendapatmu sendiri." Hal2 seperti inilah yang dicoba terangi oleh para
aktivis itu bahwa kalau seseorang minta pendapat tapi kemudian hanya pendapatnya
sendiri yang didahulukan tanpa memberi pertimbangan pada nilai baik atau buruk,
itu namanya pelecehan terhadap bunda alam semesta.
Walaupun ketidak adilan berawal dari
sebuah pelembagaan dan kemudian anda kerucutkan jadi persoalan pribadi
individu-per-individu, okey, saya setuju saja. Namun ingat yang di pertaruhkan
para perempuan aktivis itu bukanlah emansipasi dalam makna persamaan
menyeluruh dengan kaum laki-laki. Tapi lebih pada proporsionalitas dalam unit
heteroseksual. Gimana sih mau gagah2an mengatakan bahwa perempuan mampu
melakukan segalanya hanya tatkala dapat teguran halus, "honey, bukan demikian,
itu salah" perempuan itu lumer bak margarin di penggorengan panas?
Dunia begitu luas tapi juga terbatas.
Sebagai perempuan dan kalau boleh mewakili, perempuan tidak pernah ingin menjadi
seorang super women. Mereka hanya ingin diterima, dicintai, dan disediakan
sebuah tempat nyaman untuk berurai air mata kalau hidup mulai terasa
menyesakan dalam dunia yg kian compang-caping (hehehe romantisnya mau
ngalahin Urpas). Memang tidak semua lelaki (ngedangdut kan tidak di larang yah?)
mampu menyediakan ini dan tidak semua perempuan pantas
mendapatkannya. Dibutuhkan kualitas2 tertentu untuk
meraihnya.
Wassalam,
Evi
----- Original Message -----
|
- [RantauNet] Setetes Embun Evi
- Re: [RantauNet] Setetes Embun Urpas
- Re: [RantauNet] Setetes Embun Wahdi Azmi
- Re: [RantauNet] Setetes Embun Wahdi, Evi, JD ... esteranc labeh
- [RantauNet] Re:Setetes Embun Wahdi, Evi, ... Evi
- Re: [RantauNet] Problem with neck? ge... esteranc labeh
- Re: [RantauNet] Problem with nec... Muhammad Dafiq Saib
- Evi

