Dear Evi,

Bagaimana anda mendapat ide bahwa hanya perempuan yang menginginkan perkawinan yang penuh pengertian? Pengertian akan muncul dengan sendirinya apabila kedua belah pihak sama-sama memiliki komitmen yang kuat untuk me-manage sisa kehidupan mereka bersama, jadi yang lebih penting menurut saya adalah komitmen itu tadi, sehingga menurut saya adalah ekspektasi yang keliru apabila dianggap lelaki punya hak dan kewenangan untuk mensuplay yang namanya pengertian, anda tidak ada pilihan lain bila ingin rumahtangganya langgeng selain saling pengertian.

>dicoba diintreprestasikan bahwa ada ruang diantara dua kutub. Celakanya ruang lelaki lebih luas dari ruang perempuan sehingga justifikasi machismo sak karepe dewe ambil tempat. Banyak yang cemas tapi banyak pula yang tidak,

yang mencemaskan saya adalah gerakan ini berawal dari suuzannya segelintir kaum perempuan dan melegitimasi interpretasi keliru tentang ruang diantara kutub itu.

Yang saya tidak habis fikir adalah bagaimana dua orang nekat memutuskan untuk berumahtangga sementara diantara mereka tidak ada rasa cinta dan hormat. Bila itu terjadi yang harus dituntut adalah diri sendiri kenapa memilih pasangan yang tidak mencintai, menghormati dirinya.

Saya punya bos dikantor, punya karakter persis seperti yang evi ungkapkan yaitu sering rapat besar diadakan tidak lain hanya untuk mencari justifikasi bahwa pendapatnyalah yang paling benar, laki-laki seperti ini memang menjengkelkan, tapi sekali lagi ini tidak hanya terjadi dalam konteks hubungan laki-perempuan, tapi hal ini merupakan sifat buruk siapa saja, bos saya dan saya sama-sama laki-laki, bahkan istri saya yang sedikit keras kepala sering merasa pendapat dan idenyalah yang paling benar. Ini bukan pelecehan terhadap bunda alam semesta ini adalah pelecehan terhadap hak asasi manusia.

Karena mendapati berbagai hal seperti diatas adalah masalah setiap manusia, makanya saya suka mengkerucutkan sekerucut-kerucutnya persoalan-persoalan seperti itu sebagai persoalan pribadi individu-per-individu, sehingga kalau kita tidak merasa nyaman dengan berbagai hal yang tidak baik, maka gerakan yang dibutuhkan adalah gerakan global perbaikan akhlak umat sehingga segala resource yang dimiliki oleh pergerakan perempuan atau pergerakan lelaki atau pergerakan apapun dapat disatukan untuk suatu tujuan yang bisa akomodatif untuk semua pihak demi kehidupan yang lebih baik.

Honey, saya sebagai pribadi juga senang bila kaum? wanita maju dalam segala bidang karena itu bisa berarti putri saya ibu saya, istri saya, nenek saya, tapi dengan tidak melembagakan perbedaan yang dapat berakibat semakin tegasnya perbedaan itu kalaupun ada.

Ketidak adilan adalah masalah kita semua

Langik indak batapi, lautan sati rantau batuah, mewakili diri saya sendiri, saya hanya ingin diterima, dicintai, tanpa uraian air mata meskipun hidup mulai terasa menyesakan dalam dunia yg kian compang-camping. Wahdi hadir bukan untuk meyediakan bahu untuk berurai air mata tapi untuk mencegah agar air mata tak terurai.

Sampo saya clear lho. Nggak ada ketombe di bahu saya. Silahkan pake asal nggak dibasahi air mata.

Wassalam,

W.A. St Rajo Imbang


Kirim email ke