|
SUARA PEMBARUAN
DAILY
Darah dari Timur
Indra J Piliang
Penyerbuan itu terjadi dua hari setelah aksi pengibaran bendera Republik Maluku Selatan (RMS). Media massa nasional menampilkan gereja sebagai salah satu markas RMS itu. Lalu, gereja tua juga yang hangus di Desa Soya. "Logika" kita seakan diajak untuk mengambil kesimpulan linear, nasionalisme religius sedang memancangkan pesannya ke seluruh penjuru Tanah Air. Lantas labirin pikiran itu berkembang, ada arus pseudo nasionalisme yang berhimpitan dengan separatisme, dalam konflik yang terjadi di Ambon. Kesimpulan linear, dari persoalan multi-aspek konflik Maluku, tentu masuk juga pada kategori pseudo akademik. Sayangnya, asumsi atau hipotesa seperti ini, terlalu sulit untuk dihindari, mengingat arahan pemberitaan media massa juga tak bisa lepas dari asas jurnalistik: fakta sebagai sesuatu yang suci. Tragedi Ambon sudah begitu banyak didiskusikan. Miliaran dana telah dialokasikan. Pasukan demi pasukan tak henti dikirim. Sejumlah kenaikan tanda pangkat dan prestasi telah disematkan. Sejumlah Doktor juga lahir. Rekomendasi dibuat bertumpuk-tumpuk. Muncul puluhan organisasi perjuangan, lembaga swadaya masyarakat, juga aksi-aksi demonstrasi yang nyaris tak berhenti. Konflik selalu bermata dua: menghasilkan pahlawan dan pengkhianat. Tetapi ada satu yang sama, kematian, ketakutan, dan amnesia sosial yang memabukkan dan meruntuhkan pilar-pilar iman. Tetapi, kenapa tak ada yang berbekas dari berbagai ragam rekomendasi, jenjang karier, dan kepahlawanan itu, bahkan hanya untuk menjaga satu kawasan desa yang selama ini tak tersentuh oleh konflik? Apakah Ambon akan terus-terusan menjadi laboratorium jurnalis yang terpaksa mencari berita dan foto dengan mempertaruhkan nyawa mereka? Kebanyakan hadiah Pulitzer, apalagi, kalau bukan diraih di area perang. Hadiah yang berguna untuk mengingatkan manusia tentang pentingnya perdamaian, sebaliknya juga simbol penderitaan dan angkara-murka. Ataukah Ambon akan terus menjadi laboratorium kalangan ilmuwan sosial, dengan keragaman dimensi: tentang peranan milisi sipil, tentang hubungan sipil-militer, tentang peran gereja dan mesjid dalam civil war, tentang mekanisme peace and reconciliation yang dilakukan kelompok-kelompok perdamaian, tentang penggunaan dan penyelundupan senjata berat dan ringan, tentang gagalnya negara, tentang hancurnya pendidikan (Universitas Pattimura) sebagai lampu penerang peradaban, tentang jarak geografis daerah konflik dengan pusat pemerintahan, tentang konflik di kalangan pimpinan politik? Yang kurang disinggung adalah tentang korban manusia dan kemanusiaan, nasib anak-anak pengungsi yang memendam trauma psikologis, kerusakan lingkungan, dan masa depan. Terdapat kisah Iren Hitijaubessy, bayi berusia 8 bulan yang lahir di era konflik, mati terbakar, justru ketika rekonsiliasi damai sudah mulai berjalan. Akankah tewasnya Iren adalah bukti paling bukti, bahwa rekonsiliasi damai hanya imaji liar yang sulit hadir di dunia nyata? Ambon kini tampil sebagai daerah tak bertuan. Kemunduran dimensi hubungan antariman, infrastruktur fisik, kohesi sosial-budaya, tenggelamnya pertumbuhan ekonomi, sampai pada aspek getok-tular konflik itu yang menyebar ke delapan penjuru angin negeri dan dunia. Ambon telah menyuruk ke masa lalu, berabad-abad lampau, ketika belum ada pemerintahan di sana, ketika rempah-rempahnya menerbitkan air liur negara dan penduduk negeri empat musim dengan mengirimkan milisi, lantas pasukan, ekspedisi yang menjelajahi lautan berbulan-bulan. Rempah-rempah yang amat berguna untuk menghangatkan badan, ketika musim dingin tiba. Ambon, kala itu, telah menjadi Lampu Aladin yang menyediakan kegurihan makanan, juga keberlimpahan materi, mengingat mahalnya harga rempah. Rempah dikenal sebagai The Gold from The East!
Serba Terbalik Kini, keadaan serba terbalik. Ambon identik dengan The Blood from The East. Darah dan air mata menggenangi tanah-tanah Ambon. Ia melindapkan kemanusiaan kita. Ia menutupi keindahan matahari, dan lautan dalam yang menyediakan pemandangan luar biasa, mutiara, ikan-ikan, terumbu karang, dan harta karun dari kapal-kapal yang tenggelam yang sebagian besar belum diselami manusia. Ambon, kini telah menunjukkan kepada kita, betapa gerhana total kemanusiaan telah terjadi. Tak ada lagi yang tersisa, kecuali kelam. Tak ada lagi masa depan, kecuali dendam. Tak ada lagi kalimat yang bisa kita katakan, selain berteriak: Kembalikan Ambon, wahai saudaraku! Kembalikan Ambon ke wajah damainya. Apa pun taruhannya, kecuali perang dan kekerasan. Tak perlu lagi kita bermanis-manis kata atas nama ilmu, informasi, atau pengetahuan, apabila objek studi kita terus-menerus menumpahkan darah dan air mata. Perang dan kekerasan tak akan menyelesaikan apa pun. Konsep war and peace tak bisa diletakkan sejajar, sebagaimana terdapat dalam buku-buku klasik. Mempelajari perang, atau konflik, atau kekerasan, adalah demi pencegahan terhadap perang, konflik, dan kekerasan. Ujung terakhir dari ilmu adalah manusia. Ilmu adalah untuk manusia, tak bisa sebaliknya, manusia untuk ilmu, termasuk ilmu perang atau ilmu agama. Untuk itu, aparatur negara harus benar-benar menunjukkan tanggung jawab menyelesaikan perang sipil di Ambon. Bagaimana bisa terus berteriak tentang negara kesatuan, apabila tidak ada usaha untuk mewujudkan itu? Jangankan dalam level "negara", bahkan dalam level desa sekalipun, aparatur negara seakan terus kewalahan. Tentu, akan banyak apologi, juga opini, untuk menunjukkan betapa aparatur negara sudah sedemikian kerasnya bekerja. Beberapa "kemajuan" sudah berhasil diraih, termasuk Malino II. Tetapi kemajuan di atas kertas belumlah bisa disebut kemajuan, apabila dari sisi pelaksanaan di lapangan ternyata menimbulkan lagi penderitaan. Yang menjadi pertanyaan juga menyangkut peran TNI. Jangan sampai citra TNI semakin rusak, akibat perilaku yang justru tak dilakukan oleh aparat TNI. Tugas TNI untuk menunjukkan kepada publik, untuk menjawab sejumlah pertanyaan di kalangan masyarakat Ambon. Simbol-simbol loreng yang digunakan oleh gerombolan yang menyerang Desa Soya, lantas kedatangan dan kepergian mereka yang ibarat hantu malam ''sehingga mengesankan keterlatihan di kalangan penduduk awam'' akan semakin menciderai kondisi psikologis anggota TNI di lapangan, yang sesungguhnya benar-benar menginginkan Maluku menjadi kawasan damai, seperti yang ditunjukkan oleh salah satu pangkalan Angkatan Laut di Teluk Ambon yang menjadi tempat para pengungsi Kristen dan Muslim berinteraksi. Maluku kini benar-benar darurat, baik untuk sipil, atau untuk militer. Atau, mari kita lebih maju lagi. Kondisi darurat negara harus diberlakukan untuk Ambon, juga wilayah konflik Indonesia lainnya. Kondisi darurat negara ini terhubung dengan pende-ritaan yang dialami oleh warga negara. Ketika warga negara tak lagi mendapatkan perlindungan dari aparatur negara, bukankah yang terjadi kemudian negara benar-benar mengalami kondisi darurat? Eksistensi negara kini telah benar-benar sirna. Dan ini tugas lembaga-lembaga negara, terutama yang dikuasai kalangan sipil, seperti eksekutif, legislatif dan yudikatif. Kerja sama antar elemen sangat diperlukan.
Penulis adalah peneliti pada CSIS .
Last modified: 3/5/2002
|
indrapil.gif
Description: GIF image
b.gif
Description: GIF image

