Salaamun alaikum WW

Uni Rahima nan cantik jelita bak bidadari di surga. Sebetulnya hamba sangat tidak puas dengan jawaban Uni tentang muatan kontradiktif dari penjelasan Uni.

Dan menyangkut tentang sejumlah orientalis, saya sudah sejak lama memonitor sepak terjang mereka baik lewat buku-buku yang diterbitkan maupun di internet. Bahkan dalam catatan saya, mereka mampu mengajukan lebih dari 50 kontradiksi dalam Quran. Setelah saya teliti, ternyata bukan kontradiksi melainkan "diskoneksi" antara bahasa asli (Quranic) dengan The Holy Quran (terjemahan bahasa Inggris). Mereka melihat kontradiksi hanya dari lapis muka hasil terjemahan bahasa Inggris, thok. Dan itu tidak saya ambil pusing. Itu "bolotnya" mereka. Jadi Uni jangan khawatir deh soal yang satu itu.

Agaknya, soal kontradiksi bukan hal baru buat saya. Ketika saya menanyakan tentang artikel Uni yang kontradiktif, saya bermaksud sebenarnya. Dan jawaban Uni sungguh tidak memuaskan saya. Saya justru khawatir karena Uni sepertinya memaksakan diri untuk menjelaskan pemahaman Uni yang "gagal" dibuktikan secara rasio sederhana.

Apalagi Uni sedang menyiapkan thesis yang nantinya akan berhadapan dengan profesor doktor insinyur di Al Azhar sana. Di sidang thesis, Uni akan berhadapan dengan antithesis yang jauh lebih dahsyat ketimbang seorang "Esteranc" yang jelek dan awam ini. Kecuali gelar Uni sekadar "palapeh makan" hawo-hawo sae. Kenapa tidak Uni jadikan saja diskusi kita ini sebagai try-out majelis thesis Uni nanti.  Dan saya siap membantu menjadi "setan" kecil untuk menguji thesis Uni tsb.

Jangan khawatir soal Bahasa Arab. Saya punya cukup banyak koleksi kamus bahasa Arab. Saya sudah cek dan ricek sebelum saya melayangkan pertanyaan ke Uni. Karena itu dalam posting terdahulu saya berani merilis, "Sungguh manusia diciptakan plintat-plintut..."  Yang meskipun terkesan sangat tradisional (bahasa Jawa) tapi cukup deskriptif untuk menjelaskan makna "hollow, round" kepada audien. Disamping,  bisa diterima oleh English speaking community. Sayang, posting tersebut tidak mendapat respon dari para pakar ilmu Quran di Rantau dan Surau, termasuk dari Uni sendiri, hafidzah Quran asal Sumbar, calon ulamawati kondang saingan Zakiah Darajat.

Justru saya khawatir Uni terlalu terpaku kepada versi bahasa Arab kontemporer sehingga tercabut dari akar bahasa Quran aslinya. Ini kekhawatiran utama saya. Apalagi, contoh-contoh yang Uni pakai menggunakan "pidgin Egyptian" yang dipakai masyarakat Mesir sehari-hari yang tentunya telah bergeser sekian jauh dari bahasa Arab aslinya --mengingat tingginya tingkat alkulturasi di Mesir selama berabad-abad.

Contoh lain, saya kutip kembali penjelasan Uni terdahulu (ini pertanyaan kedua yang saya anggap perlu Uni dijelaskan kepada publik di palanta Rantau dan Surau. Kalau nggak, Uni akan saya laporkan ke pos polisi terdekat):

>>>>Oh yah..satu lagi,kenapa pada kata "Qawwam",("waw",nya
ada dua buah).Jawabnya Ini menandakan lebih
penguatan.dalam bahasa Arab,pertambahan satu huruf
akan menambah,atau merubah arti.Seperti
kata."Qawmun",artinya "suatu kaum"(kelompok).Tetapi
ditambah satu lagi huruf "Waw"nya maka artinya akan
berubah menjadi"Penegak,atau berdiri,atau juga
pelindung".>>>>>

Bagi saya, perubahan apapun dari kata sifat, keterangan, kata benda maupun fiil amri tentu tidak akan membuat sebuah derivatif tercabut dari unsur aslinya. Dalam konteks itu, sulit bagai logika sehat untuk menerima perubahan makna yang begitu jauh dari "Sejajar" menjadi "Pelindung atau Pemimpin"  --dan akan semakin meleset lagi bila diartikan "Penegak atau Pendiri." Antara "sejajar" dengan "pemimpin", bukan sekadar meleset, tapi sudah masuk zona "antagonis," saya kira, yakni zona horisontal (sejajar) menjadi vertikal (pemimpin).

Sepertinya telah terjadi "pemaksaan" di sini. Dalam istilah Inggris, cara ini disebut "fast and loose translation." Kalau istilah Quran, cara itu disebut, "mengikuti hawa nafsu" --dipakai oleh rabai Yahudi dalam menyesatkan kaumnya, termasuk untuk menyesatkan kaum Muslim sendiri. Dalam bahasa Padang ala J. Dachtar cara itu disebut, "Hitam kecek den hitam, putiah kecekden putiah." Yaaaaaah, nggak bisa begitu dong. Uni.

Apalagi ada double w di situ (waw tasdi') dimana "qwm" menurut saya memberi makna ideal yang "sangat jauh berbeda" dari "qm." Uni, katakanlah kebenaran itu walaupun kebenaran itu menyakitkan orang-orang tertentu, termasuk karib kerabat kita sendiri. Silakan Uni baca posting saya, "The morale ratio of womanhood, Evi," sekadar ilustrasi komparatif.

Kenapa ada indikasi Uni terancam "gagal" menghadapi antithesis para professor Uni? Karena..ada sinyalemen ke situ, terutama dari.semua penjelasan Uni selama ini a.l. terkesan "menyimpang" dari ahli-ahli tafsir yang kredibel di dunia --setidaknya kredibel di mata saya.

Contoh, penjelasan Uni selama ini sering "kurang nyambung" atau bahkan "tak bersentuhan" sama sekali dengan salah satu tafsir dari sekian koleksi tafsir yang hingga kini masih saya jadikan referensi dalam moral diskusi saya selama ini ...yakni Al Maraghi, seorang warga Mesir, asli Mesir, berbahasa Mesir dan Arab serta paham bahasa Quran asli (Quranic).

Bahkan, Uni menyebutkan Quraish Shihab sebagai salah seorang profesor Uni di Al Azhar, sekarang menjadi Dubes RI di Mesir. Berarti Uni pernah membaca karya-karya beliau untuk kajian Quran (tafsir).  Dan..Quraish Shihab termasuk tokoh ulama Indonesia yang paling kredibel di mata saya untuk dijadikan "referensi bisnis terpercaya." Kenapa tidak ada satupun dari artikel Uni yang "bersentuhan" dengan ajaran dia?

Siapakah "Uni Rahima" ini sebenarnya? Kalau Uni mau jujur sama saya, bolehlah saya tahu nama suami Uni yang bekerja di Kedubes RI di Mesir itu. Apalagi beliau ahli tafsir, tentu sangat penting artinya buat saya. Nanti dari sana, akan saya cek kebenaran identitas Uni dan suami Uni tersebut. Kalau mau sih. Kalau nggak, yaah, masketir aja. Kalau benar, saya ingin kenalan dalam arti sesungguhnya. Kapan perlu with the last flight to Cairo this weekend.

Dan.(padahal) ...tak jarang Uni menggunakan bahasa Mesir sehari-hari sebagai ilustrasi pendapat Uni. Karena itu saya "sangat percaya" kalau Uni ternyata jauh lebih jago berbahasa Mesir daripada Al Maraghi sendiri.

Mohon maaf beribu maaf. Kalaulah thesis Uni dalam bahasa Inggris, saya menyediakan diri sebagai translator. Kalaulah thesis Uni dalam Bahasa Indonesia, saya menyanggupi sebagai editor. Kalau Bahasa Arab, Uni lebih jago daripada saya. Tapi karena thesis Uni dalam "bahasa Mesir", you are on your own.

Habis ngasih "bola tanggung," lantas kabur. Lempar batu sembunyi tangan. Nggak bisa gitu dong, Uni. Karena itu, pertanyaan saya ini harus segera Uni jawab. Kalau tidak, Uni saya laporkan ke pos polisi terdekat.

Love

A.C. St Rangkayo Labih

 



Do You Yahoo!?
Yahoo! Health - your guide to health and wellness

Kirim email ke