Assalamu'alaikum wr.wb,
 
Seharusnya yang disebut "mambangkik batang tarandam" itu mulai dari berfikir kritis
Salam
 
SBN
----- Original Message -----
Sent: Friday, May 17, 2002 9:26 AM
Subject: RE: [RantauNet] Fw: PRRI, PDRI, dan Deklarasi Bukittinggi

Yth Bapak Indra J Piliang,
Sangat mengesankan, kalau berkenan dan waktu mengizinkan tolong tulis yg lebih banyak lagi hal hal semcam ini. Supaya kita semua jadi lebih melek gitu. Dan tidak lupa terimakasih.
 
Wassalam,
 
M.Risda D.Djambek (PDD)
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]]On Behalf Of Indra Piliang
Sent: Friday, May 17, 2002 7:25 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [RantauNet] Fw: PRRI, PDRI, dan Deklarasi Bukittinggi

 
----- Original Message -----
 

SUARA PEMBARUAN DAILY

PRRI, PDRI, dan Deklarasi Bukittinggi

Indra J Piliang

Baru-baru ini, Pembaruan menulis tentang dekandensi intelektual dan krisis identitas yang melanda orang-orang Minangkabau. Ukurannya adalah jumlah pejabat setingkat menteri, juga kelompok intelektual di lapisan nasional. Bahkan Pembaruan juga menulis kondisi paranoid yang melanda orang Minang, antara lain dengan "mengangkat''Yusril Ihza Mahendra sebagai orang Minang, juga mengakuisisi Megawati sebagai putri Soekarno berdarah Minang dengan ibu yang berasal dari Bengkulu, orang Muhammadiyah. Dalam pembicaraan di palanta lapau, juga kencang terdengar persoalan sama, bahkan ada yang menyebut Faisal H. Basri orang Minang. Padahal, Faisal punya satu marga dalam KTP-nya, Batubara.

Kecenderungan itu juga makin menjadi-jadi, dengan pengangkatan Sutiyoso sebagai niniak mamak orang Minang, bahkan penobatan gelar adat Minang untuk Sri Sultan Hamengku Buwono X. Uniknya, "kelakuan" ini banyak terjadi di lapisan elite Minang.

Sindroma sebagai orang-orang yang dikalahkan dalam perang Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), ternyata berdampak ganda pada upaya menghitamkan unsur Minang dalam nama diri orang-orang Minang, terutama yang merantau keluar Minang. Kalau Anda menemukan nama-nama aneh, blasteran Barat-Timur-Selatan-Utara, pastilah dia orang Minang. Teman saya, sesama peneliti di CSIS, punya nama menarik: Philips Jusario Vermonte. Orang- orang pasti mengindikasikan teman ini sebagai orang asing, minimal tidak beragama Islam. Padahal, Philips ini Islam tulen, istri pake jilbab, dan menyebut diri sebagai "Islam hedonis''.

Saya tak tahu, apakah urgensinya menulis soal ini. Terkesan hanya apologetik semata, lalu membawa unsur romantik sejak zaman Iskandar Zulkarnaen, orang Macedonia yang lalu diberi nama Islam itu yang bertugas menaklukkan dunia.Padahal, memang, sejarah Minang dibangun bukan dari sejarah, melainkan dari mitos, tambo, dan petatah-petitih lama yang tak dikupas selubungnya. Tambo hanya bisa dihadapi dengan Tambo, seperti dilakukan Gus Tf. Sakai dalam bukunya Tambo: Sebuah Pertemuan (Grasindo, 2000). Seperti kata Sakai, "Beri aku tambo/bukan sejarah/karena yang pertama ada riak menjarah/sedang yang kedua sepi dari hero". Dari Tambo juga adat-istiadat Minang lahir, dan coba dikalahkan Sakai dengan membuat tambo modern, mengganti hukum tarik-balas, dengan alur-patut. Dari Tambo juga lahir Bundo Kanduang dan Dang Tuanku, keduanya orang-orang impor, istri dan anak Raja Jawa, yang juga datang dari pampasan perang dari tanah India bernama Dara Petak yang beranak Adytiawarman.

Dinilai Kulitnya

Bisakah Tambo mengatasi apa yang terjadi di Minang sekarang? Di tengah kondisi Minang yang kini sungguh menderita: 56.946 Anak Miskin di Sumbar Terancam Putus Sekolah (Pembaruan, 22 Juli 1999). Juga ketika Minang memayungkan kedamaian, ketika 700 WNI Keturunan "Mengungsi'' di Sumatra Barat sejak kampanye Pemilu 1999 digelar, guna menghindari kerusuhan selama kampanye di daerah asal mereka (Pembaruan, 23 Mei 1999). Belum lagi tragedi kemanusiaan berupa honger oedem yang melanda ribuan balita dan anak-anak Minang yang sempat menghebohkan masyarakat Indonesia. Apa yang bisa kita tarik dari lipatan kusut sejarah itu? Adakah tanduk-tanduk runcing si kerbau kecil, dengan keculasan dan kecerdikannya, akan memburaikan isi perut kerbau besar, dalam sebuah medan pergumulan yang nanti melahirkan kedaulatan, kesejajaran, dan bukan penindasan dan perbudakan?

Dalam terminologi kalangan nasionalis fundamentalis, gerakan PRRI hanya dinilai kulitnya saja, sebagai pembangkangan, juga kemurtadan, setelah ijab kabul menjadi bagian NKRI sejak 17 Agustus 1945 dengan penghulu yang menjadi the founding fathers and mothers yang sebagian besar juga berasal dari Minang, dan kini menguasai nama-nama jalan di DKI Jakarta, mulai dari Rasuna Said, sampai Imam Bonjol. Tingginya tingkat perceraian di Sumatra Barat tak dilihat, bahwa soal-soal keinginan untuk menolak keterikatan yang tak memberi manfaat merupakan satu bagian dari kebudayaan Minang. Padahal, kalau PRRI dikontraskan dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), akan terlihat jelas bagaimana kentalnya jiwa nasionalis orang-orang Minang, jauh sebelum daerah-daerah lain menyatakan berdiri sebagai tameng pertama republik, ketika republik di ambang keruntuhan legitimasi akibat bombardir pasukan NICA.Jiwa romantis dari PDRI dan PRRI ini juga yang masuk ke generasi kedua Minang, antara lain lewat pertemanan Prabowo Subianto dengan Farid Prawiranegara, anak dedengkotPRRI Soemitro Djojohadikusumo dan Safruddin Prawiranegara, dalam konstalasi politik nasional.

Sampai kinipun, orang-orang Minang jarang yang berbicara soal kehendak memisahkan diri. Sekalipun keadaan sudah banyak berubah, lahan-lahan padi yang kehilangan irigasi, roda pedati dan bendi yang kini ditarik pakai Bridgestone, jalan-jalan yang hancur akibat kelalaian pemerintah dan salah urus jalan kereta api yang menembus hutan tropis penuh kera dan siamang di Silaing, juga judi dan pornografi yang merajalela menggantikan adu ayam, adu kerbau dan kebiasaan main silat dan mengaji di surau dan tepian.Belum korupsinya yang, aduhai, termasuk raja diraja di Indonesia, dan sikap "biarin" dari masyarakat ketika APBD digunakan untuk membayar premi asuransi jiwa anggota DPRD.

Bagaimana bicara soal separatisme, apabila energi sudah habis untuk menyikapi keadaan. Tetapi, ketika banyak tudingan bahwa keinginan PRRI adalah model pembangkangan yang patut dihukum mati, sejarah harus diluruskan. Jenderal M. Jasin sendiri dalam biografinya memuji Kolonel Zulkifli Lubis yang menyerahkan suratnya, lalu surat Zukifli yang pejuang PRRI itu dilampirkan ketika Jasin sebagai Panglima Kodam Iskandar Muda membujuk Daud Beureueh turun gunung kembali ke pangkuan RI. Artinya, bagi Jasin, militer tangguh seperti Zulkifli dan kawan-kawan lebih dianggap sebagai orang yang sedang ngambek dan tetirah karena tak diperhatikan, lantas setelah dijanjikan untuk memperbaiki manajemen negara, Zulkifli bersedia pulang. Otonomi daerah adalah satu tuntutan Zulkifli, yang baru dilaksanakan oleh pemerintahan pusat secara setengah hati 60 tahun kemudian.

Dari dua perbandingan historis itu saja, PDRI dan PRRI, tak bisa membaca sejarah Sumatra Barat dalam satu tarikan napas, hitam dan putih, pahlawan atau pengkhianat. Keinginan ideologis nasionalis fundamentalis inilah yang banyak ditemukan, termasuk dalam artikel yang ditulis seorang rekan sesama peneliti, dari kampusnya di Amerika, tahun 2001. Ketika Megawati naik ke puncak kekuasaan, pengamatan sepintas inipun lantas mengemuka, lalu PRRI dibandingkan dengan apa yang terjadi kini dengan Republik Maluku Selatan (RMS), juga Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Sah-sah saja tentara NKRI melakukan pengerahan pasukan ke Sumatra Barat kala itu. Di negara manapun, keinginan separatisme selalu dihadapi dengan kekuatan bersenjata!" Padahal, argumen itu ternyata rapuh, untuk konteks sekarang, terbukti dari pengakuan Perserikatan Bangsa Bangsa atas negara Palestina, juga demo yang digelar orang Israel agar Palestina diakui sejajar sebagai sebuah negara. Lebih rapuh lagi dalam konteks nasional, ketika Pemerintah RI menempuh jalur dialog dengan AGAM di Swedia.

Sejarah

Pendekatan terhadap sejarah yang paling penting untuk Indonesia kini adalah bersahabat dengan sejarah. Bukan sebaliknya, menjadikan sejarah sebagai senjata trisula yang memberangus memori kolektif masyarakat, membodohi publik, dan menimbulkan penderitaan baru. Sejarah sendiri tak pernah salah, bila didekati secara objektif, karena berhubungan dengan pilihan manusia dalam era dan masalah zamannya masing-masing. Bagi orang-orang yang belajar sejarah, kesadaran semacam ini sudah banyak timbul. Ironisnya, justru pendapat subjektif dan anakronistis muncul dari kalangan yang tak banyak belajar dari sejarah, terutama dari kalangan politisi yang merasa dirinya berkuasa. Padahal, politisi itu juga banyak dulunya tertindas, dan sekarang seperti membangun diri menjadi rezim penindas yang menebang tumbuhnya benih kebebasan berpendapat, seperti usaha membatasi kebebasan pers.

Dalam kebutuhan semacam ini, tumbuhnya keinginan berbagai kalangan di Provinsi Sumatra Barat untuk mengeluarkan "Deklarasi Bukittinggi" yang menyuarakan tuntutan kepada Presiden Megawati Soekarnoputri agar mengakui eksistensi PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) sebagai bagian integral dari Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (Republika, 27 April 2002), patut dilihat bukan sebagai usaha berenang ke hilir dalam arus etno-sentrisme. Keinginan itu hanyalah bagian dari penambahan"bab yang hilang" dalam historiografi Indonesia yang banyak didominasi oleh kepentingan politik Jakarta dan terutama elite-elitenya.

Sebatas menambah bab, mengapa harus takut? Kalau bisa, bab-bab itu juga ditambahkan dengan peranan masyarakat daerah lain, dalam hiruk-pikuk revolusi kemerdekaan, sekalipun daerah-daerah itu kini tak lagi berperan. Ketimbang menuntut provinsi baru, atau meneriakkan penghujatan atas pusat, lebih baik cara-cara akademis-romantis itu ditempuh, karena bangsa-bangsa besar di dunia juga melakukannya, termasuk dengan memperbarui sistem pendidikan yang mengandung sejarah bangsanya. Buku-buku sejarah Jepang saja hanya menulis sebaris-dua baris tentang inkuisisi tentara fasisnya di Asia Tenggara, agar generasi muda Jepang tak terus trauma melihat peran negaranya. Apalah lagi kita, yang terlalu sedikit menghargai bangsa sendiri, terlalu royal memberikan kesetiaan kepada bangsa lain.

Penulis adalah peneliti pada CSIS.

Kirim email ke