Tuhan dan agama! kadang-kadang sering diplesetkan oleh sebagian kaum Barat
dan Golongan Atheis disana. Tuhan telah mati! Nafsu itu adalah Tuhan itu
sendiri salah credo dari 9 credo golongan Church of Satan (lihat
http://www.churchofsatan.com/) , suatu golongan pemuja setan yang pernah
menghebohkan Manado, Jakarta, Bandung dan kota-kota besar lainnya di
Indonesia. Salah satu
penganutnya adalah pemusik Marilyn Manson dengan ceweknya salah satu anggota
bintang film TV, Charmed,dan Black Sabbath yang sering melakukan ritual
minum darah sebelum mentas.
Alasan logis apakah yang menyebabkan manusia mau-maunya dengan
terang-terangan menyembah makhluk yang jelas-jelas memusuhi mereka?. Ini
akibat karena pada dasarnya manusia ingin cepat terkabul semua keinginannya
tanpa berbelit-belit dan menunggu waktu yang lama. Akibat agama yang mereka
kenal tidak mampu menjawab persoalan sosial dan batin yang mereka alami.
Akibat Tuhan yang mereka percaya, mempunyai pengetahuan saling
berkontradiksi dengan sains, bertentangan dengan akal mereka. Akibat
pemujaan yang berlebihan terhadap budaya materialis, tetapi tidak mampu
menjawab persoalan rohani mereka. Dengan materi yang berlimpah ternyata
rohani mereka amat kosong. Mudah sekali berbuat kerusakan, hooliganisme,
freesex, angka perceraian yang sangat tinggi. Keluarga yang berantakan.
Akibat gambaran Tuhan yang telah direndahkan dan
tidak bisa diterima oleh rasionalitas akal manusia
selama ini, yang dikembangkan oleh golongan tertentu sejak 2000 tahun yang
lalu.
Agama adalah candu yang dibuat dari pikiran manusia, kata Karl Marx.
Jika manusia dapat menghilangkan candu itu, niscaya selamatlah manusia. Maka
berkembanglah dengan bebasnya paham2 anti Tuhan seperti Atheis, Nudis,
Homosex, AntiChrist,
Gereja Setan, Gereja Lucifer, Sekte Hari Kiamat dan beribu sekte
lainnya.Lain lagi kata salah satu group musik terkenal Firehouse dalam nama
satu
judul albumnya "You are my religion" ,ceweknya dianggap agama!
Ternyata pengertian agama sudah melenceng dan menjadi luas.
Dulu manusia memuja Tuhan2 dengan fenomena alam seperti matahari, bulan,
bintang, petir, gunung,dsb yang dinamai dengan beraneka macam nama dewa,
patung2 orang2 alim mereka, bahkan manusia utusan-Nya.
Tapi ada apakah dibalik dewa2 itu siapa yang mengaturnya?.
Untunglah Tuhan yang sebenarnya memberikan kasih sayang-Nya dengan mengutus
rasul-Nya terakhir melalui Nabi Muhammad, untuk menerangi rohani manusia
yang berada dalam kegelapan itu. Ternyata dewa2 itu hanyalah khayalan
manusia, akibat ketakutan mereka terhadap fenomena alam, ketidak mampuan
menjawab persoalan2 rohani mereka, umur, nasib mereka serta persoalan lain
diluar akal mereka.
Kadang-kadang timbul juga pertanyaan , seperti apakah Tuhan itu, Kenapa Dia
tidak mau memunculkan wajah-Nya ke manusia. Pertanyaan seperti ini sudah
sejak dulu ada timbul pada diri manusia seperti yang ditanyakan oleh umat
Nabi Musa, diceritakan dalam Al Quran 2:55-56
Artinya : " Ingatlah Hai Bani Israil, ketika Kami berkata: "Hai Musa! kami
tidak akan percaya kepada engkau sebelum kami melihat Allah itu
jelas
terang. Maka halilintarlah yang datang menyambar kamu, sedang
kamu
melihatnya, hingga mati semua"
Jelas pertanyaan seperti itu, melecehkan kebesaran Tuhan itu sendiri.
Ilmuwan percaya bahwa ada unsur-unsur tertentu dibintang tidak harus ke
bintang itu sendiri. Yakni dengan ilmu spektrum yaitu setiap unsur mempunyai
spektrum cahaya tertentu dan dengan melihat perubahan warnanya dapat
diketahui jaraknya dari bumi. Ahli geologi mengetahui adanya minyak bumi,
tidak harus ke dalam perut bumi. Jadi bisa diketahui dengan jejaknya.
Mengenai keberadaan Tuhan dapat dilihat dari keteraturan hasil
ciptaan-Nya ini. Betapa kecilnya dan teraturnya sistem tatasurya dalam
mengelilingi titik pusat galaksi Milky Way atau Bima Sakti,
seperti wahyu Allah dalam surat 36 ayat 38.
Artinya: "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya,
demikianlah ketetapan yang maha Perkasa lagi maha
mengetahui."
Tempat khusus itu telah dibenarkan oleh astronomi modern dan dinamakan
Apex matahari; sesungguhnya sistem matahari berkembang dalam angkasa
menuju kepada titik dalam
konstelasi Hercule, di dekat bintang Zega yang hubungannya sudah
diketahui benar; gerak sistem matahari mempunyai kecepatan 19 kilometer
per detik.
Galaksi ini berada diantara Galaksi cantik berbentuk spiral, Andromeda,
Centurius,dan milyaran galaksi lainnya yang terus mengembang dan telah
dinyatakan dalam Al Quran (surat 51 ayat 47) yang merupakan perkataan
Tuhan, dihadapkan dengan Sains modern
Artinya: "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami,
dan Kami meluaskannya."
Mengenai keharusan manusia untuk memikirkan alam ini sebagai bukti
kebesaran-Nya, dinyatakan dalam Al Quran :
Surat 2 ayat 164:
Artinya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,
silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang
berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi
manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit
berupa air; lalu dengan air itu Ia hidupkan bumi
sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi
itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan
awan yang dikendalikan antara langit dan bumi,
sungguh (terdapatlah) tanda (keesaan dan kebesaran
Allah) bagi kaum yang memikirkan."
Lagi dalam, Surat 13 ayat 3:
Artinya: "Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan
menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya
dan menjadikan padanya semua buah-buahan
berpasang-pasangan. Allah menutup malam kepada
siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum
yang memikirkan."
Jadi Islam adalah agama rasional, apa-apa yang seharusnya dijawab oleh akal.
Suatu saat kita mengalami, apa yang kita inginkan tidak tercapai, kita
tidak mampu mengatur umur kita, kita tidak mampu mengetahui dan mengatur
apa sesungguhnya
nasib yang kita terima kelak, seberapa besar rezki yang kita terima dan
mengapa
ada orang yang lebih muda meninggal lebih dulu,dan pertanyaan2 lain diluar
kendali akal kita untuk menjawabnya. Dari situlah makin besar keyakinan
kita, betapa besar kekuasaan Allah Swt. Dan kepada-Nyalah kita
berserah diri terhadap apa yang telah kita usahakan.
Mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan,
Dari hamba yang masih belajar,
Wassalammualaikum WW,
Marven
Tauhid, Sebuah Pembuktian Risalah Ilahi<><><><><><><><><><> <><><><><><>
Tauhid, Sebuah Pembuktian Ilahi
Oleh : Armansyah
<><><><><><><><><><> <><><><><><>
Artikel ini pernah ditayangkan dimilis "Islamic Network" <[EMAIL PROTECTED]> dan
<[EMAIL PROTECTED]> serta "Multiple recipients of list"
<[EMAIL PROTECTED]> pada tanggal 14 dan 15 Agustus 1998.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Jaman keemasan Islam yang berlangsung selama periode Abbasiyah di Baghdad (750
-1258) dan Bani Umaiyyah di Spanyol (755-1492), tinggal kenangan belaka.
"Pada jaman orang-orang Eropa masih menyelam dalam kebiadaban yang teramat
gelap, Baghdad dan Cordova, dua kota raksasa Islam telah menjadi pusat peradaban
yang menerangi seluruh dunia dengan cahaya gilang gemilangnya." demikian kata
Dr. Gustave Le Bone.
Dalam permulaan abad pertengahan tak satu bangsapun yang lebih besar
sumbangannya untuk proses kemajuan manusia selain dari bangsa Arab. Mahasiswa2
Arab sudah asyik mempelajari Aristoteles tatkala Karel Agung bersama pembesar2
nya masih asyik belajar menulis namanya. Disekitar abad X, Cordova adalah kota
kebudayaan yang ternama di Eropa dengan Konstantinopel dan Baghdad merupakan
kota-kota pusat kebudayaan didunia.
Demikianlah sekilas pandangan bila kita mempercayai sejarah jaman keemasan Islam
dimasa lampau. Ataukah sejarah tersebut telah mendustai kita ?
Kepada mereka yang menjadi pekerjaannya silahkan mengadakan penelitian kembali,
dan kepada mereka yang mempercayai catatan sejarah itu bangga dan bergembira
hatilah. Lalu bertanyalah: Kenapa sedemikian mengagumkannya Islam dimasa itu ?
Dan kenapa golongan Islam sekarang ini bisa dipecundangi oleh golongan lain
sedemikian hinanya ? Sekian banyak lagi pertanyaan kita ajukan, tetapi kepada
siapa ?
Barangkali belum pernah Islam menghadapi bencana yang lebih besar dari apa yang
mereka hadapi pada dewasa ini. Begitu besar tantangan yang yang harus
dihadapinya sehingga dia dipaksa "menyerah kalah" kepada "Tuhan dunia" yang
baru.
*Tuhan dunia yang baru itu tak lain daripada kaum Imperialisme, Materialisme,
kelompok Eksistensialis, Orientalis dan Atheis plus Skeptik. Manusia tidak lagi
percaya bahwa Tuhan adalah penyelamat bumi dan langit yang Maha Sempurna bahkan
sebagian besar orang Islam sendiri sudah tidak pula mempercayai-Nya.
Mereka mencari ide-ide baru dalam rangka menyusun sistem kenegaraan yang mereka
pikir sangat ideal. Mereka menggali pula "pendapat" baru untuk menata
masyarakat. Dan semua golongan itu mereka temukan dalam kepada golongan yang
telah disebutkan diatas (*). Lalu mereka memuja isi kepala (otak) penemu-penemu
ide baru itu dan mereka pikir dengan demikian mereka telah menemukan tatanan
baru.
Satu pertanyaan:
Jika manusia telah menemukan tatanan baru yang disebut Ideal itu benar adanya,
mengapa kejadiannya malah sebaliknya ?
Bukan masyarakat ideal yang mereka temui tetapi malah keadaan masyarakat yang
kacau balau !
Diluar kawasan Islam telah terjadi konfrontasi antara ilmu dengan agama. Hal itu
terjadi dalam jaman tengah dibarat. Setiap keterangan ilmu yang tidak sepaham
dengan gereja segera dibatalkan oleh Kepala Gereja.
Itulah yang terjadi pada Astronom Nicholas Copernicus (1507) yang menghidupkan
kembali ajaran orang-orang Yunani dijaman purba yang mengatakan bahwa bukan
matahari yang berputar mengelilingi bumi sebagaimana ajaran gereja dan tercantum
pada Yosua 10:12-13, melainkan bumi yang berputar dan mengedari matahari.
Galileo Gelilei yang membela teori tersebut pada tahun 1633 diancam hukuman
bakar seandainya dia tidak mencabut kembali teori tersebut oleh Inkuisisi, yaitu
organisasi yang dibentuk oleh gereja Katolik Roma yang menyelidiki ilmu klenik
sehingga sikap gereja yang kaku itu telah menimbulkan tuduhan bahwa agama
menjadi penghalang bagi kemerdekaan berpikir dan kemajuan ilmu.
Dari keadaan demikian terjadilah berbagai pemberontakan dari dalam.
Pada tahun 1517 terjadi reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther sehingga
menimbulkan kelompok Protestan.
Pada tahun 1992, yaitu setelah 359 tahun kecaman kepada Galileo dilontarkan oleh
pihak gereja, akhirnya gereja Katolik Roma secara resmi mengakui telah melakukan
kesalahan terhadap Galileo Gelilei dan Paus Yohanes Paulus II sendiri telah
merehabilitasinya.
Rehabilitasi diberikan setelah Paus Paulus menerima hasil studi komisi Akademis
Ilmu Pengetahuan Kepausan yang dia bentuk 13 tahun sebelumnya dengan tugas
menyelidiki kasus itu. Komisi ini memberitahukan, anggota Inkuisisi tang
mengecam Galileo telah berbuat kesalahan. Mereka menetapkan keputusan secara
subjektif dan membebankan banyak perasaan sakit pada ilmuwan yang kini dipandang
sebagai bapak Fisika Eksperimental itu.
"Kesalahan ini harus diakui secara jantan sebagaimana yang Bapa Suci minta",
demikian kata ketua Komisi Kardinal Paul Poupard pada Paus Paulus dalam suatu
upacara.
Paulus Yohanes dan beberapa pendahulunya mengakui bahwa gereja melakukan
kesalahan, tapi para ilmuwan mengkritik Vatican karena tidak bergerak cepat
untuk meluruskan masalah itu secara resmi.
Jauh sebelum Paus Yohanes Paulus II merehabilitasi Galileo, Napoleon Bonaparte
seorang tokoh besar Prancis pernah menyatakan mengenai ketidak seimbangan antara
iman dan akal yang telah diterapkan dalam Bible sehingga dia menjadi murtad dari
agamanya tersebut dan beralih kepada Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
Saw yang membuka diri terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
sebagai salah satu sarana dalam pencapaian kepada Tuhan.
Selanjutnya perkembangan berpikir semakin pesat dan ilmu pengetahuan pun semakin
berkembang dan melahirkan pendapat bahwa segala sesuatu itu dapat dijangkau oleh
daya pikir. Segala sesuatu yang tidak masuk akal adalah nol, tidak ada. Dalam
masa itu muncullah Rene Descartes (1598-1650) tampil kepanggung revolusi.
Hanya buah pikiran yang terang benderang yang dapat diterima. Dia berpendapat
bahwa alam itu berjalan secara mekanis. Descartes juga berpendapat bahwa hanya
akallah yang menjadi sumber pengetahuan.
Begitu juga dalam soal kenegaraan, Machiavelli (1469-1527) tampil mewakili
pendapat baru. Dia mengobarkan pemisahan gereja dan agama serta kenegaraan harus
dipisahkan.
Pada akhirnya tampil pula golongan Materialisme, paham mana memperkuat barisan
anti agama. Golongan Atheisme kemudian mengatakan bahwa : Tuhan adalah
manifestasi dari khayalan manusia, oleh karenanya agama adalah racun bagi
rakyat. Demikianlah kelak yang menjadi doktrin Karl Marx.
Manifestasi atau sebab dari revolusi pikiran itu kemudian melahirkan berbagai
bentuk filsafat dan tatanan masyarakat "dunia baru" sebagaimana yang nampak
dewasa ini. Salah satu yang jelas adalah Imperialisme. Kemudian terpisahnya
agama dari gelanggang politik dan ekonomi. Agama yang tersebut diatas dianggap
"tidak mampu memberikan interpretasi" atas kemajuan serta pesatnya ilmu (otak)
manusia bumi, Dan terakhir tibalah jaman Individualisme.
Kita dapat menyimpulkan bahwa lahirnya berbagai golongan yang tersebut
(Materialisme, Atheisme, Imperialisme, Individualisme, Orientalis dsb) adalah
karena agama yang mereka anut tidak mampu memecahkan persoalan yang mereka
hadapi sehingga mereka mencari pemecahan sendiri yang sangat berlawanan dengan
agamanya.
Dengan demikian dapatlah kita menilai sampai dimana kebenaran agama tersebut.
Sebagai agama, dia ditantang oleh para manusia penganutnya. Jadi, pemeluknya
lebih pandai dari ajaran agama itu sendiri.
Dan ternyata pula kemudian bahwa penemuan-penemuan yang diperoleh oleh ahli
pikir tadi tidak pernah terpikir atau terdapat dalam kitab suci agama mereka!
Bagaimanakah suatu kitab suci dapat membela dirinya dari kasus seperti itu ?
Itulah salah satu penyebab mengapa Karl Marx berkata : "Religion is the sigh of
the oppressed creature the heart of heartless world, just as it is the spirit of
a spiritless situation. It is the opium of the people".
Dalam hal ini ... siapakah diantaranya yang salah ?
Marx atau agama ?
Kiranya semua orang berpendapat bahwa agama harus mampu menjawab dengan benar
setiap pertanyaan dan masalah manusia sampai tuntas sehingga manusia puas atas
kebenarannya. Jika agama tersebut tidak kuasa menjawab dengan benar, maka
berarti dia berasal dari Tuhan yang lebih bodoh dari manusia.
Pengertian harakah (gerakan) dalam Islam berbeda dengan apa yang diungkapkan
sebagian doktrin dan agama lainnya. Pengertian ini timbul sebagai asas dari
keselarasan antara pasangan-pasangan Material dan Immaterial, fisika dan
metafisika, bumi dan langit, ilmu dan iman, manusia dan Allah, panas dan dingin
serta lain sebagainya yang meletakkan pada dasar keseimbangan.
Hilangnya salah satu ujung dari ujung-ujung perseimbangan ini akan memisahkan
agama Allah dari kemampuan untuk bergerak dan menyebar.
Disini celah-celah pembicaraan mengenai pendirian dari Sains, tampaklah
kerapatan hubungan tersebut secara kokoh, yaitu kerapatan hubungan antara Islam
dan hakikat Sains serta sumbangsihnya.
Namun ini tidak menghalang-halangi kita untuk memandang bagian-bagian yang sarat
akan setiap hakikat Qur'aniah yang bersumber dari Ilahi, dan tidak bisa dinamai
-secara metaphoris atau figuratif- hakikat ilmiah yang bersumber dari manusia
karena disana ada garis pemisah dilihat dari segi berubah-ubahnya kedua sumber
ini, yaitu garis pemisah yang terbentang diantara ilmu Ilahi dan ilmu Basyari
(manusia).
Ilmu Ilahi yang memberi kita sebagian pemberiannya dalam Islam berisi hakikat
-hakikat dan penyerahan-penyerahan yang mutlak. Sesuatu yang batil tidak datang
dari depannya dan tidak pula dari belakangnya, yaitu ketika pemberian-pemberian
ilmu Basyari menjadi tertahan oleh relativitasnya, kekacauannya dan
perubahannya.
Dalam ilmu Basyari tiada hakikat final. Para ilmuwan sendiri -setelah melalui
eksperimen dengan segala perlengkapannya- berkesudahan sampai kepada hasil ini
bahwa pemberian-pemberian Sains hanyalah kemungkinan-kemungkinan belaka, kadang
salah kadang tepat, dan penyingkapan-penyingkapannya adalah penyifatan bagi yang
tampak, bukan interpretasi baginya.
Allah Swt mengajarkan kepada manusia melalui Rasul-Nya, bahwa isi AlQur'an itu
tidak lain dari fitrah manusia, petunjuk bagi manusia untuk mengenal dirinya dan
lingkungannya.
Sayangnya umat Islam selama ini cenderung lari dan mengingkari kefitrahan yang
dimaksudkan oleh AlQur'an itu sendiri. Kaum muslimin tidak lebih mengerti
AlQur'an ketimbang orang diluar Islam sendiri. Agama Islam menjadi asing dalam
lingkungannya sendiri, tepat seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah
dalam berbagai Hadist Shahih.
Allah telah menentukan bahwa kesadaran manusia datangnya berangsur, bertahap
sesuai dengan perkembangan peradaban yang Dia tetapkan lebih dahulu.
AlQur'an juga mengajarkan bahwa tiada iman yang tidak diuji, karenanya kaum
Muslimin harus mempersiapkan diri menghadapai ujian Allah yang sangat berat
sekalipun. AlQur'an juga mengajarkan bahwa ia merupakan petunjuk yang sebaik
-baiknya untuk membina kehidupan umat, itulah kewajiban kaum Muslimin untuk
membuktikan kebenarannya !
Bukan kewajiban Allah untuk membuktikan kebenaran firmanNya ! Sebab firman itu
benar dengan sendirinya.
Dengan modal kejujuran, kita bisa membaca sikap kita selama ini: meminta,
menuntut agar Allah membuktikan kebenaran firmanNya ! Karena kita tidak mengerti
apa makna ajaran Allah !
Coba anda belajar pada orang Jepang tentang ilmu membuat mobil dan orang Jepang
akan memberikan buku serta rumus-rumusnya.
Tugas anda adalah untuk membuktikan kebenaran ilmu-ilmu yang anda terima dari
Jepang, dan bukan menagih agar orang Jepang membangun industri mobil di
Indonesia dengan ilmu-ilmu mereka itu, serta bukan pula dengan jalan hanya
menghapalkan dengan melagukan ilmu-ilmu membuat mobil itu semata dengan harapan
anda akan menjadi pintar dengan sendirinya sehingga tiba-tiba anda bisa
menciptakan mobil tersebut dengan sim salabim !
Begitulah AlQur'an, sebagai satu sarana untuk menghadapi ujian Allah tentang
keimanan, kita harus belajar, belajar, berjuang dan berjuang agar kita bisa
merealisasikan kebenaran ayat-ayat itu. Memang tidak mungkin jika ilmu Allah
termuat dengan rinci dalam AlQur'an, karena AlQur'an sendiri sudah mengkiaskan
bahwa ilmu Allah itu tidak bisa dituliskan dengan tinta sebanyak air dilautan
sekalipun.
AlQur'an hanyalah satu petunjuk yang menunjukkan bahwa Ilmu Allah terdapat
dimana-mana, diluar dan dalam diri manusia itu sendiri. Suatu petunjuk yang
sempurna yang harus dikaji dengan otak, perasaan dan logika pengetahuan. Bukan
sekedar menagih kepada Allah untuk merealisasikan janjiNya !
Islam terlahir "TIDAK dengan bermahdzab", Islam adalah satu.
Tidak ada Islam Hanafi, Islam Hambali atau Islam Syafe'i.
Bahkan 'Islam Muhammad' pun tidak pernah ada, apalagi Islam Ahmadiyah !
Islam adalah agama Allah, agama yang berdasarkan fitrah manusia dan agama yang
diturunkan kepada semua Nabi dan Rasul sebelum kedatangan Muhammad Saw.
Seluruh umat Islam bertanggung jawab untuk menyampaikan dan menyebarluaskan
risalah Islam. Tidak ada perbedaan, kecuali perbedaan kadar dalam memahami
Kitabullah dan Sunnah Rasul. Dan tidak ada seorangpun yang memperoleh izin
khusus, sekalipun dia memiliki kemampuan dan pengakuan yang tertinggi dalam
bertabligh untuk dapat menghalalkan yang diharamkan Allah, atau mengharamkan
yang telah dihalalkanNya.
Kondisi umat Islam secara konvensional sekarang ini telah menunjukkan umat yang
terbelakang, cara berpikir yang tidak strategis tetapi taktis, tidak mengambil
prakarsa atau defensif, terbawa inisiatif kebudayaan dan apologetis yang
menyebabkan umat Islam berada diluar garis perjuangan.
Dalam hal pentafsiran kitabullah, memahami isi kandungannya, umat Islam tidak
bisa terpaku hanya kepada penafsiran/penterjemahan serta logika orang-orang
terdahulu yang yang sudah pernah ada semata, sebab seiring dengan perkembangan
tata bahasa dan pengertian serta perkembangan dari peradaban ilmu dan
tekhnologi, maka akan banyak pula istilah-istilah yang lebih tepat didalam
pengartian suatu ayat, menganalisanya dengan Ilmu pengetahuan sekaligus
memahaminya secara baik.
Setiap orang boleh mengungkapkan makna kitab suci AlQur'an. Karenanya penafsiran
AlQur'an bukan monopoli para imam dan mudjtahid (pemimpin agama dan pemegang
wewenang tertinggi dalam bidang hukum).
Islam bukanlah agama yang penuh misteri, begitupun AlQur'an sebagai kitab
sucinya, yang hanya dapat dimengerti oleh sekelompok jemaah tertentu.
Rasulullah Muhammad Saw tidak meninggalkan dunia yang fana ini kecuali setelah
ia menyampaikan amanat dan menunaikan risalahnya. Rasulullah kemudian meminta
para pengikutnya dan semua sahabat-sahabatnya untuk menyebarluaskan dan
menyampaikan ajaran-ajaran Ilahi yang telah mereka peroleh darinya.
Manusia dianjurkan oleh Allah melalui Dienul Islam supaya berpikir dan
merenungkan kekuasaan serta memperhatikan alam ciptaan-Nya. Karena berpikir
adalah merupakan salah satu dari fungsinya akal yang dimiliki oleh manusia. Jika
akal tidak berfungsi, maka manusia telah kehilangan milik satu-satunya yang
menjadikannya makhluk utama dan istimewa diatas bumi dan tidak dapat lagi
berperan dalam kehidupan selaku manusia yang berpredikat Khalifatullah fil ardl.
Para cendikiawan telah sepakat bahwa pikiran yang bebas dan akal yang kreatif
adalah pangkal kemajuan umat manusia, sedangkan pikiran yang terbelenggu dan
akal yang tidak berinisiatif dan hanya pandai meniru serta bertaqlid buta
menjadi penghambat kemajuan individu dan umat.
Oleh sebab itulah Rasulullah Saw mengisyaratkan kepada umatnya tentang fungsi
dan kegunaan akal yang sebenarnya agar manusia tidak salah menempatkan derajat
kemanusiaannya.
Dalam salah satu Hadistnya, Rasulullah Saw bersabda: Bahwa akal itu terbagi
dalam tiga bagian/fungsi. Sebagian untuk Ma'rifatullah, sebagian untuk
Tha'tullah dan sebagian lagi untuk Ma'siatillah.
Golongan Materialis dan sejenisnya menyimpulkan karena Tuhan itu tidak rasionil
dan tidak bisa pula dibuktikan secara laboratories maka Tuhan itu tidak ada !
Mereka hanya bisa mempercayai sesuatu kalau ada buktinya, ada barangnya.
Manusia dapat mempercayai atom dan pecahannya karena ia dapat dibuktikan lewat
laboratorium. Begitu halnya gelombang.
Lalu bagaimanakah Tuhan dapat dibuktikan ?
Kenapa orang beragama dan terlebih lagi Islam percaya pada adanya Allah ?
Emmanuel Kant (1724-1804) seorang filusuf besar Jerman yang masih besar
pengaruhnya sampai sekarang dalam berbagai lapangan hidup pada jaman
Rasionalisme abad ke-18 semboyannya ialah "Sapere Aude" => Beranikan mengunakan
akalmu !
Namun dalam bukunya Kritik der theoritiche vernunft ditandaskan bahwa
penyelidikan dengan akal benar dapat memberikan suatu pengetahuan tentang dunia
yang nampak itu, akan tetapi akal sendiri tidak sanggup memberikan kepastian
-kepastian dan bahwa berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang
Tuhan, manusia, dunia dan akhirat akal manusia tidak mungkin memperoleh
kepastian-kepastian melainkan hidup dalam pengandaian-pengandaian beragam
postulat.
E. Kant yang raksasa ahli pikir itu insyaf bahwa hakekat itu tidak dapat dicapai
dengan akal yang terbatas ini. Baru akan bertemu bila akal dipisahkan dari diri
dan dijadikan orang ketiga untuk mempertemukan si aku dan si dia, padahal itu
mustahil.
Untuk mengenal Allah, maka jalan satu-satunya ialah memikirkan, merenungkan dan
menyelidiki makhluk ciptaan-Nya disamping mengenal sifat-sifatNya yang dapat
dijadikan pegangan dan sekaligus akan melahirkan sifat atau sikap yang terpuji
bagi seseorang.
Tanyakanlah pada diri anda sendiri "Mengapa bumi dan langit bisa sehebat ini,
bagaimana
jaring-jaring kehidupan (ekologi) bisa secermat ini, apa yang membuat semilyar
atom bisa berinteraksi dengan harmoni, dan dari mana hukum-hukum alam bisa
seteratur ini ?".
Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat mereka cepat
lari pada "sesembahan" mereka setiap ada fenomena yang tak bisa mereka mengerti
(misal petir, gerhana matahari). Kemajuan ilmu pengetahuan alam kemudian mampu
mengungkap cara kerja alam, namun tetap tidak mampu memberikan jawaban, mengapa
semua bisa terjadi.
Ilmu alam yang pokok penyelidikannya materi, tak mampu mendapatkan jawaban itu
pada alam, karena keteraturan tadi tidak melekat pada materi. Contoh yang jelas
ada pada peristiwa kematian. Meski beberapa saat setelah kematian, materi pada
jasad tersebut praktis belum berubah, tapi keteraturan yang membuat jasad
tersebut bertahan, telah punah, sehingga jasad itu mulai membusuk.
Bila di masa lalu, orang mengembalikan setiap fenomena alam pada suatu
"sesembahan" (petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari), maka seiring
dengan kemajuannya, sampailah manusia pada suatu fikiran, bahwa pasti ada
"sesuatu" yang di belakang itu semua, "sesuatu" yang di belakang dewa petir,
dewa laut atau dewa matahari, "sesuatu" yang di belakang semua hukum alam.
Kemampuan berfikir manusia tidak mungkin mencapai zat Tuhan. Manusia hanya
memiliki waktu hidup yang terhingga. Jumlah materi di alam ini juga terhingga.
Dan karena jumlah kemungkinannya juga terhingga, maka manusia hanya memiliki
kemampuan berfikir yang terhingga. Sedangkan zat Tuhan adalah tak terhingga
(infinity).
Karena itu, manusia hanya mungkin memikirkan sedikit dari "jejak-jejak"
eksistensi Tuhan di alam ini. Adalah percuma, memikirkan sesuatu yang di luar
"perspektif" kita.
Karena itu, bila tidak Tuhan sendiri yang menyatakan atau "memperkenalkan" diri
-Nya pada manusia, mustahil manusia itu bisa mengenal Tuhannya dengan benar. Ada
manusia yang "disapa" Tuhan untuk dirinya sendiri, namun ada juga yang untuk
dikirim kepada manusia-manusia lain. Hal ini karena kebanyakan manusia memang
tidak siap untuk "disapa" oleh Tuhan.
Tuhan mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda yang
cuma bisa berasal dari Tuhan. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa tahu bahwa
utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal-hal yang sebelumnya
tidak mungkin diketahuinya dari sekedar mengamati alam semesta. Karena itu
perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji, apakah tanda-tanda utusan tadi
memang autentik (asli) atau tidak.
Pengujian autentitas inilah yang sangat penting sebelum kita bisa mempercayai
hal-hal yang nantinya hanyalah konsekuensi logis saja. Ibarat seorang ahli
listrik yang tugas ke lapangan, tentunya ia telah menguji avometernya, dan ia
telah yakin, bahwa avometer itu bekerja dengan benar pada laboratorium ujinya,
sehingga bila di lapangan ia dapatkan hasil ukur yang sepintas tidak bisa
dijelaskanpun, dia harus percaya alat itu.
Karena yakin akan autentitas peralatannya, seorang astronom percaya adanya
galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa, seorang geolog percaya adanya
minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke dalam bumi, dan
seorang biolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus pergi ke zaman purba.
Keyakinan pada autentitas inilah yang disebut "iman". Sebenarnya tak ada
bedanya, antara "iman" pada autentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan
"iman"-nya seorang fisikawan pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena bila
di dunia fisika ada alat yang bekerjanya tidak stabil sehingga tidak bisa
dipercaya, ada pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda-tanda yang
dibawanya tidak kuat, sehingga tidak pula bisa dipercaya.
Tanda-tanda dari Tuhan itu hanya autentis bila menunjukkan keunggulan absolut,
yang hanya dimungkinkan oleh kehendak penciptanya (yaitu Tuhan sendiri). Sesuai
dengan zamannya, keunggulan tadi tidak tertandingi oleh peradaban yang ada. Dan
orang pembawa keunggulan itu tidak mengakui hal itu sebagai keahliannya, namun
mengatakan bahwa itu dari Tuhan !!!
Pada zaman Nabi Musa, ketika ilmu sihir sedang jaya-jayanya, Nabi Musa yang
diberi keunggulan mengalahkan semua ahli sihir, justru mengatakan bahwa ia tidak
belajar sihir, namun semuanya itu hanya karena ijin Tuhan semata.
Demikian juga Nabi Isa, seperti yang tercantum dalam St. John 7:16-17 :
"Jesus answered them, and said, My doctrine is not mine, but His that sent me.
If any man will do his will, he shall know of the doctrine, wheter it be of God,
or whether I speak of my self."
Nabi Muhammad Saw datang membekal AlQur'an sebagai mukjizat terbesarnya
sepanjang sejarah peradaban yang dipenuhi dengan berbagai kandungan ilmu
pengetahuan baik agama/KeTuhanan maupun sisi ilmiah yang beberapa diantaranya
baru ditemukan kebenarannya oleh para ahli diabad ke-20.
Tapi Rasulullah Saw tidak mengklaim bahwa itu semua hasil karyanya sendiri,
melainkan dia mengatakan bahwa itu semua dari Tuhan sesuai dengan pesan Nabi Isa
Almasih didalam Bible yang beredar sekarang.
How beit when he, the 'spirit of truth' is come, he will guide you into all
truth; for He shall not speak of himself, but whatsoever he shall hear, that
shall he speak, and he will show you things to come."
(St. John 16:14)
Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak
mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku
tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain
hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan". (QS. 46:9)
Secara apriori mengasosiasikan Qur'an dengan Sains modern adalah mengherankan,
apalagi jika asosiasi tersebut berkenaan dengan hubungan harmonis dan bukan
perselisihan antara keduanya. Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci
dengan pemikiran-pemikiran yang tidak ada hubungannya seperti ilmu pengetahuan
dan teknologi merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada jaman ini ?
Sesungguhnya orang yang membaca AlQur'an secara teliti dalam upaya memahami
bagaimana pendiriannya terhadap Sains, ia akan mendapatkan sekumpulan ayat-ayat
yang jelas, terbentang menurut empat bagian yang semua aspeknya mengarah kepada
masalah ilmiah.
Masalah-masalah yang berkaitan dengan hakikat Sains dan arah serta tujuannya
mengenai apa yang dapat diketahui dengan filsafat Sains dan teori makrifat.
Metode pengungkapan tentang hakikat-hakikat ilmiah yang bermacam-macam.
Menampakkan sekumpulan hukum-hukum dan peraturan-peraturan dilapangan Sains
yang bermacam-macam, terutama fisika, geographi dan ilmu hayat.
Menghimbau manusia agar mempergunakan hukum-hukum dan peraturan-peraturan
tersebut.
Semua ayat AlQur'an itu diturunkan mengandung hal-hal yang logis, dapat dicapai
oleh pikiran manusia, dan AlQur'an itu dijadikan mudah agar dapat dijadikan
pelajaran atau bahan pemikiran bagi kaum yang mau memikirkan sebagaimana yang
disebut dalam Surah Al-Qamar ayat 17 :
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AlQur'an untuk pelajaran, maka adakah
orang yang mengambil pelajaran ?"
(QS. 54:17)
"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Kitab kepada mereka, Kami jelaskan dia
(kitab itu) atas dasar ilmu pengetahuan; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang
-orang yang beriman."
(QS. 7:52)
Namun meskipun demikian, Allah juga memberikan "permainan dinamis dan elastis"
didalam memahami ayat-ayatNya.
Surah 3, Ali Imran ayat 7 menyatakan bahwa AlQur'an terbagi atas dua babak :
Muhkamat dan Mutasyabihat.
"Dia-lah yang menurunkan Kitab (AlQur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat
-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi AlQur'an, dan yang lain
mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan,
maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan
fitnah /perselisihan/ dan untuk mencari-cari pengertiannya, padahal tidak ada
yang mengetahui pengertiannya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam
ilmunya akan berkata: "Kami beriman kepada yang semua ayat-ayatnya itu dari sisi
Tuhan kami, dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang yang mau
memikirkan." (QS. 3:7)
Yang Muhkamat adalah petunjuk hidup yang mudah dimengerti yang terdapat didalam
AlQur'an, termasuk didalamnya masalah halal-haram, perintah dan larangan serta
hal-hal lainnya dimana ayat-ayat tersebut dapat dipahami oleh siapa saja secara
gamblang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran-pemikiran yang berat.
Sedangkan Mutasyabihat adalah hal-hal yang susah dimengerti karena berupa
keterangan tentang petunjuk banyak hal yang mesti diteliti dan merangkaikan satu
sama lain hingga dengan begitu terdapat pengertian khusus tentang hal yang
dimaksudkan, termasuk didalamnya adalah dapat diungkapkan melalui kemajuan
teknologi dan cara berpikir manusia, disitulah letak fungsinya Akal manusia
sebagai suatu fitrah yang tidak ternilai harganya.
Seandainya AlQur'an itu seluruhnya Muhkamat, pastilah akan hilang hikmah yang
berupa ujian sebagai pembenaran juga sebagai usaha untuk memunculkan maknanya
dan tidak adanya tempat untuk merubahnya. Berpegang pada ayat Mustasyabihat saja
dan mengabaikan ayat Muhkamat, hanya akan menimbulkan fitnah dikalangan umat.
Juga seandainya AlQur'an itu seluruhnya Mutasyabihat pastilah hilang fungsinya
sebagai pemberi keterangan dan petunjuk bagi umat manusia. Dan ayat ini tidak
mungkin dapat diamalkan dan dijadikan sandaran bagi bangunan akidah yang benar.
Akan tetapi Allah Swt dengan kebijaksanaanNya telah menjadikan sebagian Tasyabuh
dan sisanya Mustayabihat sebagai batu ujian bagi para hamba agar menjadi jelas
siapa yang imannya benar dan siapa pula yang didalam hatinya condong pada
kesesatan.
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :
"(AlQur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta
pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. 3:138)
Bahwa AlQur'an seharusnya dipandang sebagai sumber dari segala keilmuan, tidak
perlu dipermasalahkan lagi bagi umat Islam. Banyak kaum intelegensia Muslim yang
mengungkapkan bagaimana penemuan-penemuan ilmiah yang paling mutakhir sekalipun
ada diungkapkan dengan bahasa simbolik atau juga nyata dalam AlQur'an.
Dalam berbagai tulisan para ahli tafsir modern, akan dijumpai berbagai keberatan
terhadap pendapat dan logika para ahli tafsir klasik, hal yang sesungguhnya
dapat memperkaya pendapat yang telah ada dan menjadikannya satu kesatuan didalam
memfungsikan elastisitas dan dinamisitas Qur'an untuk seluruh tingkatan manusia.
Ketika membaca tafsir Qur'an Nazwar Syamsu berikut buku-buku tulisannya
misalnya, kita akan dibuat berdecak kagum betapa indah dan luar biasanya
AlQur'an itu mengungkapkan teka-teki langit dan bumi hingga pada makna Haji dan
Sa'i yang nyatanya telah menjadikan Nazwar Syamsu seorang yang kontroversial dan
mendapat celaan, olok-olokan sampai pada diberlakukannya pelarangan beredarnya
tulisan -tulisan beliau dibumi Indonesia.
Padahal hampir semua orang tahu bahwa AlQur'an berbicara mengenai Astronomi
ketika dia berhadapan dengan para ahli Astronom, AlQur'an akan berbicara masalah
penyakit dan obatnya ketika dia berhadapan dengan seorang dokter ahli, AlQur'an
juga berbicara masalah sosial-politik ketika dia berhadapan dengan para
politikus, AlQur'an berbicara pun berbicara tentang hidup dan kehidupan untuk
para pengembara dan pencari kebenaran serta AlQur'an akan berbicara tentang
perbandingan agama ketika dia dihadapkan dengan para Kristolog dan banyak lagi
lainnya yang kesemuanya itu disesuaikan dengan tingkat pemahaman serta kedudukan
masing-masing orang yang tergabung dalam ayat Mutasyabihat dan Muhkamat.
Hanya saja sayangnya sebagaimana yang pernah kita singgung pada bagian-bagian
terdahulu, umat Islam cenderung lari dan mengingkari dari agamanya untuk mencari
"agama dan Tuhan-tuhan baru" yang dapat memuaskan hatinya mengikuti generasi
-generasi Ahli Kitab yang ada sebelumnya.
Mereka sebenarnya orang-orang yang belum mengerti dan tidak pernah memahami
dengan berbagai kajian mendalam mengenai Islam tapi sudah terlalu ceroboh untuk
melakukan analisis serampangan menuruti kemauan mereka semata yang dirasakan
bahwa tingkat pemahamannya sudah jauh melebihi orang lain.
"Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti hancurlah langit dan
bumi serta semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan
kebanggaan untuk mereka namun mereka berpaling dari kebanggaan tersebut."
(QS. 23:71)
Sampai disini kita harus membenarkan semua petuah Qur'an dan beberapa sabda
Rasul Muhammad Saw yang menjelaskan fungsi akal dan keseimbangannya dengan Iman
didalam menyelami ajaran Ilahi.
Dimana dalam keseimbangan itu dituntut orang yang berakal dapat memandang dan
menilai sesuatu berdasarkan realita dan keghaiban berdasarkan Dienul Islam bukan
berdasarkan hawa nafsu mereka semata yang terbatas.
"Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian tetapi
kebanyakan di antara kalian benci kepada kebenaran itu."
(QS. 43:78)
"Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka
membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah
menjadi orang-orang yang musyrik."
(QS. 6:121)
Dalam ayat-ayat lainnya Allah juga sudah menyindir manusia sebagai makhluk yang
paling suka membangkang meskipun sudah diberikan banyak sekali contoh didalam
kitab sucinya yang seharusnya dapat membuat manusia itu berkaca dari sejarah
masa lalu.
"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur'an ini
bermacam-macam perumpamaan/contoh. Dan manusia merupakan makhluk yang paling
banyak membantah."
(QS. 18:54)
Untuk menghadapi orang-orang seperti itu, Allah memberikan satu petunjuk untuk
menghindari perdebatan dan permusuhan semakin mencuram.
Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah: "Allah lebih mengetahui tentang
apa yang kamu kerjakan".
(QS. 22:68)
"Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk golongan yang
ragu-ragu."
(QS. 2:147)
Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan
apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan keturunannya,
dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa serta Nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami
tidak membedakan seorangpun di antara mereka dan kepadaNya lah kami menyerahkan
diri". (QS. 3:84)
The End.
Copyright 1998-1999
Armansyah <[EMAIL PROTECTED]>
undefined
undefined
More...
see Leelee Sobieski in an exclusive alternate ending to
Joy Ride
[Close]
see Leelee Sobieski in an exclusive alternate ending to
Joy Ride
[Close]
Yahoo! Movies Exclusive
<script language="JavaScript" src="http://us.i1.yimg.com/