----- Original Message -----
From: Rahima
Rahima Wrote:
Wah..lari cerita kita ini ni,..dari panggilan,sampai
ke lipstik,...Udahan deh..Uni juga bagi pengalamannya
yah..(tapi Uni Evi kayaknya pintar deh bergaya,bermake
up gitu,habis centil sih..he..he..maaf nih..).Biar
mail kita ngak serius melulu.-------
 
Assalamualaikum,
 
Hehehe..Kayaknya centil atau bukannya seorang perempuan tidak tergantung pada kemampuann dia untuk ber-make-up ria deh. Rasanya2nya gaya perantau Cairo yang senang pakai bedak baby walaupun sudah punya baby juga tak kalah bergeloranya dalam "merontokan hati" orang lain. Parameternya terlihat dari bergentayangannya email-email yang masuk ke japri dia. Yang membedakan hanya dia masih ngumpet di bawah selubung kata-kata. Any way, saya tidak pintar bergaya dinda Rahima tapi kalau disuruh improvisasi mengenai warna dan gaya apalagi jika fasilitasnya tersedia, alhamdulillah tidak begitu sulit.
 
Saya sudah lupa kapan saya mulai memakai lipstick pertama kali yang jelas saat babak belur jatuh cinta di SMA dulu, saya belum tahu bahwa Allah sudah menciptakan warna-warna sensasi dalam produk Givenchy, L'oreal, Clarins atau Versace. Dan iklan cosmetic yang mengatakan," Face by nature, beauty by Mirabella" juga belum ada sehingga saya melewatkan detik-detik paling berharga untuk memanipulasi "face by nature" yang tidak beuty ini untuk "menjerat" sang pujaan hati.
 
Sudah lah itu masa lalu. Yang jelas sekarang saya memang suka melihat warna-warna ciptaan Allah. Saya suka melihatnya melekat pada sekuntum bunga, menempel pada tekstil atau terhimpun dalam tabung-tabung lipstik, eye shadow, face powder, blush on atau pewarna kuku. Memang tidak semua aparatus cocok untuk semua orang  seperti juga tidak semua warna bersahabat untuk setiap kulit, setidaknya saya masih sangat suka memandangi jika warna-warna yang tidak cocok untuk saya menemukan harmonisasinya di tempat lain. Artinya jika lispstik berwarna ungu yang memberi kesan dingin itu tidak cocok untuk perangai dan warna kulit saya, saya masih mencintainya jika ungu terlihat menempel atau di poleskan pada wajah Okto (salah seorang sahabat karib saya).
 
Karena saya tidak pernah dapat hambatan dari suami seputar make-up (habis dia tahu kekurangan istrinya), ngomong-ngomong saya tertarik pada dinda Rahim Sumin yang tidak suka Dinda Rahima menggunakan lipstik nih. Mestinya Dinda sudah di karunia face by nature yang tidak perlu di permak lagi ya? Jadi bukan karena agar lebih mudah dicium kan? Habis logika sekuler saya bertanya berapa lama sih durasi sebuah ciuman?  Tiga puluh menit juga sudah membuat ngap-ngapan sementara satu hari hari lamanya dua puluh empat jam. Dan waktu dua puluh empat jam itu harus dibagi-bagi untuk cari duit, meladeni kolega, menunaikan tugas2 sosial sesuai dengan peran masing-masing, menjalani hobbi jika ada dan terakhir pergi tidur. Jadi saya tidak ngerti deh hanya gara-gara 30 menit Dinda Rahima tidak suka menggunakan lipstik. Tolong ya Dinda, buat Unimu ini agar berbau pesantren sedikit.
 
 
Salam hari sabtu.
 
Evi
 
 
 
Salam Menang Dunia selalu.

Wassalam Dinda Rahima.

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke