Menarik sekali acara diskusi yg disiarkan oleh SCTV tgl 7 juni 2002, dalam
rangka memperingati 100 tahun bung hatta
dengan tema demokrasi minang (mengambil bung hatta sbg contoh ) , mungkin
dunsanak banyak juo nan maliek , mohon ambo ingin ma-agiah saketek ulasan
nyo dari acara tsb .

Acara dibuka dg orasi ilmiah oleh Nurcholis Majid dg tema " Bung Hatta dan
demokrasi minang ". kemudian dilanjutkan dg diskusi yg antara lain diikuti
oleh Taufik Abdullah (sejarawan), Safrudin Bahar ( LKAAM) dan pengamat
budaya Ichlasul Amal dan Fachri Ali.
Disampaikan pula komentar dari beberapa orang tokoh minang, antara lain ;
Rosihan Anwar,AA Navis dan Dewi Fortuna Anwar. nampak hadir pula tokoh
minang lainnya spt ; Awaludin Jamin, Edy Utama, Fahmi Idris dll.

Ada beberapa hal menarik yg baik pula untuk kita perbincangkan di lapau nan
ko ;

Budaya Minang dan demokrasi
Menurut Nurcholis Majid , Bung Hatta adalah satu tipikal manusia demokrat
yg dimiliki oleh Indonesia. Menurut Cak Nur latar belakang budaya Minang yg
Egaliter adalah salah satu hal yg menimbulkan karakter demokrat pada bung
Hatta.
bila berkaca pada budaya Jawa, budaya Minang menurut beliau berkarakter
budaya masyarakat pesisir yg lebih terbuka.
( Masih diperdebatkan, apakah bisa melihat budaya Minang dg pola kacamata
diametral budaya Jawa , agraris / pedalaman dan pedagang/pesisir ?? ,
karena antara darek ( luhak nan tigo) dan pesisir ( Pariaman dan Pesisir
selatan) tak berbeda jauh  budayanya , sebagaimana berbeda nya Jogja /Solo
dengan Pekalongan atau Demak misalnya ? )

Sikap keber-agama-an bung Hatta
Selain dari budaya minang , karakter demokrat bung Hatta lahir pula dari
latar belakang keIslaman bung Hatta yg kuat, ayahnya adalah seorang tokoh
tarekat. Dari latar belakang budaya dan keagamaan tsb Bung Hatta berhasil
mengembangkan sikap keberagamaan yg bijak. Bijak dalam menempatkan mana hal
yg bersifat hubungan vertikal (habluminallah) dan mana yg hubungan antar
manusia ( habluminannas).

Menurut Cak Nur, tipikal bung Hatta adalah tipikal tokoh minang yg berada
di tengah kalau dibuat kontinum karakter antar ujung yg satu dimana berada
Tan Malaka dan di sisi lain ada buya Hamka. Tan Malaka walau mengaku
komunis tapi tetap membela Islam , hal itu nampak pada saat sidang Komunis
Internasional , komintern di Rusia, dg gagahnya ia berani menentang Stalin
dan menyatakan bahwa Pan Islamisme bukanlah lawan yg perlu dihantam Komunis
, karena pada prinsipnya membela kaum yg lemah pula.
Bung Hatta cenderung menghindar dari polemik keagamaan dan berusaha
menghargai semua pihak,termasuk Tan Malaka atau Sutan Syahrir yg
berseberangan ide dg beliau sekalipun.

Kiat bagaimana me-manajemen-i orang minang ;
Gunakanlah strategi "mengikat padi dg daunnya" , setiap orang minang harus
diminta /dihargai pendapatnya , berdasarkan pendapat yg disampaikan itulah
orang bersangkutan membuat komitmen dan mereka akan memegang teguh komitmen
tsb, jadi tak bisa cara paksa harus mau ikut tanpa mereka dilibatkan pula
(minimal pendapatnya dihargai) . Kalau tak diajak bicara biasanya mereka
merasa berlepas diri tak perlu mengikuti ketentuan tsb.

Orang Minang dan perubahan
Sesungguhnya orang minang bisa menerima perubahan dan mau berubah , tapi
harus berdasarkan suatu hal yg mendasar ( peristiwa besar ) sebagaimana
dinyatakan dalam pepatah ; Sekali tabik aia gadang, sakali tapian beralih
( Air besar ,air bah atau banjir akan menyebabkan tepian sungai atau kolam
berubah )
Jadi nampaknya harus dg energi/kejadian yg besar barulah bisa berubah,
kalau hanya karena hal hal kecil orang minang cenderung resisten (
konsisten ) memegang ketentuan yg telah ada.
Kalau ada hal sedikit saja sudah berubah itu plin plan namanya.

Wanita minang nan bagak dan demokrasi di keluarga.
Dewi Fortuna Anwar menyatakan bahwa masyarakat matriarkat lah yg
menyebabkan tumbuh suburnya demokrasi di ranah minang, masyarakat
patriarkat malah cenderung Feodalistik , misalnya pada suku Jawa.
Opini tsb cukup kontroversial karena sebenarnya dalam budaya matriarkat
minang, wanita hanya jadi simbol, karena tetap yg berkuasa dalam keluarga
yah, Mamak nya juga (dari keluarga wanita). AA Navis menyanggah dan
menyatakan bahwa budaya matriarkat pada satu sisi menyebabkan hal yg tidak
demokratis pula khususnya dalam kehidupan keluarga, karena melahirkan
karakter wanita yg pemberani ( padusi bagak ) , sehingga sebagian suami
mengalah pada istrinya , kata AA Navis padusi bagak harus dilawan dg laki
nan cadiak.

masih jadi suatu pertanyaan mengenai hubungan antara budaya matriarkat
dengan pengembangan demokrasi ?

Demokrasi di Minang saat ini.
Menurut Ichlasul Amal, dalam kehidupan birokrasi/struktural di Sumbar saat
ini bisa dikata tak ada bedanya dg kondisi di pulau Jawa , rasanya telah
luntur sikap egaliter dan demokrasi. Sikap demokrasi dan egaliter menurut
beliau yg masih terlihat justru pada tempat non struktural ( adat, keluarga
dll ). Bisa dikata selama 32 tahun dalam masa orde baru jiwa egaliter dan
demokrat telah luntur terkikis oleh pola budaya Jawa yg cenderung
feodalistik dan kurang demokratis.

Karakter orang minang
- Orang Minang cenderung Individualis dan senang berpetualang.
- Nagari adalah suatu bentuk negara kecil yg mandiri dan tak ada
suprastruktur diatasnya , sungguh menarik bahwa
   jarang terjadi konflik antar nagari dalam sejarah minang , padahal
mereka se level ?
   Secara umum Nagari adalah gambaran dari ide konsep federalisme.

sekian opini dari ambo ,mohon dimaafkan kalau ado kesilapan.

wassalam

Hendra M


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke