|
Ketika Nafa Urbach Iri Pada Britney
Spears!
''Wanita mana sih yang tak bangga, kalau disebut-sebut mirip Britney Spears?'' Ungkapan ini terucap dari mulut Nafa Urbach, artis blasteran Jerman kelahiran Magelang, pada sebuah acara infotainment di sebuah televisi. Meski dilontarkan Nafa sembari menggerak-gerakan tangannya, ungkapan ini meluncur dengan nada penuh keyakinan. Lain lagi dengan Siti Nurhaliza. Pada suatu kesempatan lainnya, artis Malaysia yang jauh lebih kondang ketimbang Nafa Urbach ini punya pandangan yang bertentangan. Ketika ditanya pers apakah ia ingin seperti Britney Spears, Siti menjawab: ''Tidak sama sekali!'' Tak seperti Nafa, Siti pun dengan tegas menyatakan penolakan mereka untuk meniru gaya panggung Britney yang 'fenomenal' itu. Hanya saja, agak berbeda dengan Nafa, cara diva asal negeri jiran ini menjawab -- maaf -- jauh lebih bernas. ''Saya tidak ingin meniru Britney. Apalagi Siti punya akar, yakni Melayu. Ya Siti tetap akan berpakaian seperti ini (berkebaya, Red),'' ujar Siti Nurhaliza. Itulah pernyataan pendek dari wakil sebuah generasi dari dua bangsa yang berbeda meski serumpun. Suatu pernyataan yang jelas sekali mewakili keadaan psikologi sebuah masyarakat. Nafa mewakili sebuah komunitas yang kebetulan tidak percaya diri karena miskin dan sebagian besar kaumnya hanya bisa bekerja menjadi kuli dan babu. Sementara Siti menggambarkan sosok manusia yang percaya diri karena negaranya makmur dan penduduknya rata-rata mempunyai kemampuan intelektual yang cukup. Alhasil, menjadi Melayu, bagi Siti bukanlah sebuah aib. Dan berbaju rapi -- bukan pakaian robek-robek dengan memperlihatkan pusar -- bukanlah sebuah lambang kekunoan alias tertinggal zaman. Apakah Siti yang benar dan Nafa yang salah? Jawabnya tentu sederhana saja. Dalam soal ini yang ada hanyalah masalah presepsi atas sebuah identitas budaya. Dan sayangnya, Indonesia -- yang dalam hal ini diwakili oleh Nafa -- terlihat mengalami kegagapan atau gegar budaya yang akut. Belakangan ini publik ramai membicarakan nasionalisme. Tapi pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah isu ini masih perlu, atau minimal punya arti, ketika sebagian masyarakatnya sudah mengalami 'insomania kepribadian'? Mereka semua ingin menjadi bule, menjadi Barat, yang berarti menjadi orang lain. Tengoklah perilaku masyarakat kita. Setelah 'demam Britney' sedikit menyurut, publik pun mulai terkena wabah baru, yakni 'wabah Meteor Garden'. Anak muda Indonesia yang rata-rata berambut berombak dan berkulit gelap pun kemudian sibuk merombak penampilan. Rambut segera diluruskan. Kulit putih mendadak menjadi pujaan. Malah meski personil Meteor Garden baru berencana datang ke Jakarta sesuai lebaran nanti, karcis pertunjukannya pun sudah banyak terjual meski tarifnya mencapai jutaan rupiah. Selama lima tahun terkahir, posisi harga diri komunitas multietnik yang bernama Indonesia ini memang berada di titik terendah. Di sejumlah negara asing, nama Indonesia sudah seperti sebuah bangsa 'antah berantah', yang kadang diartikan berbudaya rendah dan tidak beradab. Celakanya lagi, sumbangsih satu-satunya Indonesia terhadap wacana dunia, dalam bentuk kosakata bahasa Inggris misalnya, mempunyai konotasi buruk. Kata 'amuk', itulah salah satunya hasil budaya kita yang bisa go internasional. Artinya pun persis dengan keadaan yang psikologi masyakat kita yang sering mengalami 'ketidaksadaran' itu. Kata 'amuk' memang dialihkan ke dalam bahasa Inggris oleh Rafles ketika ia sempat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Kata ini oleh Rafles dipakai untuk menjelaskan keadaan akan sebuah hal yang sangat tidak terkendali. Dan sama halnya dengan kata 'amuk' tadi, pada penghujung melenium ini tampaknya akan ada lagi kosakata baru dari Indonesia yang akan disumbangkan ke dalam bahasa Inggris. Kata itu adalah kata 'indon' yang akan dipakai sebagai sebutan untuk sebuah keadaan yang buruk, bodoh, dan sukar diatur. Keadaan ini pun sebenarnya sangat masuk akal segera terjadi. Di luar negeri, ketika ada orang menyebut 'indon' atau Indonesia, langsung terbayang di dalam pikiran mereka adanya sebuah keadaan yang serba gawat, brutal, kumuh, tidak beradab, dan panas seperti neraka. Dan ini pun sangat cocok sekali dengan keadaan sebagian 'orang kita' yang hidup di luar negeri, yang kerjanya hanya bisa mengepel lantai, mencuci piring, atau menjadi pengasuh anjing. Perkataan penyair Taufik Ismail, Malu Menjadi Orang Indonesia, tampaknya memang sebuah hal yang benar-benar terjadi. Apa yang dilakukan Nafa Urbach dengan 'menjadi Britney' adalah sebuah jalan yang harus dilakukan supaya harga diri pribadinya tidak menjadi hilang. Saat ini memang tidak ada kebanggaan menyatakan 'aku orang Indonesia', seperti yang dilakukan Siti Nurhaliza dengan menyebut dirinya sebagai orang Melayu. Contoh paling kasatmata adalah fenomena merebaknya restoran cepat saji di negeri kita. Restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) di pertokoan Sarinah misalnya, bisa dikatakan sebagai restoran yang terbesar di Asia. Hal itu bisa dilihat dari luas ruangan, banyaknya bangku, dan besarnya omset yang bisa mencapai Rp 100 juta per hari. Hebatnya lagi tempat makan ayam goreng Amerika ini buka terus selama 24 jam. Jadi inilah gambaran Indonesia masa kini. Sosok Nafa Urbach, para babu dan kuli yang menjadi TKI, atau fenomena restoran cepat saji yang juragannya adalah orang asing, semua ini bisa menjelaskan di mana posisi Indonesia yang sebenarnya. Dalam pandangan orang di luar negeri, citra Indonesia sudah tidak lebih bagus dari negara miskin di Afrika Tengah, Myanmar, atau pun Bangladesh. Hal lain yang paling menyedihkan adalah diam-diam orang Malaysia pun kini mulai marah bila mereka disebut sebagai 'saudara'-nya orang Indonesia. Orang Singapura pun begitu. Menteri Senior Lee Kuan Yew malah jelas-jelas mengatakan Indonesia sarang teroris. Nah, sekarang apa lagi yang bisa kita banggakan sebagai bangsa Indonesia? Jangan-jangan Nafa Urbach memang benar. Ia malu jadi orang Indonesia. Dan itu masuk akal! m muhammad subarkah/ republika COba deh kita renungkan kembali bangsa kita ini.... dan
|
- RE: [RantauNet] [Code91] Nasibmu INDONESIA Adrianto
- RE: [RantauNet] [Code91] Nasibmu INDONESIA ericska kariman

