Note: forwarded message attached.



Do You Yahoo!?
Yahoo! Health - Feel better, live better
--- Begin Message ---

Senin, 22 Juli 2002 - 23:32 WIB
Kirim kepada rekan Send this story to a friend  Cetak Printer friendly page
Opini:
Pembusukan "Fundamentalis Islam"
Laporan: Redaksi


Redaksi (LaskarJihad.or.id) -- Bagi "Barat" dan "antek-anteknya" (kaum sekular), Islam adalah ancaman besar terhadap eksistensi dan dominasi mereka. Kegagalan dominasi Barat dalam "menjinakkan" sejumlah elemen Islam membuat mereka selalu melakukan rekayasa untuk menyudutkan Islam.

Dibuatlah berbagai rekayasa untuk menyudutkan kaum Muslim, dengan memberikan berbagai sebutan, seperti "Islam fundamentalis", "Islam ekstrim", "Islam radikal", "Islam kanan",dan sebagainya. Mantan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon menyebut lima ciri kaum fundamentalis Islam, yaitu (1) mereka yang digerakkan oleh kebencian yang besar terhadap Barat, (2) mereka yang bersikeras untuk mengembali- kan peradaban Islam yang lalu dengan membangkitkan masa lalu itu, (3) mereka yang bertujuan untuk mengaplikasikan Syariah Islam, (4) mereka yang mempropagandakan bahwa Islam adalah agama dan negara, (5) mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun bagi masa depan. Mereka bukan orang-orang konservatif, namun mereka adalah orang-orang revolusioner.

Masih banyak tokoh yang berpandangan �miring� terhadap kaum fundamentalis. Misalnya, Nurcholish Madjid menyebut fundamentalisme sebagai musuh yang harus diwaspadai. Fundamentalisme dalam satu agama tertentu -- menurut Nurcholish,-- menyebarkan gagasan-gagasan yang palsu dan bersifat menipu. Di masa sekarang, masih kata Nurcholish, fundamentalisme telah menjadi "sumber kekacauan dan penyakit mental" baru di tengah masyarakat. Akibat-akibat yang ditimbulkannya, jauh lebih buruk dibandingkan dengan masalah-masalah sosial yang sudah ada, seperti kecanduan minuman keras dan penyalahgunaan narkotika. Menurut Nurcholish, diantara gejala kultus dan fundamentalisme adalah gejala kefanatikan dan ketertutupan dalam corak penganutan agama. (Madjid, 1992:586). Guru Nurcholish Madjid di Chicago University, Fazlur Rahman, menyebut kaum fundamentalis sebagai "orang-orang yang dangkal dan superfisial", "anti-intelektual", dan "pemikirannya tidak bersumberka n kepada Al Quran dan budaya intelektual tradisional Islam." (Mahendra, 1999:7) Yusril Ihza Mahendra, dalam desertasi S-3-nya di Universiti Sains Malaysia, Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam, juga menyimpulkan sejumlah ciri kaum fundamentalis Islam, diantaranya adalah (1) ingin menegakkan negara Islam yang sebenarnya, dan (2) ingin menerapkan syariah Islam secara kaffah. Karena itulah, Yusril lebih suka menyebut diri dan partai yang dipimpinnya (PBB) sebagai "modernis" dan bukan "fundamentalis".

Disamping pencitraan negatif yang diberikan oleh tokoh-tokoh Muslim "modernis" dan "neo-modernis" -- seperti yang dilakukan oleh Fazlur Rahman, Nurcholish Madjid, Yusril Ihza Mahendra, dan sebagainya -- citra fundamentalisme Islam dan kaum fundamentalis Islam menjadi buruk akibat penggunaan istilah "fundamentalis" yang ditujukan kepada para pelaku teror dan kekejaman. Sebagai contoh, dapat disimak berita yang dimuat koran sore Suara Pembaruan edisi 16 April 1994 yang berjudul "Perang Saudara Ancam Aljazair":

�Awal dari sengketa berdarah itu adalah dua tahun yang lalu ketika sebuah partai fundamentalis Front Penyelamatan Islam memenangkan mayoritas pada putaran pertama pemilihan bebas untuk parlemen tahun 1991. Pemerintah militer membatalkan tahap pemilihan berikutnya dan membubarkan partai yang dikenal dengan nama akronim Perancisnya FIS atau dalam bahasa Inggris, Islamic Salvation Front. Front tersebut membalas dengan suatu kampanye kekerasan yang berlanjut terus sejak partai itu beralih ke taktik bawah tanah.. Kebanyakan pembunuhan dalam 24 bulan terakhir dilakukan oleh kaum fundamentalis dan diarahkan terhadap golongan intelektual dan pejabat�. Tindak kekerasan sudah melampaui tindak pembunuhan kaum intelektual dan sekular yang dianggap musuh fundamentalis, yang sudah merupakan tindakan rutin. Sekarang kekerasan itu sudah memilih sasaran lain seperti kereta api yang dibakar, bus, perusahaan pertanian, sekolah, hutan dan pembunuhan terhadap wanita terutama wanita yang tampil di depan umum tanpa kerudung.� Suara Pembaruan edisi lainnya menulis:
�Dua wanita Aljazair digorok lehernya hingga putus setelah menolak lamaran dua pemuda fundamentalis untuk melakukan kawin kontrak, demikian kantor berita resmi Aljazair, APS, hari Senin.

Berita koran Suara Pembaruan itu disiarkan tanpa melakukan cek dan ricek, dan hanya berdasarkan keterangan sepihak pihak pemerintah, sehingga terciptalah image buruk terhadap FIS. Di era globalisasi, image yang dibentuk oleh media massa jauh lebih berpengaruh ketimbang realitasnya. Masyarakat tidak mampu memahami fakta yang sebenarnya. Kampanye negatif oleh media massa Barat terhadap "Islam fundamentalis" berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, sebab kelompok Islam jenis inilah yang dianggap sebagai ancaman Barat. Daniel Pipes menyebut, "fundamentalisme Islam" seringkali dianggap sebagai ancaman terbesar bagi stabilitas regional Timur Tengah dan kepentingan-kepentingan Barat di dunia Islam yang lebih luas. (Esposito, 1992:4)

Kampanye Barat dan antek-anteknya terhadap kaum fundamentalis Islam telah membentuk opini p ublik bahwa kaum fundamentalis Islam -- yakni orang-orang yang ingin menegakkan syariah Islam secara kaffah dan menyatukan agama dengan politik -- adalah kaum teroris yang kejam dan biadab. Dominasi Barat atas media massa membuat mereka leluasa memainkan opini publik sekehendak mereka. Terorisme AS dan Israel di berbagai negara dikatakan sebagai "pembelaan terhadap HAM dan demokrasi". Sedangkan para pejuang kemerdekaan Palestina, Kashmir, Moro, Chechnya, dan sebagainya, dicitrakan sebagai para teroris.

Di sejumlah negeri Islam, kampanye untuk melawan kaum fundamentalis dilakukan dengan rekayasa terorisme. Di Aljazair, para preman yang dekat dengan tentara dibayar untuk membantai penduduk, dengan menyamar sebagai aktivis FIS. Di Indonesia, kebangkitan sejumlah elemen Islam yang dikategorikan Barat dan antek-anteknya sebagai "Islam fundamentalis", "Islam kanan", "Islam keras", dan sebagainya, terbukti telah meresahkan Barat. Petinggi-petinggi AS dan negara-negara Barat tak henti-hentinya menyoal aktivitas Laskar Jihad yang be rjuang membela pembantaian kaum Muslim dan keutuhan Negara RI. Bukan mustahil, jika hari-hari ini, terus dilakukan rekayasa untuk menyudutkan elemen-elemen yang ditakuti oleh Barat tersebut. Sayangnya, banyak kaum Muslim sendiri yang terjebak dalam skanerio besar Barat, dan menjadi antek mereka, untuk menghancurkan sesama Muslim. (**)




Oleh : ADIAN HUSAINI

(Sekretaris KISDI)







Diambil dari : BULETIN LASKAR JIHAD Edisi 3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Do You Yahoo!?
Yahoo! Health - Feel better, live better--- End Message ---

Kirim email ke