>From: Esteranc Labeh <[EMAIL PROTECTED]> > >CC: [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: Zakatomics atau neraka jahim >Date: Fri, 2 Aug 2002 22:12:24 -0700 (PDT) > > >Dear Mr Adam >Sebagai seorang Muslim, tentu saya selalu mencari dan mengembangkan >harapan2 baru setidaknya untuk diri saya sendiri. Tapi bukan berarti saya >menghindar dari realita & logika ya toh? Sabar perlu, tapi sabar tanpa >terobosan dalam kondisi sekarang sama saja dengan bunuh diri. Bukankah >sabar yang utama adalah mencari akar tiap masalah serta berusaha segigih >dan seoptimal mungkin untuk menemukan solusinya? Sementara, bunuh diri >adalah dosa? >Secara makro, saya setuju bahwa Indonesia akan selalu prospektif untuk >investasi karena faktor utama adalah population based economies seperti di >AS, Jepang dan Cina. Tapi kita sering lupa bahwa mereka (AS, Jepang & Cina) >punya ambisi selalu tanpa henti mencari terobosan2 baru --satu hal di mana >kita hingga saat ini ternyata lebih banyak "nonsense." Kita lihat bagaimana >Microsoft bisa menopang pembiayaan economies of scale AS dalam dasawarsa >terakhir. Atau Cina dengan seabrek industri piracy-nya. Lha >Indonesia?...paling2 mengemis lagi ke IMF. >Mem-push para pejabat dalam lingkar megakorupeforia saya kira adalah hal yg >terlalu muluk. Secara pribadi saya lebih suka merombak sistem ekonomi yang >kita adopsi sekarang dari Barat menjadi sistem zakatomics (Zakat based >Economics), salah satu derivatif dari people's economics (Population based >Economy). Persoalan utama adalah sebagai negara Muslim terbesar di dunia >sangat tidak pas jika kita masih menggantungkan diri pada Casino Economics >yg justru mengglobal saat ini yg dikembangkan oleh spekulan berdasi yg >kiblat mereka ada di WallStreet, sementara kita harus berkiblat ke Makkah. >Salah satu keburukan Casino Economics yang tidak pas bagi negara Islam >maupun prinsip2 ekonomi "rasional" adalah currencies flowchart dunia kini >telah mencapai US$700 triliun per HARI sementara industrial value yang riil >hanya US$7 triliun per TAHUN !. >Dalam konsep Islam yang saya yakini, kondisi ini sudah masuk dalam "riba >total" dan penyembahan berhala (thaghut). Artinya, uang telah "gagal" >mematok nilai nominal barang. Karena itu, saya yakin selain para >megakoruptor, calon kuat penghuni neraka jahannam juga berasal dari >kalangan spekulan capital market. Saya kira Bapak Adam tidak >termasuk...he...he..he. >Menyoroti sektor riil (mikro) saya kira akan sia-sia jika sebuah analisa >investasi tidak thoroughly topdown. Sekarang, contoh, bukan karena saya >berdarah Minang, satu-satunya sektor riil yang bisa menjanjikan return >"normal" hanyalah Rumah Makan Padang. Jadi kalau Bapak Adam mau menawarkan >obligasi, alangkah baiknya mulai dari sekarang menjajaki group RM Sederhana >...he....he...he. >Saya mencoba mensimulasikan diri saya sebagai pemilik saham mayoritas PT >Telkom Tbk yang baru2 ini terhitung sukses dengan penjualan obligasi >2002-nya. (WAP, nilai kupon & durasi bagi saya no big deal), saya merasa >"ngeri" dan bergidik tentang apa langkah yg harus saya tempuh menjelang >jatuh tempo. Meskipun peringkat perusahaan saya AAA (ala Indonesia), tetap >saja saya "jantungan" karena sebajingan apapun saya, nurani tahu apa yg >sesungguhnya berlangsung. >Terlepas soal saya optimistis atau tidak ekonomi membaik dalam 5 tahun ini, >sebagai seorang bajingan ekonomi, justru memilih untuk memanfaatkan 5 tahun >itu untuk bermain dolar dan siap2 kabur ke Australia..he..he...he. >--ac-- > Adam wrote: ----- Original Message ----- >Mengenai sensitif, saya rasa semua orang akan sensitif deh. Jurang >kebangkrutan dan default massal, saya rasa masih cukup jauh. Ekonomi kita >ini teramat sangat ditunjang oleh consumers demand yang sangat besar. >Population base, kalau kata orang madura. hehe. >Secara logika, sektor-sektor seperti telekomunikasi, media televisi, susu, >energi (BBM, listrik dan air), transportasi dst kan sangat banyak ditopang >oleh permintaan konsumen yang sangat luas. posisi kita sebagai investor >berarti harus ditunjang oleh kejelian kita untuk memilah-milah sektor mana >yang paling oke untuk berinvestasi. kalau kita investasi di obligasi, >cermati lagi secara mikro. misalnya, untuk industri consumer goods, given >demand yang besar -> bagaimana cara emiten mengelola perusahaannya? kinerja >keuangannya? kesehatan neracanya dst. >Default "massal", yang baru-baru ini terjadi lebih dikarenakan (1) >manajemen keuangan yang tidak prudent (Sinar Mas Grup, Bakrie); (2) >character manajemen yang buruk (willingness untuk membayar yang sangat >rendah --> moral hazard tinggi); dan tentu saja (3) keadaan makro ekonomi >yang menumbangkan kebanyakan emiten. >Kesimpulannya apa? Kita harus sabar dan pada saat yang sama mem-push >pejabat2 yang sekarang --> DepKeu, BI, BKPM dan BPPN untuk bekerja >sebaik-baiknya. >Saya optimis kok dalam 5 tahun keadaan akan membaik. Pak Ali sendiri >bagaimana? > > > _________________________________________________________________ Chat with friends online, try MSN Messenger: http://messenger.msn.com RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

