Assalamu'alaikum wr. wb,
Sambah disampaikan ka sagalo dunsanak nan ado. Marumuskan visi Minang Inc.
hampia sarupo jo sibusu barasian, banyak nan takana, tapi indak takecekan.
Namun ambo cubo juo marangkai-rangkain pikiran surang ditambhan jo pikiran
urang lain a.l. Bpk. Iskandar Ali Syahbana, Taufik Abdullah, Toffler dll.
Jadinyo kok panjang, kok lai ado kamanakan nan amuah maminta jadi singkek,
silahkan awak diskusikan.
Salam
St. Bagindo Nagari
____________________________________________________________________________
_____
Visi Minang Inc.
Evolusi Budaya Masyarakat Global
Dalam suatu struktur masyarakat-tertutup atau closed-society sering
dibandingkan dengan suatu organic-society. Yaitu suatu struktur kerja sama
yang terdapat dalam suatu sistem organik, yang misalnya terdiri dari
"kaki", "tangan", "badan" dan "kepala". Semua unsur sistem organik
tersebut, berkompetisi dan berkooperasi untuk mendapat bahan makanan dari
darah yang mengalir melaluinya, tetapi tidak ada keinginan dan
kecenderungan dari unsur-unsur "kaki" atau "tangan" untuk mengambil
alih fungsi dari unsur "kepala" sistem organic-society tersebut.
Sebaliknya dalam suatu open-society, pada umumnya banyak para anggota
masyarakat yang berusaha dan bekerja keras untuk menaikkan statusnya
dalam masyarakat. Mereka bersaing dan bekerja sama untuk dapat naik ke
lapisan atas berikutnya, sesuai dengan sistem kompetisi dan kooperasi yang
sudah dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Dan, usaha pengembangan
diri ini dianggap sebagai suatu seleksi alami dari manusia-manusia yang
mempunyai beraneka ragam bakat, tersebar sesuai dengan statistik-acak-alam
bellcurve, yang berlaku bagi setiap kelompok manusia atau
masyarakat. Suatu pemberdayaan sumberdaya manusia yang
menyebabkan suatu social-upward-mobility, sesuai bakat yang serba bhineka
dari anggota masyarakat, yang akan menaikkan ketahanan-masyarakat tersebut.
Hak turut partisipasi dalam social-upward-mobility ini mungkin
sekali merupakan suatu bagian yang terpenting dari hak asasi manusia.
Masyarakat Cina
Banyak ahli Ilmu Sosial berpendapat bahwa sejarah kebudayaan
bangsa-bangsa Eropa banyak sekali membawa korban manusia yang terutama
disebabkan oleh Perang-Dunia I dan II, Holocaust-nya Hitler,
pembantaian dan kelaparan yang disebabkan oleh Stalin. Akan tetapi
rupanya masyarakat Cina juga mempunyai sejarah perkembangan kebudayaan
yang tidak kalah mengerikan.
Pada tahun 1820 Cina kira-kira mempunyai penduduk 380 juta orang, Eropa
kira-kira 170 juta orang. Oleh karena itu Cina-lah yang pada waktu
tersebut mempunyai ekonomi yang terbesar di dunia. Ekonomi Amerika
menyusul kebesaran ekonomi Cina pada tahun 1890. Dengan jumlah penduduk
Cina 1.300 juta sekarang, dan jika kecenderungan pertumbuhan
ekonominya dapat dipertahankan, maka ekonomi Cina akan menyusul kembali
besarnya ekonomi Amerika pada kira-kira tahun 2015.
Pada masa sebelum tahun 1860, Jepang bersama dengan Cina menutup negerinya
dari pengaruh dan informasi dari luar. Berlainan dengan Jepang, Cina
dipimpin oleh penguasa-penguasa yang sangat birokrat, otokratis dan
secara terpusat, yang secara langsung menutup kemungkinan munculnya kaum
pedagang atau masyarakat wiraswasta. Sesudah 1860 Jepang memutuskan
membuka diri dan mengambil alih unsur kebudayaan Barat, terutama
teknologi dan ekonomi, demi dapat menyusul keterbelakangannya dan
mampu mengembangkan kebudayaan modernnya. Sebaliknya Cina tetap menutup
daerahnya dari semua pengaruh dari luar.
Pemberdayaan manusia Cina dan ketahanan masyarakat Cina terus melemah.
Sebaliknya negara Jepang bertambah kuat dan percaya diri. Cina melarang
impor teknologi dan melarang komunikasi dengan luar. Kepastian hukum
tidak ada, demikian juga dengan hak pemilikan. Petani tidak diberi
kesempatan mempunyai uang atau penghasilan yang wajar, sehingga mampu
membeli barang konsumsi, hasil produksi industri dalam negeri. Petani justru
secara paksa diperas untuk mendukung proyek raksasa pemerintah pusat.
Perang lokal/daerah terjadi di mana-mana dalam periode 1895-1952. Jepang
menduduki Taiwan pada tahun 1895 dan Manchuria Selatan diduduki Rusia
pada tahun 1905. Jepang menduduki Korea pada tahun 1910 dan seluruh
Manchuria pada tahun 1931, sebelum memulai serangan invasi ke Cina pada
tahun 1937. Kedua tindakan invasi yang terakhir ini adalah pemicu
mulainya Perang Dunia II.
Perkiraan kasar korban invasi Jepang tersebut kira-kira antara 1,5 juta -
6 juta manusia, ditambah dengan 10 jt - 15 jt. Manusia meninggal karena
kelaparan selama peperangan tersebut. Di samping itu, Pemerintah Cina,
yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek, telah menyebabkan korban kira-kira 10
juta manusia dalam usaha mengembangkan/ mempertahankan kekuasaannya.
Latar belakang sejarah yang mengerikan ini, yang membawa partai komunis
Mao Zedong ke puncak kekuasaannya melalui Long March-nya, adalah pergerakan
kemerdekaan terhadap penjajah Jepang dan keganasan Pemerintah Kuo
Min Tang. Beberapa juta bangsawan penguasa tanah dihukum mati.
Demikian juga, berjuta korban manusia berjatuhan, dalam usaha
kolektivisasi pertanian Partai Komunis pada tahun 1950-an. Puncak
kegagalan Mao Zedong yang menyebabkan jatuhnya banyak korban, terutama
terjadi pada tahun 1958-1961; yaitu pada proyek yang dinamakan Great Leap
Forward, di mana dilakukan mobilisasi massa secara paksa, untuk membangun
bendungan, irigasi, dan infrastruktur lainnya. Semua petani dipaksa
mengerjakan infrastrukur tersebut, sehingga hasil pertanian
terbengkalai, yang mengakibatkan banyak terjadi kelaparan dengan
korban kira-kira 30 juta manusia.
Pada tahun 1966 Mao menggerakkan suatu revolusi yang dikenal sebagai
Cultural Revolution, yang bertujuan menguatkan kedudukan partainya, yang
juga meminta korban satu juta manusia. Selama 30 tahun Mao memimpin,
kira-kira sejumlah total 35 juta manusia menjadi korban; besarnya
kira-kira enam persen dari seluruh jumlah penduduk yang jumlahnya pada
waktu itu 545 juta.
Pada tahun 1978, dua tahun sesudah Mao meninggal, Deng Xiaoping mengambil
alih pimpinan negara, dan segera mengintroduksi ekonomi pasar atau
capitalism. Setahap demi setahap Deng mengaplikasikan cara bagaimana
seorang ahli ekonomi pasar memajukan ekonomi suatu negara miskin yang
sedang berkembang. Pertama-tama, property-right diintroduksi. Deng
juga mengintroduksi pengertian pasar bagi para petani, yang segera tidak
dapat dipermainkan/dirugikan lagi oleh para tengkulak atau oleh pengaturan
harga yang terpusat pada birokrat. Segera para petani yang mempunyai uang
lumayan dapat membeli barang konsumsi dan alat produksi, yang diproduksi di
dalam negeri. Industri kecil dan industri ringan dipromosi
pendiriannya. Hubungan keluar negeri dibuka sehingga selain investasi
dapat masuk, juga teknologi dapat diimpor dan dikuasai. Socialism with
Chinese characteristic adalah nama yang diberikan oleh mereka, dan kata-kata
atau nasihat yang terkenal dari Deng bagi rakyatnya adalah to get rich
is glorious. Guna pengertian dan pengarahan perdebatan mengenai berbagai
sistem pengaturan masyarakat yang lebih efisien, Deng Xiaoping
mensosialisasikannya dengan pepatah: "Selama si kucing masih memangsa tikus,
nama atau warna apa pun yang dipunyai binatang tersebut, tidaklah menjadi
persoalan."
Hasil yang dicapai adalah luar biasa. Pertumbuhan GDP tumbuh sebanyak
9,7 persen setahun, selama dua dasawarsa berikut. Persentase GDP Cina
dari GDP dunia, tumbuh dari lima persen pada tahun 1978 ke 11,8 persen
pada tahun 1998, jika dihitung berlandaskan purchasing power parity.
Kira-kira 20 persen dari seluruh penduduk, sejumlah 200 juta,
terangkat di atas batas kemiskinan. Ratusan juta penduduk mendapat
kemerdekaan bagaimana menggunakan uangnya, di mana mereka mau menetap atau
bekerja, dan merdeka untuk pindah ke kota mencari pekerjaan. Kemerdekaan
dan hak asasi manusia yang paling mendasar inilah yang menyebabkan Cina
dapat tumbuh serupa Jepang.
Penanganan dan pengelolaan daerah Hongkong, Makao, Shanghai beserta
daerah propinsi dekat pantai, jelas memperlihatkan kemajuan berpikir
tokoh-tokoh pemerintahan dan tokoh-tokoh cendekiawan Cina, demi
pemberdayaan bakat-bakat sumber daya manusia dan masyarakat Cina.
Demikian juga usaha keras tokoh Cina untuk ikut serta dengan WTO,
memperlihatkan kemajuan pengertian mengenai fenomena globalisasi yang
sedang dialami seluruh dunia.
Masyarakat Eropa:
Masa-masa kejayaan/kesengsaraan Eropa hanya dapat dimengerti sebagai
cerita mengenai segi-segi keburukan/kebaikan suatu ideologi nationalism
beserta racism. Dalam sejarah Eropa 1700-1950, setiap negara Eropa
menjalankan ideologi economic nationalism. Ini berarti memang dalam
setiap negara berlaku ekonomi pasar atau capitalism, tetapi hanya
dalam batas-batas negara masing-masing. Di antara negara-negara Eropa
tidak ada free-trade, tetapi justru hambatan-hambatan proteksi yang sangat
tinggi terus berlaku dan sudah berlaku sejak sebelum tahun 1914.
Terbentuknya banyak negara berotonomi dan merdeka penuh, memang
menyebabkan daerah kekuasaan negara yang terbatas dan daerah pasar
ekonomi yang sempit. Akan tetapi, dilihat dari sudut kesempatan
berkembangnya manusia sebagai individu utuh, sebagai anggota suatu
open-society yang ingin naik ke lapisan atas sosial berikutnya dalam
tatanan sosial yang berlaku, perkembangan dan pemberdayaan individu
masyarakat Eropa dalam negara merdeka masing-masing, berlangsung
sangat baik dan cepat. Perkembangan ini menyebabkan suatu kelompok etnik
kecil seperti Belanda dan Belgia dapat menjelma menjadi suatu
bangsa/negara merdeka yang diakui dunia. Dan, turut serta dan mampu merebut
daerah jajahan di seluruh Bumi selama masa kolonial yang lalu.
Demi mempertahankan dan pengembangan ketahanan nasional masing-masing
negara Eropa, pada tahapan perkembangan ekonomi pasar pada waktu itu,
ideologi economic nationalism harus dilaksanakan. Oleh karena
economic-nationalism tersebut, suhu tegangan politik dan ekonomi
antarnegara Eropa selalu agak tinggi. Pengalaman dari Perang Dunia I
juga mengajarkan setiap negara, bahwa self-sufficiency adalah sangat
penting untuk memenangkan perang ataupun untuk kelanjutan kehidupan
negara dan bangsa. Perang proteksi ini makin memuncak pada waktu terjadinya
depresi dunia pada tahun 1930, di mana Amerika memasang tarif
rata-rata 59 persen pada tahun 1930 dengan peraturan yang dinamakan
Smoot-Hawley Tariff Act.
Setiap negara Eropa mundur mengisolasi diri dengan berbagai cara. Inggris,
Perancis, dan Belanda membatasi dalam kerajaannya beserta daerah
jajahan masing-masing, menaikkan tarif terhadap luar kerajaan, dan
memberikan trade-preference kepada daerah jajahannya. Italia-sebagai
negara otoriter fasis-memberikan preferensi kepada perusahaan
nasionalnya yang bekerja sama dengan pemerintah. Jerman-Nazi juga sebagai
negara otoriter fasis- terperosok paling berat ekonominya disebabkan
depresi 1930 ini, dan mengalihkan titik berat ke produksi senjata dan
perdagangan barter.
Pembentukan European Union, Common Market atau European Community yang
didahului dengan Treaty of Rome pada tahun 1957, bertujuan untuk mengurangi
atau menghilangkan economic nationalism, yang secara langsung ataupun
tidak langsung menyebabkan ekonomi Eropa tidak dapat tumbuh menjadi lebih
besar/ kuat, sehingga mampu bersaing dengan Amerika atau Jepang.
Peta ekonomi Eropa pada waktu itu sangat terpecah-pecah dan karenanya
sangat melemahkan daya kompetisi Eropa, yang terutama disebabkan ketegangan
politik dan ketegangan sosial peninggalan perang antara banyak negara
yang saling bertetangga. Meskipun kedekatan jarak dan ongkos transpor
antarnegara tetangga sangat kecil, tetapi hubungan dagang dan
kepercayaan kerja sama antara industri dari negara tetangga justru tidak
terjadi.
Tujuan utama pembentukan Common Market adalah mengubah peta ekonomi
menyerupai peta alamiahnya kembali dengan menghilangkan seluruh pengertian
sempit dari economic nationalism-nya, beserta proteksi-proteksinya.
Tujuannya akhir adalah bebas-pindah dan bebas-bea bagi semua perpindahan
manusia, barang, kapital, dan pelayanan di seluruh Uni Eropa, dan
mempunyai mata uang yang sama, yaitu Euro. Dengan situasi demikian
diharapkan Eropa dapat bersaing "duduk sama rendah dan berdiri sama
tinggi" dengan negara Amerika dan Jepang, di dalam ekonomi global sekarang
dan yang akan datang.
Untuk melihat keterkaitan antara gelombang-perubahan sejarah
perkembangan masyarakat Cina dan Eropa dengan seluruh dunia, ada manfaatnya
kita mengikuti sejarah perkembangan masyarakat dunia, dengan perspektif
perkembangan kebudayaan Ekonomi dan Ilmu Pengetahuan & Teknologi
Masyarakat Dunia, seperti Toffler melihatnya.
Gelombang peradaban dunia (Alvin Toffler)
Sejarah budidaya manusia dibagi dalam tiga gelombang, yaitu Gelombang
Pertama (8000 BC-1500), Gelombang Kedua (1500-1970), dan Gelombang Ketiga
(1970- 2000). Gelombang Pertama adalah gelombang pembaruan di mana
manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian. Budaya manusia
berubah dari teknologi pengumpulan hasil hutan ke penerapan teknologi
pertanian. Manusia berubah dari kebiasaan berpindah-pindah, ke suatu
kehidupan yang lebih cenderung tetap tinggal di satu tempat yang kita sebut
desa pertanian.
Salah satu ciri masa Gelombang Pertama adalah penggunaan "baterai alamiah",
yaitu baterai alam yang dapat menyimpan energi yang dapat diperbarui, di
dalam otot-otot binatang, di dalam hutan, didalam air terjun, angin, atau
langsung dari matahari. Masyarakat Gelombang Pertama banyak sekali memakai
kincir air dan kincir angin. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa
masyarakat Gelombang Pertama hidup damai dan berintegrasi dengan alam
sekelilingnya. Semua barang dan makanan yang diproduksi tidak untuk
diperjual-belikan, tetapi untuk dikonsumsi oleh produsen sendiri, karena
itu masyarakat dinamakan prosumen, suatu kombinasi dari dua-kata produsen
dan konsumen. Konsep Pasar belum ditemukan.
Masyarakat Gelombang Kedua adalah masyarakat industri, yang sangat
efisien dan cenderung memberi kesan sebagai "manusia-ekonomi" yang
rakus, yang baru dilahirkan oleh renaissance (pencerahan) di Eropa.
Adam Smith dengan bukunya The Wealth of Nations disusul oleh Darwin dengan
bukunya The Origin of Species, mewarnai budaya renaissance dengan
nilai-nilai yang berkaitan dengan survival of the fittest dalam suatu
seleksi alamiah versi Darwin. Pihak mana pun yang menang dalam seleksi
alamiah, adalah pihak atau kelompok yang terpilih untuk hidup terus,
memperbanyak diri dan menguasai sekelilingnya. Dominasi, pemusnahan
peradaban beserta genocide terhadap kelompok etnik "kurang maju".
Penjajahan beserta zaman imperialisme dan kolonialisme dimulai dalam
Gelombang Kedua ini. Interpretasi yang salah dari teori Darwin ini,
mungkin sekali terutama disebabkan oleh paham ideologi Social Darwinism
dari Herbert Spencer: The Might Is Always Right.
Masyarakat Gelombang Kedua ini berbudaya produksi massa,
pendidikan massa, konsumsi massa, media massa, yang cenderung berukuran
raksasa. Berlainan dari Gelombang Pertama, masyarakat mulai memisahkan
produsen dari konsumen, dan pasar adalah di mana produsen bertemu dengan
konsumen. Konsep mula Ekonomi Pasar, yang masih banyak mengandung
interpretasi salah (free-fight capitalism & monopoli), menjadi budaya
masyarakat Gelombang Kedua ini.
Budaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tumbuh dengan pesat, beserta
kecenderungan spesialisasi dan superspesialisasi berkembang. Konsep
reductionism atau balkanisasi yang banyak membantu dalam perkembangan
superspesialisasi ilmu pengetahuan dan teknologi ini, juga membawa budaya
yang cenderung melupakan pengintegrasian kembali antara berbagai
bidang ilmu, atau pun pengintegrasian kembali dengan keseluruhan Bumi dan
alam semesta.
Terjadi urbanisasi dan pembangunan kota-kota besar. Penggunaan energi
yang tidak dapat diperbarui naik dengan cepat, dan polusi yang menyebabkan
kerusakan lingkungan hidup, mulai disadari pada akhir era Gelombang Kedua.
Peradaban Gelombang Ketiga ini bukan suatu pengulangan kembali ke peradaban
Gelombang Pertama, seperti kesan yang timbul karena sering dikaitkan
dengan gerakan "Small is Beautiful". Menurut Toffler peradaban
Gelombang Ketiga adalah suatu synthesa dari Gelombang Pertama (thesa) dan
Gelombang Kedua (antithesa). Jadi merupakan suatu peradaban yang lebih
bermutu, lebih dalam, luas, dan lebih menyeluruh dari kedua peradaban
sebelumnya. Pembaruan ini terutama disebabkan oleh kemajuan teknologi
transportasi, komunikasi & informasi yang memungkinkan jauh lebih
banyak manusia mampu melihat semua fenomena yang saling berkaitan dan
saling mempengaruhi (mesh-networking), dalam cakupan yang lebih dalam dan
lebih luas, sebagai suatu fenomena terintegrasi dengan seluruh Bumi dan Alam
semesta. Pepatah yang lebih cocok adalah Small within Big is
Beautiful. Peradaban Gelombang Kedua lebih mengutamakan pelipatgandaan
kekuatan fisik manusia, sedangkan peradaban Gelombang Ketiga lebih
mengutamakan pelipatgandaan kemampuan berpikir dan berbudidaya luhur
manusia.
Ciri yang terpenting dan sangat manusiawi dari peradaban Gelombang
Ketiga adalah pemberdayaan golongan masyarakat yang lemah dan kalah
bersaing, sehingga menghilangkan perbudakan, imperialisme, dan
apartheid dari muka Bumi ini. Pernyataan menyesal dan permintaan maaf
atas budidaya perbudakan, apartheid, dan genocide bermunculan dari
beberapa negara Barat. Pengertian Hak Asasi Manusia, dan Hak Hidup
Minoritas (termasuk golongan wanita) mulai dapat diterima. Pengertian
Ekonomi-Pasar dengan "natural selection on a level playing field" mengalami
perubahan dan penyempurnaan, di mana monopoli & oligopoli (kompetisi antara
si-Kuat melawan si-Lemah) dianggap tidak adil, karena akan merugikan
konsumen dan tidak akan memunculkan inovasi dan inovator baru.
Di dalam peradaban Gelombang Kedua, perusahaan AT&T boleh tumbuh menjadi
suatu konglomerat yang mempunyai monopoli dan menguasai pangsa pasar hampir
mendekati 100 persen. Di dalam Gelombang Ketiga ini, AT&T dan Bill
Gates (Microsoft) tidak diperkenankan tumbuh menjadi suatu monopoli, demi
tetap terbukanya pintu masuk pasar bagi pendatang baru dengan inovasi
baru. Demikian juga menurut Tobin, mengenai gejala monopoli yang muncul
di dalam pasar finansial global, yang perlu mendapat perubahan pengaturan,
sehingga mekanisme pasar dapat bekerja lebih baik.
Kesimpulan
Sejarah perkembangan masyarakat Cina selama abad yang baru lalu, yang
agak memberi kesan suatu closed-society yang terpusat, yang
tidak/belum berhasil sepenuhnya menggali dan memberdayakan bakat
serba bhineka manusia Cina khususnya dan masyarakat Cina pada umumnya.
Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa kegagalan pemimpin masyarakat
Cina membangun suatu open-society, menyebabkan banyak bakat
manusia/masyarakat Cina tetap terbenam, tidak dapat muncul dan
diberdayakan. Yang secara langsung menyebabkan Cina belum pernah
mampu menjadi negara industri skala Dunia seperti Jepang, Eropa, dan
Amerika, meskipun kemampuan budaya ilmu pengetahuan dan teknologinya, di
dalam perjalanan sejarahnya, sudah beberapa-kali mencapai taraf yang
sangat tinggi. Mungkin sekali suatu negara federal yang mempunyai
banyak/beberapa pusat pemerintahan negara bagian, akan lebih memudahkan
dan merangsang tumbuhnya suatu open-society, di mana akan lebih mudah
tergali dan diberdayakannya bakat-bakat serba bhineka manusia/masyarakat
Cina.
Analisa gelombang perubahan sejarah perkembangan masyarakat Eropa justru
memberi kesan yang bertolak belakang dengan Cina, karena masyarakat Eropa
lebih bebas dan terbuka menyerupai suatu open-society. Sehingga, bakat
manusia Eropa dan masyarakat Eropa beserta social-upward-mobility lebih
berhasil diberdayakan dalam abad lalu, jika dibandingkan dengan
manusia/masyarakat Cina. Hasilnya adalah terbentuk dan berkembangnya
banyak negara merdeka-termasuk negara Belanda yang daerahnya hanya
seluas seperempat Pulau Jawa-yang berkembang dengan pesat dan penuh
percaya diri, termasuk kemampuan merebut daerah jajahan masing- masing.
Gejala yang tidak dapat dibanggakan, yang juga berhubungan dengan
karakterisitik open-society tadi, adalah terjadinya perang
antarnegara tetangga terus-menerus dan akhirnya menjadi sumber
tercetusnya Perang Dunia I & II. Demikian juga dengan perang ekonomi
berupa proteksi antarmereka, sehingga tidak mampu bersaing dengan
ekonomi Amerika. Akhirnya dalam dasawarsa terakhir dalam abad yang lalu
ini, cukup tumbuh pengertian dan kemauan untuk membentuk semacam
negara federal Eropa, yang diharapkan dapat memperkuat daya saing
ekonominya di zaman globalisasi ini.
Amerika, bangsa yang dibangun dan dikembangkan oleh para imigran dari
seluruh dunia, perlahan-lahan berubah menjadi negara federal yang tidak
berdasarkan nationalism sempit dari Eropa. Juga tidak berdasarkan ethnicity
dan tribalism. Juga tidak berdasarkan suatu agama.
Akan tetapi, terutama berdasarkan atas gagasan mengenai hak asasi
manusia, kebebasan berekonomi dan mempunyai hak pemilikan pribadi,
yang tercermin secara utuh di dalam pengertian konsep masyarakat terbuka.
Toffler dengan Gelombang I (teknologi pertanian), Gelombang II (teknologi
industri/komunikasi massa), dan Gelombang III (teknologi Informasi &
Pengetahuan) menulis sejarah perubahan perkembangan budaya masyarakat
dunia berdasarkan titik berat budaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang
ditemukan manusia, beserta interaksinya dengan sistem ekonomi dan
sistem pemerintahan masyarakatnya. Jelas terlihat ilmu pengetahuan dan
teknologi dari gelombang sebelumnya, memperlihatkan
ketidaksempurnaan, yang mengalami koreksi dan pembaruan dalam gelombang
peradaban berikutnya.
Kesimpulan terpenting yang dapat ditarik dari sejarah abad lalu, sambil
kita memasuki abad ke-21, adalah bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam segala bidang yang manusia global telah kuasai, adalah sangat
menakjubkan. Akan tetapi segera kita melihat sejarah perkembangan
budidaya tersebut lebih dalam dan menyeluruh selama beberapa abad
lalu, ternyata budaya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut terbatas
sekali dan tidak mampu digunakan meramalkan ke mana dan bagaimana
sebaiknya kebudayaan manusia ini dikembangkan. Banyak keberhasilan dan
kemajuan yang dicapai, tetapi selalu diikuti dengan timbulnya
persoalan baru, yang tidak diramal dari semula, yang justru
diakibatkan, secara langsung atau pun tidak, oleh keberhasilan yang baru
dicapai tersebut. Banyak juga penyelesaian persoalan yang sama sekali
tidak mengalami kemajuan, seperti persoalan kemiskinan di Afrika,
kesenjangan kaya-miskin nasional dan global yang terus membesar,
proliferasi bom atom, krisis moneter yang berulang terjadi, dan banyak lagi.
Akhirnya kita sampai lagi pada fenomena keterbatasan kemampuan manusia
yang merupakan konsep dasar dari suatu masyarakat terbuka, sbb.:
"The concept of Open Society is based on the recognition that people
act on imperfect knowledge and nobody is in possesion of the Ultimate
Truth".
Dengan contoh-contoh yang manusia alami dalam sejarah, mengenai tidak
sempurnanya, dan ketidakmampuan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi
manusia sebumi ini, justru membawa kita semua ke suatu kesadaran, bahwa
proses alami atau metoda yang alamiah seperti conscious evolution itulah
yang paling aman dapat diterapkan, dalam usaha membangun &
memberdayakan manusia, masyarakat dan alam yang Tuhan telah kurniakan
kepada kita. Suatu evolusi di mana biasanya manusia hanya berfungsi
sebagai salah satu obyek, di sini manusia berusaha turut menjadi subyek,
yaitu dengan turut berpartisipasi ikut berusaha mengatur jalannya evolusi
tersebut.
Proses conscious evolution, yaitu suatu proses eksperimentasi secara
terus-menerus, setahap demi setahap, dengan mengikutsertakan
semua pendapat, aktivitas dan kreativitas yang diciptakan/disuarakan
secara bebas oleh jutaan manusia, dalam suatu seleksi alamiah yang
kreatif dan adil, di suatu lapang- tanding rata yang memberikan
umpan balik sebagai koreksi, yang justru akan membawa ke suatu
hasil pemberdayaan manusia/masyarakat yang lebih adaptif dan
optimal,... daripada hasil yang akan didapat,... hanya dengan pembentukan
dewan-dewan khusus terpusat, yang terdiri dari kelompok ahli-ahli
teknologi, ekonomi, birokrat, politisi, ahli-ahli ilmu sosial atau para ahli
lainnya, yang sering tidak sadar, atau lupa, akan keterbatasan
kemampuannya sebagai manusia.
Memang berevolusi dengan kesadaran ini adalah prinsip dasar kerjanya
suatu sistem demokrasi perwakilan dan sistem ekonomi pasar yang sempurna,
yang pada umumnya dinamakan suatu Complex-Adaptive-System. Sistem ini
memang secara tahap demi tahap, mendengar, memperhatikan, dan
membandingkan semua saran yang disuarakan oleh jutaan manusia, dan
menjadikannya sebagai umpan- balik, demi pengertian yang lebih menyeluruh,
sebagai persiapan untuk reformasi dan adaptasi, untuk tindakan selanjutnya.
Masyarakat Minang yang telah mengalami kepahitan Perang Paderi dan Perang
PRRI seyogianya sharusnya mampu menatap masa depan yang lebih baik dengan
menjadikan dirinya aktif dalam Complex Adaptive System yang telah dipunyai
dari sejak lama yaitu
Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah
Syarak mangato, adat mamakai
Adat bajalan ateh alue jo patuik
Alue jo patuik ateh nan bana
Nan bana iyo badiri sandirinyo
Alam takambang jadi guru.
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================