RantauNet diulas di koran Mimbar Minang, Padang edisi Rabu 18 September 2002 
(www.mimbarminang.com)

Di bawah ini tulisannya:

===============================

RantauNet, Membuat Kampung di Depan Mata 

Padang, mimbarminang.com � Semestinya setahun yang silam ia hendak pulang 
lantaran sudah sedemikian taragak dengan kawan-kawan lama. �Tapi baru kali 
inilah saya bisa pulang,� kata Sjamsir Sjarif (67) dengan mata redup. 

Ia menanahan kesedihan. Maklum, harapannya setahun lalu itu ia masih bis 
bertemu dengan Sjofjan Asnawi, konco arek nya. Tapi ia mendapat kabar duka, 
Sjofjan yang mantan Rektor Universitas Bung Hatta itu sudah mendahului Sjamsir 
menghadap Sang Khaliq. 

Kalau Anda tak pernah ikut berwara-wiri di miling list paguyuban urang awak di 
internet, tentu tak akan pernah mendengar nama itu. Sjamsir adalah satu dari 
sedikit orang yang mau bersusah payah menegakkan panji-panji situs tempat 
berkumpulnya urang awak di dunia maya. Situs yang didirikan pada awal tahun 
1990an itu bernama RantauNet. 

Bersama dengan Agus Daniel, N.Kosky, St.Kayo, Jusfik dan sejumlah nama lain, 
Sjamsir tiap hari mengurusi diskusi macam-macam soal Minangkabau di internet. 
Ia sendiri berpangkalan di Santa Cruz California, AS. Sedang yang lain seperti 
St.Kayo misalnya di Kanada, Jusfik yang terkenal dengan nama Jusfik Antena 
adalah lelaki asal Cingkariang Banuhampu mengambil homebase di Belanda. 

Sjamsir, master antropologi dari University of Ilionis itu merasa paruh kedua 
dari perjalanan hidupnya mesti dibaktikan ke kampung halaman dalam bentuk lain. 
Yakni mempertemukan orang-orang Minang seluruh dunia di RantauNet. 

RantauNet itu sendiri sudah menghimpun seribuan orang Minang dari berbagai 
negara. Tiap jam, server RantauNet yang sudah mengalami pergantian berkali-kali 
menjadi penuh dengan email. Isinya macam-macam. Dari sekedar gurauan sampai ke 
hal-hal serius tentang Ranah Minang. 

Pria yang sampai kini masih kuat berenang 67 lap (sesuai dengan jumlah tahun 
usianya) terpasah ke negeri Paman Sam setelah pasca PRRI. Dihitung-hitung, ia 
sudah bermukim di AS selama 36 tahun. 

�Saya meninggalkan kampung pada tahun 1966, setelah berbagai lapangan kerja 
yang saya cari tidak terbuka,� kenangnya, dalam kesempatan bertemu Mimbar 
Minang. 

Sebagai seorang aktivis PRRI, ia merasakan betapa pandangan �Jakarta� terhadap 
orang-orang sepertinya begitu tak bersahabat. Selama masa PRRI ia bergabung 
dengan kawan-kawan mahasiswa ke hutan. Ia ikut bersama Sjofjan Asnawi, 
Moestamir Makmoer, Saidal Bahauddin, M.Zen Djamil dan lain-lain. 

�Terakhir saya masih bersama Saidal Bahauddin di Radio Dewan Banteng, saya jadi 
salah seorang penyiar berita,� katanya. Radio Dewan Banteng yang dipancarkan 
pada gelombang 58 meter itu bermarkas di hutan kawasan Sumpur Kudus. 

Kekalahan PRRI menyisakan kekecewaan pada dirinya. Sebagai seorang bekas guru, 
ia mencoba melamar menjadi guru pemerintah kembali. Tetapi selalu saja tak 
diterima, dengan berbagai alasan. 

Maka sepanjang tahun 1963-1966 ia mendapat kesempatan menjadi pendampaing 
seorang antropolog AS bernama Nancy Canner yang tengah mengadakan penelitian di 
Sumatra Barat. �Jadilah saya masuk kampung keluar kampung dengan menggunakan 
mobil VW yang sengaja dibawa Nacy dari AS. Kami mewawancarai berbagai tokoh 
masyarakat di kampung-kampung,� kenang Sjamsir, pria kelahiran 18 April 1935 di 
Biaro Agam itu. 

Setelah masa panjang persahabatannya dengan perempuan AS itu, ia memutuskan 
merantau ke AS. Atas referensi NAcy, ia mencoba mengurus visa di Kedubes AS di 
Jakarta. Kala itu, perjalanan ke negeri �antek nekolim� sangat dibatasi. 

Namun kegigihan jualah yang melerai. Ia diizinkan pergi ke AS pada 11 Maret 
1966. 

Dengan menggunakan visa turis, ia masuk ke AS. Semula ia tidak tahu mau jadi 
apa ia di negeri itu. Tapi saran-saran dari Nacy membuatnya mencoba menambah 
ilmu di sana. Ia masuk ke UCLA guna memperdalam bahasa Inggrisnya. Setahun 
kemudian ia pindah ke UC Davis. Selama masa belajar itu menyambi berbagai 
pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di sana. �Itu adalah masa-masa 
sulit yang saya lewati,� kenang dia. 

Awal tahun 70an barulah ia berhasil menyelesaikan masternya. Itupun setelah 
pindah pula ke University of Ilionis untuk program studi Antropologi. 

Selepas itu ia mendapat kesempatan bekerja Universitas California Santa Cruz. 
Bahkan ia diangkat menjadi Director, Third World Teaching Resource Center. 
Hidup enak mulai ia rasakan. Perasan lega setelah menerima berbagai perlakuan 
tak enak selama pasca PRRI di Indonesia kini merasukinya. 

Tahun 1985 ia sudah mengantongi status permanent resident dari pemerintah AS. 
Tapi begitu status tersebut ia peroleh, tak lama kemudian ekonomi AS melesu. 
Pada 1993, terjadi PHK besar-besaran untuk orang-orang asing yang bekerja di 
Universitas-universitas AS. Untungnya, meskipun program yang dijalankan Sjamsir 
termasuk yang dihentikan, ia masih diperbolehkan melanjutkan program yang 
terbengkalai selama setahun. 

Tapi sejarah berkata lain, ia akhirnya benar-benar tak lagi berjodoh di UCSC. 
Akhirenya ia memilih pensiun lalu menggeluti berbagai usaha untuk mencukupi 
kebutuhan. Mulailah ia menekuni bidang penerjamahan dan interpreter. Ia 
bergabung ke dalam Asosiasi Penerjemah California Utara dan Indonesia 
Professional Association (IPA). 

�Rupanya di situ letak karir saya. Tiap hari saya menghabiskan waktu sekitar 
lima sampai enam jam untuk menerjemahkan berbagai order dari asosiasi,� 
katanya. 

Jika kebetulan Anda adalah pemakai printer Hawlett Packard (HP) maka petunjuk 
pemakaian dalam bahasa Indonesia adalah karya Sjamsir. Sebuah pabrik Ponsel di 
Inggris juga memberinya order untuk menerjemahkan petunjuk pemakaian Ponsel 
tersebut ke dalam bahasa Indonesia. �Yang paling membahagiakan adalah ketika 
saya diberi order membuat manual semua peralatan mekanik untuk PT Freeport 
Indonesia. Seluruh petunjuk dalam bahasa Indonesia, sayalah yang 
menbuatkannya,� kata suami dari Siti Sa�adiyah yang dinikahinya pada tahun 
1987. 

Pada pasca lepasnya Timor Timur, ia mendapat kabar bahwa konsultan pembuat 
Undang-undang untuk Timor Lorosae adalah dari AS. �Eh, tak lama rupanya saya 
diminta pula menerjemahkan UU versi bahasa Indonesia oleh sang konsultan,� 
katanya. Hasilnya, ia dapat berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. 

Berkali-kali pula ia mendapat kehormatan sebagai interpreter bagi perkara-
perkara pengadilan AS yang melibatkan orang-orang Indonesia. Salah satu yang 
dikenangnya adalah ketika ia diminta Bank BNI untuk menjadi interpreter dalam 
sebuah perkara yang melibatkan bank milik pemerintah RI itu di AS. 

Sekarang order tetap dia terima dari MasterCard dan VisaCard. Jika kebetulan 
Anda adalah klien MasterCard, maka kalau ada telepon untuk Anda dari pusat 
MasterCard di AS, itu dipastikan adalah suara Sjamsir Sjarif. �Untuk pekerjaan 
itu saya terpaksa standby 24 jam di rumah. Karena urusan antara MasterCard 
dengan nasabahnya tak siang tak malam. Tengah malam buta kadang saya terpaksa 
bangun menjawab telepon mereka, lalu memberi penjelasan kepada nasabah orang 
Indonesia,� ujar dia. 

Kini setelah usia senja, kerinduannya untuk pulang kampung sedemikian kuatnya. 
Maklum, ia baru pulang menjenguk emaknya setelah �menghilang� selama 20 tahun 
lebih. Ia pulang pada tahun 1985. 

Pekan-pekan ini ia sempatkan mengunjungi teman-teman lamanya. Yang sudah 
bertemu dengannya adalah Moestamir Makmoer dan Saidal Bahauddin. 

Mau menetap di kampung halaman? 

�Ooo, saya tidak tahu. Saya ingin tetap menjalani hidup ini bak air mengalir 
saja. Di alam globalisasi ini jarak tak lagi jadi persoalan, saya akan kembali 
ke AS,� katanya. Dan tetap akan mengurus RantauNet bersama para simpatisan 
lainnya. Ia tetap membuka pintu rumahnya di 335 Gault St., Apt. 1 Santa Cruz, 
California. Kantong emailnya di tetap terbuka untuk dikunjungi. 

Menurut dia RantauNet telah menjadi pembuhul orang-orang awak di mancanagara 
dan kampung halaman. �RantauNet membuat kampung halaman serasa di depan mata,� 
katanya. Selamatlah! (eko) 

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke