Kaba dari mimbarminang.com
RantauNet, Membuat Kampung di Depan Mata
Padang, mimbarminang.com Semestinya setahun yang silam ia hendak pulang
lantaran sudah sedemikian taragak dengan kawan-kawan lama. Tapi baru kali
inilah saya bisa pulang, kata Sjamsir Sjarif (67) dengan mata redup.
Ia menanahan kesedihan. Maklum, harapannya setahun lalu itu ia masih bis
bertemu dengan Sjofjan Asnawi, konco arek nya. Tapi ia mendapat kabar duka,
Sjofjan yang mantan Rektor Universitas Bung Hatta itu sudah mendahului
Sjamsir menghadap Sang Khaliq.
Kalau Anda tak pernah ikut berwara-wiri di miling list paguyuban urang
awak di internet, tentu tak akan pernah mendengar nama itu. Sjamsir adalah
satu dari sedikit orang yang mau bersusah payah menegakkan panji-panji
situs tempat berkumpulnya urang awak di dunia maya. Situs yang didirikan
pada awal tahun 1990an itu bernama RantauNet.
Bersama dengan Agus Daniel, N.Kosky, St.Kayo, Jusfik dan sejumlah nama
lain, Sjamsir tiap hari mengurusi diskusi macam-macam soal Minangkabau di
internet. Ia sendiri berpangkalan di Santa Cruz California, AS. Sedang
yang lain seperti St.Kayo misalnya di Kanada, Jusfik yang terkenal dengan
nama Jusfik Antena adalah lelaki asal Cingkariang Banuhampu mengambil homebase
di Belanda.
Sjamsir, master antropologi dari University of Ilionis itu merasa paruh
kedua dari perjalanan hidupnya mesti dibaktikan ke kampung halaman dalam
bentuk lain. Yakni mempertemukan orang-orang Minang seluruh dunia di
RantauNet.
RantauNet itu sendiri sudah menghimpun seribuan orang Minang dari berbagai
negara. Tiap jam, server RantauNet yang sudah mengalami pergantian berkali-kali
menjadi penuh dengan email. Isinya macam-macam. Dari sekedar gurauan sampai ke
hal-hal serius tentang Ranah Minang.
Pria yang sampai kini masih kuat berenang 67 lap (sesuai dengan jumlah
tahun usianya) terpasah ke negeri Paman Sam setelah pasca PRRI. Dihitung-hitung
, ia sudah bermukim di AS selama 36 tahun.
Saya meninggalkan kampung pada tahun 1966, setelah berbagai lapangan kerja
yang saya cari tidak terbuka, kenangnya, dalam kesempatan bertemu Mimbar
Minang.
Sebagai seorang aktivis PRRI, ia merasakan betapa pandangan Jakarta
terhadap orang-orang sepertinya begitu tak bersahabat. Selama masa PRRI ia
bergabung dengan kawan-kawan mahasiswa ke hutan. Ia ikut bersama Sjofjan
Asnawi, Moestamir Makmoer, Saidal Bahauddin, M.Zen Djamil dan lain-lain.
Terakhir saya masih bersama Saidal Bahauddin di Radio Dewan Banteng, saya
jadi salah seorang penyiar berita, katanya. Radio Dewan Banteng yang dipancarkan
pada gelombang 58 meter itu bermarkas di hutan kawasan Sumpur Kudus.
Kekalahan PRRI menyisakan kekecewaan pada dirinya. Sebagai seorang bekas
guru, ia mencoba melamar menjadi guru pemerintah kembali. Tetapi selalu saja
tak diterima, dengan berbagai alasan.
Maka sepanjang tahun 1963-1966 ia mendapat kesempatan menjadi pendampaing
seorang antropolog AS bernama Nancy Canner yang tengah mengadakan penelitian
di Sumatra Barat. Jadilah saya masuk kampung keluar kampung dengan menggunakan
mobil VW yang sengaja dibawa Nacy dari AS. Kami mewawancarai berbagai
tokoh masyarakat di kampung-kampung, kenang Sjamsir, pria kelahiran
18 April 1935 di Biaro Agam itu.
Setelah masa panjang persahabatannya dengan perempuan AS itu, ia
memutuskan merantau ke AS. Atas referensi NAcy, ia mencoba mengurus visa di
Kedubes AS di Jakarta. Kala itu, perjalanan ke negeri antek nekolim sangat
dibatasi.
Namun kegigihan jualah yang melerai. Ia diizinkan pergi ke AS pada 11
Maret 1966.
Dengan menggunakan visa turis, ia masuk ke AS. Semula ia tidak tahu mau
jadi apa ia di negeri itu. Tapi saran-saran dari Nacy membuatnya mencoba
menambah ilmu di sana. Ia masuk ke UCLA guna memperdalam bahasa
Inggrisnya. Setahun kemudian ia pindah ke UC Davis. Selama masa belajar
itu menyambi berbagai pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di sana.
Itu adalah masa-masa sulit yang saya lewati, kenang dia.
Awal tahun 70an barulah ia berhasil menyelesaikan masternya. Itupun
setelah pindah pula ke University of Ilionis untuk program studi Antropologi.
Selepas itu ia mendapat kesempatan bekerja Universitas California Santa
Cruz. Bahkan ia diangkat menjadi Director, Third World Teaching Resource
Center. Hidup enak mulai ia rasakan. Perasan lega setelah menerima
berbagai perlakuan tak enak selama pasca PRRI di Indonesia kini
merasukinya.
Tahun 1985 ia sudah mengantongi status permanent resident dari pemerintah
AS. Tapi begitu status tersebut ia peroleh, tak lama kemudian ekonomi AS
melesu. Pada 1993, terjadi PHK besar-besaran untuk orang-orang asing yang
bekerja di Universitas-universitas AS. Untungnya, meskipun program yang
dijalankan Sjamsir termasuk yang dihentikan, ia masih diperbolehkan
melanjutkan program yang terbengkalai selama setahun.
Tapi sejarah berkata lain, ia akhirnya benar-benar tak lagi berjodoh di
UCSC. Akhirenya ia memilih pensiun lalu menggeluti berbagai usaha untuk
mencukupi kebutuhan. Mulailah ia menekuni bidang penerjamahan dan
interpreter. Ia bergabung ke dalam Asosiasi Penerjemah California Utara
dan Indonesia Professional Association (IPA).
Rupanya di situ letak karir saya. Tiap hari saya menghabiskan waktu
sekitar lima sampai enam jam untuk menerjemahkan berbagai order dari asosiasi,
katanya.
Jika kebetulan Anda adalah pemakai printer Hawlett Packard (HP) maka
petunjuk pemakaian dalam bahasa Indonesia adalah karya Sjamsir. Sebuah pabrik
Ponsel di Inggris juga memberinya order untuk menerjemahkan petunjuk pemakaian
Ponsel tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Yang paling membahagiakan
adalah ketika saya diberi order membuat manual semua peralatan mekanik untuk PT
Freeport Indonesia. Seluruh petunjuk dalam bahasa Indonesia, sayalah yang
menbuatkannya, kata suami dari Siti Saadiyah yang dinikahinya pada tahun
1987.
Pada pasca lepasnya Timor Timur, ia mendapat kabar bahwa konsultan pembuat
Undang-undang untuk Timor Lorosae adalah dari AS. Eh, tak lama rupanya saya
diminta pula menerjemahkan UU versi bahasa Indonesia oleh sang konsultan,
katanya. Hasilnya, ia dapat berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah
haji.
Berkali-kali pula ia mendapat kehormatan sebagai interpreter bagi
perkara-perkara pengadilan AS yang melibatkan orang-orang Indonesia. Salah
satu yang dikenangnya adalah ketika ia diminta Bank BNI untuk menjadi
interpreter dalam sebuah perkara yang melibatkan bank milik pemerintah RI
itu di AS.
Sekarang order tetap dia terima dari MasterCard dan VisaCard. Jika
kebetulan Anda adalah klien MasterCard, maka kalau ada telepon untuk Anda dari
pusat MasterCard di AS, itu dipastikan adalah suara Sjamsir Sjarif. Untuk
pekerjaan itu saya terpaksa standby 24 jam di rumah. Karena urusan antara
MasterCard dengan nasabahnya tak siang tak malam. Tengah malam buta kadang
saya terpaksa bangun menjawab telepon mereka, lalu memberi penjelasan
kepada nasabah orang Indonesia, ujar dia.
Kini setelah usia senja, kerinduannya untuk pulang kampung sedemikian
kuatnya. Maklum, ia baru pulang menjenguk emaknya setelah menghilang selama 20
tahun lebih. Ia pulang pada tahun 1985.
Pekan-pekan ini ia sempatkan mengunjungi teman-teman lamanya. Yang sudah
bertemu dengannya adalah Moestamir Makmoer dan Saidal Bahauddin.
Mau menetap di kampung halaman?
Ooo, saya tidak tahu. Saya ingin tetap menjalani hidup ini bak air
mengalir saja. Di alam globalisasi ini jarak 0tak lagi jadi persoalan, saya
akan kembali ke AS, katanya. Dan tetap akan mengurus RantauNet bersama
para simpatisan lainnya. Ia tetap membuka pintu rumahnya di 335 Gault St.,
Apt. 1 Santa Cruz, California. Kantong emailnya di tetap terbuka untuk
dikunjungi.
Menurut dia RantauNet telah menjadi pembuhul orang-orang awak di
mancanagara dan kampung halaman. RantauNet membuat kampung halaman serasa di
depan mata, katanya. Selamatlah! (eko)
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================