Title: Maize
Senin, 23/9/2002 01.47 WIB

4800 Warga Kab. Solok Masih Buta Aksara

Solok, mimbarminang.com - Bupati Solok, Gamawan Fauzi, SH, MM mengatakan, jumlah penduduk yang mengalami buta aksara di wilayah kabupaten Solok mengalami penurunan yang cukup besar dalam lima tahun terakhir. Dari 18 ribu buta aksara tahun 1996, tahun 2002 ini jumlah berkurang dan tersisa 4800 jiwa lagi.

Upaya mengatasi buta aksara di Kabupaten Solok, kata Gamawan, adalah upayanya untuk mengeluarkan daerah Kabupaten Solok dari masalah kualitas sumberdaya manusia yang rendah.

Hal itu disampaikannya saat memberi sambutan pada acara Pelantikan Pengurus Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sumbar di Lubuk Selasih Solok, Sabtu (21/9/2002). Pelantikan pengurus PKBM Sumbar itu dilaksanakan oleh Kepala Diknas Sumbar, Prof. Drs. Satni Eka Putra.

Tingginya perhatian Pemda terhadap pendidikan masyarakatnya, Gamawan menitipkan harap kepada PKBM, khususnya untuk daerah Solok. �Bila PKBM serius dan mau menjadikan masyarakat Solok bebas dari buta aksara, Pemda akan bantu dana kegiatan PKBM melalui dana APBD Kabupaten Solok,� janji Gamawan kepada PKBM Sumbar yang diketuai oleh Irfianda Abidin.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Prof. Drs. Satni Eka Putra, mengatakan, salah upaya pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan melaksanakan program pendidikan bagi semua (education for all).

Karena itu, bagi siapa saja, kata Satni yang membuka peluang untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat oleh bagian dari masyarakat itu sendiri, maka pemerintah akan mendukungnya. �Saatnya masyarakat kita meningkatkan kemampuan dengan belajar, dan peran masyarakat diminta untuk peran aktif dalam rangka mengangkat pendidikan di tengah masyarakat, memberantas buta akasara dan mendukung pendidikan bagi anak-anak mereka,� kata Satni.

Ia mengingatkan untuk tidak terlalu terlena dengan krisis dan menjadikannya tameng untuk tidak melakukan segala sesuatunya. Alasan krisis saatnya untuk ditingalkan, dan yang harus ada sekarang adalah upaya untuk menghindari krisis. �Keinginan yang kuat untuk bangkit dan memiliki pendidikan yang lebih baik adalah modal utama untuk menghindarkan diri dari krisis,� kata Satni.

Pemerintah melalui program Pendidikan Luas Sekolah, kata Satni, telah melakukan sejumlah program kegiatan guna membangun masyarakat yang berpendidikan.

Kepala Sub Dinas STPDO Diknas Sumbar, Drs. H. Dian Wijaya mengakui peran serta masyarakat menjadi modal utama terlaksananya program pendidikan luar sekolah di tengah masyarakat.

Dikatakan, PKBM adalah salah satu wujud dari program pendidikan yang dilakukan kepada masyarakat. Di Sumbar jumlah PKBM ini mencapai 71 PKBM. Atas upaya ini, kata Dian Wijaya, Pemerintah memberikan bantuan kepada 60 PKBM Sumbar dalam bentuk dana kegiatan sebesar Rp200 ribu perbulan yang dicairkan per triwulan. �Saat ini akan ada bantuan sebesar Rp50 juta per PKBM dari dana APBN, dana itu akan dikucurkan kepada PKBM bersangkutan secara langsung, bila PKBM tersebut mampu menunjukkan program kerja dan hasil nyata kepada pemerintah,� kat Dian.

Dia berkeyakinan, dengan adanya PKBM ini di Sumbar, maka proses pembelajaran kepada masyarakat semakin bisa dilakukan dengan lebih baik, dan cepat. �ini adalah salah satu bentuk dukungan masyarakat yang mesti disuport,� kata Dian.

1 Nagari 1 SLTP

Bentuk lain, dari seriusnya Pemkab Solok memperhatikan pendidikan di daerah itu adalah dengan dicanangkannya program satu SLTP di satu Nagari di Solok. �Kita sedang upayakan di setiap nagari mempunyai paling sedikit satu SLTP,� kata Gamawan.

Gamawan menyakinkan bahwa banyaknya penduduk daerah yang miskin adalah disebabkan karena pendidikan rendah. Selain itu sistem birokrasi yang rendah dan kemauan yang rendah terhadap pendidikan.

Di tengah masyarakat sampai saat ini, di akui Gamawan masih berlaku wanita hanya akan berkahir bertugas sebagai istri yang bekerja di dapur, sumur dan kasur. Padahal, kata gamawan, di lihat dalam proses pendidikan wanitalah yang mampu menjalani pendidikan dengan tekun, telaten dan penuh perhatian. �Karena itu, kita harus yakinkan masyarakat bahwa pendidikan akan mampu menaikkan derjat kehidupan ekonomi mereka,� kata Gamawan.

Di saat perhatian masyarakat terhadap pendidikan masih rendah, dibuktikan dengan tidak adanya dana-dana khusus bagi anak-anak pintar yang tidak mampu, maka saatnya kita, kata Gamawan menyediakan dana khusus bagi mereka. �Banyak anak didik kita potensial dan berkemampuan bagus, tapi terkendala oleh ketiadaan uang, kenapa kita biarkan?� katanya.

Gamawan menghimbau semua orang harus memberikan perhatian, kepada mereka bisa tertitip harapan untuk memajukan keluarganya, daerahnya dan bangsanya.(son)
 
 
Senin, 23/9/2002 01.46 WIB

74 Pelaku Maksiat Dijaring Polresta Padang

Padang, mimbarminang.com - Setelah menjaring ratusan preman dan �orang bagak�, jajaran Polresta Padang kembali menggelar razia yang sasarannya para pelaku maksiat. Dalam razia, Ahad dini hari (22/9), sedikitnya terjaring 74 orang yang diduga terlibat tindakan �esek-esek� di sepanjang jalan umum Bukit Lampu, kawasan wisata Bungus, Kecamatan Teluk Kabung, Kota Padang.

Informasi yang dihimpun, para pelaku maksiat yang terjaring itu terdiri atas 31 pria dan 43 wanita. Mereka dijaring ketika sedang asyik bermesraan di pinggir jalan atau di atas kendaraan bermotor serta di warung remang-remang. Bahkan diantaranya, ada yang berprofesi sebagai pekerja seks komersil (PKS) yang ditangkap saat menunggu �mangsa� di tepi jalan.

Kapuskodal Ops Polresta AKP Prihartono dalam keteranganya mengatakan, razia ini dimaksudkan untuk memberantas praktek maksiat yang belakangan mulai meresahkan masyarakat. Para pelaku yang tertangkap, kata Pri Hartono, setelah didata dipanggil oraang tuanya untuk membuat perjanjian. Sedangkan bagi yang positif sebagai PKS, akan dikirim ke Panti Rehabilitasi Sukarami Solok untuk dibina.

Razia ini yang melibatkan puluhan anggota baik Sat Intel dan Sat Serse ini, kata Pri, akan terus digelar.(jon)
 
 
Senin, 23/9/2002
DIHK Jerman Janjikan Investor untuk Sumbar

Padang, Mimbar Minang - Deutscher Industrie und Handles Kammertag (DIHK) atau Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jerman, menjanjikan akan mengajak sejumlah investor di negaranya untuk menanamkan modal di Sumatra Barat bila kerjasama dengan Kadin Sumbar terjalin baik. Meski begitu, DIHK membutuhkan sejumlah peta potensi daerah Sumbar yang memungkinkan sejumlah calon investor Jerman bisa menanamkan modalnya di Sumbar.

International Economics Affair DIHK, Andreas Gosche, usai penandatanganan naskah perjanjian kerjasama antara DIHK dengan Kadinda Sumbar di Hotel Bumi Minang, Sabtu (21/9/2002) mengatakan, dari amatannya ia yakin akan banyak calon investor yang akan tertarik untuk menanamkan modalnya di daerah ini. "Kita berharap akan banyak investor asal Jerman yang bersedia menanamkan modalnya di Sumbar, khususnya setelah adanya kerjasama ini," ujarnya.

Dikatakan Andreas Gosche, pada tahap awal, DIHK segera mempelajari potensi-potensi daerah ini, setelah itu DIHK bekerjasama dengan Kadin Sumbar akan membuat kemungkinan peta investasi yang mempunyai peluang untuk dikembangkan.

Peta potensi untuk investasi di Sumbar bagi DIHK sangat diperlukannya, karena ia mengaku sama sekali buta dengan potensi di daerah Sumbar. "Selama ini kami (DIHK, red) belum banyak tahu tentang potensi Sumbar, karenanya kami ingin perlu waktu mempelajarinya untuk kemudian kami sosialisasikan di Jerman. Peta potensi ini juga akan menjadi acuan bagi kami dalam menetapkan program kerjasama selanjutnya," katanya.

Kesepakatakan kerjasama ini, ditandai dengan penandatanganan naskah perjanjian kerjasama antara Ketua Umum Kadinda Sumbar Bachtiar Kahar dengan International Economics Affair DIHK untuk Indonesia, Andreas Gosche. Turut menyaksikan Ketua Dewan Pertimbangan Kadinda Sumbar H. Basril Djabar dan Wakil Ketua Dewan Penasehat Drs. H. Karseno.

Bachtiar Kahar dalam kesempatan itu, mengatakan kerjasama tersebut diharapkan mampu meningkatkan fungsi dan peran Kadinda ke depan, berkaitan dengan semakin kuatnya tuntutan agar Kadinda bisa betul-betul mandiri dan efektif dalam melayani masyarakat dan para pengusaha anggotanya. "Kesepakatan kita ini bukan hanya sekedar MoU (Memorandum of Understanding) lagi, tetapi sudah merupakan perjanjian kerjasama yang siap untuk ditindaklanjuti dalam waktu dekat," tegas Bachtiar Kahar dihadapan sejumlah undangan.

Setelah kerjasama ini terjalin, lanjut Bachtiar, Kadinda Sumbar telah merencanakan empat program pokok yang perlu segera dilaksanakan. Pembenahan lembaga institusi Kadinda khususnya bidang kesekretariatan, membuat peta data (data base) sesuai dengan format dan kebutuhan dunia usaha bukan seperti yang ada di birokrasi. Selain itu, juga mengadakan program pelatihan atau workshop di Jerman oleh DIHK bagi para pengusaha setempat serta public relation yang berkaitan dengan Kadin sehingga organisasi ini tidak lagi hanya menjadi menara gading atau sesuatu yang ekslusif. "Sumbar dengan etnis Minangkabau yang berjumlah 4,5 juta jiwa adalah salah satu etnis yang punya kultur kewirausahaan. Hal ini tidak hanya diketahui di tingakat nasional tapi juga sudah ke manca negara. Saya kita kerjasama ini sejalan dengan peningkatan potensi Kadin," ujar Bachtiar.

Andreas Gosche, menambahkan meski sampai saat ini perjanjian kerjasama antara Kadinda Sumbar dengan DIHK belum dalam bentuk nyata, namun ia mengaku yakin kerjasama tersebut bisa ditindaklanjuti dan akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Kadinda Sumbar H. Basril Djabar berharap agar kesepakatan dan program-program yang telah direncanakan Kadinda Sumbar disokong oleh seluruh anggota dan pengurusnya. "Mudah-mudahan kegiatan ini mendapat sokongan dari anggota dan pengurus Kadinda Sumbar sehingga harapan menjadikan Kadinda Sumbar sebagai organisasi yang profesional dan efektif tercapai," katanya.(jon)

Kirim email ke