----- Original Message -----
Sent: Monday, September 30, 2002 5:23
PM
Subject: Re: [RantauNet.Com] Pemerintah
Diminta Hentikan Privatisasi
Assalamualaikum,
Hai, ikut ngerecokin, bertanya dan
komentar yah...Namun bila terdengarnya gagap, maklum saja, jebolan
Havard University of Dapur soale.
1. Begini, jika skenario 1 s/d 4 betul,
ceritanya pemerintah sedang berusaha menutup lubang kecil dengan menggali
lubang besar, begitu? Menjual BUMN kepada asing, artinya own state company
akan beralih menjadi stranger's state company. Apa lagi bila share
si stranger lebih besar dari pemerintaha RI, artinya rakyat Indonesia
tidak akan pernah menjadi tuan di negaranya sendiri.
2. Bila negara harus mengurangi biaya
untuk orang banyak, itu artinya subsidi untuk listrik, telepon, dan bahan
bakar dll harus dikurangi. Itu artinya kiamat untuk 3/4 rakyat indonesia yang
masuk ketegori rakyat kecil karena secara otomatis ongkos finansial akan
bertambah. Dan kita yang tepek-tepek dan tidak tahu apa-apa
ini akan mengeluh, frustrasi dan berujung pada kerusuhan
soasial.
3.Manaiak an suku bunga supayo currency
tidak collaps (increased
interest rates) artinya para pengusaha
kecil akan semakin sulit menambah modal karena tidak tahan dengan bunga.Lantas
semangat berusahapun akan loyo. Yang paling asyik yah tentu para
untuk spekulan yang ngerti cara bermain saham, obligasi, dan reksa dana. Sebab
fluktuasi di bursa effek adalah ladang subur bagi mereka. Artinya, sebagian
kecil rakyat indonesia yang kaya akan semakin kaya sementara yang miskin akan
semakin miskin. Dan sosial gap akan semakin panjang, lebar dan
dalam. Sebuah potensi besar bagi rakyat untuk bikin gara2 pada
pemerintah.
4. Naiak an pajak(increased taxes) ,
boleh lah, asal pajaknya pilih-pilih, jangan main pukul rata seperti
pajak penghasilan itu. Mana adil sih jika penghasilan 500.000,- sama-sama
terkena pajak 20% dengan penghasilan 5.000.000,- per bulan.
So, artinya jika pemerintahan Megawati
masih nekat menjual asset BUMN atas tekanan IMF, hehehe...kagak apa2
deh! Mungkin mereka sudah tidak sabar menunggu pencopotan jabatan di
tahun 2004. Turun sekarang atau nanti kan sama saja.
So, artinya lagi, saat ini para
spekulan bursa effek sedang mencium bau darah segar di
udara.
Wassalam,
Warren Buffett
Analis dari Wall street
----- Original Message -----
Sent: Monday, September 30, 2002 10:45
AM
Subject: Re: [RantauNet.Com]
[Rantau-net] Pemerintah Diminta Hentikan Privatisasi
Assalamualaikum warahmatullaah
wabarakatuh
Doon snakes doon snakes :)
World Bank menghandle long term loan, IMF
emergency loan
Dananya dari negara donor dan wealthy
person/yahudi.
Syarat mendapatkan loan dari IMF kalau
malabiahi quota:
1.Manjua BUMN dan Assets(state owned
industries and assets)
2.Negara haruih mangurangi biaya utk rang
banyak(lower expen
ditures on public services)
3.Manaiak an suku bunga supayo currency ndak
kolaps(increased
interest rates)
4.Naiak an pajak(increased taxes)
Bararti pak Adang nio maminjam ka IMF
malabiahi kuota nan
ditantukan, makonyo pak adang nio manjua
sagalo macam
BUMN jo Asset negara lainnyo sacaro
pakso.
Urang lua MNC,special wealthy families
investment group,
nio marampok resources nagari miskin, dibantu
dek birok
rasi nagari masiang masiang.
Tan Leman dari Kamang bacarito, maliang tu
bapinjuruik, nan
mukasuiknyo, urang lua datang maliang karano
lah ado nan
maagiah jalan masuak, utk Indonesia pak Adang
pinjuruiknyo.
Sagitu solo dari Tan Baro
Salamz
Tan Baro
Padagang baro tampuruang.
Pengamat
ekonomi Revrisond Baswir menilai privatisasi BUMN yang
dilakukan
Indonesia sebagai "rampokisasi". Pelaksanaan privatisasi BUMN
yang
diperintahkan IMF, jelasnya, selain sangat erat kaitannya dengan
beban
utang luar negeri yang dihadapi pemerintah, juga berkaitan dengan
agenda
besar liberalisasi ekonomi yang dilakukan lembaga itu. "Tindakan
itu sangat
mudah untuk ditafsirkan sebagai upaya sengaja IMF merampok
BUMN demi
keuntungan para pemodal internasional," tegasnya.
c04/gun
Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/