Menuju Utara (4)

Sekejap saja menunggangi kereta yang meluncur cepat di bawah bumi Sendai, 
kumendapatkan diriku sudah berada dalam taksi yang berlari menuju 
pelabuhan yang ditempuh dalam waktu 5 menit. Waktu turun taksi, di 
hadapan kami kapal berlabuh tenang menghadapkan haluannya ke Lautan 
Pasifik yang luas.

Ada antrian yang agak panjang bagi calon penumpang untuk check-in, tetapi 
orang-orang beringsut cukup cepat bersebab pegawai yang melayaninya 
banyak dan sigap mengurus tiket dengan komputernya. Lantaran kemampuan 
bahasa Jepang saya tidak ada apa-apanya dibanding dengan bini, dialah 
yang pergi ke loket sendirian dan aku menghenyakkan pantat di kursi 
sendirian.

"Uda, tunggulah di siko," ucap bini.

"Iyo".

"Sapaningga ambo, mato jan mancaliak ka nan lain".

"Indak. Mato Uda hanyolah tapauik ka adiak nan surang".

Memuncak musim bepergian pada pertengahan Agustus bagi orang Jepang untuk 
menikmati liburan musim panasnya. Tiket kapal menuju Hokkaido sudah 
dipesan sebulan sebelum hari keberangkatan lewat biro travel. Namun, 
karena mengambil waktu yang bersamaan dengan kepergian orang Jepang yang 
berbondoh-bondoh tersebut, tiket satu kamar tidak bisa diperoleh. 

Terpaksa berpuaslah kami beroleh tiket kamar yang diisi 6 orang penumpang 
yang berharga 10.000 yen per orang. Tetapi, itu lebih baik daripada 
mendiami kamar biasa yang diisi 20 orang penumpang. Kami sampaikan kepada 
biro travel agar memindahkan kami ke kamar spesial seandainya ada yang 
mengembalikan kamar tersebut.

Mujur memang, dua hari sebelum hari bertolak, staf perusahaan kapal 
menelepon kami akan adanya penumpang yang batal berangkat sehingga 
tersedia kamar spesial yang bisa ditempati. Biaya kamar adalah 52.000 yen 
yang lebih mahal daripada harga tiket pesawat terbang dengan tujuan yang 
sama. Tetapi, tidak apa-apa karena kenyamanan yang akan diperoleh sesuai 
dengan harga yang dibayar dalam perjalanan selama 14 jam itu menuju 
Komakomai di Hokkaido.

Sebetulnya agak juga terpikir mengeluarkan uang sebanyak itu dikarenakan 
kehidupanku berlandas atas perhitungan keuangan yang cukup ketat. 
Ketimbang mengeluarkan uang sebanyak itu, tidaklah lebih baik menghuni 
kamar biasa yang jauh lebih murah sehingga kelebihannya bisa disumbangkan 
kepada kaum papa yang menjerit di Indonesia atau negara lain? Bukankah 
kebahagiaan abadi adalah sesudah bisa membahagiakan orang lain?

"Kapan-kapan ada baiknya membahagiakan diri dengan menikmati kehidupan 
pribadi di kamar pribadi," bela hatiku.

Sehabis check-in, langsung beranjak kami ke lantai dua gedung tersebut 
yang memiliki koridor berkarpet panjang menuju kapal. Awak kapal 
laki-laki berpakaian necis berdiri di depan gerbang masuk dan dalam 
membungkukkan badan sambil mengucapkan selamat datang dengan muka yang 
ramah tersenyum. Seorang awak kapal lain, perempuan, yang berdiri di 
depan pintu masuk menyimpulkan senyum sambil menunjukkan arah ke kamar 
kami. 

Saya lupa memperhatikan informasi tentang kapal yang bernama "Kiso" itu, 
tetapi kemungkinan panjang badannya sekitar 80 m. Di dalamnya terdapat 
sauna, ruang bermain, ruang konser, toko, bar, restoran, bioskop, dan 
sebagainya. Jendela-jendela kaca lebar berderetan di sisi kapal yang 
memungkinkan penumpang bisa duduk berleha-leha sambil memandangi laut 
biru pada siang hari yang ceria dan laut hitam pada malam hari yang 
gulita.

(bersambung)

e

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke