Ini ada cerita tambahan dari milis tetangga ttg IMF...ma'af kalau sebelumnya
juga pernah diposting di palanta ini.

Wassalam,
BUDI


  PENGALAMAN SAYA SEBAGAI ORANG DALAM THE WORLD BANK
  TENTANG [PERANAN IMF DALAM MEMPERBURUK] KRISIS EKONOMI DUNIA 1)

  Oleh: Joseph STIGLITZ 2)

  Pertemuan IMF yang akan diadakan minggu mendatang3) di
  Washington akan merangsang kedatangan sebagian besar
  demonstran yang sama, yang telah menghebohkan
  pertemuan WTO di Seattle musim gugur yang lalu. Mereka
  akan menuduh bahwa IMF [amat] angkuh. Mereka akan
  mengatakan bahwa IMF tidak sungguh-sungguh
  mendengarkan [keluhan] dari negeri-negeri yang sedang
  berkembang yang harus ditolongnya. Mereka akan
  mengatakan bahwa [sidang-sidang IMF] bersifat rahasia
  dan terisolir dari pertanggunganjawab demokratik.
  Mereka akan mengatakan bahwa "resep" IMF seringkali
  menyebabkan lebih memburuknya keadaan- yaitu
  menyebabkan kelambatan ekonomi menjadi resesi, dan
  resesi menjadi depresi.

  Dan ada kebenaran dalam apa yang mereka katakan itu.
  Saya pernah menjadi ahli ekonomi senior pada World
  Bank antara tahun 1996 sampai bulan Nopember 1999,
  selama krisis ekonomi global yang paling parah dalam
  setengah abad yang terakhir ini. Saya menyaksikan
  bagaimana caranya IMF memberikan reaksi terhadap
  krisis tersebut, bergandengan tangan dengan Departemen
  Keuangan Amerika Serikat. Dan saya sangat kaget.

  Krisis ekonomi global ini bermula di Thailand pada
  tanggal 2 Juli 1997. Negara-negara di Asia Timur telah
  mengalami kemajuan yang sangat mengesankan selama tiga
  dasawarsa: pendapatan telah meningkat, kesehatan
  menbaik, kemiskinan telah berkurang secara amat
  dramatis. Dewasa ini tidak hanya melek huruf sudah
  amat meluas, tetapi juga [kaum muda] negeri-negeri ini
  telah mengalahkan Amerika Serikat dalam pertandingan
  sains dan matematik. Beberapa di antara negeri-negeri
  itu tidak pernah sekali pun mengalami resesi dalam 30
  tahun.

  Namun bibit malapetaka telah lama ditanamkan. Awal
  dasawarsa 90an, negeri-negeri Asia Timur telah
  meliberalisasikan pasar keuangan dan pasar modal
  mereka, bukan karena mereka memerlukan tambahan dana
  (tingkat tabungan mereka sudah mencapai 30 persen atau
  lebih) tetapi karena tekanan internasional, termasuk
  tekanan dari Departemen Keuangan Amerika Serikat.
  Perubahan ini telah merangsang masuknya modal
  berjangka pendek - yaitu jenis modal yang mencari
  keuntungan sebesar-besarnya pada hari, minggu, atau
  bulan berikutnya [setelah kedatangan mereka], dan
  bukannya pada investasi berjangka panjang seperti
  membangun pabrik-pabrik. Di Thailand, modal berjangka
  pendek ini telah mendorong kebangkitan pasar real
  estate yang tidak berkelanjutan. Lagi pula,
  sebagaimana telah dialami dengan getir di seluruh
  dunia (termasuk oleh oleh orang Amerika sendiri),
  setiap gelembungan real estate akhirnya akan meletus,
  sering dengan akibat yang merupakan malapetaka.
  Seperti mendadaknya kedatangan modal ke suatu negeri,
  [dengan mendadak juga] ia keluar. Dan pada saat setiap
  orang menarik dananya keluar negeri, pada watu yang
  sama ia menyebabkan timbulnya masalah ekonomi [di
  dalam negeri]. Masalah ekonomi yang sangat besar.

  Rangkaian krisis finansial terjadi di Amerika Latin
  dalam dasawarsa 80an, pada saat defisit keuangan
  negara mengglembung dan kebijakan moneter yang amat
  longgar telah mengakibatkan inflasi yang tidak
  terkendali. Di kawasan itu, secara tepat IMF telah
  menekankan kebijakan fiskal yang ketat (dalam bentuk
  anggaran yang berimbang) dan kebijakan moneter yang
  lebih ketat, yang menekan seluruh pemerintah untuk
  mematuhi kebijakan-kebijakan tersebut sebagai syarat
  untuk menerima bantuan.
  Oleh karena itu, dalam tahun 1997 IMF mendesakkan
  kebijakan yang sama di Thailand. Para petinggi IMF
  menyatakan bahwa penghematan akan memulihkan
  kepercayaan pada ekonomi Thailand. Bersamaan dengan
  menyebarnya krisis ke bangsa-bangsa Asia Timur lainnya
  - dan bahkan sewaktu meningkatnya bukti kegagalan
  tersebut-- IMF sama sekali bergeming, memberikan resep
  yang sama pada setiap [utusan] bangsa yang
  [ekonominya] sudah parah yang datang ke muka pintu
  kantornya [untuk meminta bantuan].

  Saya kira sikap ini keliru. Salah satu di antaranya,
  berbeda dengan bangsa-bangsa Amerika Lain,
  negeri-negeri Asia Timur sudah mempunyai surplus
  anggaran. Di Thailand, pemerintah mempunyai demikian
  banyak surplus anggaran, sehingga dalam kenyataannya
  telah merugikan ekonomi untuk melakukan investasi
  dalam bidang pendidikan dan infrastruktur, yang
  keduanya sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi. Lagi
  pula, bangsa-bangsa Asia Timur sudah mempunyai
  kebijakan uang ketat: inflasi rendah dan menurun
  terus. ( Misalnya di Korea Selatan, angka inflasi
  adalah empat persen, yang sungguh baik). Masalahnya
  bukanlah pemerintahan yang tidak hati-hati seperti di
  Amerika Latin; masalahnya adalah sektor swasta yang
  tidak hati-hati - misalnya seluruh bankir dan debitur
  yang berjudi dengan gelembungan real estate tersebut.

  Saya khawatir, bahwa dalam keadaan demikian, kebijakan
  yang ketat tidak akan mampu menghidupkan kembali
  perekonomian Asia - kebijakan tersebut [bahkan] akan
  mencemplungkannya ke dalam resesi atau bahkan ke dalam
  depresi. Bunga uang yang tinggi bahkan akan
  menghancurkan perusahaan-perusahaan Asia Timur yang
  sarat dengan hutang, yang akan menyebabkan semakin
  banyaknya kebangkrutan dan kegagalan membayar kembali
  kredit bank. Berkurangnya pengeluaran negara hanya
  akan menciutkan ekonomi lebih lanjut.

  Oleh karena itu saya mulai mengadakan lobi untuk
  mengubah kebijakan IMF tersebut. Saya berbicara dengan
  Stanley Fisher, seorang mantan gurubesar ekonomi
  Massachussetts Institute of Technology dan mantan ahli
  ekonomi senior pada World Bank, yang menjabat sebagai
  deputi kepala managing director dari IMF. Saya juga
  berbicara dengan sesama ahli ekonomi pada World Bank
  yang mungkin mempunyai kontak atau pengaruh pada IMF,
  mendorong mereka untuk melakukan segala hal untuk
  mengubah birokrasi IMF.

  Tidaklah terlalu sukar meyakinkan tokoh-tokoh World
  Bank terhadap analisis saya; mengubah pikiran
  tokoh-tokoh IMF sungguh mustahil. Sewaktu saya
  berbicara dengan pejabat-pejabat senior IMF - misalnya
  menjelaskan bagaimana suku bunga yang tinggi dapat
  meningkatkan kebangkrutan, yang selanjutnya akan
  menyebabkan semakin sulitnya memulihkan kepercayaan
  pada ekonomi Asia Timur - mulanya mereka akan
  membantah. Lalu, sewaktu mereka tidak mampu memberikan
  kontra-argumen yang efektif, mereka akan mundur ke
  respons lainnya: [dengan mengatakan bahwa] seandainya
  saja saya mengerti [besarnya] tekanan dari dewan
  direktur eksekutif IMF - yaitu suatu badan yang
  diangkat oleh para menteri keuangan dari negara-negara
  industri maju -- yang berwenang menyetujui semua
  kredit IMF [saya akan memahami penolakan mereka].
  Maksud mereka sangat jelas. Kecenderungan dewan
  eksekutif IMF tersebut [sesungguhnya jauh] lebih
  ganas; [sehingga pendapat] para pejabat senior [IMF]
  ini sesungguhnya justru menyumbangkan sikap yang
  moderat. Hal ini sungguh mengesalkan, bukan karena
  kelambatan IMF sungguh sulit untuk dihentikan, tetapi
  juga oleh karena sungguh mustahil untuk mengetahui
  siapakah yang merupakan penghambat perubahan, karena
  seluruh rapat IMF berlangsung di balik pintu tertutup.
  Apakah staf yang mendorong para direktur eksekutif
  itu, ataukah para direktur eksekutif itu yang
  mendorong stafnya? Saya masih merasa tidak tahu.

  Sudah barang tentu, setiap orang di IMF mencoba
  meyakinkan saya bahwa mereka akan bersikap fleksibel:
  yaitu jika kebijakan mereka ternyata sungguh-sungguh
  menyebabkan mengerutnya [ekonomi], yang menyebabkan
  ekonomi negara-negara Asia Timur semakin jatuh dalam
  resesi dari sewajarnya, maka mereka akan mengubahnya
  [secara mendasar].

  Pernyataan itu menimbulkan keringat dingin saya. Salah
  satu kuliah pertama yang diajarkan pada mahasiswa
  pasca sarjana oleh para gurubesar ekonomi adalah
  pentingnya memperhitungkan faktor kelambanan [lag] :
  diperlukan waktu antara 12 - 18 bulan sebelum
  perubahan kebijakan moneter (seperti menaikkan atau
  menurunkan suku bunga) sebelum dampaknya dapat
  dirasakan secara penuh. Sewaktu saya bekerja di Gedung
  Putih sebagai ketua Dewan Penasihat Ekonomi [dari
  Presiden Amerika Serikat] kami memusatkan seluruh
  energi untuk meramalkan kemana arah ekonomi di masa
  depan, sehingga kami tahu apa yang akan disarankan
  pada saat ini. Bermain spekulasi adalah merupakan
  kebodohan yang amat sangat. Dan justru itulah
  persisnya yang diusulkan oleh pejabat-pejabat IMF.

  Saya seharusnya tidak demikian terkejut. IMF lebih
  suka jika orang luar tidak terlalu banyak bertanya
  mengenai apa yang sedang mereka kerjakan. Dalam teori,
  lembaga keuangan itu mendukung institusi-institusi
  demokrasi di negara-negara yang dibantunya. Dalam
  prakteknya, IMF merusak proses demokrasi dengan cara
  mendesakkan kebijakan-kebijakannya.Sudah tentu
  resminya IMF tidak "menekan" apa pun juga. Ia
  "merundingkan" syarat-syarat untuk menerima bantuan.
  Tetapi semua kekuatan dalam negosiasi itu hanya berada
  pada suatu sisi - yaitu pada sisi IMF - dan lembaga
  keuangan tersebut jarang sekali memberikan waktu yang
  cukup untuk menumbuhkan konsensus atau bahkan untuk
  mengadakan konsultasi yang luas baik dengan dewan
  perwakilan rakyat atau dengan masyarakat sipil.
  Kadang-kadang IMF sama sekali mengabaikan keterbukaan
  dan menegosiasikan perjanjian-perjanjian rahasia.

  Sewaktu IMF memutuskan untuk membantu suatu negara, ia
  mengirimkan suatu "misi" ahli ekonomi. Seringkali para
  ahli ekonomi ini kurang mempunyai pengetahuan yang
  luas mengenai negeri itu; lebih mungkin mereka
  mempunyai pengetahuan langsung mengenai hotel-hotel
  bintang lima dari pada hotel-hotel lain yang tersebar
  di seluruh negara itu. Mereka bekerja keras, menekuni
  angka-angka sampai jauh tengah malam. Namun tugas
  mereka mustahil [untuk mencapai hasil]. Dalam kurun
  waktu selama beberapa hari, atau paling-paling
  beberapa minggu, mereka ditugasi untuk mengembangkan
  suatu program yang koheren, yang cukup peka untuk
  kepentingan negara yang bersangkutan. Tak usah
  dikatakan lagi, bahwa sekedar usaha mengotak-atik
  angka-angka belaka jarang sekali menghasilkan kearifan
  yang diperlukan untuk mengembangkan strategi
  pembangunan untuk seluruh bangsa. Lebih buruk dari
  itu, otak-atik angka tidak pernah bisa diandalkan.
  Berbagai model matematik yang digunakan IMF seringkali
  mempunyai kekurangan atau sudah ketinggalan zaman.
  Pengeritik menuduh lembaga itu menggunakan pendekatan
  asal-asalan dalam menangani masalah ekonomi. Sudah
  diketahui bahwa tim yang dikirim IMF ke suatu negara
  sudah menyiapkan laporan sebelum mereka berangkat ke
  negara itu. Saya tahu mengenai kisah suatu insiden
  yang menyedihkan, sewaktu anggota tim menyalin
  sebagian besar dari teks laporan suatu negara dan
  mengalihkannya secara utuh [begitu saja] untuk
  [menyusun] laporan negeri lain. Mereka mungkin [akan]
  berhasil melakukannya, sekiranya fungsi komputer untuk
  mengganti suatu kata dengan kata lainnya [fungsi
  "Replace"] tidak mengalami kerusakan, sehingga nama
  asli negeri yang terdapat dalam laporan yang disalin
  itu masih tertinggal di sana-sini.
  .......... Oops.

  Tidaklah adil jika dikatakan bahwa para ahli ekonomi
  IMF tidak acuh terhadap warga negara-negara yang
  sedang berkembang. Namun orang-orang tua yang menjadi
  pejabat IMF - dan mereka telah menjadi semakin tua -
  berperilaku seakan-akan mereka mengemban "misi orang
  kulit putih" yang digambarkan penulis Rudyard Kipling.
  Ahli-ahli IMF percaya bahwa mereka lebih pintar, lebih
  terdidik, dan motivasi politik mereka tidak setinggi
  para ahli ekonomi dari negara yang mereka kunjungi.
  Dalam kenyataannya para pemimpin ekonomi dari
  negeri-negeri tersebut lumayan baik - dalam banyak hal
  bahkan lebih tinggi pendidikannya dari staf IMF, yang
  seringkali [hanya] merupakan mahasiswa kelas tiga dari
  universitas-universitas kelas satu. (Percayalah kepada
  saya; saya telah mengajar di Oxford University, MIT,
  Stanford University, Yale University, dan Princeton
  University, dan IMF hampir tidak pernah berhasil
  merekrut mahasiswa terbaik mana pun juga). Musim panas
  yang lalu, saya mengadakan seminar di Cina tentang
  kebijakan kompetisi dalam bidang telekomunikasi. Tiga
  orang ahli ekonomi Cina di antara para hadirin
  mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama
  sofistikasinya dengan pertanyaan yang dapat diajukan
  oleh ahli-ahli terbaik di negara-negara Barat.

  Dengan berlalunya waktu, saya semakin frustrasi.
  (Orang mungkin menduga, bahwa karena Bank Dunia secara
  harfiah menyumbangkan miliaran dollar pada paket
  penyelamatan, suaranya akan didengar IMF. Namun
  pandangan [Bank Dunia] hampir selalu diabaikan [IMF]
  secara tegas, seperti juga halnya dengan suara
  penduduk negeri-negeri berkembang yang bersangkutan).
  IMF mengatakan bahwa satu-satunya yang mereka tuntut
  dari negara-negara Asia Timur hanyalah agar mereka
  menyeimbangkan anggaran negaranya pada saat resesi.
  Hanya? Bukankah pemerintahan Clinton baru saja
  melakukan perdebatan keras dengan Kongres, untuk
  menggagalkan amandemen anggaran berimbang di negeri
  ini? Dan bukankah argumen pokok pemerintahan adalah
  bahwa sekedar pengeluaran defisit mungkin diperlukan
  dalam menghadapi resesi? Inilah yang telah saya
  ajarkan selama 60 tahun kepada para mahasiswa pasca
  sarjana, bersama-sama dengan para ahli ekonomi
  lainnya. Terus terang, seorang mahasiswa yang
  menyerahkan jawaban IMF dalam menjawab pertanyaan
  ujian: "apakah seharusnya yang merupakan kebijakan
  fiskal Thailand menghadapi kemerosotan ekonomi? "
  sudah pasti akan gagal dan mendapat nilai F.

  Sewaktu krisis ini menyebar ke Indonesia, saya semakin
  risau. Kajian baru pada World Bank menunjukkan bahwa
  resesi di negeri yang dari segi etnik demikian majemuk
  dapat mencetuskan berbagai gejolak sosial dan politik.
  Begitulah, pada akhir tahun 1997, dalam pertemuan
  antara para menteri keuangan dan para gubernur bank
  sentral di Kuala Lumpur, saya telah mengeluarkan suatu
  pernyataan World Bank yang dipersiapkan dengan
  hati-hati. Saya mengingatkan bahwa program kontraksi
  moneter dan fiskal yang berkelebihan dapat menimbulkan
  huruhara politik dan sosial di Indonesia. Sekali lagi,
  IMF bergeming. Dalam pertemuan tersebut, Michael
  Camdessus, direktur pelaksana IMF, menyampaikan apa
  yang pernah disampaikannya di depan umum: Asia Timur
  harus melalui penderitaan itu, seperti yang [juga]
  sudah dialami Meksiko. Meksiko muncul lebih kuat
  setelah melalui pengalaman itu.

  Namun analogi ini amat aneh. Pemulihan ekonomi Meksiko
  bukanlah karena IMF [berhasil] memaksa negara itu
  untuk memperkuat sistem finansialnya, karena sistem
  keuangannya itu masih tetap lemah [juga]
  bertahun-tahun setelah krisis. Negeri itu pulih karena
  meningkatnya ekspor dengan cepat ke Amerika Serikat,
  yang dapat terjadi karena boom ekonomi Amerika Serikat
  dan karena [sudah berfungsinya zona ekonomi bebas
  Amerika Utara] NAFTA. Sebaliknya, partner dagang
  Indonesia, Jepang, yang pada saat itu dan sampai
  sekarang, masih mengalami kesulitan ekonomi. Lebih
  dari itu, dibandingkan dengan Meksiko, dari segi
  politik dan sosial Indonesia [jauh] lebih eksplosif,
  karena adanya sejarah pertentangan [antar] sukubangsa
  yang lebih mendalam. Dan kambuhnya pertentangan ini
  akan menimbulkan pelarian modal (yang dipermudah oleh
  dilonggarkannya pembatasan arus mata uang seperti
  dianjurkan IMF). Namun tidak satu pun argumen ini yang
  diperhatikan [mereka]. IMF maju terus, menuntut
  dikuranginya anggaran belanja pemerintah. Dan
  demikianlah subsidi untuk kebutuhan dasar seperti
  untuk pangan dan bahan bakar dilenyapkan, justru
  persis pada saat subsidi seperti itu malah harus
  diberikan untuk mengimbangi kebijakan kontraksi itu.

  Sekitar bulan Januari 1998, keadaan sedemikian
  buruknya, sehingga wakil presiden World Bank untuk
  Asia Timur, Jean Michel Severino, telah menggunakan
  istilah resesi dan depresi untuk menggambarkan
  malapetaka ekonomi di Asia. Deputi Menteri Keuangan
  Amerika Serikat, Lawrence Summers, menentang Severino
  karena menurut [Summers, Severino] terlalu
  melebih-lebihkan gambaran keadaan dari apa yang
  sesungguhnya terjadi, tetapi apakah ada cara lain
  untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi?
  Produktivitas pada beberapa negeri yang terkena krisis
  ini jatuh 16 persen atau lebih. Separo jumlah bisnis
  di Indonesia telah bangkrut atau hampir bangkrut, dan
  sebagai akibatnya negeri itu tidak dapat memanfaatkan
  peluang ekspor yang terbuka akibat menurunnya nilai
  tukar uang. Pengangguran meningkat hebat, bertambah
  sepuluh kali lipat, dan nilai upah riil merosot - di
  negeri-negeri dimana pada dasarnya tidak ada jaringan
  sosial. Bukan saja IMF tidak berhasil memulihkan
  kepercayaan pada ekonomi Asia Timur, badan itu juga
  telah telah merusak ikatan sosial negeri-negeri itu.
  Dan setelah itu, [pada] musim semi dan musim panas
  tahun 1998, krisis itu menyebar ke luar Asia Timur
  menuju negeri yang paling eksplosif di seluruh dunia -
  Rusia.

  Banyak persamaan antara ciri-ciri malapetaka yang
  dialami Rusia dengan malapetaka [yang terjadi ] di
  Asia Timur - setidak-tidaknya tentang peranan yang
  dimainkan oleh kebijakan IMF dan Departemen Keuangan
  Amerika Serikat dalam memperburuknya. Tetapi, di Rusia
  faktor penyebab kemerosotan tersebut telah berlangsung
  lebih awal. Menyusuli runtuhnya Tembok Berlin, telah
  muncul dua aliran pikiran berkenaan dengan transisi
  Rusia menuju ekonomi pasar. Salah satu di antara
  [aliran pikiran itu], yang saya setujui, terdiri dari
  [pendapat sebarisan ahli mengenai kawasan itu,
  pemenang Hadiah Nobel seperti Kenneth Arrow dan
  lain-lainnya. Kelompok ini menekankan pentingnya
  dibangun infrastruktur kelembagaan untuk ekonomi
  pasar, sejak dari struktur hukum yang mampu
  melaksanakan kontrak, sampai struktur peraturan yang
  memungkinkan berfungsinya sistem finansial. Tuan Arrow
  dan saya merupakan bagian dari suatu kelompok [ahli]
  Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional, yang satu dasawarsa
  sebelumnya [telah] membahas strategi transisi dengan
  tokoh-tokoh Cina. Kami menekankan pentingnya membangun
  persaingan - dan bukannya mengadakan privatisasi
  badan-badan usaha milik negara - dan lebih menyukai
  suatu transisi secara berangsur-angsur menuju ekonomi
  pasar (walau pun kami setuju bahwa upaya-upaya yang
  lebih tegas sesekali mungkin diperlukan untuk
  menghadapi hiperinflasi).

  Kelompok kedua terdiri dari para ahli ekonomi makro,
  yang "iman"-nya terhadap pasar [bebas] tidak diimbangi
  oleh apresiasi [mereka] terhadap persyaratan [yang
  harus dibangun], yaitu terhadap kondisi yang
  diperlukan untuk mengoperasikan [pasar bebas itu].
  Secara khas, para ahli ekonomi makro ini sedikit
  sekali pengetahuannya mengenai sejarah atau detail
  ekonomi Rusia dan [susahnya, mereka] tidak percaya
  bahwa mereka memerlukan [pengetahuan] itu. Kekuatan
  utama, dan juga kelemahan puncak, dari doktrin-doktrin
  ekonomi yang diandalkan mereka adalah bahwa
  doktrin-doktrin itu adalah - atau dianggap - bersifat
  universal.
  Lembaga, sejarah, dan bahkan distribusi pendapatan
  sama sekali tak ada nilainya. Para ahli ekonomi yang
  baik mengetahui kebenaran universal dan mampu melihat
  apa yang dibelakang fakta dan hal-hal detail yang
  mengaburkan kebenaran ini. Dan kebenaran universal itu
  adalah bahwa kebijakan yang berwujud kejutan keras
  [justru] berguna untuk negeri-negeri yang sedang
  berada dalam transisi: semakin keras obatnya (dan
  semakin pedih reaksinya), semakin cepat pemulihan.
  Kira-kira demikianlah bunyi argumen itu.

  Sungguh sial bagi Rusia; aliran faham yang kedua di
  atas [justru] memenangkan perdebatan di Departemen
  Keuangan Amerika Serikat dan di IMF. Atau agar lebih
  tepat, Departemen Keuangan Amerika Serikat dan IMF
  mengupayakan sedemikian rupa sehingga tidak ada
  perdebatan terbuka [mengenai kebijakan itu] dan
  setelah itu secara membuta mengikuti rute kedua ini.
  Mereka yang menentang rute kedua ini, atau sama sekali
  tidak diajak berkonsultasi, atau tidak begitu lama
  diajak berkonsultasi .
  Pada Dewan Penasihat Ekonomi [Presiden Amerika
  Serikat], misalnya, ada seorang ahli ekonomi yang
  brilian, Peter Orszag, yang menjabat sebagai penasehat
  dekat terhadap pemerintah Rusia dan pernah bekerja
  dengan demikian banyak ahli ekonomi muda yang akhirnya
  menduduki jabatan-jabatan yang berpengaruh di negeri
  itu. Ia [jelas] merupakan jenis tokoh yang keahliannya
  amat dibutuhkan Departemen Keuangan dan IMF. Namun,
  mungkin karena ia mengetahui terlalu banyak,
  [Departemen Keuangan Amerika Serikat dan IMF] hampir
  tidak pernah mengadakan konsultasi dengan yang
  bersangkutan.

  Kita semua tahu apa yang kejadian selanjutnya. Dalam
  pemilihan bulan Desember 1993, para pemilih Russia
  [yang merasa lebih dimiskinkan oleh resep IMF
  tersebut] memukul mundur kaum reformis, yang sejak itu
  tidak pernah pulih kembali. Strobe Talbott, pada saat
  itu memimpin aspek non ekonomis dari kebijakan Russia,
  mengakui [tentang shock therapy IMF tersebut] bahwa
  Rusia mengalami "terlalu banyak shock dan terlalu
  sedikit therapy". Dan seluruh [kebijakan IMF yang
  menimbulkan] kejutan tersebut sama sekali tidak
  mendorong Rusia ke arah ekonomi pasar.
  Privatisasi cepat yang didorongkan kepada Rusia oleh
  IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat telah
  memungkinkan sekelompok kecil kaum oligarki untuk
  menguasai aset negara. IMF dan Departemen Keuangan
  Amerika Serikat telah merekayasa kembali insentif
  ekonomi Rusia. Hal
  itu sudah benar, hanya arahnya yang salah. Oleh karena
  amat sedikit memberikan perhatian terhadap
  infrastruktur kelembagaan yang akan memungkinkan
  berkembangnya sebuah ekonomi pasar - dan dengan
  mempermudah mengalirnya modal masuk dan keluar Rusia -
  IMF dan Departemen Keuangan Rusia telah meletakkan
  landasan perampokan [ekonomi Rusia] oleh kaum
  oligarki. Pada saat pemerintah [Rusia] kekurangan dana
  untuk membayar para pensiunan, kaum oligarki ini
  mengirimkan uang ke nomer rekening bank di Siprus dan
  Swiss, yang diperoleh dengan mengorbankan aset dan
  menjual sumber daya nasional yang tidak ternilai
  harganya itu.

  Amerika Serikat terlibat dalam keseluruhan
  perkembangan yang mengerikan ini. Pertengahan tahun
  1998, Summers, yang segera akan diangkat sebagai
  pengganti Menteri Keuangan Amerika Serikat, secara
  menyolok tampil di depan umum dengan Anatoly Chubais,
  arsitek utama kebijakan privatisasi Russia. Dengan
  berbuat seperti itu, Amerika Serikat terlihat
  bersekutu dengan kekuatan-kekuatan yang telah
  memiskinkan rakyat Rusia. Tidaklah mengherankan
  mengapa sikap anti-Amerika menyebar bagaikan suatu
  kebakaran hutan.

  Walaupun dengan adanya pengakuan Talbott tersebut
  [bahwa resep IMF terlalu banyak memberi kejutan namun
  terlalu sedikit memberi kesembuhan] namun para
  penganut fanatik [dari kebijakan privatisasi] di
  Departemen Keuangan Amerika Serikat dan di IMF
  berkeras kepala mempertahankan
  bahwa masalahnya sesungguhnya bukanlah terlalu banyak
  therapy tetapi terlalu sedikit shock. Namun, selama
  pertengahan dasawarsa 90an, ekonomi Rusia terus
  menciut. Produksi anjlok sampai setengah. Sewaktu
  hanya dua persen penduduk yang hidup dalam kemiskinan
  bahkan pada saat-saat terakhir dari kurun Soviet yang
  menyedihkan itu, "reformasi" menyaksikan angka
  kemiskinan melonjak sampai 50 persen, dan lebih dari
  separo kanak-kanak Rusia hidup di bawah garis
  kemiskinan. Baru akhir-akhir ini saja IMF dan
  Departemen Keuangan Amerika Serikat mengakui bahwa
  terapi mereka kurang dihargai - walau pun mereka
  bersikeras bahwa sudah lama mereka telah mengatakan
  hal itu.

  Dewasa ini, Rusia masih berada dalam keadaan yang amat
  menyedihkan. Harga minyak bumi yang melangit dan
  devaluasi mata uang rubel yang sejak lama ditentang
  telah menolong negara itu untuk pulih sekedarnya.
  Namun taraf hidup tetap berada di bawah standar
  sewaktu masa transisi dimulai. Bangsa Rusia hidup
  dalam kesenjangan yang luar biasa besarnya, dan
  sebagian besar orang Rusia telah kehilangan
  kepercayaan terhadap pasar bebas, karena pengalaman
  mereka yang amat pahit itu. Turunnya harga minyak
  secara drastis hampir pasti akan membalikkan sedikit
  kemajuan yang sudah dicapai selama ini.

  Asia Timur agak lebih baik, walau pun mereka juga
  masih harus bergulat. Hampir 40 persen dari pinjaman
  luar negeri Thailand tidak menunjukkan manfaat.
  Indonesia masih terjerat erat dalam resesi. Angka
  pengangguran berada dalam taraf yang lebih tinggi dari
  angka sebelum terjadinya krisis, termasuk di Korea,
  negara Asia yang paling tinggi prestasinya. Para
  pedukung IMF menafsirkan bahwa berakhirnya resesi
  merupakan bukti efektifnya kebijakan badan [dunia]
  tersebut. Omong kosong. Setiap resesi akhirnya akan
  berakhir. Apa yang telah dilakukan IMF adalah
  menyebabkan resesi negara-negara Asia semakin berat,
  semakin lama, dan semakin getir. Bahkan prestasi
  Thailand, yang secara hampir persis mengikuti resep
  IMF, lebih buruk dari Malaysia dan Korea Selatan,
  yang mengikuti langkah yang lebih independen.

  Sering saya ditanya seberapa pintar - bahkan seberapa
  brilian -orang-orang yang telah menciptakan kebijakan
  yang demikian buruk. Salah satu alasannya adalah
  karena orang-orang pintar tidak menggunakan ekonomi
  pintar. Berkali-kali saya merasa kesal dengan demikian
  kunonya - dan demikian terpisahnya dari kenyataan -
  model-model ekonomi yang dipergunakan para ekonom
  Washington. Misalnya, gejala mikroekonomik seperti
  kebangkrutan dan kekhawatiran membayar kembali kredit
  merupakan masalah sentral dari krisis ekonomi Asia.
  Namun model-model makroekonomi yang digunakan untuk
  menganalisa krisis-krisis ini sama sekali tidak
  bertumpu pada dasar-dasar mikro, sehingga mereka tidak
  memperhitungkan terjadinya kebangkrutan.

  Namun ilmu ekonomi yang buruk hanyalah sekedar gejala
  dari masalah sesungguhnya:[yaitu] kerahasiaan.
  Orang-orang pintar akan lebih mungkin melakukan
  tindakan yang bodoh pada saat mereka menutup diri dari
  kritik dan saran dunia luar Jika ada sesuatu yang saya
  pelajari dari pengalaman di pemerintahan, hal itu
  adalah bahwa keterbukaan amat penting dalam hal-hal
  yang menghendaki keahlian [yang bermutu tinggi].
  Seandainya IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat
  mengundang kajian yang lebih mendalam [dari fihak
  luar], kebodohan mereka akan dapat terlihat lebih
  jelas dan dalam waktu yang lebih awal. Para pengeritik
  dari aliran kanan, seperti Martin Feldstein, ketua
  Dewan Penasihat Ekonomi dari Presiden Reagan,
  bergabung dengan Jeff Sachs, Paul Krugman dan saya,
  dalam mengutuk kebijakan-kebijakan [IMF dan Departemen
  Keuangan Amerika Serikat] tersebut. Namun, karena IMF
  tetap bersikeras bahwa kebijakan-kebijakannya tidak
  ada cacatnya - dan karena tidak ada struktur
  kelembagaan yang dapat memaksanya untuk memberikan
  perhatian - maka kritik-kritik kami tidak ada gunanya.
  Lebih menakutkan lagi, bahkan pandangan kritis dari
  dalam lembaga itu sendiri, khususnya yang berkenaan
  dengan [pentingnya] akuntabilitas demokrasi langsung,
  disimpan demikian saja. Departemen Keuangan Amerika
  Serikat demikian angkuhnya mengenai analisa dan
  resep-resep ekonominya sehingga ia sering
  mengendalikan secara amat ketat - bahkan terlalu ketat
  -- tentang apa yang boleh dibaca oleh Presiden
  [Amerika Serikat].

  Diskusi terbuka akan mengangkat masalah-masalah
  mendasar yang sering amat sedikit memperoleh perhatian
  dari pers Amerika Serikat, yaitu: sampai berapa jauh
  IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat mendorong
  kebijakan-kebijakan yang sesungguhnya [malah]
  meningkatkan kerusakan hebat ekonomi global?
  (Departemen Keuangan Amerika Serikat mendorong
  liberalisasi di Korea dalam tahun 1993 dengan menolak
  perlawanan dari Dewan Penasihat Ekonomi Presiden.
  Departemen Keuangan itu memenangkan pertentangan
  internal di Gedung Putih, tetapi Korea - dan dunia
  seluruhnya-membayar harga yang lebih mahal). Apakah
  kritik keras IMF terhadap negara-negara Asia Timur
  dimaksudkan sebagai upaya mengalihkan perhatian dari
  kekeliruan badan itu sendiri? Lebih penting lagi,
  apakah Amerika Serikat - dan IMF - oleh karena kita,
  atau mereka, percaya bahwa kebijakan-kebijakan
  tersebut akan menolong Asia Timur atau karena kita
  percaya bahwa kebijakan-kebijakan itu akan memberi
  manfaat bagi kepentingan finansial Amerika Serikat dan
  dunia industri maju lainya ?
  Dan, jika kita percaya bahwa kebijakan-kebijakan kita
  itu sedang menolong Asia Timur, manakah buktinya?
  Sebagai salah seorang peserta dalam rangkaian
  perdebatan tersebut, saya harus melihat buktinya. Sama
  sekali tidak ada.

  Sejak berakhirnya perang dingin, kekuasaan besar telah
  mengalir kepada orang-orang yang dipercaya membawa
  "dakwah" pasar bebas ke seluruh pelosok dunia. Para
  ekonom, birokrat, dan pejabat-pejabat ini bertindak
  atas nama Amerika Serikat dan negara-negara industri
  maju lainnya, namun mereka berbicara dalam bahasa yang
  hanya dimengerti sedikit sekali oleh orang biasa dan
  sedikit sekali para perumus kebijakan yang mau
  menerjemahkannya. Dewasa ini kebijakan ekonomi mungkin
  merupakan bagian paling penting dari interaksi Amerika
  Serikat dengan bagian dunia lainnya. Namun budaya
  [yang berkembang] dalam proses penyusunan kebijakan
  ekonomi internasional dalam [negara Amerika Serikat
  sebagai] negara demokratik dunia yang paling kuat
  sama sekali tidaklah demokratik.

  Inilah yang diupayakan meneriakkannya oleh para
  demonstran di luar gedung IMF minggu yang akan datang.
  Sudah tentu, jalanan bukanlah tempat yang terbaik
  untuk membahas masalah-masalah yang amat kompleks ini.
  Beberapa pemrotes tersebut tidaklah lebih berminat
  dalam adanya perdebatan terbuka dibandingkan dengan
  para pejabat IMF. Dan tidak seluruh yang dikatakan
  pemrotes itu adalah benar. Namun, jika orang yang kita
  percayai mengurus ekonomi global - di IMF dan di
  Departemen Keuangan Amerika Serikat - tidak mau
  memulai dialog dan menerima secara sungguh-sungguh
  kritik yang dialamatkan kepada mereka, keadaan [yang
  buruk ini] akan berlanjut dalam waktu yang lama,
  bahkan amat lama. Saya telah menyaksikan hal itu
  terjadi.


  1 Diterjemahkan oleh Dr. Saafroedin Bahar, Ketua
  Kelompok Kerja Ekonomi, Sosial dan Budaya dari Komnas
  HAM, pada tanggal 8 Juni 2002, dari artikel Joseph
  Stiglitz "What I learned at the world economic crisis:
  The Insider," yang termuat dalam " HYPERLINK
  "http://www.oneworld.net/cgi"http://www.oneworld.net/cgi";
  http://www.oneworld.net/cgi"http://www.oneworld.net/cgi.

  2 Joseph Stiglitz adalah gurubesar ekonomi pada
  Stanford University (sedang cuti) dan senior fellow
  pada Brookings Institution. Selain pernah menjadi
  ekonom kepala dan wakil presiden Bank Dunia, beliau
  juga menjadi ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden
  Amerika Serikat dari tahun 1993 sampai tahun 1997.
  Beliau kemudian menerima Hadiah Nobel dalam ilmu
  ekonomi.

  3 Peristiwa ini berlangsung dalam bulan Juni 2000
  [Penerj].

  4 Ramalan Stiglitz, yang ditolak IMF, ternyata benar,
  dan kita mengalaminya sampai saat ini, lima tahun
  setelah peringatan itu disampaikannya. SB.

  5 Kita layak bertanya: apakah tidak ada sanksi
  professional terhadap orang ini, karena kebijakannya
  yang keliru, yang berujung pada apa yang disebut
  sebagai malpractice dalam dunia kedokteran?
  Bagaimana kalau kita tuntut IMF untuk melakukan
  haircut sebesar 50% terhadap hutang luar negeri kita,
  yang sampai sekarang demikian berat menghimpit bangsa
  kita?

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke