Bang Ikra, saya belum sampai kepada kesimpulan bahwa Marxisme itu ateis.
Soalnya, Marxisme adalah pikiran-pikiran Marx yang kemudian
diideologisasikan atau dimazhabkan. Di Islam juga ada mazhab-mazhab, Maliki,
Hambali, Hanafi dan Syafii. Kabarnya, Maliki sebagai the old grand mannya.
Marx dari Hegel, iya. dengan dialektika: tesa-antitesis-sintesis, saya kira
Marx justru anti doktrin, anti ideologi. Sebab, sintesa akan menjadi tesa
baru, begitu seterusnya. Marx terus-terusan berpikir. Saya pernah baca Marx
menulis di koran! Hebat betul, dia mempersolkan soal pemilihan walikota,
lalu bedebat kata demi kata dengan orang yang dia tentang.

Itu juga kehebatan Tan Malaka. "Jembatan kedelai" sebagai rancang bangun
yang ia ciptakan untuk mengingat buku-buku, pengalaman hidup, menyebabkan ia
mampu menyusun Madilog, tanpa satu bukupun yang berderet didepannya (seperti
kita yang sedang menulis, atau bikin paper). Jembatan keledai, lagi-lagi
dari dialektika Marx.

Kutipan Marx dalam Manivesto Partai Komunis:

"Die religion ist der bedrangten Kreatur, dan Gemut einer erzlosen Welt, wie
sie der Geist geistloser Zustande ist. Sie ist das Opium des Volkes"
(Agama adalah keluh kesah makhluk tertindas, hati nurani dunia yang tidak
berhati, tepat sebagaimana ia adalah jiwa dari keadaan yang tak berjiwa. Dia
adalah candu rakyat)

Kebencian Marx atas agama perlu dilihat dari seluruh dinamika hidup Marx.
Gereja menyokong politik kolonial lewat bangsa Eropa. Beribu-ribu budak
diangkut ke dan diperjualbelikan di Eropa dan Amerika. Orang Afrika dan Asia
menjadi korban keganasan rasial di Eropa dan Amerika. Padri-padri dan uskup
hadir mendampingi setiap pasukan Portugis, Belanda, Spanyol, Perancis,
dllnya, dengan tujuan memberi inspirasi yang mereka sebut sebagai "perang
salib jalan belakang".

Makanya, Cak Nur menyebut Ateisme Komunis sebagai ateisme falsafi, alias
ateis sebagai filsafat. Sama halnya dengan Spinoza, Voltaire, Thomas Paine,
Nietche, Sartre, Kafka, Camus, etc. Padahal antara Sartre dan Camus saja
berbeda, karena sayapernah baca Sartre rada-rada lebih anti Sovyet, lalu
menuduh Camus sebagai pro Sovyet. Dasar filsafat adalah mencari kebenaran
berikutnya, sembari meragukan semua kebenaran yang sudah ada. Syech Siti
Jenar mungkin juga baru sampai kepada jenis filsafat seperti ini, ketika
bilang "Ana al Haq" (Saya adalah Tuhan). Keinginan menyatu dengan Tuhan
begitu kuatnya, sekalipun tak ditemukan dalam teks Al Qur'an.

Saya tak percaya Karl Marx, atau Marxisme itu anti humanis. Kalau kaum yang
menyebut diri sebagai Marxian, mungkin, yang membajak ide-ide Marx untuk
berkuasa: Aidit, Stalin, Lenin, Castro, Mao, etc. Sovyet juga mengenal
Trotsky. Juga ada Mazini, dllnya, yang juga berpikir secara Marxis. Melihat
praktek kanibalisme di negara-negara yang mengaku "komunis", lantas
menyalahkan Marx, saya kira ndak fair. Sama dengan ndak fairnya kalangan
yang menghujat Islam, karena praktek dari rezim-rezim Islam. Sikap ini tak
jauh beda dengan Bush, yang mengejar hantu terorisme kemana-mana.
Kepentingan Bush, sama halnya dengan cara Amerika mengejar hantu komunisme
dalam perang dingin (perang Vietnam, Korea, Timor Lorosae, etc). Bush, atau
pendahulu-pendahulunya, melakukan itu tentu untuk kepentingan nasional
mereka, mencari musuh bersama diluar habitatnya. Lalu, apakah Bush bukan
anti humanis juga, terutama dari tragedi yang melanda anak-anak Irak, juga
Palestina?

Soal PKI Muso di Madiun, atau Aidit di Lubang Buaya, saya kira bagian dari
politik, baik sipil atau tentara. Belum bisa kita sebut itu sebagai fakta
atau data sejarah, karena masih polemis. Tesis resmi saya belum beranjak,
sejak 1993, bahwa apa yang terjadi di Madiun adalah konflik sesama TNI.
Konflik sesama ini TNI juga yang terjadi dalam PRRI/Permesta, bahkan mungkin
G 30 S. Apakah pembantaian jutaan nyawa tahun 1965-1970-an itu bukan anti
humanis?

Salam Hangat,

IJP

----- Original Message -----
From: "Ikranagara" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, October 10, 2002 8:28 AM
Subject: Re: [LISI] Fw: Minangkabau dan Komunis tanggapan


> Bung Indra yang baik.
>
> Dari pembacaan saya atas filsafat Marxisme menyimpulkan Marxisme itu
memang
> atheis. Komunisme yang mendasarkan diri kepada ajaran Marxisme ini tentu
> saja penganut Atheisme.
>
> Max mengambil rumuran Dialektika Hegel sebagai dasar ajaran dialektika Max
> dalam materialisme hitoris-nya. Hegel seorang penganut Idealisme,
sedangkan
> Marx penganut Materialisme. Hegel masih membuka kemungkinan kepada adanya
> Tuhan dan pengakuan terhadap pengalaman spiritual da!n relijius. Tapi Marx
> justeru menolak semua itu, karena dia memilih Materialisme. Materialisme
> memang atheis, apa boleh buat
>
> Kesalahan Marx justeru karena dia mengambil alih dialektika Hegel itu.
> Padahal, apa yang ada di dalam dialektika Hegel itu adalah berkaitan
dengan
> yang metafisis juga yang berangkat dari fikiran Descartes "cogito ergo
sum."
> Jadi, Materialisme dialektis itu sebuah istilah yang mengandung saling
> bertentangan.
>
> Karenanya, baik Hegel maupun Marx dinilai sebagai pemikir Cartesan oleh
> kalangan pemikir Post-modern. Kedua-duanya bagaikan dua sisi sebuah mata
> uang, dan mata uang itu bernama dialektika Hegel, tetapi satu sisinya
> Idealisme satunya lagi Materialisme.
>
> Tidak heranlah jika kemudian Kate Sopper dalam telaahnya menyimpulkan
bahwa
> Marxisme itu anti-humanis. Dan dalam praktik di Uni Sovyet, RRC, Kuba dll,
> pun sikap "anti-humanis ini memang jelas sekali. Tindakan PKI Muso di
Madiun
> maupun PKI Aidit di Lobang Buaya pun bergelimang dengan darah. Dasarnya
> adalah Dialektika Materialisme Hisroris itu. Ajaran inti Marx ini di baca
> sebagai ajaran peramal Cartesan oleh para pemikir Post-modern.
>
>
> Ikra
> ===
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Indra Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Thursday, October 10, 2002 8:51 PM
> Subject: [LISI] Fw: Minangkabau dan Komunis tanggapan
>
>
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: Indra Piliang
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Sent: Thursday, October 10, 2002 3:38 PM
> > Subject: Re: [RantauNet.Com] Minangkabau dan Komunis tanggapan
> >
> >
> > Sebetulnya komunisme ndak ada hubungannya dengan sikap ateistik (tidak
> mengakui adanya Tuhan) atau agnostik (meragukan adanya Tuhan sebelum ada
> bukti empiris). Tulisan Karl Marx (dalam Manifesto Komunis atau dalam Das
> Capitaal) soal "agama adalah candu bagi masyarakat" tidak bisa ditafsirkan
> secagai sikap ateis. Orang tua Marx adalah Yahudi, tetapi usia 4 tahun
> keluarganya masuk ke agama Kristen, lantas Marx pun Kristen. Masa itu,
> gereja ortodoks sangat dominan, mempengaruhi keseluruhan perjalanan
manusia,
> dari lahir hingga mati dan upacara penguburan. Makanya, yang dilakukan
Marx
> bersama kawan-kawannya ketika kuliah dan mengajar di Universitas Tubingen
> adalah menolak keotentikan Al Kitab, berdasarkan berbagai studi ilmiah. Ia
> mempertanyakan ajaran trinitas, dsb, dsb. Gara-gara itulah, gereja dan
raja
> menentangnya, mengusir Marx en the gang dari universitas. Hanya karena
> kebaikan Engels, keluarga Marx dapat makan-minum dalam kondisi
> memprihatinkan.
> >
> > Cara mendiskreditkan Marx oleh kalangan gereja ini juga yang dipakai
oleh
> rezim militer Orba. Bukan hanya Marx yang kena, begitupun Darwin. Banyak
> yang keliru menafsirkan karya Darwin sebagai "manusia berasal dari kera".
> Padahal, Darwin tak pernah mengatakan atau menulis itu. Darwin hanya
bilang
> ada missing link antara fase manusia purba ke manusia moderen, dan sampai
> detik ini missing link itu belum ditemukan.
> >
> > Kembali ke soal agama adalah candu. Yang dimaksud Marx adalah agama yang
> difasilitasi gereja dan negara. agama-agama yang sebetulnya
multipemahaman,
> menjadi hanya mengikuti defenisi, praktek, atau aturan gereja dan negara.
> Akhirnya agama menjadi candu, ritual, kemenyan, tanpa spirit, dan itu
> berbehaya bagi society. Sama juga dengan yang orang sering salah kaprah
> menyebut Nietcshze. Adagium Nietsczhe bahwa Tuhan telah mati dibengkokkan.
> Yang disebut Nietschzee itu adalah Tuhan-tuhan ciptaan manusia, agama yang
> dikangkangi manusia. Tuhan itu telah mati, dan bukan Tuhan dalam
pengertian
> umum.
> >
> > Soal PKI atau komunis di Indonesia. Jelas, berbeda sekali antara komunis
> Tan Malaka, komunis Hasan Raid, dengan komunis Muso dan Aidit. Komunis
Aidit
> adalah komunis borjuis, buktinya ia mengoleksi pakaian mahal, etc.
Kacamata
> hitam Aidit mahal, dan dibeli diluar negeri.  Tan Malaka, sungguh tipikal
> komunis yang menyandarkan proses perubahan di masyarakat Indonesia dari
> ajaran komunisme. Tan Malaka dan Hasan Reid menafsirkan hadist atau al
> qur'an berdasarkan prinsip-prinsip ajaran komunis. "Bayarlah upah buruh
> sebelum kering keringatnya," misalnya, dia katakan juga ada dalam ajaran
> komunis. Sedangkan Muso, lebih mencerminkan garis perjuangan Sovyet,
> kominteren. Ia ingin mendirikan negara sovyet Indonesia. Sovyet, dalam
> bahasa Rusia, artinya serikat pekerja. Negara sovyet Indonesia artinya
> negara yang dimana upah buruhnya, hak-hak serikat pekerjanya, menjadi
> pegangan tertinggi dalam pengambilan keputusan.
> >
> > Lawan dari semuanya itu adalah kapitalis (pemilik
kapital/modal/alat-alat
> produksi/pemilik kekuasaan, etc).
> >
> > Apabila kita melirik catatan-catatan sejarah, biografi orang Minang
> dikenal sebagai kontributor utama kalangan intelektual, negarawan, dan
> agamawan Indonesia. Basis filosofis yang dibangunpun beragam, mulai dari
> Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Nasionalisme, Islamisme, dan Liberalisme.
> Masing-masingnya terhubung dengan anak-anak Minang generasi pertama abad
20.
> Pemuncaknya adalah the grand old man H. Agus Salim. Beragam aliran paham
dan
> organisasi perintis modernisasi di alam kolonial dilintasi oleh Agus
Salim,
> kecuali satu, komunisme. Agus Salim pernah mendapat pengaruh dari gerakan
> theosofi yang disebut Iskandar P. Nugraha mengikis batas (budaya/pikiran)
> Timur dan Barat (Iskandar P. Nugraha: Februari 2001). Bung Hatta juga
> memperoleh beasiswa keduanya dari anggota gerakan theosofi Orde der
Dienaren
> van Indie sebesar 6000 Gulden yang baru sempat dibayarnya 18 tahun
kemudian,
> 1950 (Muhammad Hatta: 160). Bung Hatta  mendapat pengaruh pikiran Marxis,
> terutama strategi pergerakannya, juga relasinya dengan kalangan komunis
dan
> Marxis Indonesia (lihat P.J.A. Idenburg dalam H. Braudet & I.I. Brugmans:
> 1987: 150).
> >
> >
> >
> > Satu demi satu, baik dalam bentuknya yang ekstrim atau sinergis,
> masing-masing anak-anak alam Minangkabau itu berinteraksi dengan beragam
> ideologi. Selain Agus Salim dan Hatta juga terdapat Abdul Rivai, Tan
Malaka,
> Bahder Djohan, Abdoel Moeis, Nasir Sutan Pamuncak, Rasuna Said, Rahmah el
> Yunusiah, Rohana Kudus, Muhammad Yamin, Sutan Sjahrir sampai Chaerul
Saleh,
> Chairil Anwar, AA Navis, dan HAMKA dalam generasi berikutnya.  Dari segi
> prosentase lapisan elite, dibandingkan dengan jumlah penduduk, warna
> anak-anak Minang sulit dihapus dari kanvas revolusi kemerdekaan dan dua
> dekade berikutnya. Biografi individu-individu itu menjadi menarik untuk
> disimak, sebagai gambaran betapa demokrasi telah menemukan alamnya di
ranah
> Minang dan tertanam dalam diri masyarakatnya. Terseraknya basis ideologis
> generasi pertama dan kedua kemerdekaan itu menunjukkan bahwa orang Minang
> terbiasa berbeda pendapat. Perbedaan pendapat adalah unsur intrinsik dari
> budaya Minang.
> >
> >
> >
> > Cara satu-satunya agar kita tak mudah dijadikan sebagai budak pikiran
> penguasa adalah membaca. Saya sungguh sedih, pelarangan buku "Saya Bangga
> Jadi Anak PKI". Untuk apa dilarang? Anda tak akan pernah tahu pikiran
orang
> lain, kalau anda tak membaca dan memahami pikiran itu. Sikap ikut-ikutan
> adalah awal dari kehancuran pikiran dan jiwa.
> >
> >
> >
> > ijp
> >
> >   ----- Original Message -----
> >   From: Nofendri T. Lare
> >   To: [EMAIL PROTECTED]
> >   Sent: Thursday, October 10, 2002 1:04 AM
> >   Subject: Re: [RantauNet.Com] Minangkabau dan Komunis tanggapan
> >
> >
> >   Assalamualaikum,
> >
> >   Da IJP, ambo tertarik jo nan uda tulis di bawah iko, uda punyo
> artikelnyo atau pemikiran tentang itu??
> >   Truss... ambo pengen tau apokah Komunis caranya Tan Malaka, samo
dengan
> Komunis Muso,
> >   ataupun Aidit. Uda kan tau.... salamo orde baruko, diajarkan ka kami
> bahwa PKI-nya Aidit itukan anti
> >   samo Tuhan...
> >
> >   Gimano tuh da,
> >
> >   Wassalam,
> >     ----- Original Message -----
> >     From: Indra Piliang
> >
> >     Yang terjadi di Silungkang 1926 memang pemberontakan PKI. Kala itu
Tan
> Malaka menjadi wakil Cominteren (Komunis Internasional), tetapi berbeda
> paham dengan Stalin dalam soal pemberontakan. Soal pemberontakan itu
silakan
> baca M. Imam Azis et. Al. (Ed.). Februari 2001. Pergulatan Muslim Komunis:
> Otobiografi Hasan Raid. Yogyakarta: LKPSM.
> >
> >     itu dulu
> >
> >     ijp
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> > ======================================================================
> > Lingkar Ilmuwan Sosial Indonesia (LISI) adalah forum untuk menggagas dan
> mempertukarkan ide baru serta mengembangkan ilmu pengetahuan sosial. Dalam
> LISI, topik-topik diskusi ditinjau dan dianalisis dari beragam perspektif
> yang memungkinkan proses pendidikan dan pembelajaran kolektif yang
mendukung
> kemajuan anggota dan masyarakat Indonesia umumnya.
> > ======================================================================
> > 1. Untuk berhenti berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke:
> >    [EMAIL PROTECTED]
> > 2. Untuk berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke:
> >    [EMAIL PROTECTED]
> > 3. Untuk menghindari penyebaran virus, pengiriman attachment file
> >    tidak dimungkinkan, kecuali via moderator.
> > 4. Bahasa Resmi dalam LISI: Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
> > 5. Netters LISI diminta sebisa mungkin menghindari "posting a la
chating".
> >
> > Your use of Yahoo! Groups is subject to
http://docs.yahoo.com/info/terms/
> >
> >
>
>
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
> 4 DVDs Free +s&p Join Now
> http://us.click.yahoo.com/pt6YBB/NXiEAA/MVfIAA/4IYolB/TM
> ---------------------------------------------------------------------~->
>
> ======================================================================
> Lingkar Ilmuwan Sosial Indonesia (LISI) adalah forum untuk menggagas dan
mempertukarkan ide baru serta mengembangkan ilmu pengetahuan sosial. Dalam
LISI, topik-topik diskusi ditinjau dan dianalisis dari beragam perspektif
yang memungkinkan proses pendidikan dan pembelajaran kolektif yang mendukung
kemajuan anggota dan masyarakat Indonesia umumnya.
> ======================================================================
> 1. Untuk berhenti berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke:
>    [EMAIL PROTECTED]
> 2. Untuk berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke:
>    [EMAIL PROTECTED]
> 3. Untuk menghindari penyebaran virus, pengiriman attachment file
>    tidak dimungkinkan, kecuali via moderator.
> 4. Bahasa Resmi dalam LISI: Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
> 5. Netters LISI diminta sebisa mungkin menghindari "posting a la chating".
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
>


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke