Assalamualaikum,

Ndra, aku cukup terpesona mengikuti dialog kamu dengan pak Ikra Nagara.
Soalnya  aku juga  termasuk jenis yang bulak-balik bertanya pada diri
sendiri, dari sudut pandang  apa sih orang2 menunjuk Marxisme sebagai
atheis? Dan alhamdulilah tuh, hingga detik ini tidak satu penulispun yang
mampu meyakinkan aku bahwa Marxisme itu atheis.

Jika pak Ikra mengatakan bahwa beda antara Marx dengan Hegel adalah karena
Hegel  masih membuka kemungkinan kepada adanya Tuhan dan pengakuan terhadap
pengalaman spiritual dan relijius sementara Marx
justeru menolak semua itu dan  memilih Materialisme, saya jadi heran, apa
indikatornya bahwa Materialisme  Marx tidak memiliki unsur Tuhan?

Pemahaman saya terhadap Marx begini: Berawal dari tergugahnya beberapa tokoh
masyarakat terhadap kesejahtaraan umat manusia, khususnya buruh yang
terbelengsu ikatan kemiskinan dan kesengsaraan orang-orang seperti Saint
Simon, Charles Fourier dan Robert Owen menekan perlunya masyarakat memiliki
etos persamaan dan kerja sama. Melalui etos ini manusia berusaha untuk
memperbaiki nasib kaum buruh di negaranya masing-masing. Untuk itu Fourier
misalnya memperkenalkan lembaga kerja sama bernama Phalnx dan menghimpun
kurang lebih 1.600 orang sebagai wahana untuk menyelaraskan faktor2 produksi
(khususnya buruh, modal dan bakat. Dengan maksud yang sama seperti Fourier,
terus Owen membentuk sebuah perkampungan industri dan pertanian.

Tapi kemudian kenyataan berbicar lain, usaha2 memperbaiki nasib buruh selalu
gagal.

Why, tanya Marx. Menurut orang ini, usaha2 ke tiga pendahulunya itu gagal
karena tidak dilandasi oleh pemikiran realistis dan tidak berjangkauan ke
depan. Malah lebih jauh Marx mengatakan bahwa pemikiran ke tiga orang itu
tidak di rumuskan dengan tepat. Itulah sebab mengapa dia menamai pemikiran
pendahulu tersebut sebagai sosialisme Utopis.

Dan Marx menamai filsafatnya sosialisme ilmiah karena mungkin untuk menyamai
idealisme Hegel ( tesis-antitesis- sintesis itu)  dijadikannya sebagai
acuan. Dan sinstesis (ide mutlak) Marx adalah mensejajarkan dunia ide dengan
dunia materi yang dia turunkan ke bumi sebagai Masyarakat komunis.

Hegel berkeyakinan bahwa dialektika hanya terjadi pada dunia ide dan Marx
berkeyakinan bahwa proses itu dapat terjadi pada materi atau tepatnya
kondisi sosial ekonomi.Idenya itu ditegaskan dengan membuat struktur atas
dan struktur bawah. Bahwa perkembangan kebudayaan, kesenian, hukum, politik
dan ideologi sebagai struktur atas di tentukan oleh perkembangan cara-cara
produksi yang disebutnya sebagai struktur bawah.

Untuk itu dia menelusuri perkembangan masyarakat melalui penonjolan dimensi
sejarahnya. Melalui pendekatan ini Materialisme Histories dia mengatakan
bahwa  dalam sejarah umat manusia itu selalu saja terjadi pertentangan kelas
seperti antara pemilik budak dengan budak2nya, antara tuan tanah dengan
penggarapnya atau antara pemilik alat2 produksi dengan kelas lain yang hidup
dari penggunaan alat2 produksi tersebut.

Ndar, sampai disini saya masih gagal memahami bahwa materialisme adalah
atheis.Jika kemudian lahir pastulat Marx yang terkenal itu bahwa agama
adalah candu masyarakat, di mata saya itu hanya sebagai ungkapan frustrasi
bahwa Marx melihat bagaimana para pemilik produksi selalu mengeksplotasi
kelas di bawahnya. Disamping argumen kamu bagaimana kebencian Marx kepada
Gereja yang menyokong politik kolonial lewat bangsa Eropa, jangan pula
dilupakan bahwa sejarah kekuasaan gereja di abad pertengahan. Pada waktu itu
realitas sosial kan dibentuk oleh para imam melalui intrepestasi mereka
terhadap kitab suci.Dunia yang mereka gambarkan, nyata, diatas segalanya,
adalah bersifat pemahaman  mereka terhadap apa yang disebut sebagai Tuhan,
bahwa Tuhan untuk umat manusia berada tepat di pusat kehidupan.Menurut saya,
dari sanalah Marx menyadari bahwa terlepas dari kelas mana kita berada, dan
pekerjaan apa yag kita lakukan, bahwa posisi kita sekunder terhadap realitas
spiritual yang telah didefinisikan oleh para imam tersebut.

So Ndra, menurut saya Marx memang rada frustrasi,tapi dengan mengatakan
bahwa dia anti Tuhan, emang sedikit kebablasan...

Aye



----- Original Message -----
From: "Indra Piliang" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, October 11, 2002 11:23 PM
Subject: Re: [RantauNet.Com] [LISI] Fw: Minangkabau dan Komunis tanggapan


> Bang Ikra, saya belum sampai kepada kesimpulan bahwa Marxisme itu ateis.
> Soalnya, Marxisme adalah pikiran-pikiran Marx yang kemudian
> diideologisasikan atau dimazhabkan. Di Islam juga ada mazhab-mazhab,
Maliki,
> Hambali, Hanafi dan Syafii. Kabarnya, Maliki sebagai the old grand mannya.
> Marx dari Hegel, iya. dengan dialektika: tesa-antitesis-sintesis, saya
kira
> Marx justru anti doktrin, anti ideologi. Sebab, sintesa akan menjadi tesa
> baru, begitu seterusnya. Marx terus-terusan berpikir. Saya pernah baca
Marx
> menulis di koran! Hebat betul, dia mempersolkan soal pemilihan walikota,
> lalu bedebat kata demi kata dengan orang yang dia tentang.
>
> Itu juga kehebatan Tan Malaka. "Jembatan kedelai" sebagai rancang bangun
> yang ia ciptakan untuk mengingat buku-buku, pengalaman hidup, menyebabkan
ia
> mampu menyusun Madilog, tanpa satu bukupun yang berderet didepannya
(seperti
> kita yang sedang menulis, atau bikin paper). Jembatan keledai, lagi-lagi
> dari dialektika Marx.
>
> Kutipan Marx dalam Manivesto Partai Komunis:
>
> "Die religion ist der bedrangten Kreatur, dan Gemut einer erzlosen Welt,
wie
> sie der Geist geistloser Zustande ist. Sie ist das Opium des Volkes"
> (Agama adalah keluh kesah makhluk tertindas, hati nurani dunia yang tidak
> berhati, tepat sebagaimana ia adalah jiwa dari keadaan yang tak berjiwa.
Dia
> adalah candu rakyat)
>
> Kebencian Marx atas agama perlu dilihat dari seluruh dinamika hidup Marx.
> Gereja menyokong politik kolonial lewat bangsa Eropa. Beribu-ribu budak
> diangkut ke dan diperjualbelikan di Eropa dan Amerika. Orang Afrika dan
Asia
> menjadi korban keganasan rasial di Eropa dan Amerika. Padri-padri dan
uskup
> hadir mendampingi setiap pasukan Portugis, Belanda, Spanyol, Perancis,
> dllnya, dengan tujuan memberi inspirasi yang mereka sebut sebagai "perang
> salib jalan belakang".
>
> Makanya, Cak Nur menyebut Ateisme Komunis sebagai ateisme falsafi, alias
> ateis sebagai filsafat. Sama halnya dengan Spinoza, Voltaire, Thomas
Paine,
> Nietche, Sartre, Kafka, Camus, etc. Padahal antara Sartre dan Camus saja
> berbeda, karena sayapernah baca Sartre rada-rada lebih anti Sovyet, lalu
> menuduh Camus sebagai pro Sovyet. Dasar filsafat adalah mencari kebenaran
> berikutnya, sembari meragukan semua kebenaran yang sudah ada. Syech Siti
> Jenar mungkin juga baru sampai kepada jenis filsafat seperti ini, ketika
> bilang "Ana al Haq" (Saya adalah Tuhan). Keinginan menyatu dengan Tuhan
> begitu kuatnya, sekalipun tak ditemukan dalam teks Al Qur'an.
>
> Saya tak percaya Karl Marx, atau Marxisme itu anti humanis. Kalau kaum
yang
> menyebut diri sebagai Marxian, mungkin, yang membajak ide-ide Marx untuk
> berkuasa: Aidit, Stalin, Lenin, Castro, Mao, etc. Sovyet juga mengenal
> Trotsky. Juga ada Mazini, dllnya, yang juga berpikir secara Marxis.
Melihat
> praktek kanibalisme di negara-negara yang mengaku "komunis", lantas
> menyalahkan Marx, saya kira ndak fair. Sama dengan ndak fairnya kalangan
> yang menghujat Islam, karena praktek dari rezim-rezim Islam. Sikap ini tak
> jauh beda dengan Bush, yang mengejar hantu terorisme kemana-mana.
> Kepentingan Bush, sama halnya dengan cara Amerika mengejar hantu komunisme
> dalam perang dingin (perang Vietnam, Korea, Timor Lorosae, etc). Bush,
atau
> pendahulu-pendahulunya, melakukan itu tentu untuk kepentingan nasional
> mereka, mencari musuh bersama diluar habitatnya. Lalu, apakah Bush bukan
> anti humanis juga, terutama dari tragedi yang melanda anak-anak Irak, juga
> Palestina?
>
> Soal PKI Muso di Madiun, atau Aidit di Lubang Buaya, saya kira bagian dari
> politik, baik sipil atau tentara. Belum bisa kita sebut itu sebagai fakta
> atau data sejarah, karena masih polemis. Tesis resmi saya belum beranjak,
> sejak 1993, bahwa apa yang terjadi di Madiun adalah konflik sesama TNI.
> Konflik sesama ini TNI juga yang terjadi dalam PRRI/Permesta, bahkan
mungkin
> G 30 S. Apakah pembantaian jutaan nyawa tahun 1965-1970-an itu bukan anti
> humanis?
>
> Salam Hangat,
>
> IJP
>
> ----- Original Message -----
> From: "Ikranagara" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Thursday, October 10, 2002 8:28 AM
> Subject: Re: [LISI] Fw: Minangkabau dan Komunis tanggapan
>
>
> > Bung Indra yang baik.
> >
> > Dari pembacaan saya atas filsafat Marxisme menyimpulkan Marxisme itu
> memang
> > atheis. Komunisme yang mendasarkan diri kepada ajaran Marxisme ini tentu
> > saja penganut Atheisme.
> >
> > Max mengambil rumuran Dialektika Hegel sebagai dasar ajaran dialektika
Max
> > dalam materialisme hitoris-nya. Hegel seorang penganut Idealisme,
> sedangkan
> > Marx penganut Materialisme. Hegel masih membuka kemungkinan kepada
adanya
> > Tuhan dan pengakuan terhadap pengalaman spiritual da!n relijius. Tapi
Marx
> > justeru menolak semua itu, karena dia memilih Materialisme. Materialisme
> > memang atheis, apa boleh buat
> >
> > Kesalahan Marx justeru karena dia mengambil alih dialektika Hegel itu.
> > Padahal, apa yang ada di dalam dialektika Hegel itu adalah berkaitan
> dengan
> > yang metafisis juga yang berangkat dari fikiran Descartes "cogito ergo
> sum."
> > Jadi, Materialisme dialektis itu sebuah istilah yang mengandung saling
> > bertentangan.
> >
> > Karenanya, baik Hegel maupun Marx dinilai sebagai pemikir Cartesan oleh
> > kalangan pemikir Post-modern. Kedua-duanya bagaikan dua sisi sebuah mata
> > uang, dan mata uang itu bernama dialektika Hegel, tetapi satu sisinya
> > Idealisme satunya lagi Materialisme.
> >
> > Tidak heranlah jika kemudian Kate Sopper dalam telaahnya menyimpulkan
> bahwa
> > Marxisme itu anti-humanis. Dan dalam praktik di Uni Sovyet, RRC, Kuba
dll,
> > pun sikap "anti-humanis ini memang jelas sekali. Tindakan PKI Muso di
> Madiun
> > maupun PKI Aidit di Lobang Buaya pun bergelimang dengan darah. Dasarnya
> > adalah Dialektika Materialisme Hisroris itu. Ajaran inti Marx ini di
baca
> > sebagai ajaran peramal Cartesan oleh para pemikir Post-modern.
> >
> >
> > Ikra
> > ===
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: Indra Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Thursday, October 10, 2002 8:51 PM
> > Subject: [LISI] Fw: Minangkabau dan Komunis tanggapan
> >
> >
> > >
> > > ----- Original Message -----
> > > From: Indra Piliang
> > > To: [EMAIL PROTECTED]
> > > Sent: Thursday, October 10, 2002 3:38 PM
> > > Subject: Re: [RantauNet.Com] Minangkabau dan Komunis tanggapan
> > >
> > >
> > > Sebetulnya komunisme ndak ada hubungannya dengan sikap ateistik (tidak
> > mengakui adanya Tuhan) atau agnostik (meragukan adanya Tuhan sebelum ada
> > bukti empiris). Tulisan Karl Marx (dalam Manifesto Komunis atau dalam
Das
> > Capitaal) soal "agama adalah candu bagi masyarakat" tidak bisa
ditafsirkan
> > secagai sikap ateis. Orang tua Marx adalah Yahudi, tetapi usia 4 tahun
> > keluarganya masuk ke agama Kristen, lantas Marx pun Kristen. Masa itu,
> > gereja ortodoks sangat dominan, mempengaruhi keseluruhan perjalanan
> manusia,
> > dari lahir hingga mati dan upacara penguburan. Makanya, yang dilakukan
> Marx
> > bersama kawan-kawannya ketika kuliah dan mengajar di Universitas
Tubingen
> > adalah menolak keotentikan Al Kitab, berdasarkan berbagai studi ilmiah.
Ia
> > mempertanyakan ajaran trinitas, dsb, dsb. Gara-gara itulah, gereja dan
> raja
> > menentangnya, mengusir Marx en the gang dari universitas. Hanya karena
> > kebaikan Engels, keluarga Marx dapat makan-minum dalam kondisi
> > memprihatinkan.
> > >
> > > Cara mendiskreditkan Marx oleh kalangan gereja ini juga yang dipakai
> oleh
> > rezim militer Orba. Bukan hanya Marx yang kena, begitupun Darwin. Banyak
> > yang keliru menafsirkan karya Darwin sebagai "manusia berasal dari
kera".
> > Padahal, Darwin tak pernah mengatakan atau menulis itu. Darwin hanya
> bilang
> > ada missing link antara fase manusia purba ke manusia moderen, dan
sampai
> > detik ini missing link itu belum ditemukan.
> > >
> > > Kembali ke soal agama adalah candu. Yang dimaksud Marx adalah agama
yang
> > difasilitasi gereja dan negara. agama-agama yang sebetulnya
> multipemahaman,
> > menjadi hanya mengikuti defenisi, praktek, atau aturan gereja dan
negara.
> > Akhirnya agama menjadi candu, ritual, kemenyan, tanpa spirit, dan itu
> > berbehaya bagi society. Sama juga dengan yang orang sering salah kaprah
> > menyebut Nietcshze. Adagium Nietsczhe bahwa Tuhan telah mati
dibengkokkan.
> > Yang disebut Nietschzee itu adalah Tuhan-tuhan ciptaan manusia, agama
yang
> > dikangkangi manusia. Tuhan itu telah mati, dan bukan Tuhan dalam
> pengertian
> > umum.
> > >
> > > Soal PKI atau komunis di Indonesia. Jelas, berbeda sekali antara
komunis
> > Tan Malaka, komunis Hasan Raid, dengan komunis Muso dan Aidit. Komunis
> Aidit
> > adalah komunis borjuis, buktinya ia mengoleksi pakaian mahal, etc.
> Kacamata
> > hitam Aidit mahal, dan dibeli diluar negeri.  Tan Malaka, sungguh
tipikal
> > komunis yang menyandarkan proses perubahan di masyarakat Indonesia dari
> > ajaran komunisme. Tan Malaka dan Hasan Reid menafsirkan hadist atau al
> > qur'an berdasarkan prinsip-prinsip ajaran komunis. "Bayarlah upah buruh
> > sebelum kering keringatnya," misalnya, dia katakan juga ada dalam ajaran
> > komunis. Sedangkan Muso, lebih mencerminkan garis perjuangan Sovyet,
> > kominteren. Ia ingin mendirikan negara sovyet Indonesia. Sovyet, dalam
> > bahasa Rusia, artinya serikat pekerja. Negara sovyet Indonesia artinya
> > negara yang dimana upah buruhnya, hak-hak serikat pekerjanya, menjadi
> > pegangan tertinggi dalam pengambilan keputusan.
> > >
> > > Lawan dari semuanya itu adalah kapitalis (pemilik
> kapital/modal/alat-alat
> > produksi/pemilik kekuasaan, etc).
> > >
> > > Apabila kita melirik catatan-catatan sejarah, biografi orang Minang
> > dikenal sebagai kontributor utama kalangan intelektual, negarawan, dan
> > agamawan Indonesia. Basis filosofis yang dibangunpun beragam, mulai dari
> > Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Nasionalisme, Islamisme, dan
Liberalisme.
> > Masing-masingnya terhubung dengan anak-anak Minang generasi pertama abad
> 20.
> > Pemuncaknya adalah the grand old man H. Agus Salim. Beragam aliran paham
> dan
> > organisasi perintis modernisasi di alam kolonial dilintasi oleh Agus
> Salim,
> > kecuali satu, komunisme. Agus Salim pernah mendapat pengaruh dari
gerakan
> > theosofi yang disebut Iskandar P. Nugraha mengikis batas
(budaya/pikiran)
> > Timur dan Barat (Iskandar P. Nugraha: Februari 2001). Bung Hatta juga
> > memperoleh beasiswa keduanya dari anggota gerakan theosofi Orde der
> Dienaren
> > van Indie sebesar 6000 Gulden yang baru sempat dibayarnya 18 tahun
> kemudian,
> > 1950 (Muhammad Hatta: 160). Bung Hatta  mendapat pengaruh pikiran
Marxis,
> > terutama strategi pergerakannya, juga relasinya dengan kalangan komunis
> dan
> > Marxis Indonesia (lihat P.J.A. Idenburg dalam H. Braudet & I.I.
Brugmans:
> > 1987: 150).
> > >
> > >
> > >
> > > Satu demi satu, baik dalam bentuknya yang ekstrim atau sinergis,
> > masing-masing anak-anak alam Minangkabau itu berinteraksi dengan beragam
> > ideologi. Selain Agus Salim dan Hatta juga terdapat Abdul Rivai, Tan
> Malaka,
> > Bahder Djohan, Abdoel Moeis, Nasir Sutan Pamuncak, Rasuna Said, Rahmah
el
> > Yunusiah, Rohana Kudus, Muhammad Yamin, Sutan Sjahrir sampai Chaerul
> Saleh,
> > Chairil Anwar, AA Navis, dan HAMKA dalam generasi berikutnya.  Dari segi
> > prosentase lapisan elite, dibandingkan dengan jumlah penduduk, warna
> > anak-anak Minang sulit dihapus dari kanvas revolusi kemerdekaan dan dua
> > dekade berikutnya. Biografi individu-individu itu menjadi menarik untuk
> > disimak, sebagai gambaran betapa demokrasi telah menemukan alamnya di
> ranah
> > Minang dan tertanam dalam diri masyarakatnya. Terseraknya basis
ideologis
> > generasi pertama dan kedua kemerdekaan itu menunjukkan bahwa orang
Minang
> > terbiasa berbeda pendapat. Perbedaan pendapat adalah unsur intrinsik
dari
> > budaya Minang.
> > >
> > >
> > >
> > > Cara satu-satunya agar kita tak mudah dijadikan sebagai budak pikiran
> > penguasa adalah membaca. Saya sungguh sedih, pelarangan buku "Saya
Bangga
> > Jadi Anak PKI". Untuk apa dilarang? Anda tak akan pernah tahu pikiran
> orang
> > lain, kalau anda tak membaca dan memahami pikiran itu. Sikap ikut-ikutan
> > adalah awal dari kehancuran pikiran dan jiwa.
> > >
> > >
> > >
> > > ijp
> > >
> > >   ----- Original Message -----
> > >   From: Nofendri T. Lare
> > >   To: [EMAIL PROTECTED]
> > >   Sent: Thursday, October 10, 2002 1:04 AM
> > >   Subject: Re: [RantauNet.Com] Minangkabau dan Komunis tanggapan
> > >
> > >
> > >   Assalamualaikum,
> > >
> > >   Da IJP, ambo tertarik jo nan uda tulis di bawah iko, uda punyo
> > artikelnyo atau pemikiran tentang itu??
> > >   Truss... ambo pengen tau apokah Komunis caranya Tan Malaka, samo
> dengan
> > Komunis Muso,
> > >   ataupun Aidit. Uda kan tau.... salamo orde baruko, diajarkan ka kami
> > bahwa PKI-nya Aidit itukan anti
> > >   samo Tuhan...
> > >
> > >   Gimano tuh da,
> > >
> > >   Wassalam,
> > >     ----- Original Message -----
> > >     From: Indra Piliang
> > >
> > >     Yang terjadi di Silungkang 1926 memang pemberontakan PKI. Kala itu
> Tan
> > Malaka menjadi wakil Cominteren (Komunis Internasional), tetapi berbeda
> > paham dengan Stalin dalam soal pemberontakan. Soal pemberontakan itu
> silakan
> > baca M. Imam Azis et. Al. (Ed.). Februari 2001. Pergulatan Muslim
Komunis:
> > Otobiografi Hasan Raid. Yogyakarta: LKPSM.
> > >
> > >     itu dulu
> > >
> > >     ijp
> > >
> > >
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > >
> > >
> > > ======================================================================
> > > Lingkar Ilmuwan Sosial Indonesia (LISI) adalah forum untuk menggagas
dan
> > mempertukarkan ide baru serta mengembangkan ilmu pengetahuan sosial.
Dalam
> > LISI, topik-topik diskusi ditinjau dan dianalisis dari beragam
perspektif
> > yang memungkinkan proses pendidikan dan pembelajaran kolektif yang
> mendukung
> > kemajuan anggota dan masyarakat Indonesia umumnya



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke