MaizeAss. w.w. Syukurlah kalau Ba'syir memang tidak terlibat, sayangnya tadi pagi di Metro dia masih ngomong kayaknya mau membantai semua orang yang dia anggap kafir. Salam,
SBN ----- Original Message ----- From: Nofendri T. Lare To: Milis RantauNet ; Milis MinangNet Sent: Thursday, October 17, 2002 1:54 PM Subject: [RantauNet.Com] Ada Kemungkinan Salah Nama dari Penyebutan Ba�asyi Assalamualaikum WW, Tambahan refernsi bagi dunsanak2 nan membenci Ba'ssyir dan MMI-nyo. Wassalam, -------------- Reporter : Didik Supriyanto detikcom - Jakarta, Mengapa Abu Bakar Ba�asyir yang disebut AS, Australia dan Singapura sebagai orang berbahaya dan anggota Al Qaeda belum juga ditangkap? Ada kemungkinan salah nama, sehingga BIN perlu cek dan recek lagi. Demikian disampaikan oleh sumber detikcom di lingkungan intelijen yang mengikuti proses pengamatan dan pengintaian Abu Bakar Ba�asyir. Ceritanya agak panjang seperti terpapar di bawah ini. Abu Bakar Ba�asyir memang langsung diincar oleh intelijen Malaysia dan Singapura, menyusul kesimpulan AS bahwa yang bertanggungjawab atas Peristiwa 11 September 2001 adalah Osamah bin Ladin dan jaringan Al Qaedanya. Maklum, Ba�asyir pernah tinggal di Malaysia dan wira-wiri ke Singapura. Meski sudah tampak sepuh sekembalinya dari Malaysia pada 1999, Ba�asyir memang pantas untuk dicurigai dan diburu. Soalnya begitu sampai Indonesia, dia langsung terlibat dalam pengorganisasian Majelis Mujahidin Indoneisa (MMI), salah satu organisasi Islam baru yang bergaris keras. Organisasi ini bertekad menegakkan Syariah Islam di Indonesia. Penolakannya terhadap asas tunggal pada zaman Orde Baru, keterlibatannya dalam kegiatan Jamaah Islamiah di Malaysia dan Singapura, serta keaktifannya dalam MMI, membuat akal sehat kaum intel memasukkan Ba�asyir sebagai tokoh yang layak tangkap. Tak heran bila para intel terus memantau kegiatannya. Seiring dengan semakin derasnya desakan AS, Malaysia dan Singapura untuk menangkap Ba�asyir, maka semakin intesif pula intelijen Indonesia memantau dam menyelidikinya. Dari sinilah intelijen Indonesia kemudian menyimpulkan bahwa Ba�asyir tidak seseram yang digambarkan intelijen AS, Malaysia dan Singapura. �Ba�asyir memang terlibat organisasi Islam di Malaysia dan Singpura. Namun aktivitas organisasi itu ya biasa-biasa saja. Tak sampai mengancam keamanan negara, dan selama itu juga dibiarkan saja oleh aparat di kedua negara tersebut,� tutur sumber detikcom. �Mereka juga menyatakan bahwa masa lalu Ba�asyir dan juga kegiatannya di MMI merupakan indikasi kuat bahwa orang berbahaya atau teroris, wah kalau begitu betapa banyaknya teroris di Indonesia. Kan nggak terhitung jumlahnya orang yang menentang asas tunggal. Apa itu teroris? Kegiatan MMI sendiri selama ini cuma demo-demo saja kan,� katanya lagi. Nah, karena intelijen tidak menemukan bukti kuat itulah, maka hingga kini intelijen tidak merekomendasikan untuk menangkap Ba�asyir. �Kita bisa terjebak dengan permainan orang lain,� katanya. Tentunya yang dimaksud adalah kaum intel AS, Malaysia, Singapura dan belakangann juga Australia. Bom Bali yang diikuti oleh desakan kencang untuk menangkap Ba�asyir, mau tidak mau membuat intelijen Indonesia melakukan pengkajian dan penyelidikan ulang. Dari sinilah kemudian mereka menemukan telah terjadi miskomunikasi antara intelijen 2 negara tetangga atas order AS, dengan intelijen Indonesia. Saat itu mereka hanya menyebut inisial, ABB. Dia orang berbahaya, anggota Al Qaeda dan harus diawasi terus. �Pesan inisial itu sebetulnya datang dari AS, tapi oleh Malaysia dan Singapura langsung ditafsirkan Abu Bakar Ba�asyir. Maklum Ba�asyir pernah lama tinggal di sana, selama di sana masuk dalam kategori orang pantauan,� kata sumber tersebut. Jadi ABB bukan Abu Bakar Ba�asyir? �Sangat mungkin begitu, karena kita menemukan ada belasan nama yang kalau disingkat ABB. Nama-nama ABB itu juga sering bepergian ke Timur Tengah, termasuk ke Malaysia dan Singapura. Ini yang sedang teliti dan pantau terus,� katanya. Kenapa soal ABB yang bukan Abu Bakar Ba�asyir itu tidak dikonfirmasi langsung ke intelijen AS? �Sudah, jawabnya �Ya tangkap saja yang sudah ada�. Itu kan bukan jawaban,� katanya. �Karena itu, daripada terjebak pada permainan orang asing, intelijen kita sangat hati-hati menghadapi desakan menangkap Ba�asyir ini. Bisa saja ditangkap, tapi semua pihak harus siap menanggung risikonya,� tegasnya. Demikian ceritanya. Percaya, silakan; tak percaya pun tak apa. (diks) RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

