Ketika "Agama" Diduga sebagai Dalang Terorisme
Oleh Zuhairi Misrawi LEDAKAN bom di Legian, Bali, (12/10) secara tegas membuktikan bahwa terorisme telah hadir dan menewaskan ratusan korban manusia tak berdosa. Karena itu, peristiwa tersebut menunjukkan terorisme bukan lagi persoalan yang bersifat diskursif, melainkan ancaman serius bagi keamanan nasional. Bali yang selalu disebut-sebut sebagai "surga" bagi para wisatawan asing dalam sekejap berubah menjadi "neraka". Tragedi tersebut menerbitkan kesan negatif, terutama bagi masyarakat internasional bahwa negara kita tidak lagi menjamin keselamatan, keamanan, ketenangan, dan kedamaian. Tragedi kemanusiaan tersebut setidaknya menuntaskan debat retorik antar-elite dan publik secara umum bahwa secara de facto negara kita telah menjadi "pulau para teroris". Buktinya, teroris telah berhasil mengegolkan misinya, yaitu memorak-porandakan simbol kedamaian dan ketenangan: Bali. Karena itu, tidak ada lagi keraguan (la raiba fiha) bahwa terorisme merupakan problem serius yang mesti dihadapi pemerintah saat ini. Perdebatannya tidak lagi berkisar apakah terorisme betul-betul ada atau sebaliknya, melainkan kece-patan dan ketepatan sikap dalam menyingkap dalang pengeboman di Bali. Tindakan cepat dan tepat tersebut akan mengembalikan citra kita di mata internasional. *** NAMUN, seperti banyak peristiwa yang dilakoni teroris, identifikasi pelaku bukanlah persoalan mudah. Apa yang disimpulkan biasanya menimbulkan reaksi yang tidak kalah hebatnya, ada yang menerima dan meyakini validitasnya, tetapi tak sedikit yang menolak. Di sinilah, sebenarnya muncul persoalan baru yang marak diperbincangkan kha-layak nasional maupun internasional. Misalnya, pertanyaan: "Benarkah organisasi keagamaan terlibat dalam tragedi kemanusiaan di Bali? Adakah keterkaitan pelaku bom dengan jaringan Al Qaeda?" Sementara ini, pertanyaan tersebut dijawab oleh Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil bahwa jaringan Al Qaeda berada di balik tragedi kemanusiaan terbesar pasca-Tragedi World Trade Center. (WTC) Perdana Menteri Australia John Howard juga angkat bicara tentang kemungkinan Jama'at Islamiyah terkait dengan peledakan bom di Pulau Nirwana itu, sebagaimana disampaikan Alexander Downer dalam lawatannya ke Tanah Air. Dugaan tentang keterlibatan kelompok keagamaan tertentu dalam tragedi tersebut setidaknya dipengantari beberapa alasan mendasar. Pertama, stigma negatif atas jaringan Al Qaeda. Ini bermula sejak merebaknya aksi-aksi pengeboman yang disponsori Al Qaeda, yang terakhir adalah tragedi kemanusiaan di WTC dan Pentagon, New York. Al Qaeda lalu dikenal sebagai organisasi terorisme. Pandangan seperti itu tidak hanya membawa citra buruk bagi Al Qaeda sebagai organisasi keagamaan, melainkan juga membawa stigma negatif terhadap Islam, karena Al Qaeda membawa simbol kearaban dan doktrin keislaman. Kedua, munculnya kelompok keagamaan di luar mainstream. Kalau selama ini, organisasi keagamaan di Indonesia direpresentasikan oleh organisasi semacam NU dan Muhammadiyah yang bergerak di bidang kultural; namun pasca-reformasi muncul organisasi keagamaan yang membawa corak gerakan yang berbeda. Ormas-ormas tersebut lebih tepat disebut gerakan "Islam politik", karena dalam gerakannya membawa ambisi politik, seperti formalisasi syariat, mendorong beberapa pemerintah daerah untuk mengeluarkan peraturan daerah (perda) antimaksiat, dan lain-lain. Kenyataan ini sedikit banyak telah memberikan pandangan kuat terhadap masyarakat internasional bahwa radikalisme dan ekstremisme merambah ke Tanah Air. Setidaknya gerakan Islam politik di Tanah Air mempunyai kemiripan dan kedekatan ideologis dengan beberapa gerakan Islam politik di negara lain. Kedua pandangan tersebut memang sulit diterima, tetapi di sisi lain juga sulit ditolak. Sebab, dalam era teknologi se-perti sekarang ini, sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin (min allamumkin ila al-mumkin), sehingga mengaitkan antara peledakan bom di Bali dengan jaringan terorisme internasional bisa menjadi dugaan sementara hingga terdapat bukti-bukti kuat dari pihak kepolisian; atau sebaliknya nanti tidak terbukti. Pada titik ini, "agama" se-ringkali dijadikan bulan-bulanan dan obyek tuduhan. Benarkah agama mendorong pada terorisme? Pandangan negatif terhadap "agama" kian ter-sebar, karena ada bau tak sedap dan stigmatisasi yang dimondialkan terhadap kelompok keagamaan tertentu, dan bahkan dianggap sebagai representasi yang paling absah. Terhadap sebagian besar tindakan terorisme global, tudingan diarahkan kepada kelompok tersebut. *** TERKAIT dengan masalah seperti itulah perlunya kita menampilkan dan melakoni (mengimplementasikan) agama dengan baik agar agama kita bercitra baik. Agama mesti dikembalikan pada posisinya sebagai spirit dan moralitas yang akan selalu membawa panji kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, dan keadaban. Oleh karena itu, memang tidak ada jalan lain, kecuali memperbaiki citra agama, terutama Islam yang selama ini direpresentasikan Al Qaeda dan beberapa kelompok radikal lainnya. Ini dalam rangka mengeliminasi tuduhan yang tidak bertanggung jawab atas agama tertentu. Bukan hanya itu, masyarakat beragama mesti merapatkan barisan guna mendorong terciptanya iklim kehidupan yang lebih aman, damai, demokratis, dan egaliter. Kalangan agamawan tidak pada tempatnya bila hanya main tuding dan mendelegitimasi pandangan mayoritas. Retorika keagamaan yang bersifat fatalistik hanya akan membawa agama dalam pendangkalan makna dan nilai. Perlu langkah kultural yang bersifat proaktif guna melahirkan citra baru yang lebih baik bagi agama-agama. Gerakan Moral Nasional yang diprakarsai tokoh-tokoh agama dari pelbagai organisasi keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Hindu, dan Konghucu, dapat dijadikan langkah kultural guna mengampanyekan wajah agama yang humanis, inklusif dan pluralis (Kompas, 15/10). Memang, Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini mempunyai dua sisi wajah, yang keduanya mesti diambil langkah strategis. Di satu sisi, Islam di Tanah Air merepresentasikan dunia Islam pada umumnya, yang membawa karakteristik tersendiri yaitu mampu menegosiasikan dogma keagamaan dengan kultur dan realitas kontemporer. Islam dan nasionalisme di belahan dunia lainnya mengalami ketegangan dan konflik, namun di Tanah Air keduanya itu bisa diterima dengan mudah dan tidak konflik. Namun di sisi lain, gelombang radikalisme dan ekstremisme seakan tumbuh bersamaan dengan dibukanya keran demokrasi. Ini telah melahirkan pandangan keagamaan yang menolak keragaman, kesetaraan dan kedamaian. Pengalaman di dunia Islam lainnya, pandangan yang dilahirkan kalangan ekstremis berakhir dengan pemasungan atas kebe-basan berpikir, bahkan seringkali berakhir dengan tindak ke-kerasan. (Nashr Hamid: 2001) Oleh karena itu, dalam rangka keluar dari tuduhan yang berlebih-lebihan tersebut, diperlukan "jalan tengah" untuk melahirkan pandangan keagamaan yang akan memperkukuh visi kebangsaan, sehingga pandangan keagamaan apa pun tidak terkooptasi kepentingan pihak mana pun. Pandangan keagamaan sejati akan membawa visi kemaslahatan, kerakyatan, kewargaan, dan kesetaraan. Dr Kamal Abul Madjid (2001), pemikir muslim asal Mesir dalam al-Irhab wa al-Islam (Terorisme dan Islam) mengemukakan beberapa prinsip dalam membangun visi keberagamaan yang humanis, inklusif dan pluralis. Pertama, manusia, apa pun warna kulit, ras, suku, keyakinan dan agamanya, dalam pandangan Islam merupakan makhluk mulia. (QS. 17: 7) Kedua, pluralitas dan perbedaan merupakan rahmat dan nikmat Tuhan, bukan ancaman. Menurut Islam, "yang lain" itu merupakan karib yang mesti diakomodasi dan diajak kerja sama. (QS. 49:17) Ketiga, darah, dalam pandangan Islam adalah kehormatan dan senantiasa dipelihara, baik darah tersebut muslim maupun non-muslim. Khotbah Nabi Muhammad dalam haji perpisahan menekankan dimensi anti-kekerasan. Nabi ketika itu menjelaskan bahwa darah setiap insan adalah kehormatan yang mesti dipelihara baik-baik. Oleh karena itu, langkah mendesak yang mesti diambil kalangan agamawan, yaitu memberikan dorongan sekuat tenaga untuk menolak dan menentang segala bentuk tindakan terorisme. Apa yang dihasilkan dari terorisme hanya akan menumpuk kenistaan, kesedihan, dan keresahan bagi masyarakat, karena watak terorisme yang identik dengan kekerasan dan teror. Peristiwa yang menimpa Bali dapat dijadikan momentum untuk merefleksikan kembali sejauh mana keberagamaan kita dalam konteks berbangsa mampu menyumbangkan pandangan yang kian mengukuhkan kebersamaan dan kebangsaan. Ini harus kita mulai dari kearifan untuk mencegah segala bentuk terorisme. Agama adalah pembawa kesejukan dan kedamaian; bukan alat kekerasan yang tampil sangar. ZUHAIRI MISRAWI Koordinator Program Islam Emansipatoris P3M Jakarta RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

