Amerika Motori Pembentukan Opini Perangi Gerakan Islam Jakarta-RoL--Ketua Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto, menilai pihak asing sengaja membangun opini dalam rangka memerangi gerakan-gerakan Islam di dunia, dengan terus mengaitkan aksi-aksi terorisme di sejumlah tempat dengan kelompok Islam garis keras. "Apa yang dikatakan sebagai terorisme global itu hanya kedok saja. Maksud sesungguhnya adalah untuk memerangi gerakan Islam, karena paska 'perang dingin', mereka menganggap Islam fundamentalis sebagai ancamannya," katanya di Jakarta, Jumat. Penilaian tersebut dilontarkan menanggapi pernyataan Menlu Denmark yang mengatakan fenomena meningkatnya gerakan Islam fundamentalis memiliki kesamaan dengan gerakan Nazisme dan komunis yang pernah melanda Eropa. Pembentukan opini oleh pihak asing tersebut, katanya, dimotori oleh Amerika Serikat yang memang mempunyai kepentingan-kentingan tertentu, antara lain ingin menguasai kekayaan yang dimiliki negara Islam seperi cadangan minyak. AS, katanya, beranggapan bahwa satu-satunya penghalang bagi mereka untuk mencapai tujuan itu adalah gerakan Islam garis keras yang merka sebut sebagai Islam fundamentalis. Karena itulah, lanjut Ismali Yusanto, sebelum gerakan Islam itu menjadi besar maka AS berusaha memukul habis berakan itu, termasuk yang sekarang ini terjadi Indonesia. "Lalu dibuatkan skenario mulai dari pelaku penghancuran WTC adalah kelompok Al Qaeda sebagai kelompok terorisme meski tidak ada bukti-bukti, yang pada akhirnya dikaitkan lagi dengan gerakan Islam garis keras secara keseluruhan di manapun berada," katanya. Ismail mengaku mempunyai data-data dari pihak penerbangan bahwa tuduhan AS mengani pelaku penghancuran WTC itu adalah teroris tidak masuk akal, karena pesawat sekaliber Boeing 747 yang sengaja ditabrakkan ke Menara WTC itu, beroperasi secara otomatis melalui sistem komputerisasi. "Jadi pesawat itu sudah diprogram dengan sendirinya sehingga bagaimana mungkin pembajak bisa masuk ke dalam sistem operasional pesawat itu kalau bukan orang-orang yang tahu sistem itu," katanya. Peristiwa pengeboman di Bali, menurut dia, juga tidak terlepas dari skenario global yang sengaja diciptakan untuk menunjukkan seolah ada bukti bahwa memang di Indonesia ada teroris. Dia menambahkan, kalau betul pelaku peledakan bom di Bali adalah teroris maka perlu dipertanyakan apa motivasinya, karena akan lebih masuk akal jika lokasi peledakan itu adalah instalasi milik AS. "Kalau memang pelakunya adalah terorisme dari kalangan Islam garis keras, apa motivasinya meledakkan bom di tengah-tengah turis. Akan lebih beralasan kalau misalnya bom itu diledakkan di kedubes AS," katanya. Hal itu, katanya, menunjukkan adanya skenario besar untuk menekan Indonesia secara psikologis, ekonomis, dan politik, untuk lebih tegas terhadap gerakan Islam yang dianggap sebagai garis keras. "Jadi, kalau awalnya mereka menyatakan perang terhadap terorisme, maka sekarang ini skenario mereka telah meningkat menjadi perang terhadap gerakan Islam yang dianggap sebagai fundamentalis," katanya. Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=101165&kat_id=23 |
Title: Republika Online : http://www.republika.co.id

