Ass. Ww Yang paling penting kini, apa kita menyadari nggak tentang ketertinggalan kita. Apa kita menyadari bahwa Galodo Gadang (Globalisasi, AFTA, APEC) dapat menggilas kita, dapat menjajah kita, dapat menjadikankan kita kuli dinegara sendiri. Marilah kita bertanya kepada rumput yang bergoyang (eh Kang Ebiet, artinya merenungkan diri kita?)
Nantinya betul-betul free fighting, pasar bebas, sia nan unggul itu nan maju. Dimuko umah ajo bisa saja si Reymon Philipinyang buka toko, bisa saja si Cin Li Cik mambuka rumah makan, si MC Donaldo menjual MC Rendang-nyo di Biaro Gadang. Sedang seperti kini saja rasanya sudah bakalimincuangan hidup ini, sudah berat tekanan ekonomi, sudah tak sanggup menyekolahkan anak ketempat yang lebih tinggi (kecuali Yessi kali?). Dek itulah kini kita harus memasang kuda-kuda, mengadakan persiapan, melakukan apa yang dapat kita lakukan dan konsisten serta penuh tekad untuk mencapainya. Kita boleh terpana dan boleh heran, dan boleh kagum, dan juga boleh mempertanyakan, boleh meniru, boleh berguru. Kenapa 80% lebih ekonomi Indonesia dikuasai oleh etnis yang 2.5 % hanya dari populasi? Dan etnis tersebuk kini menguasai ekonomi Asia Timur (kecuali Jepang dan Korea). Seharusnya kita juga bisa begitu, kita yang juga 2.5% ini, adalah sebagai etnis yang juga ditakuti oleh mereka (katanya). Seandainya kita bisa: sailia samudiak, kabukik samo mandaki kalurah samo manurun, nan barek samo dipikua nan ringan samo dijinjiang. Bergandengan tangan menghadapi atau malah memanfaatkan Galodo Gadang ini, untuk menghadapi musuh bersama: yaitu "terjajah secara ekonomi". Kami mengharapkan kita dapat bekerja sama, saling bersinerji, dan saling mengisi, untuk itu kami tawarkan " Minang Incorporated " alias Minang Kiau alias Minang Inc, yang baru saja selesai legalisasinya. Marilah kita bersama membangun dan memeperbaiki yang kita lihat didepan mata kita ini ......... keterpurukan multi dimensi. Kalau boleh and abaca brosur kami terlampir. Wass. ww Darul ��-----Original Message----- ��From: Yesi Elsandra [mailto:el-sandra@;lycos.com] ��Sent: Wednesday, October 30, 2002 11:33 AM ��To: [EMAIL PROTECTED] ��Subject: [RantauNet.Com] Akankah Selalu Kelabu Negriku.... �� ��Akankah Selalu Kelabu Negriku.... �� ��Yesi elsandra �� ��Sejak terjadinya krisis multidimensional 1997, krisis terus saja bergayut di tubuh negri ini. ��Mulai dari krisis moral, krisis moneter, krisis kepercayaan pada penguasa, krisis percaya ��diri, dan yang sedang naik daun terorisme. Yang paling sering menjadi konsumsi ��pembicaraan kita salahsatunya adalah krisis ekonomi. Bukan apa-apa, stabilitas ekonomi ��sering menjadi parameter stabilitas lainnya, walaupun tidak dapat dipungkri, pemulihan ��stabilitas ekonomi tidak terlepas dari gonjang ganjing peta perpolitikan dan stabilitas ��ketahanan nasional. �� ��Mungkin rakyat di dusun sana tidak menyangka negara yang subur dan kaya raya ini ��memiliki hutang selangit. Bahkan tercatat per 30 September 2002 terealisasi defisit ��anggaran sebesar Rp.13.05 trilyun. Kok bisa? Jawabannya gampang saja, karena besar ��pasak dari pada tiang. Kenapa? Bisa jadi ada kebocoran atau dihabisi pejabat untuk ��"ngeceng" di luar negri, atau yang paling gampang menjawabnya ditilep "maling" ��barangkali. �� ��Bisa jadi untuk menutupi defisit tersebut, pemerintah "memaksa" rakyatnya yang sebagian ��besar miskin ini untuk menutupinya, kecuali kalau pemerintah punya kreatifitas ��menciptakan instrumen lain bagi pemasukan kas negara. Tapi kreatifitas macam apakah ��yang dimiliki pemerintah kini? �� ��Perdagangan bebas antar negara ASEAN 2003 sudah berada di depan mata. Itu artinya kita ��akan menghadapi gempuran produk dan jasa asing yang siap merajai konsumen yang ��memang jumlahnya potensial di sini. Lemahnya bargaining yang kita miliki selama ini ��dapat menjadikan kita seperti kuli di negri sendiri. Kita akan kembali terjajah. �� ��Kita tidak bisa bersandar pada penguasa yang tidak kompak yang memegang pemerintahan ��kini. Walaupun Menko perekonomian Dorojatun Kuncoro Djati optimis terhadap ��pertumbuhan ekonomi 2003 akan stabil sesuai target RAPBN yaitu 5%, namun analisis ��pakar lainya perlu kita cermati, seperti INDEF (Institute for Development of Economic and ��Finance) yang hanya berani mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 3, 12%. Tidak ��berbeda dengan INDEF ekonom CSIS Mari Pangestu memperkirakan pertumbuhan ��ekonomi 2003 adalah 3.5%. �� ��Itu artinya kita harus siap-siap menghadapi potret suram dan kelabu perekonomian masa ��depan. Jangan terlalu ternganga kalau mendapati biaya masuk TK saja sekarang 6 juta. ��Menciptakan SDM untuk memulihkan ekonomi bumi pertiwi melalui pendidikan laksana ��jauh panggang dari api, apalagi mengecap perguruan tinggi, belum lagi ingin jadi master ��atau doktor, semuanya berat diongkos. �� ��Sebagai penduduk yang mayoritas muslim, keberadaan ummat Islam merupakan ��representatif masyarakat Indonesia. Kreatifitas kita menggalakkan sektor informal menjadi ��sebuah keharusan. Jangan hanya puas telah mampu menafkahi anak dan istri. Atau jangan ��langsung duduk santai setelah dapat makan dan minum hari ini. Tapi sebagai muslim kita ��memiliki kewajiban membawa umat ini jauh dari rasa lapar, kehausan, kebodohan, ��keterbelakangan, kehinaan dan keterpurukan Sebagaimana yang telah dicontohkan ummul ��mukminin, yaitu Khadijah yang mengorbankan hartanya untuk dakwah rasulullah. �� ��Kemiskinan, kefakiran dapat mendekatkan kita kepada kekufuran. Sebagai mana yang kini ��sedang dipertontonkan penguasa. Kemiskinan yang melilit negeri nan elok ini membawa ��pemimpin kita menggadaikan kedaulatan dan wibawa negara, tidak memiliki power karena ��diketiaki oleh mereka yang oleh Allah sedang di amanahi kekuatan besar, tapi mereka ��sombong. �� ��Mari kita galang kekuatan ekonomi, jangan lelah berjuang, walaupun seperak dua perak, ��sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Sebagai hamba yang mengabdi untuk Allah, ��sebagai anak yang dilahirkan di negri ini, saya merindukan sebuah kondisi dimana kita ��semua saling mencintai, tidak ada kemiskinan, tidak ada kebodohan, tidak ada kelaparan, ��tidak ada caci maki, tidak ada kekerasan, tidak ada penindasan, tidak ada buruk sangka ��apalagi dendam kesumat yang tidak berujung.... �� ********** DISCLAIMER: Privileged/Confidential information may be contained within this message. If you are not the intended recipient, you must not use, copy, retain, distribute, or disclose any of its content to others. Instead, please notify the sender immediately and then delete this e-mail entirely. We have checked this e-mail for any viruses and harmful components however; we cannot guarantee it to be secured or virus free. PT Perusahaan Pelayaran EQUINOX does not accept any responsibility for any damages or any consequences therefrom. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 ==============================================Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ==============================================

