Title: Maize

Asalamualaikum Wr, Wb.

 

Gimano angku SBN?? apo masih sapandapek jo Mamak kito nangko??.

 

 

Selasa, 29 Oktober 2002 23:12 WIB
Jangan Lagi Menangkap Tokoh islam Setelah Ba'asyir

SURABAYA--MIOL: Ketua PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif mengingatkan kepada pemerintah agar jangan sampai ada tokoh Islam lainnya yang ditangkap setelah pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) ustad Abu Bakar Ba'asyir.
"Jangan sampai itu terjadi, kalau terjadi akan kita teriaki, kita tidak akan tinggal diam. Saya yakin Ba'asyir hanya dijadikan korban untuk memenuhi pesanan negara yang suka mendikte, siapa lagi kalau bukan AS," katanya di Surabaya, Selasa.
Syafi'i Ma'arif mengemukakan hal itu seusai berbicara dalam lokakarya nasional 'Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global' yang digelar DPP Lembaga Pengembangan Potensi Nasional (LPPN) bersama Badan Kesatuan Bangsa (Bakesbang) Pemprov Jatim.
Menurut Syafi'i indikasi ke arah penangkapan tokoh Islam setelah ustad Abu Bakar Ba'asyir hingga kini belum ada, namun hal itu telah menjadi keresahan di kalangan tokoh Islam dan pesantren di Indonesia, kendati keresahan itu belum seberapa meluas.

"Saya kira hal itu tak akan terjadi, tapi kalau terjadi tentu kita akan berteriak membela. Jangan karena ada pesanan, lalu tokoh-tokoh Islam ditangkapi. Serahkan itu kepada kedaulatan rakyat, jangan karena daulat tuanku yang itu...," katanya.
Ditanya tentang belum banyaknya pembelaan untuk ustad Abu Bakar Ba'asyir, ia mengatakan pembelaan kepada pimpinan Pesantren Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah itu sebenarnya sudah banyak dilakukan tokoh-tokoh Islam.
"Kita sudah membela agar penangkapan itu harus jelas buktinya, kalau perlu pemerintah harus menjelaskan bukti itu. Kalau tidak ada bukti ya lepaskan, jangan hanya karena hasil informasi dari Omar Al-Faruq di majalah Time. Ustad Abu Bakar Ba'asyir itu sebenarnya biasa-biasa saja tapi dibuat majalah Time seperti singa yang menentukan corak dunia," katanya.
Ia menegaskan Muhammadiyah telah menolak segala bentuk terorisme, termasuk langkah AS yang mengutuk serangan
di WTC yang menelan banyak korban, tapi dengan alasan melawan terorisme, lalu menyerang Afghanistan yang hingga kini telah menyebabkan jatuh korban sekitar 6.000 orang.

"Jadi, penangkapan ustad Abu Bakar Ba'asyir itu pesanan, sebab saya susah melihat ustad Abu Bakar Ba'asyir yang biasa-biasa saja itu terlibat dalam peledakan bom dan bahkan berencana membunuh Presiden Megawati. Apa keuntungannya membunuh Megawati bagi seorang ustad Abu Bakar Ba'asyir," katanya.
Mengenai sikap pemerintah yang terkesan menerima 'pesanan' apa adanya itu, Syafi'i Ma'arif menilai hal itu akibat kelemahan diplomasi pemerintah. "Pakistan saja bisa memanfaatkan bantuan untuk pendidikan melalui diplomasi, tapi kenapa kita tidak bisa," katanya.

Soal radikalisme di kalangan Islam, ia mengatakan hal itu sebenarnya merupakan 'iklan' buruk bagi Islam sendiri, tapi hal itu juga muncul akibat sikap aparat yang kurang tegas terhadap pelanggaran UU, bahkan polisi sendiri sering bentrok dengan TNI.
"Saya sendiri menilai Perpu Antiteroris itu perlu untuk membekuk aksi terorisme di Tanah Air, tapi hal itu harus dikontrol oleh masyarakat, pers, LSM, dan DPR agar jangan disalahgunakan," katanya.

Lokakarya juga menampilkan pembicara lain Franz Magnis Suseno SJ (agamawan), Edi Sri Swasono (praktisi
ekonomi), Prof Mubyarto (ekonom UGM), dan H Wadijono (Kepala Bakesbang Pemprov Jatim). (Ant/OL-01)

Kirim email ke