Ulama Pesantren di Jatim Persoalkan Cap Teroris Surabaya-RoL--Kalangan ulama pengasuh pesantren di Jawa Timur mempersoalkan cap teroris yang mungkin akan mudah diberikan kepada tokoh agama lainnya pasca penangkapan Pengasuh Pesantren Al-Mukmin di Ngruki, Solo, Jawa Tengah, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. "Saya khawatir cap teroris itu akan seperti cap Komando Jihad yang muncul untuk menangkap umat Islam yang vokal, padahal cap itu cuma fitnah," kata pengasuh Pesantren Nurul Azhar di Jatirejo Utara, Porong, Sidoarjo, Ustadz Abdurrohim Noer MA kepada ANTARA di Surabaya, Kamis. Mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim itu menilai cap teroris yang belum tentu benar itu ada kemungkinan hasil ciptaan kelompok tertentu yang ingin menciptakan "image" bahwa Islam bukan "rahmatan lil alamin" (agama yang mengasihi seluruh isi alam atau agama yang damai). "Kalau cap teroris itu mengarah kepada fitnah terhadap umat Islam, maka pengasuh pesantren tak boleh diam saja, tapi berupaya sesuai kemampuan untuk menghapusnya, karena Islam memang bukan agama teror tapi agama damai," kata dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu. Senada dengan itu, pengasuh Pesantren Al-Khozini, Buduran, Sidoarjo KH Abdus Salam Mujib mengatakan jika Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dituduh tanpa bukti maka tuduhan itu ada kemungkinan ditujukan untuk memusuhi Islam. "Kalau memang begitu kenyataannya, maka para ulama harus mewaspadai agar tak mudah diadu domba oleh orang atau negara lain," kata Ketua RMI (Rabithoh Maahid Islamiah atau Asosiasi Pesantren di lingkungan NU) Jatim itu. Menurut dia, kalangan pesantren juga harus mewaspadai sejak sekarang dengan tidak mendahulukan formalitas dalam agama. "Sebaiknya, kita menunjukkan perilaku Islami dibanding menunjukkan 'akulah' Islam, karena Islam sendiri memang agama damai yang santun kepada orang lain," katanya. Ia menambahkan sekitar 2.000 pesantren se-Jatim di bawah naungan RMI Jatim yang merupakan 90 persen dari pesantren di Jatim diyakini tidak akan mudah dicurigai karena memang tidak mengutamakan formalitas ke-Islaman. "Di kalangan NU itu dikenal kaidah bahwa menghindari kerusakan lebih baik dan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan (kebaikan), karena itu penerapan cara-cara kekerasan akan selalu dipikir dua kali, karena itu akan membuat image buruk bagi Islam sendiri," katanya. Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=102126&kat_id=23 |
Title: Republika Online : http://www.republika.co.id

