Ass. ww,
sanak NTLare,hari iko kito manarima 3 postingan dengan inisial :Nofendri T
Lare; t Lare dan NTLare. Kiro-kiro urangnyo samo ndak, kalo samo kiro-kiro
nama nan acok di buka mailnyo.
 
salam
Madahar (35)

-----Original Message-----
From: NTLare [mailto:bukareh@;sungaipagu.zzn.com]
Sent: Thursday, October 31, 2002 1:35 PM
To: RantauNet
Subject: [RantauNet.Com] [Republika Online] Ulama Pesantren di Jatim
Persoalkan Cap Teroris 


  <http://www.republika.co.id/images/header/logo.gif>   
        
31 Oktober 2002  8:47:00
Ulama Pesantren di Jatim Persoalkan Cap Teroris 

Surabaya-RoL--Kalangan ulama pengasuh pesantren di Jawa Timur mempersoalkan
cap teroris yang mungkin akan mudah diberikan kepada tokoh agama lainnya
pasca penangkapan Pengasuh Pesantren Al-Mukmin di Ngruki, Solo, Jawa Tengah,
Ustadz Abu Bakar Ba'asyir.

"Saya khawatir cap teroris itu akan seperti cap Komando Jihad yang muncul
untuk menangkap umat Islam yang vokal, padahal cap itu cuma fitnah," kata
pengasuh Pesantren Nurul Azhar di Jatirejo Utara, Porong, Sidoarjo, Ustadz
Abdurrohim Noer MA kepada ANTARA di Surabaya, Kamis.

Mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim itu menilai cap
teroris yang belum tentu benar itu ada kemungkinan hasil ciptaan kelompok
tertentu yang ingin menciptakan "image" bahwa Islam bukan "rahmatan lil
alamin" (agama yang mengasihi seluruh isi alam atau agama yang damai).

"Kalau cap teroris itu mengarah kepada fitnah terhadap umat Islam, maka
pengasuh pesantren tak boleh diam saja, tapi berupaya sesuai kemampuan untuk
menghapusnya, karena Islam memang bukan agama teror tapi agama damai," kata
dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu.

Senada dengan itu, pengasuh Pesantren Al-Khozini, Buduran, Sidoarjo KH Abdus
Salam Mujib mengatakan jika Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dituduh tanpa bukti
maka tuduhan itu ada kemungkinan ditujukan untuk memusuhi Islam.

"Kalau memang begitu kenyataannya, maka para ulama harus mewaspadai agar tak
mudah diadu domba oleh orang atau negara lain," kata Ketua RMI (Rabithoh
Maahid Islamiah atau Asosiasi Pesantren di lingkungan NU) Jatim itu.

Menurut dia, kalangan pesantren juga harus mewaspadai sejak sekarang dengan
tidak mendahulukan formalitas dalam agama. "Sebaiknya, kita menunjukkan
perilaku Islami dibanding menunjukkan 'akulah' Islam, karena Islam sendiri
memang agama damai yang santun kepada orang lain," katanya.

Ia menambahkan sekitar 2.000 pesantren se-Jatim di bawah naungan RMI Jatim
yang merupakan 90 persen dari pesantren di Jatim diyakini tidak akan mudah
dicurigai karena memang tidak mengutamakan formalitas ke-Islaman.

"Di kalangan NU itu dikenal kaidah bahwa menghindari kerusakan lebih baik
dan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan (kebaikan), karena itu
penerapan cara-cara kekerasan akan selalu dipikir dua kali, karena itu akan
membuat image buruk bagi Islam sendiri," katanya.
 



  _____  

Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=102126
<http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=102126&kat_id=23> &kat_id=23




Kirim email ke