Reporter : Rita Uli Hutapea
detikcom - Jakarta, Berita yang beredar selama ini adalah bahan peledak C4 digunakan dalam ledakan bom Bali, 12 Oktober lalu. Namun ternyata ada kabar baru. Bukan C4 yang digunakan, melainkan 99,78 persen murni plutonium 239 tanpa uranium 238 �neutron reflector�.
Plutonium yang digunakan ini diproduksi di Dimora, Negev, Israel. Bahan ini hanya dikuasai oleh pemerintah Israel. Jadi tidak berlebihan bila menuding pemerintah Israel bertanggung jawab atas tragedi Bali.
Demikian seperti dilansir halturnershow, sebuah situs milik Hal Turner yang mengelola acara talk show radio paling kontroversial di Amerika Serikat. Turner kerap dianggap sebagai salah satu bapak kebangkitan talk show di radio-radio Amerika.
Dalam artikel berjudul �Ledakan Bali Sebenarnya Mikro-Nuklir; Menggunakan Radiasi Alfa, Bukan Radiasi Gamma!�, disebutkan bahwa karena menggunakan radiasi alfa, maka Geiger counters standar tidak bisa mendeteksi keberadaannya. Pasalnya alat tersebut hanya bisa mendeteksi radiasi gamma.
Disebutkan pula, tragedi Bali merupakan aksi perang oleh Israel terhadap Indonesia dan Australia. Ledakan tersebut dirancang agar terlihat sebagai aksi teroris yang tujuannya untuk membuat Indonesia dan Australia mendukung perang melawan teroris dan serangan ke Irak.
Dituliskan bahwa salah satu indikasi yang menunjukkan ledakan bom Bali merupakan ledakan mikro nuklir adalah menghilangnya puluhan tubuh manusia tanpa bekas. Padahal bahan peledak konvensional tidak mempunyai cukup panas dan velositas untuk memusnahkan tubuh manusia tanpa sisa. Hanya bom nuklir yang mempunyai panas cukup untuk bisa melakukan �kremasi instan�.
Jadi tidak benar bila C4 yang digunakan dalam ledakan bom di Bali. Kekuatan Composition 4 (C4) tidaklah sehebat yang dibayangkan orang. Kekuatannya hanya 1,2 kali lipat kekuatan TNT. Namun C4 ini memang sangat dikenal akan kefleksibelannya dalam penggunaan.
Anda bisa membentuknya seperti yang Anda suka. Anda juga bisa menempelkannya dimanapun yang Anda inginkan, termasuk di bawah air dengan risiko personal yang minim.
Ingin membaca lebih jauh artikel kontroversial ini? Silahkan lihat di http://www.halturnershow.com/BaliBlast2.html
(ita)
=========================================================================================================
Israel Sudah Kembangkan Senjata Nuklir Sejak 1960
Reporter : Ananda Ismail
detikcom - Jakarta, Kalau ada yang menyebut Israel adalah pengembang mikro nuklir -- jenis bom yang konon meledak di Bali -- rasanya tidak terlalu berlebihan. Israel ternyata telah membangun instalasi nuklir rahasianya di kawasan Dimona, Gurun Negev sejak awal tahun 1960. Sponsornya adalah Perancis yang membantu penuh pembangunan instalasi tersebut. Namun para pejabat Israel sejak dulu tidak pernah mengakui secara resmi bahwa Israel memiliki senjata nuklir.
Keterangan itu ditulis mantan anggota Kongres AS, Paul Findley, dalam bukunya �Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the US-Israeli Relationship�, terbitan Lawrence Hill Brooks, Brooklyn, New York, 1993.
Kalau Anda tertarik membacanya, buku ini juga sudah diterjemahkan dengan judul �Diplomasi Munafik ala Yahudi: Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel� terbitan Penerbit Mizan, cetakan I, Mei 1995/Dzulhijjah 1415 H.
Ditulis Findley dalam buku itu, setelah meyakinkan Washington pada 19 Desember 1960 bahwa Israel tak mempunyai program senjata nuklir, Perdana Menteri Israel David Ben Gurion dua hari kemudian mengadakan pertemuan di hadapan Knesset (parlemen Israel) dan mengaku bahwa sebuah reaktor nuklir tengah dibangun di Dimona, Gurun Negev.
Namun ketika itu, David bersikeras bahwa itu semata-mata untuk tujuan damai. Ia bahkan bersumpah bahwa fasilitas nuklir di Dimona akan �memenuhi kebutuhan-kebutuhan industri, pertanian, kesehatan, dan ilmu pengetahuan�. Ia pun berjanji bahwa fasilitas tersebut akan terbuka untuk menerima para siswa pengikut latihan dari negeri-negeri lain. Namun tak satu pun dari pernyataan-pernyataan itu yang terbukti kebenarannya.
Sangkalan-sangkalan Israel sebelumnya mengenai tujuan instalasi Dimona yang sebenarnya, kemudian menyulut kemarahan beberapa anggota Kongres AS. Dalam suatu sesi rahasia dari Komite Hubungan Luar Negeri Senat pada awal 1961, Senator Bourke Hickenlooper tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Saya kira orang-orang Israel telah membohongi kita seperti pencuri-pencuri kuda mengenai hal ini. Mereka telah menyelewengkan, memberi gambaran keliru dan memalsukan mentah-mentah fakta-fakta di masa lalu,� kecam Bourke.
�Saya kira masalah ini benar-benar serius, mengingat semua yang telah kita lakukan untuk mereka (Israel), dan balasan mereka adalah dengan bertindak dengan cara ini, menyangkut fasilitas reaktor produksi yang sangat jelas, yang mereka bangun dengan diam-diam dan yang secara konsisten tidak mereka akui tengah mereka bangun," sambung dia.
Meskipun timbul sentimen semacam itu, Amerika Serikat tidak pernah mengambil tindakan sungguh-sungguh untuk mencegah Israel meneruskan pengembangan senjata-senjata nuklir mereka. Satu-satunya usaha agak serius dilakukan Presiden Kennedy pada awal 1960-an. Ia mendesak agar Israel membiarkan para pengawas AS memasuki Dimona.
Namun para teknisi Israel membangun sebuah ruang kontrol yang seluruhnya palsu di instalasi Dimona untuk menipu orang-orang Amerika mengenai jenis riset sesungguhnya yang tengah dikerjakan. Tipu muslihat itu berhasil dan inspeksi berakhir pada 1969 -- setahun setelah CIA melaporkan bahwa Israel mempunyai senjata-senjata nuklir -- tanpa menemukan sesuatu yang mencurigakan.
CIA dan para ahli lainnya di seluruh dunia percaya bahwa Israel memiliki bukan hanya senjata-senjata nuklir melainkan juga sarana-sarana untuk mengirimkannya ke jarak jauh. Sebuah laporan lima halaman CIA bertanggal 4 September 1974 mengemukakan kesimpulannya bahwa Israel adalah suatu kekuatan nuklir.
"Berdasarkan bukti-bukti bahwa Israel menyimpan sejumlah besar uranium dimana setengahnya diperoleh dengan cara sembunyi-sembunyi. Sifat mendua dari upaya-upaya Israel di bidang pengayaan uranium dan investasi Israel dalam suatu sistem misil yang sangat mahal yang dirancang untuk mengakomodasi ujung-ujung peledak senjata nuklir,� demikian tulis laporan tersebut.
Israel dapat mengirimkan ujung-ujung peledak senjata nuklir dengan misil balistik 260 mil-nya yang dinamai Jericho. Bahkan, dengan Jericho yang telah dipercanggih, jangkauannya mencapai lebih dari 500 mil. Belum termasuk dengan peralatan artileri atau pesawat-pesawat udara.
Pada September 1988, Israel meluncurkan sebuah satelit percobaan, Ofek-1 (Cakrawala) ke orbit eliptis 250 hingga 1.000 kilometer. Seorang analis Amerika mengatakan, data menunjukkan bahwa roket yang meluncurkan satelit itu cukup kuat untuk membawa sebuah senjata nuklir ke Moskow atau Lybia.
Menurut wartawan Seymour Hersh, yang membuat suatu telaah mengenai program Israel: "Pada pertengahan 1980-an, para teknisi di Dimona telah menciptakan beratus-ratus ujung peledak netron berkadar rendah yang mampu menghancurkan sejumlah besar pasukan musuh dengan kerusakan properti minimal. Ukuran dan kecanggihan persenjataan Israel memungkinkan orang-orang seperti Ariel Sharon untuk bermimpi mengubah peta Timur Tengah dengan bantuan ancaman tak langsung dari kekuatan nuklir.�
Dilaporkan, Israel sudah mulai memproduksi senjata-senjata nuklir sebelum perjanjian non-proliferasi (tidak mengembangkan) nuklir diumumkan secara resmi pada 1968. Namun Israel telah menolak seluruh upaya internasional dan AS untuk menandatangani perjanjian atau membuka fasilitas-fasilitas nuklirnya bagi pengawasan internasional. Alasannya jelas, karena sejak 1968, menurut CIA, Israel telah memiliki senjata-senjata nuklir.
Serangkaian laporan intelijen yang bocor dan cerita-cerita di balik berita sejak itu mengemukakan tentang kemajuan program nuklir Israel yang ambisius. Namun rincian asli dari program Israel baru diketahui publik pada 5 Oktober 1986, ketika Mordechai Vanunu, seorang pekerja yang tidak puas di Dimona, berbicara pada Sunday Times terbitan London.
Vanunu melaporkan bahwa Israel mempunyai "paling sedikit 100 hingga 200 senjata nuklir." Dia mengungkapkan bahwa Israel telah memproduksi senjata-senjata selama dua puluh tahun dan bahwa kini ia merupakan kekuatan nuklir terdepan. Tidak ada pejabat AS atau ahli fisika nuklir yang menyanggah keterangan tersebut.
Jadi Israelkah dalang bom Bali? Wallahua�lam.