Assalamu'alaikum WW
Yo langang bana balerong sabtu iko, ........, daripado bamanuang surang,bisa
dibaco artikel diabawah.... ikolah Tradisi dan realita-nya......
wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - Depok
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0211/09/daerah/trad41.htm
Tradisi "Balimau" di Minangkabau
Kompas/Yurnaldi
TAK ada peristiwa unik dan menarik menjelang Ramadhan, selain balimau. Ini
tradisi khas di Minangkabau, Sumatera Barat (Sumbar). Benar kata peribahasa;
lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Barangkali, karena itu
sebagian besar orang Padang (begitu etnis lain menyebut etnis Minangkabau,
Sumatera Barat) sehari menjelang puasa, mencari lubuk untuk balimau.
Kalau Anda pernah melihat orang Hindu di India mandi beramai-ramai di Sungai
Gangga, maka seperti itu pulalah prosesi sebagian besar masyarakat Minang,
Sumatera Barat, menyambut Ramadhan. Mandi beramai-ramai di (lubuk) sungai
atau ke danau atau ke pantai. Tua-muda, lelaki-perempuan, anak-anak sampai
orangtua, menantu-mertua, tampak berbaur dalam suasana suka dan
riang-gembira. Mandinya sampai kedinginan segala.
Begitulah balimau dalam konteks kekinian, seperti yang sempat dipantau
Kompas, Selasa (5/11), di sejumlah lokasi pemandian alam favorit, antara
lain di Lubuk Minturun, Lubuk Peraku, dan Pantai Padang (Kota Padang), Danau
Singkarak (Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanahdatar). Sungguh ramai
masyarakat Minang yang balimau di tempat pemandian tersebut, meski diguyur
hujan lebat.
Ruas-ruas jalan menuju dan dari lokasi pemandian macet hingga sepanjang satu
kilometer seperti di Lubuk Minturun. Di bawah guyuran hujan, puluhan polisi
sibuk mengatur arus kendaraan yang dijubeli penumpang dan "meraung-raung"
sembari membunyikan klakson. Pasangan muda-mudi, yang umumnya bersepeda
motor tampak larut dalam kesenangan, sampai-sampai melanggar batasan-batasan
dalam adat dan agama. Memang, begitulah kenyataannya.
Biasanya, prosesi balimau tersebut berakhir menyusul tenggelamnya sang surya
di ufuk timur atau menjelang azan magrib tiba.
***
BALIMAU dalam terminologi orang Minang adalah mandi menyucikan diri (mandi
wajib, mandi junub) dengan limau (jeruk nipis), ditambah ramuan alami
beraroma wangi dari daun pandan wangi, bunga kenanga, dan akar tanaman
gambelu, yang semuanya direndam dalam air suam-suam kuku. Lalu, dibarutkan
(dioleskan) ke kepala.
"Ramuan tradisional untuk balimau tersebut adalah warisan turun-temurun
sejak dulunya, sejak puluhan tahun lalu bahkan konon sejak ratusan tahun
lalu," kata Etek Tiar (47), warga Ketaping, yang menjadi pedagang balimauan
di samping Kantor Balaikota Padang.
Etek Tiar mengaku, ramuan balimau yang dijualnya laku bana, hingga
mendatangkan keuntungan ratusan ribu rupiah per hari. "Saya menjualnya hanya
Rp 1.000 per bungkus. Tiap bungkus berisi segenggam ramuan berisi irisan
limau (jeruk nipis), irisan pandan wangi, bunga kenanga, dan akar gambeli
yang dicincang," kata Etek Tiar, yang berjualan sejak Jumat dan berakhir
Selasa (5/11).
Sedang Riza, siswi SMU PGRI 1 Padang, yang memanfaatkan waktu libur
berjualan ramuan balimau dengan orangtuanya, mengaku mendapat penghasilan Rp
600.000 sampai Rp 1,2 juta per hari. "Lumayanlah hasilnya untuk biaya
sekolah dan beli baju baru," kata Riza, sedikit malu-malu. "Ini rezeki
menjelang Ramadhan, rezeki dadakan," tambahnya.
Di Pasar Raya Padang, terdapat sekitar 10 pedagang ramuan balimauan, dengan
penghasilan Rp 400.000 sampai Rp 1,2 juta per hari. Sedang di lokasi
balimau, masyarakat setempat juga mendapatkan penghasilan lumayan dari
penjualan jagung rebus, kacang rebus, goreng pisang, dan makanan lainnya.
Termasuk hasil dari jasa parkir dan tiket masuk ke lokasi. Ternyata, tradisi
balimau juga mendatangkan rezeki bagi pedagang yang jeli, yang pandai
memanfaatkan situasi.
***
DIBANDING prosesi balimau dulu, awal-awal mentradisinya, maka prosesi dari
tradisi balimau sejak satu-dua
dasawarsa terakhir di ranah yang punya filosofi adat basandi syarak, syarak
basandi kitabullah ini terjadi kesalahkaprahan. Terjadi pergeseran makna.
Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar H Mas'oed Abidin
mengatakan, sebetulnya tradisi balimau masyarakat Sumbar atau "masyarakat
Minang" dari awalnya positif. Mendapat dukungan agama.
"Karena balimau pada awalnya tradisi jelang-menjelang; lazimnya, orang yang
baru nikah menjelang orangtua/ mertua. Salah satu persyaratan biasanya limau
kasai (ramuan balimau), karena dulu belum ada semacam sampo seperti
sekarang. Tujuannya, orang yang didatangi agar dapat membersihkan diri,
menyucikan diri," katanya.
"Tempatnya pun tidak di tempat-tempat pemandian umum, tapi di tempat
pemandian masing-masing."
Menurut Mas'oed, inti dari tradisi balimau sebenarnya adalah mengeratkan
tali silaturrahmi. Kemudian, menyucikan diri sejalan dengan ajaran agama
Islam. Islam itu sangat suka kebersihan dan kebersihan itu sebagian dari
iman.
Senada dengan itu, Suhendri Datuk Siri Maharajo, Ninik-Mamak di Nagari
Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam mengatakan, balimau merupakan
ajang silaturrahmi, di mana anak-kemenakan biasanya mengoleskan ramuan
balimau ke kepala para mamaknya. Tradisi ini masih melekat pada sebagian
daerah sampai sekarang di Minangkabau.
"Hanya oleh sebagian masyarakat, balimau disalahartikan sebagai hura-hura,
mandi bersama-sama ke tempat-tempat pemandian umum, seperti sungai dan
danau, juga laut. Sehingga inti dari bersuci itu bersih secara spiritual dan
agama tidak bertemu lagi," katanya.
Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar H Kamardi
Rais Datuk P Simulie menegaskan, balimau bukanlah adat, tapi tradisi
Masyarakat Minang yang sudah ada sejak zaman Belanda. "Dulu balimau lambang
dari pensucian diri, sesuai dengan syarak dan adat. Kini, dalam praktiknya,
karena pengaruh global tidak lagi sesuai syarak dan adat," katanya.
Menurut kalangan agama dan adat itu, sekarang ini telah terjadi pendangkalan
makna dan salah kaprah dalam balimau pada sebagian besar masyarakat, umumnya
kalangan muda. Kamardi Rais, misalnya, melukiskan terjadinya "sumbang 12" di
kalangan perempuan, seperti sumbang duduk, sumbang tegak, sumbang tanya, dan
sumbang jawab. Ia mencontohkan, terjadi sumbang duduk misalnya, perempuan
yang kini cenderung bercelana ketat (blue jeans), suka duduk mengangkang.
Hal ini jelas tidak baik, tidak pantas, dan tidak sopan.
Kata Mas'oed Abidin, terjadi ekses negatif atau salah kaprah dari tradisi
balimau, seperti muda-mudi berbuat maksiat, karena adanya pergeseran budaya;
karena kita meniru apa yang ada pada orang lain. Sementara itu, juga terjadi
pendangkalan agama.
"Tradisi balimau yang sudah membudaya tidak bisa dihapus. Ia akan terus
berjalan sepanjang zaman. Tugas kita, tugas keluarga, tugas ninik-mamak, dan
unsur-unsur lainnya dalam masyarakat adalah bagaimana mengurangi ekses
negatifnya," tambah Wakil Ketua MUI Sumbar itu.
_________________________________________________________________
The new MSN 8: smart spam protection and 2 months FREE*
http://join.msn.com/?page=features/junkmail
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

