Hidayatullah dan Isu Teroris (1)
Berita Sesat dari �Bocoran� CIA
Reporter : M. Munab Islah Ahyani
detikcom - Balikpapan, Pesantren Hidayatullah Balikpapan jadi kamp pelatihan teroris. Berita ini muncul setelah media massa asing mendapat �bocoran� CIA. Sulit dimengerti berita versi CIA itu. Mana ada kamp latihan teroris bersebelahan dengan asrama tentara.
Laporan CIA itu menyebutkan Pesantren Hidayatullah, yang berada di Gunung Tembak Balikpapan, Kalimantan Timur merupakan salah satu pusat gerakan Islam radikal di Indonesia. Katanya, inilah salah satu tempat pelatihan milisi dengan model pelatihan ala tentara.
Serunya lagi, Omar al-Faruq, tokoh yang disebut-sebut AS merupakan orang kunci jaringan Al-Qaeda di Asia Tenggara, bertindak sebagai pelatih penting di sana.
Apa yang terjadi di Pesantren Hidayatullah seakan-akan benar adanya, ketika beberapa media massa asing tidak melakukan pengecekan ke lapangan atau klarifikasi. Bahkan mereka menyebut, para santri di pesantren itu dididik agar anti-Amerika.
Seperti apa sebetulnya Pesantren Hidayatullah itu? Untuk memberi gambaran yang benar tentang pesantren itu, Kamis-Jumat (7-8/11/2002) kemarin, detikcom diundang oleh Pengurus Pesantren Hidayatullah untuk menyaksikan langsung kegiatan pesantren tersebut.
Pesantren yang sudah melebarkan sayapnya hingga ke berbagai propinsi itu terletak di satu kawasan yang ditata apik dan asri di kawasan Gunung Tembak, sekitar 40 km dari Balikpapan.
Kompleks Pesantren Hidayatullah sendiri terdiri dari masjid, gedung pertemuan umum, ruang belajar, bedeng-bedeng perbengkelan mesin dan alat-alat pertanian, ladang luas tempat para santri praktik bertani, sebuah danau buatan yang asri sebagai reservoar air bagi kawasan Desa Gunung Tembak, dan asrama bagi santri putra/putri, serta perumahan ustaz. Total jenderal, luas areal sekitar 170 hektar.
Nama Gunung Tembak itu sendiri memang sudah dipakai sejak jaman Belanda. Selain dipakai tentara KNIL untuk latihan menembak, kawasan itu juga dikabarkan merupakan tempat eksekusi musuh-musuh Belanda dan Jepang dengan cara ditembak.
Namun kawasan yang awalnya gersang dan merupakan daerah genangan air kala air laut pasang serta musim hujan itu, kini sudah berubah. Pembenahan yang dilakukan Pesantren Hidayatullah ini berbuah dengan diperolehnya
penghargaan Aga Khan Award dan dua kali penghargaan Kalpataru.
Setiap tahun para menteri kabinet diundang bergilir untuk menghadiri dan memberikan nasihat perkawinan kepada para santri yang tamat, yang senantiasa ditutup dengan acara nikah massal para santrinya.
Tak jauh dari lokasi pesantren, di Desa Mandari terdapat markas dan asrama Batalyon Infanteri 600/Lintas Udara, satu pasukan cadangan pemukul taktis dari Kodam VI/Tanjungpura. Tak jauh pula dari situ, terdapat markas kesatuan TNI AU yang bertugas mengamankan kawasan udara dan bandara internasional Sepinggan, Balikpapan.
Di kawasan Desa Gunung Tembak sampai ke Samboja di Balikpapan tidak ada lapangan tembak, atau lajur halang rintangan, atau kawat berduri, yang menandai adanya suatu kamp untuk kegiatan latihan militer. Yang ada ialah ladang-ladang yang subur.
Sulit membayangkan pandirnya orang yang mendirikan kamp latihan militer swasta di dekat pangkalan markas pasukan-pasukan TNI. Tapi soal kamp latihan militer untuk Islam radikal itu langsung ditelan begitu saja oleh media massa asing. Sebuah berita sesat yang diolah dari �bocoran� dokumen CIA.
(mmi,diks)
=======================================
Hidayatullah dan Isu Teroris (2)
Pesantren Justru yang Terteror
Reporter : M. Munab Islah Ahyani
detikcom - Balikpapan, Sejak munculnya berita bahwa Pesantren Hidayatullah jadi ajang latihan militer kelompok Islam radikal, pihak pesantren yang justru merasa terteror. Abu Bakar Ba�asyir memang pernah berkunjung pada 2001, tapi itu hanya mampir dan silaturahmi biasa.
Demikian diungkapkan oleh Ustadz Syamsurizal, Direktur Kampus Pesantren Hidayatullah kepada detikcom yang diundang untuk meninjau langsung aktivitas Pesantren Hidayatullah, di Gunung Tembak, 40 km dari Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis-Jumat (7-8)/11/2002) lalu.
"Kami yang justru terteror dengan tuduhan pesantren kami sebagai pusat pelatihan teroris," kata Syamsurizal berkaitan dengan tuduhan terhadap pesantren yang dikelolanya.
Syamsurizal lebih jauh menuturkan, selama hampir 20 tahun tinggal di pesantren itu, belum pernah sekali pun kedatangan tamu yang bernama Omar al-Faruq yang disebut-sebut sebagai tersangka utama peledakan di beberapa tempat di Indonesia itu.
"Kalau Ustadz Abu Bakar Ba'asyir, tahun 2001 memang pernah singgah ke mari. Tapi itu juga kunjungan singkat, karena beliau ingin berziarah ke makam KH Abdullah Said, pendiri pesantren ini," tuturnya lagi.
Secara umum, kehidupan dan aktivitas di pesantren menurutnya hingga saat ini masih berlangsung normal. "Sejauh ini memang normal. Tapi tidak tahu nantinya, kalau orangtua para santri kami menjadi khawatir dan was-was dengan isu itu dan melarang mereka datang kembali ke mari. Tapi Insya Allah semua akan baik-baik saja. Kami serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT," kata Syamsurizal.
Aparat keamanan sendiri menurutnya juga tidak ada persoalan apa pun dengan aktivitas yang ada di pesantren itu. Memang, begitu isu kamp pelatihan teroris itu muncul beberapa petugas ada yang datang. "Tapi petugas-petugas yang datang itu juga sudah kenal baik dengan kami di sini. Jadi datang lebih hanya untuk menjaga silaturahmi saja dan tidak ada persoalan apa pun," tambahnya.
Hubungan dengan aparat keamanan itu sendiri menurutnya sudah terbina baik sejak pesantren berdiri. Bahkan karena lokasi pesantren yang cukup menantang dengan adanya danau buatan untuk reservoir air, beberapa kali lokasi pesantren dipinjam untuk latihan tentara.
"Logikanya saja, apa mungkin dilakukan latihan paramiliter oleh milisi swasta di sini tanpa ketahuan tentara. Lokasi kami begitu dekat dengan pangkalan mereka dan hampir tiap waktu ada interaksi dengan mereka. Tentara sering datang ke sini membantu kami bersama-sama melakukan kerja bakti," paparnya.
Pesantren Hidayatullah sendiri dalam melaksanakan aktivitasnya selalu berpegangan kepada prinsip teguh dalam akidah namun lemah lembut dan santun dalam penyampaian. Pilar aktivitas Hidayatullah sendiri ada pada bidang pendidikan, dakwah dan sosial.
(mmi,diks)
===========================================
Hidayatullah dan Isu Teroris (3)
Bergesekan di Daerah Konflik
Reporter : M. Munab Islah Ahyani
detikcom - Balikpapan, Bagaimana menjelaskan munculnya tuduhan bahwa Pesantren Hidayatullah merupakan tempat berkumpulnya teroris? Pimpinan pesantren itu menduga, ini merupakan akibat gesekan kegiatan Hidyatullah di daerah konflik.
Demikian diungkapkan Ustadz H Abdurrahman Muhammad, Ketua Dewan Syariah Pesantren Hidayatullah kepada detikcom yang diundang untuk meninjau langsung aktivitas Pesantren Hidayatullah, di Gunung Tembak, 40 km dari Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis-Jumat (7-8/11/2002) lalu.
"Barangkali, ini memang resiko Hidayatullah yang tersebar ke mana-mana, termasuk juga di daerah-daerah konflik seperti di Poso dan Maluku. Akibatnya, secara tidak sengaja, kami pun bersinggungan bahkan bergesekan dengan pihak-pihak di sana, karena Hidayatullah sudah ada lebih dulu di sana," tutur Abdurrahman Muhammad.
Abdurrahman menuturkan, sedikitnya ada 5 cabang pesantren Hidayatullah yang menjadi sasaran aksi kerusuhan pada kurun 1997-2000 lalu. Sebagian besar pesantren ini berada di Kawasan Indonesia Timur, yaitu di Wamena dan Merauke (Papua), Masohi (Maluku), Poso (Sulawesi Tengah) dan Sanggau Ledo (Kalimantan Barat). Dalam aksi-aksi kerusuhan itu, bangunan pesantren dirusak dan sejumlah santri maupun anak-anak yatim yang diasuhnya harus diungsikan.
Kejadian itu menurut Ustadz Abdurrahman memberikan pelajaran yang teramat berharga bagi jajaran santri. Ternyata keamanan pesantren dan juga jiwa mereka, hanya bisa dijaga oleh mereka sendiri karena keterbatasan aparat keamanan.
"Cabang-cabang Pesantren Hidayatullah tidak ingin mengalami kejadian tragis seperti Pesantren Walisongo di Situwulembah Poso, yang dimusnahkan dan sekitar 300 orang santri dan warganya dibantai habis pada 2000 lalu," tuturnya.
Atas dasar itulah, Hidayatullah kemudian bertekad menjaga keamanan pesantrennya sendiri. "Kami susun program latihan fisik dan pertahanan diri bagi para santri. Namun fungsinya juga tidak lebih sebagai regu pengamanan layaknya hansip atau satpam," tutur Ustadz Abdurrahman lagi.
Karena itu, menjadi hal yang berlebihan manakala olahraga pagi hari yang dilakukan untuk menjaga kebugaran dan fisik para santri, kemudian disebutkan sebagai latihan kemiliteran. "Bisa dilihat sendiri, olahraga macam apa yang kami lakukan," katanya lagi.
Di sisi lain, Hidayatullah juga berusaha menjaga keras tradisi dan pesona yang dimilikinya. Setiap Kamis malam misalnya, di Pesantren Hidayatullah Karang Bugis Balikpapan selalu menggelar pengajian yang sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Selain itu, tradisi memuliakan tamu (ikramudh-dhaif) juga sangat dijunjung tinggi. Hampir di semua cabang pesantren itu selalu disediakan kamar khusus bagi tamu yang datang menginap.
"Kalau yang datang berkunjung itu adalah orang yang datang dengan niat tertentu, tentu saja kami sama sekali tidak tahu. Yang kami pegang adalah, memuliakan tamu adalah kewajiban setiap muslim untuk siapa saja yang datang berkunjung," papar Ustadz Abdurrahman.
Hidayatullah pun kini tetap membuka diri bagi siapa saja yang ingin berkunjung dan merasakan kehidupan di bulan Ramadhan ala pesantren.
(diks,mmi)