|
Republika On Line:
Minggu, 10 Nopember 2002 Amrozi Dituduh Merakit Bom Bali
DENPASAR -- Kejutan demi kejutan terus mengalir dari tim investigasi kasus bom Bali. Setelah menyatakan Amrozi sebagai tersangka dan memboyong KH Zakaria --pimpinan Ponpes Al Islam di Desa Tenggulun, Lamongan, Jatim-- ke Denpasar, tim investigasi kini menduga bom yang mengguncang Pantai Kuta itu hasil rakitan Amrozi dkk.
''Kita telah temukan residu di sebuah rumah di Denpasar. Kuat dugaan kalau bom yang meledak di Kuta itu dirakit di tempat tersebut,'' kata Brigjen Pol Drs Edward Aritonang, kepala penerangan tim investigasi kasus bom Bali di Denpasar, Sabtu (9/11). Meski masih perlu penelitian, tambahnya, dugaan bahwa temuan residu tersebut adalah ceceran dari bahan pembuat bom sudah mendekati kepastian.
Sisa-sisa bahan kimia serta residu bom rakitan, menurut Aritonang, kini sedang diperiksa di Laboratorium Forensik Polri Cabang Denpasar. Upaya ini penting untuk mencocokkan temuan residu dengan bahan peledak yang konon dibeli tersangka Amrozi (40) dari seorang pedagang bahan kimia di Surabaya, Jatim.
Mungkinkah bom yang meledak begitu hebat dan menewaskan hampir 200 orang di Bali itu adalah bom rakitan domestik? Bila ya, alangkah hebatnya Amrozi, seorang pemuda lugu yang pendidikannya tak pernah tamat SMP! Joe Vialls, ahli bom dan investigator independen dari Australia, tak percaya dengan kemungkinan itu. ''Bom itu bahkan jauh lebih hebat dari C-4 dan tidak mungkin dibuat orang amatiran. Hanya profesional dari negara tertentu saja yang bisa membuatnya.''
Klaim adanya residu bom rakitan tentu saja membuka wacana baru soal jenis bom yang sebenarnya meledak di Kuta. Untuk kesekian kalinya, jenis bom di sana juga berubah. Mula-mula disebut C-4, kemudian dikoreksi menjadi TNT dan RDX (bahan baku mayoritas untuk bom C-4). Kini, skenario jenis bom boleh jadi akan berubah menjadi bom rakitan, dan bahannya potasium klorat atau amonium nitrat, seperti pernah diungkap Dubes AS Ralph L Boyce.
Potasium klorat (90%) dengan parafin (10%) memang bisa dibuat bom rakitan, tetapi kekuatan ledaknya sangat rendah (low-explosive). Rakitan terbaik yang dibuat oleh profesional hanya punya detonasi 3.500 kaki per detik (fps). Amonium nitrat dengan minyak diesel bisa menghasilkan detonasi maksimum 12.000 fps. Bom RDX bisa berdetonasi sampai 27.800 fps.
Dari hasil investigasinya, Joe Vialls, menyimpulkan bom di Bali punya daya ledak luar biasa. Mencapai jutaan fps, jauh di atas kemampuan RDX dan TNT, apalagi potasium klorat dan amonium nitrat. Kekuatan gelombang kejutnya (shock-wave) 1-1,5 juta pound per inci persegi (ppsi). Sementara bom amonium nitrat yang merusak gedung Alfred P Murrah di Oklahoma City saja hanya berkekuatan 4.800 ppsi.
''Menduga bom Bali sebagai bom rakitan dari potasium khlorat itu analisa idiot murni. Amat bodoh dan hanya mungkin dilakukan oleh karena adanya tekanan yang kuta,'' tulis Joe Vialls di situs webnya. Dia menduga tim investigasi mendapat tekanan luar biasa dari Amerika, Israel dan Australia, untuk menyimpulkan pelakunya adalah dari kalangan muslim.
Di situs webnya yang berkali-kali di-hacked, Joe Vialls malah mengungkap data baru. Yakni kehadiran militer Australia di saat kejadian. ''Kapten Rodney Cox pada saat kejadian berada pada jarak kurang dari 50 meter saja dari pusat ledakan. Dia selamat karena berada pada posisi vektor diagonal yang aman.'' Coxx juga telah memberi kesaksian bahwa dirinyalah yang berisiatif melakukan evakuasi korban kle Australia secara besar-besaran.
''Kehadiran Cox dan perannya yang bergitu besar dalam evakuasi korban di TKP mestinya menimbulkan pertanyaan. Dalam rangka apa dia hadir di sana,'' jelas Vials. Ihwal keberadaan intelijen Australia di TKP pernah dimuat dalam laporan ARMY: the Soldier' Newspaper di Australia. jun/aas
|