>Assalaamu'alaikum,
>
>Sekitar dua bulan lalu saya ditelpon oleh seseorang
>bernama Saroh yang sedang bekerja di Kalimantan
>Selatan. Menurut Saroh, ia mengetahui no telp saya
>dari beberapa temannya yang sering membaca buku saya
>dan yakin saya bisa memberi pertolongan padanya.
>
>Ia mengaku berasal dari keluarga miskin di Jawa Timur.
>Selama enam tahun ia terpaksa bekerja di sebuah
>keluarga non muslim sebagai perawat orang jompo.
>Keluarga tersebut dulu pernah menyekolahkannya dari
>SMP hingga tamat SMA. Maka sebagai balasannya, ia
>bekerja tanpa digaji, hanya sesekali diberi 50.000
>perbulan atau perdua bulan. Kalau ia minta berhenti,
>ia diharuskan membayar utang uang sekolah dan makan
>sekitar 10 jt yang selama ini dikeluarkan keluarga
>tersebut.
>
>"Aku cuma ingin sholat, mbak. Ingin bisa belajar
>ngaji," katanya di telepon. "Aku mau bekerja di tempat
>mbak. Kebetulan waktu enam tahun sudah berlalu dan aku
>bisa bebas."
>
>Saya sebenarnya tak mau menerimanya karena saya sudah
>memiliki dua khodimat di rumah. Tapi Saroh memaksa dan
>berulangkali mengatakan ia hanya ingin dibimbing
>mengenal Islam lebih dalam.
>
>Akhirnya saya jatuh kasihan dan membiarkan ia untuk
>datang dan bekerja di rumah saya secepatnya. Saya
>malah menjanjikan membayari ongkosnya ke Jakarta.
>
>Seminggu kemudian, tepatnya 16 September Saroh sudah
>tiba di rumah saya, diantar oleh seorang laki-laki
>yang ia akui sebagai tetangganya dulu di kampung. Di
>Jakarta Saroh mengaku tak memiliki sanak saudara.
>
>Saya mewawancarainya sebentar. Ia cerita banyak hal
>dengan gaya yang gagap dan terkesan lugu. Saya katakan
>saya hanya bisa menggajinya 250 rb/bulan karena di
>rumah saya sudah ada dua khadimah lain. Ia malah
>mengatakan jumlah itu terlalu besar. Sekali lagi ia
>mengulang perkataannya di telepon bahwa ia cuma mau
>saya membimbingnya lebih mengenal Islam dan sebagai
>tanda terimakasih, ia mau menjadi khadimah di rumah
>saya.
>
>Saroh ini berusia sekitar 25 tahun dan kalau ke luar
>rumah selalu mengenakan jilbab. Tapi kalau di dalam
>rumah ia bebas saja meski banyak laki-laki (ada suami,
>bapak dan adik lelaki saya).
>
>Karena kasihan padanya hari ke dua di rumah saya, saya
>dan mama sudah memberinya macam-macam, dari mulai
>pakaian, tas dan lain-lain. Apalagi ia suka sekali
>bebenah. Semua yang berantakan ia rapikan. Ia juga
>berkata bahwa ia tak akan pulang lebaran ini ke
>kampungnya karena ia kasihan pada saya mengingat dua
>khadimat saya sebelumnya pasti akan pulang kampung
>paling tidak H-7 sebelum lebaran. "Tenang aja deh, bu.
>Ibu baik sekali sama aku. Pokoknya aku mau di sini.
>nanti kalau dua mbak itu kembali baru aku pulang
>kampung," ujarnya meyakinkan.
>
>Saya pun mencarikannya guru mengaji. Kebetulan anak
>saya Faiz memiliki guru les yang juga biasa mengajar
>mengaji. Maka tiap minggu pukul 13.30, saya memberinya
>ongkos dan Saroh pergi mengaji di daerah Cilangkap.
>
>Hari berlalu. Herannya sejak ada Saroh, keadaan di
>rumah lebih sering 'panas'. Dua khadimah saya yang
>lain kelihatannya tak suka padanya. Sementara itu
>barang-barang mulai banyak yang hilang. Tapi saya
>pikir
>mungkin terselip entah di mana. Saya katakan pada dua
>khadimat saya yang lain untuk tidak berprasangka pada
>Saroh. Awalnya salah satu di antara mereka yang sudah
>bekerja 8 tahun pada saya berkata bahwa Saroh tidak
>pernah mau membantu bekerja. Ia lebih banyak tidur,
>pagi maupun siang. Tapi saya tak menanggapi karena
>selama saya ada di rumah saya lihat ia justru yang
>paling rajin dibandingkan kedua khadimat saya lainnya.
>Tapi selintas saya dengar khadimat saya yang lain
>bergumam, "itu kan hanya depan ibu saja." Lagi-lagi
>saya tak menanggapi. Sesekali saya bertanya pada Saroh
>bagaimana dengan pengajian yang diikutinya. Ia bilang
>bagus dan ia senang.
>
>Suatu hari, setelah hampir sebulan setengah bekerja di
>rumah saya, Saroh menelpon wartel di kampungnya--yang
>memanggilkan keluarga Saroh yang tak jauh dari wartel
>tersebut, bila Saroh ingin bicara. Saroh pun
>menghampiri saya dengan wajah lesu dan mengatakan
>ayahnya ingin menjual tanah mereka yang sepetak dan
>untuk penjualan itu diperlukan tanda tangan Saroh
>karena oleh ayahnya tanah itu sudah diwariskan
>padanya. Tanah itu harus segera dijual untuk biaya
>operasi sang ayah yang sakit sepulang menjadi TKI
>Illegal di Malaysia.
>
>Tentu saja saya tak bisa menahannya. Apalagi ia bilang
>ayahnya sudah harus segera dioperasi. "Aku akan balik,
>bu. Aku senang sekali di sini. Ibu baik sekali. Aku
>bisa ngaji. Pokoknya paling lama aku cuma seminggu di
>Jawa," katanya.
>
>Saya pun segera membayar gajinya selama satu setengah
>bulan, tambah bonus ini itu dan membekalinya
>macam-macam. Ketika saya tanyakan pada anak saya
>Faiz apakah ia mau mbak Sarohnya kembali, Faiz yang
>belum berusia 7 tahun nyelutuk, "Ah bunda. Terserah
>dialah. Dia kan baiknya kalau di depan bunda dan ayah
>saja!"
>
>Saya terkejut dan menegur Faiz untuk tak bicara
>seperti itu. Tapi Faiz tanpa tak peduli dan tidak
>sedih Saroh pulang.
>
>Keesokan harinya, pagi-pagi saya sudah ke kampus.
>Rumah sepi dan hanya ada dua khadimat saya yang lain
>yang menyaksikan kepergian Saroh.
>
>Tiga hari kemudian, barulah kami serumah sadar telah
>menjadi korban penipuan dari orang yang bernama Saroh
>ini. Beberapa barang berharga milik saya, mama
>dan suami hilang. Juga barang-barang bagus milik Faiz.
>Belum lagi sepatu, tas, jam, CD, baju, bros, koin mas,
>mutiara, uang dan lain-lain.
>
>Saya pun segera menyelidiki kembali siapa si Saroh
>itu. Saya ingat, pernah memfotokopi KTPnya. Tapi tas
>kecil tempat saya menaruh fotokopi identitasnya itu
>sudah kosong sama sekali dan terlihat bekas
>diacak-acak.
>
>Saya mengecek ke pada guru ngaji yang diikutinya
>selama sebulan ini. Apa jawab ukhti tersebut? "Lho,
>dia nggak pernah datang ngaji sama sekali mbak.
>Katanya tiap minggu dia harus anter Faiz berenang!"
>
>Saya dibohongi!
>
>Khadimat saya yang lain berkata bahwa pernah ia ingin
>ikutan ngaji, tapi oleh Saroh tak diperbolehkan.
>"Ngajinya bayar, mbak. Kasihan nanti ibu. Aku aja
>bayar 30 ribu pakai uang ibu." Ya, Allah. padahal itu
>pengajian gratis!
>
>Baru kemudian dua khadimat saya lainnya benar-benar
>buka suara. Mereka bilang, Saroh hanya tidur-tiduran
>bila saya dan suami tak ada. Ia tak mau menemani atau
>mengajari faiz sama sekali. Bahkan ia malas membujuk
>Faiz makan. Ia sering membuang nasi yang seharusnya
>dimakan Faiz. Ia berani meminta baju atau barang
>lainnya pada khadimat-khadimat saya yang lain.
>Pernah mereka melihat ia memasukkan barang-barang saya
>ke dalam tasnya. Tapi Saroh bilang ia diberi oleh
>saya. Ia juga sangat jorok dan sering mencolek makanan
>dengan tangannya begitu saja dimasukkan ke mulut. Dan
>ternyata...selama di rumah saya...meski punya banyak
>kesempatan, ia malah hampir tak pernah shalat! Ia juga
>punya adik kandung yang tinggal di Ciracas, tak jauh
>dari rumah saya. Sikapnya juga sangat kurang ajar, sok
>tahu dan kasar. Seorang khadimat saya mengatakan bahwa
>tiap minggu jam 13.30 (semestinya jadwal ngaji
>Saroh---saya tak di rumah), Saroh selalu pergi
>membawa tas besar berwarna hitam, dan pergi lewat
>pintu belakang. Pulangnya tas itu terasa kempis.
>
>"Lho kenapa kalian nggak cerita pada saya sebelumnya?"
>tanya saya pada mereka. Tapi dua khodimat saya itu
>mengatakan tak berani menceritakannya karena ingat
>karakter saya yang nggak suka mendengar keburukan
>orang
>diomongin. "Nanti kami dikira iri padanya, bu. Apalagi
>karena ia pakai jilbab akhir-akhir ini ibu sama bapak
>kelihatan lebih percaya padanya. Ia juga pintar
>mengambil hati bapak sama ibu," kata mereka.
>
>Begitulah, teman. Saya ditipu habis-habisan oleh
>perempuan bernama Saroh yang menjadikan Islam,
>menjadikan jilbab sebagai kedok untuk menipu. Lebih
>lanjut, saya khawatir Saroh ini bagian dari sebuah
>kelompok yang biasa mengutus orang-orangnya bekerja
>sebulan dua bulan untuk mengetahui kondisi rumah dan
>tempat barang berharga diletakkan. Maka saya pun
>segera mengganti kunci semua pintu di rumah saya.
>Apalagi kunci-kunci itu pernah hilang selama beberapa
>hari saat Saroh bekerja di rumah, lalu secara
>tiba-tiba ditemukan begitu saja tergeletak di meja.
>
>Oh ya, ciri-cirinya: usia 25 th, kulit hitam, wajah
>berjerawat, mulut lebar, rambut panjang berombak
>sering diikat ke belakang (kalau keluar pakai jilbab
>warna ngejreng), kalau bicara terkesan gugup,logat
>Jawa, suka membawa buku kemana mana.
>
>Kalau anda menemukannya, atau suatu ketika ia melamar
>kerja di rumah anda, segera hubungi polisi, sebelum
>anda menjadi korban berikutnya. Mungkin ia buronan
>yang selama ini sudah dicari-cari.
>
>Wassalam
>