Tabarruj - Memamerkan Aurat
Sumber: Ni'mah Rasyid Ridha, bit tasharruf asy syadid waz
ziyadah.
Bila seorang wanita tidak memakai penutup kepala maka ia telah
bertabarruj. Bila ia membiarkan lengan tangannya tidak terbungkus kain
maka ia telah bertabarruj. Bila ia mempertontonkan betisnya dinikmati
orang maka ia telah bertabarruj. Apatah lagi jika aurat wanita itu malah
dilombakan. Kontes bibir indah, leher indah, betis indah, rambut indah
dsb. Semua itu tak syak lagi, termasuk tabarruj. Pendeknya, tabarruj,
sebagaimana dikatakan Imam Al Bukhari adalah perbuatan wanita yang
memamerkan segala kecantikan yang dimilikinya.
Tabarruj diambil dari akar kata al buruj yang berarti bangunan benteng,
istana atau menara yang menjulang tinggi. Wanita yang bertabarruj berarti
wanita yang menampakkan tinggi-tinggi kecantikannya, sebagaimana benteng
atau istana atau menara yang menjulang tinggi-tinggi.
Tabarruj adalah perbuatan nista yang tegas-tegas diharamkan Allah. Allah
berfirman: "Katakan lah kepada wanita-wanita yang beriman:
"Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa)
nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung
kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami
mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera
mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara saudara mereka,
atau putera-putera saudara-saudara perempuan mereka." (An Nur;
31)
Tidak Tahu Malu. Wanita yang bertabarruj kurang lebih sama dengan orang
yang menawarkan kecantikannya untuk dinikmati orang lain. Ia menja
jakannya di jalan-jalan, di pasar-pasar dan di berbagai tempat pertemuan.
Laksana seorang penjual gula-gula yang menghiasi barang dagangannya
dengan warna-warni yang menarik dan kertas-kertas yang mengkilat,
sehingga mengundang perhatian dan membangkitkan selera.
Demikianlah, wanita yang bertabarruj biasanya memoles bibirnya dengan
lipstik, memakai parfum yang wanginya menyengat hidung, mengenakan
pakaian warna-warni, ketat dan pendek, jalannyapun melenggak-lenggok.
Bila berbicara suaranya dibuat mendesah agar bisa memikat dan menyihir
laki-laki.
Lisanul hal (fakta diri wanita) itu seakan berkata kepada setiap
laki-laki yang ditemuinya: "Tidakkah kau pandang kecantikanku ini ?
Apakah ada yang senang berkencan dan bersetubuh denganku ?" Duhai,
sebegitu rendahkah harga wanita? Sebegitu tebalkah kegelapan menyelimuti
hatinya sehingga tak sebersitpun punya rasa malu bahkan malah bangga
dengan kemaksiat annya? Sebegitu kuatkah wanita menahan perasaannya,
padahal konon wanita adalah makhluk paling perasa? Sebegitu kokohkah
jiwanya sehingga tak merasa risi ketika sorot nanar mata setiap lelaki
singa menghunjam lekat pada tubuhnya ingin menerkam dirinya? Atau malah
mera sa ni'mat dengan nya? Na'udzu-billah. Nabi bersabda: "Jika
memang tak tahu malu, lakukanlah setiap apa yang kamu mau", demikian
kemurkaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Kecantikan Sejati. Biasanya, yang memotivasi wanita bersolek dan
berhias adalah agar dirinya dikatakan dan dipandang cantik oleh laki-laki
sehingga tertarik padanya. Maka, untuk mengejar target cantik ini wanita
terkadang rela mengorbankan segalanya, bahkan hingga reputasinya sebagai
wanita muslimah yang terhormat.
Di sini, banyak wanita yang lupa tentang kecantikan sejati. Mereka
mati-matian membentuk dan mengolesi setiap anggota tubuhnya dengan bahan
kosmetika. Benarkah dengan demikian mereka menjadi cantik? Tidak, tetapi
malah sebaliknya. Bibir basah yang diolesi lipstik merah menyala adalah
seperti anjing yang baru menjilat darah mengalir. Pipi kemerah-merahan
dan alis yang berbentuk bulan sabit mengingatkan kita pada alis-alis
setan yang digambarkan dalam berbagai dongeng. Kuku yang dicat merah,
seperti kuku binatang pemakan daging yang tercelup oleh darah binatang
mangsanya. Sedang melakukan telanjang dada, lengan, betis, buah dada
membuat lelaki sulit membedakan antara dirinya dengan seorang pelacur.
Mengapa manusia memperburuk diri? Segala sesuatu yang melewati
batas akan menjadi sebaliknya. Kecantikan yang hakiki adalah karya Allah,
Dzat yang mencipta segala sesuatu secara cermat dan sempurna.
Seorang pelukis yang piawai adalah yang mampu meniru kecermatan ciptaan
Allah. Dia mencoba memperhatikan unsur-unsur alaminya dari segala sudut
secara sempurna. Kalau sampai dia berle bihan, atau mengubah salah satu
warna atau menempatkan satu bagian tidak pada tempatnya maka akan
berantakanlah pekerjaannya.
Demikian pula wanita. Sudah berapa banyak wanita yang mengotori
kecantikannya dengan bersolek secara berlebih-lebihan? Sudah berapa
banyak wanita yang menjadi korban alat-alat kosmetika, ingin mempercantik
diri tapi malah menjadi tertawaan orang?
Kecantikan yang sesungguhnya adalah kecantikan alami. Warna merah rona
wanita yang timbul dari rasa malu, jauh lebih indah dan tak tertandingi
oleh warna merah kosmetik yang terbaik sekalipun. Bagaimanapun juga,
tangan manusia tidak akan mampu meniru kecantikan yang dicip takan oleh
Allah.
Daya Tarik Wanita. Sebagian wanita mengira kecantikan adalah daya
tarik satu-satunya yang bisa menawan setiap lelaki. Karena itu, seharian
yang diurusnya adalah bagaimana bisa tampil cantik dan memamerkan
keindahan tubuhnya. Benar, dengan penampilannya yang cantik dan erotis ia
akan bisa memikat banyak laki-laki. Tetapi keterpikatan itu bukan untuk
sesuatu yang suci. Sebaliknya, untuk tenggelam bersama wanita
tersebut dalam syahwat dan lumpur dosa. Selanjutnya sikap demikian itu
akan menjadi bumerang bagi wanita itu sendiri. Karena yang hampir pasti
dilakukan laki-laki itu adalah seperti dikatakan pepatah "habis
manis sepah dibuang".
Di samping, adakah laki-laki yang mau 'barang' bekas? Para lelaki akan
beranggapan, jika wanita itu dengan mudahnya melanggar perintah Allah
dengan bertabarruj maka tak menutup kemung kinan ia juga berani melakukan
yang lebih jauh dari itu. Akibatnya, tak seorang lelakipun yang
menyuntingnya sebagai isteri. Bahkan lelaki seburuk apapun akhlaknya, ia
akan lebih memilih wanita yang suci dan terhormat daripada wanita yang
tiap hari sudah 'dicicipi' oleh semua mata dan syahwat.
Identitas Wanita Suci dan Terhormat. Allah berfirman:"Hai
Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuan-mu dan
isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulur kan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
dikenal, karena itu mereka tidak diganggu..."(Al Ahzab:
59) Sebelum turunnya ayat ini, sebelum dikenal nya WC, para wanita
muslimah seperti yang lain juga buang hajat di padang terbuka. Sebagian
orang mengira kalau dia adalah budak. Ketika diganggu, wanita muslimah
itu berteriak lalu laki-laki itu pun kabur. Kemudian mereka mengadukan
peristiwa tersebut kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga
turunlah ayat di atas.
Hal ini menegaskan, wanita yang memamerkan auratnya dan mempertontonkan
kecantikan dan kemolekan tubuhnya lebih berpotensi menjadi korban
pelecehan seksual bahkan perkosaan. Sebab dengan begitu, ia telah
membangkitkan nafsu seksual laki-laki.
Adapun wanita muslimah, ia senantiasa berjilbab, membungkus dan
menyembunyikan kecantikan dan perhiasannya. Tidak ada yang kelihatan dari
padanya selain telapak tangan dan wajah menurut suatu pendapat. dan
pendapat lain mengatakan, tidak boleh terlihat dari diri wanita tersebut
selain matanya saja.
Allah mensyariatkan jilbab agar menjadi benteng bagi wanita dari gangguan
orang lain. Jilbab adalah lambang ketakwaan dan Islam. jilbab
adalah bukti masih adanya rasa malu. jilbab adalah pagar kehormatan dan
kesucian. dan ia pula merupakan identitas wanita suci dan
terhormat.
Termasuk tanggung jawab Laki-laki. Pelaku tabarruj tentu wanita. namun
itu bukan berarti laki-laki lepas tanggung jawab daripadanya. sebab,
dampak buruk tabarruj tak saja bagi wanita yang bersangkutan, tetapi juga
segenap masyarakat.
Bahkan kalau secara jujur diakui, sumber bencana tabarruj ini adalah kaum
laki-laki yang tidak becus memikul tanggung jawab sebagai pemimpin
wanita. dan itu timbul karena kebodohannya atau pura-pura bodoh. padahal
mereka dituntut untuk menjaga wanita baik selaku ayah, suami atau saudara
sebagaimana Rasul Shallallahu Alaihi wasallam bersabda
"masing-masing kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung
jawab atas kepemim pinannya." (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Mereka diperintahkan memperhatikan dan mendidik akhlak, agama,
kepentingan dunia dan akherat wanita. dan itu salah satu tugas
kepemimpinan laki-laki atas wanita, sebagaimana firman Allah: "kaum
laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita." (An Nisa': 34)
wanita yang rusak di antaranya karena didorong dan diberi peluang
oleh ayah atau suami yang juga rusak dan tidak mengenal Allah.
Betapa banyak anak wanita yang sengsara dan celaka karena disesatkan oleh
ayahnya sendiri, sehingga dia tidak mengenal agama dan tidak mengenal
rasa malu. Berapa banyak anak wanita yang merana hidupnya karena ayahnya
lemah kemauan dan menjadi budak nafsunya sendiri. dia hanya kenal Islam
dan Iman kepada Allah dan KitabNya. Dia hanya sekedar shalat, puasa dan
membaca Al Qur'an, tetapi tidak menyuruh yang baik dan mencegah yang
mungkar. Buktinya dia sangat mendukung tabarruj dan membenci
jilbab.
Jilbab dianggapnya belenggu yang menghalangi kebebasan puterinya
mempertontonkan kecanti kan dan kemolekan tubuhnya. Konon, yang demikian
itu ia lakukan karena rasa cinta dan kasihan kepada puterinya agar bisa
menikmati kehidupan remajanya. lalu, sesudah agak besar, sang ayah
melemparkannya ke dalam pelukan seorang suami yang sama bejatnya. sang
suami dan sang ayah sepakat untuk menyesatkan. dalam gandengan ayah dan
suaminya dia menuju ke Neraka Jahim.
Apakah itu cinta jika anda menyodorkan puteri Anda menjadi sasaran murka
dan siksaan Allah? Mengapa Anda tidak selamatkan puteri Anda dari
cengkeraman setan? Sesungguhnya Anda dan kita semua orang beriman wajib
merealisasikan seruan Allah: "Wahai orang-orang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu." (At Tahrim: 6)