|
Assalamu'alaikum Wr.Wb,
Catatan dari Farid Gaban dibawah ini menarik
utk disimak dan dijadikan 'warning' buat kita bahwa kita betul-betul perlu
hati-hati dan kritis dalam mencerna dan menerima berita darimanapun asalnya,
bahkan dari media sekaliber Wall Street Journal dan CNN sekalipun (yg katanya
sangat kredibel dan akurat)...
Wassalam,
BUDI
----- Original Message -----
From:
To:
Sent: Wednesday, November 13, 2002 7:41 AM
Subject: [mfi] Fw: Jurnalisme dan Al Qaidah From: Farid Gaban (Tempo) Jurnalisme dan Al Qaidah Teman-teman, "Column One" adalah kolom feature di Koran The (Asian) Wall Street Journal yang layak diacungi jempol, saya menyukai beberapa karya jurnalistik di situ. Tapi, tulisan mereka tentang Al Qaidah (edisi 11 November 2002) membuat saya bertanya-tanya: apa yang sebenarnya tengah terjadi pada jurnalisme Amerika? Pada edisi itu, The Wall Street Journal (The WSJ) menulis panjang-lebar dan rinci tentang bagaimana Al Qaidah membangun sebuah situs internet untuk tujuan dakwah dan merekrut "para teroris Islam" dari seluruh dunia. Situs yang dimaksud adalah MAALEMALJIHAD.COM (nama situs ini disebut dua kali dalam artikel itu) The WSJ menghabiskan ruang lebih dari separo halaman dan harus mengerahkan tiga koresponden mereka di Beijing, London dan Washington sekaligus untuk membuat tulisan itu. Panjang dan meyakinkan. Namun TheWSJ melupakan satu detil esensial. Mengecek di Internic (badan pendaftar domain com, org, dan net di Amerika), saya menemukan fakta menarik: domain maalemaljihad.com TIDAK PERNAH didaftar oleh siapapun. Situs dengan internet address itupun tidak pernah ada. Coba aja klik di sini: http://www.maalemaljihad.com Terus terang, saya "kagum" dengan cara kerja media mainstream Amerika belakangan ini. Setelah CNN, kini The WSJ membuat kecerobohan elementer serupa. Dan tidak malu menyebut situs internet yang tidak bisa diverifikasi, kini CNN muncul dengan "scoop" baru: melalui "sebuah investigasi" mereka menemukan "link" antara bom Bali dengan Al Qaidah. Tapi, setidaknya kali ini CNN lebih jujur: mereka mengaku terus terang bahwa investigasi itu didasarkan pada "dokumen-dokumen intel". Saya bisa membayangkan, mereka mengunyah-ngunyah dokumen BIN (Indonesia), ISD (Singapura), ISI (Pakistan) dan CIA (Amerika). Sayang, kecenderungan sensasional juga menghinggapi Al Jazeera, jaringan televisi yang sempat menarik perhatian di awal "war on terror". Menerima dan menyiarkan suara serta video Al Qaidah dari waktu ke waktu, Al Jazeera tidak pernah peduli dengan satu pertanyaan elementer: bagaimana mereka mendapat materi itu, bagaimana tape dan video diverifikasi, di mana Osamah dan Al Qaidah kini bermarkas? Sejak November 2001, Jazeera telah menayangkan belasan tape seperti itu, yang sebagian diragukan otentisitasnya. Perpetual ghost, perpetual scapegoat, perpetual propaganda. If you've seen it on TV, it surely is a fact, isn't?! salam, fgaban |
- Re: [RantauNet.Com] Fw: Jurnalisme dan Al Qaidah Budi Kurniawan
- Re: [RantauNet.Com] Fw: Jurnalisme dan Al Qaidah Nofendri T. Lare

