|
Assalamualaikum,
Gimana sanak Budi???
Dari dulu kita sudah sependapat kok dengan
teori2 beginian, tapi apa yang bisa kita lakukan???
Sekarang pengebom bali alah tatongkok, dan
jaringannyo alah diketahui semua, disinan tamasuak
putra minang salah sorang (sebagai
pendana).
Tapi bagi ambo itu semua (?) ndak masuak aka,
bagi pemerintah dengan bantuan amerika rekayasa
apa sih yang nggak mungkin
dilakukan???
Masak tukang benke bisa marakit Bom Mikro
Nuklir??? ndak masuak aka.
Insinyur2 Kimia Indonesia ajo alun bisa lai
do.
Wassalam,
F3N
----- Original Message -----
Sent: Sunday, November 17, 2002 4:46
AM
Subject: [RantauNet.Com] Fw: Jurnalisme
dan Al Qaidah
Assalamu'alaikum Wr.Wb,
Catatan dari Farid Gaban dibawah ini menarik
utk disimak dan dijadikan 'warning' buat kita bahwa kita betul-betul perlu
hati-hati dan kritis dalam mencerna dan menerima berita darimanapun asalnya,
bahkan dari media sekaliber Wall Street Journal dan CNN sekalipun (yg katanya
sangat kredibel dan akurat)...
Wassalam,
BUDI
----- Original Message -----
From:
To:
Sent: Wednesday, November 13, 2002 7:41 AM
Subject: [mfi] Fw: Jurnalisme dan Al Qaidah
----- Original Message ----- From: Farid Gaban (Tempo)
Jurnalisme dan Al Qaidah
Teman-teman,
"Column One"
adalah kolom feature di Koran The (Asian) Wall Street Journal yang layak
diacungi jempol, saya menyukai beberapa karya jurnalistik di situ. Tapi,
tulisan mereka tentang Al Qaidah (edisi 11 November 2002) membuat saya
bertanya-tanya: apa yang sebenarnya tengah terjadi pada jurnalisme
Amerika?
Pada edisi itu, The Wall Street Journal (The WSJ) menulis
panjang-lebar dan rinci tentang bagaimana Al Qaidah membangun sebuah situs
internet untuk tujuan dakwah dan merekrut "para teroris Islam" dari seluruh
dunia. Situs yang dimaksud adalah MAALEMALJIHAD.COM (nama situs ini disebut
dua kali dalam artikel itu)
The WSJ menghabiskan ruang lebih dari
separo halaman dan harus mengerahkan tiga koresponden mereka di Beijing,
London dan Washington sekaligus untuk membuat tulisan itu. Panjang dan
meyakinkan.
Namun TheWSJ melupakan satu detil
esensial.
Mengecek di Internic (badan pendaftar domain com, org, dan
net di Amerika), saya menemukan fakta menarik: domain maalemaljihad.com TIDAK
PERNAH didaftar oleh siapapun. Situs dengan internet address itupun tidak
pernah ada. Coba aja klik di sini:
http://www.maalemaljihad.com
Terus
terang, saya "kagum" dengan cara kerja media mainstream Amerika belakangan
ini. Setelah CNN, kini The WSJ membuat kecerobohan elementer
serupa.
Dan tidak malu menyebut situs internet yang tidak bisa
diverifikasi, kini CNN muncul dengan "scoop" baru: melalui "sebuah
investigasi" mereka menemukan "link" antara bom Bali dengan Al Qaidah.
Tapi, setidaknya kali ini CNN lebih jujur: mereka mengaku terus terang
bahwa investigasi itu didasarkan pada "dokumen-dokumen intel". Saya bisa
membayangkan, mereka mengunyah-ngunyah dokumen BIN (Indonesia), ISD
(Singapura), ISI (Pakistan) dan CIA (Amerika).
Sayang, kecenderungan
sensasional juga menghinggapi Al Jazeera, jaringan televisi yang sempat
menarik perhatian di awal "war on terror".
Menerima dan menyiarkan
suara serta video Al Qaidah dari waktu ke waktu, Al Jazeera tidak pernah
peduli dengan satu pertanyaan elementer: bagaimana mereka mendapat materi itu,
bagaimana tape dan video diverifikasi, di mana Osamah dan Al Qaidah kini
bermarkas?
Sejak November 2001, Jazeera telah menayangkan belasan tape
seperti itu, yang sebagian diragukan otentisitasnya.
Perpetual ghost,
perpetual scapegoat, perpetual propaganda.
If you've seen it on TV, it
surely is a fact,
isn't?!
salam, fgaban
|