Ada lagi yang dinyatakan Ulil itu di dalam tulisan tersebut, bahwa nikah campur 
antara wanita Islam dengan pria non-islam boleh. Masih ingat dalam ingatan 
kita, Cak Nur (yang merupakan guru-nya Ulil) tahun lalu merisaukan putrinya 
yang menikah dengan pria Yahudi asal AS. Ini menandakan bahwa Cak Nur tidak 
setuju putrinya menikah dengan pria non-muslim, karena kata cak Nu dalam 
pandangan sebagian besar ulama haram bagi wanita muslim menikah dengan pria non-
muslim.

Nah, Ulil ini ingin mengubah keyakinan yang sudah mapan ini dengan alasan kasih 
sayang dsb. Kalau memang betul, mengapa ia tidak mepraktekkan nikah campur itu 
lebih dahulu? Meskipun Ulil sudah menikah dengan putri Mustafa Bisri (yang 
notabene berjilbab), tapi ia punya hak untuk menikah lagi. Nah, beranikah dia 
merealisasikan konsepnya itu?
Mudah-mudahan Allah mengampuni ysb beserta JIL-nya yang membuat resah.

wassalam
Rinaldi Munir

Quoting Marven <[EMAIL PROTECTED]>:

> 
> 
> Assalamulaikum WW
> 
> Warga Rantau Net Yth, ada yang mengcounter tulisan Sdr. Ulil di Kompas
> hari
> ini?. Sepertinya sudah banyak tulisan jawaban atas sdr. kita Ulil ini
> dibuat, bahwa harus dibedakan antara kebenaran dalam hubungan dengan
> Tuhan
> Yang Satu dengan kebutuhan akan kedamaian dan toleransi antara sesama
> manusia. Islam jelas-jelas mengajarkan kasih sayang dan toleransi
> antara
> sesama manusia, bukan dalam hubungan ibadah.
>  "Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang
> Maha
> Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang. (QS. 19:96)"
> Dengan alasan toleransi, mengaburkan kebenaran Islam itu sendiri
> sebagai
> satu-satunya agama yang diredhai oleh Tuhan Allah Swt. dg menafsirkan
> yang
> bukan-bukan dan mengambil yang sesuai dengan kehendak nafsu
> sendiri..(ekstremnya beribadat sama-sama juga dibolehkan)...entahlah
> bagaimana jalan pemikiran saudara kita ini....yang sangat berani
> ini..sebagai contoh, bukan kah jilbab itu perintah Allah dalam Al
> Quran?,
> kok malah ditafsir oleh Ulil sebagai kreasi budaya Arab? Atau bisa jadi
> Ulil
> berpandangan bahwa minum mimuman keras bukan suatu larangan karena itu
> hanyalah konteks, yang dilihat itu hasilnya bagi kemashlahatan umat
> manusia.
> Kalau begitu konsekuensinya menurut Ulil ada yang telah merubah Al
> Quran?
> Subhanallah...kalau sudah begini kita tidak punya kata-kata lagi yang
> tersisa untuk mengomentari pandangannya Ulil... Allahu'alam
> 
> Wassalamulaikum.
> 
> =================================
> 
> Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam
> 
> Oleh Ulil Abshar-Abdalla
> 
> SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah "organisme" yang
> 
> hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi
> 
> perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat
> pada
> 
> abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai "patung" indah yang tak boleh
> 
> disentuh tangan sejarah.
> 
> Saya melihat, kecenderungan untuk "me-monumen-kan" Islam amat menonjol
> 
> saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi
> 
> kecenderungan ini.
> 
> Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha
> 
> sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang
> 
> cenderung membeku, menjadi "paket" yang sulit didebat dan
> dipersoalkan:
> 
> paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana,
> 
> take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat
> 
> berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri.
> 
> Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan
> 
> cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita
> 
> memerlukan beberapa hal.
> 
> Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual,
> 
> dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus
> berubah.
> 
> Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di
> 
> dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang
> merupakan
> 
> nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam
> 
> yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak.
> 
> Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal
> 
> harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab,
> 
> Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuk Islam yang
> 
> kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan
> 
> mengikutinya.
> 
> Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya,
> 
> tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash,
> rajam,
> 
> jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal
> 
> partikular Islam di Arab.
> 
> Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi
> 
> praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang
> 
> memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum
> tentu
> 
> sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan
> 
> manusia. Begitu seterusnya.
> 
> Ketiga, umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai
> 
> "masyarakat" atau "umat" yang terpisah dari golongan yang lain. Umat
> 
> manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan
> itu
> 
> sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan,
> dengan
> 
> Islam.
> 
> Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan
> 
> lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah
> 
> dengan tegas melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal
> 
> tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan
> agama.
> 
> Segala produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan
> orang
> 
> Islam dan non-Islam harus diamandemen berdasarkan prinsip
> kesederajatan
> 
> universal dalam tataran kemanusiaan ini.
> 
> Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan
> 
> mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan
> 
> pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil
> 
> kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai
> universal
> 
> agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi
> doktrin
> 
> dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan
> 
> masing-masing agama.
> 
> Menurut saya, tidak ada yang disebut "hukum Tuhan" dalam pengertian
> 
> seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang
> 
> pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang
> ada
> 
> adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi
> pengkajian
> 
> hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari'ah, atau tujuan
> 
> umum syariat Islam.
> 
> Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas kebebasan beragama, akal,
> 
> kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana
> 
> nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks sejarah dan sosial
> tertentu,
> 
> itu adalah urusan manusia Muslim sendiri.
> 
> ***
> 
> BAGAIMANA meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks
> 
> pemikiran semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh
> 
> historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya
> menjadi
> 
> mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai
> 
> manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus
> 
> diikuti (qudwah hasanah).
> 
> Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan
> 
> pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks
> 
> sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan.
> 
> Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual
> Islam
> 
> di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam
> 
> historis, partikular, dan kontekstual.
> 
> Kita tidak diwajibkan mengikuti Rasul secara harfiah, sebab apa yang
> 
> dilakukan olehnya di Madinah adalah upaya menegosiasikan antara
> 
> nilai-nilai universal Islam dengan situasi sosial di sana dengan
> seluruh
> 
> kendala yang ada. Islam di Madinah adalah hasil suatu trade-off antara
> 
> "yang universal" dengan "yang partikular".
> 
> Umat Islam harus ber-ijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan
> 
> nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. "Islam"-nya
> 
> Rasul di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam
> yang
> 
> universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam
> 
> dengan cara lain, dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah
> adalah
> 
> one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi.
> 
> Oleh karena itu, umat Islam tidak sebaiknya mandek dengan melihat
> contoh
> 
> di Madinah saja, sebab kehidupan manusia terus bergerak menuju
> perbaikan
> 
> dan penyempurnaan. Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi;
> 
> wahyu terus bekerja dan turun kepada manusia. Wahyu verbal memang
> telah
> 
> selesai dalam Quran, tetapi wahyu nonverbal dalam bentuk ijtihad akal
> 
> manusia terus berlangsung.
> 
> Temuan-temuan besar dalam sejarah manusia sebagai bagian dari usaha
> 
> menuju perbaikan mutu kehidupan adalah wahyu Tuhan pula, karena
> 
> temuan-temuan itu dilahirkan oleh akal manusia yang merupakan anugerah
> 
> Tuhan. Karena itu, seluruh karya cipta manusia, tidak peduli agamanya,
> 
> adalah milik orang Islam juga; tidak ada gunanya orang Islam membuat
> 
> tembok ketat antara peradaban Islam dan peradaban Barat: yang satu
> 
> dianggap unggul, yang lain dianggap rendah. Sebab, setiap peradaban
> 
> adalah hasil karya manusia, dan karena itu milik semua bangsa,
> termasuk
> 
> milik orang Islam.
> 
> Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu penafsiran
> 
> Islam oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena
> 
> itu harus ada kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran,
> 
> termasuk yang datangnya dari luar Islam. Setiap golongan hendaknya
> 
> menghargai hak golongan lain untuk menafsirkan Islam berdasarkan sudut
> 
> pandangnya sendiri; yang harus di-"lawan" adalah setiap usaha untuk
> 
> memutlakkan pandangan keagamaan tertentu.
> 
> Saya berpandangan lebih jauh lagi: setiap nilai kebaikan, di mana pun
> 
> tempatnya, sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam-seperti pernah
> 
> dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain-adalah "nilai generis"
> 
> yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme,
> 
> agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran
> 
> "Islam" bisa ada dalam filsafat Marxisme.
> 
> Saya tidak lagi memandang bentuk, tetapi isi. Keyakinan dan praktik
> 
> keIslam-an yang dianut oleh orang-orang yang menamakan diri sebagai
> umat
> 
> Islam hanyalah "baju" dan forma; bukan itu yang penting. Yang pokok
> 
> adalah nilai yang tersembunyi di baliknya.
> 
> Amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan "baju" yang
> dipakai,
> 
> sementara mereka lupa, inti "memakai baju" adalah menjaga martabat
> 
> manusia sebagai makhluk berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana,
> 
> wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang
> 
> Maha Benar.
> 
> Ada periode di mana umat beragama menganggap, "baju" bersifat mutlak
> dan
> 
> segalanya, lalu pertengkaran muncul karena perbedaan baju itu. Tetapi,
> 
> pertengkaran semacam itu tidak layak lagi untuk dilanggengkan kini.
> 
> ***
> 
> MUSUH semua agama adalah "ketidakadilan". Nilai yang diutamakan Islam
> 
> adalah keadilan.
> 
> Misi Islam yang saya anggap paling penting sekarang adalah bagaimana
> 
> menegakkan keadilan di muka Bumi, terutama di bidang politik dan
> ekonomi
> 
> (tentu juga di bidang budaya), bukan menegakkan jilbab, mengurung
> 
> kembali perempuan, memelihara jenggot, memendekkan ujung celana, dan
> 
> tetek bengek masalah yang menurut saya amat bersifat furu'iyyah.
> 
> Keadilan itu tidak bisa hanya dikhotbahkan, tetapi harus diwujudkan
> 
> dalam bentuk sistem dan aturan main, undang-undang, dan sebagainya,
> dan
> 
> diwujudkan dalam perbuatan.
> 
> Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud
> ketidakberdayaan
> 
> umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan
> 
> menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua
> 
> masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam
> 
> penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi.
> 
> Masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan semata-mata merujuk
> 
> kepada "hukum Tuhan" (sekali lagi: saya tidak percaya adanya "hukum
> 
> Tuhan"; kami hanya percaya pada nilai-nilai ketuhanan yang universal),
> 
> tetapi harus merujuk kepada hukum-hukum atau sunnah yang telah
> 
> diletakkan Allah sendiri dalam setiap bidang masalah. Bidang politik
> 
> mengenal hukumnya sendiri, bidang ekonomi mengenal hukumnya sendiri,
> 
> bidang sosial mengenal hukumnya sendiri, dan seterusnya.
> 
> Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa'alihi bil 'ilmi, wa man aradal
> 
> akhirata fa 'alihi bil 'ilmi; barang siapa hendak mengatasi masalah
> 
> keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai
> 
> kebahagiaan di dunia "nanti", juga harus pakai ilmu. Setiap bidang ada
> 
> aturan, dan tidak bisa semena-mena merujuk kepada hukum Tuhan sebelum
> 
> mengkajinya lebih dulu. Setiap ilmu pada masing-masing bidang juga
> terus
> 
> berkembang, sesuai perkembangan tingkat kedewasaan manusia. Sunnah
> 
> Tuhan, dengan demikian, juga ikut berkembang.
> 
> Sudah tentu hukum-hukum yang mengatur masing-masing bidang kehidupan
> itu
> 
> harus tunduk kepada nilai primer, yaitu keadilan. Karena itu, syariat
> 
> Islam, hanya merupakan sehimpunan nilai-nilai pokok yang sifatnya
> 
> abstrak dan universal; bagaimana nilai-nilai itu menjadi nyata dan
> dapat
> 
> memenuhi kebutuhan untuk menangani suatu masalah dalam periode
> tertentu,
> 
> sepenuhnya diserahkan kepada ijtihad manusia itu sendiri.
> 
> Pandangan bahwa syariat adalah suatu "paket lengkap" yang sudah jadi,
> 
> suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman,
> 
> adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan
> itu
> 
> sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah
> 
> adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan
> 
> cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan
> 
> hukum Tuhan.
> 
> Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di
> mana-mana.
> 
> Saya tidak bisa menerima "kemalasan" semacam ini, apalagi kalau
> 
> ditutup-tutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan hukum Tuhan.
> 
> Jangan dilupakan: tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah sunnah Tuhan
> 
> serta nilai-nilai universal yang dimiliki semua umat manusia.
> 
> Musuh Islam paling berbahaya sekarang ini adalah dogmatisme, sejenis
> 
> keyakinan yang tertutup bahwa suatu doktrin tertentu merupakan obat
> 
> mujarab atas semua masalah, dan mengabaikan bahwa kehidupan manusia
> 
> terus berkembang, dan perkembangan peradaban manusia dari dulu hingga
> 
> sekarang adalah hasil usaha bersama, akumulasi pencapaian yang
> disangga
> 
> semua bangsa.
> 
> Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara "kami" dengan
> 
> "mereka", antara hizbul Lah (golongan Allah) dan hizbusy syaithan
> 
> (golongan setan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu,
> antara
> 
> "Barat" dan "Islam"; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan
> 
> menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang
> kesederajatan
> 
> umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu.
> 
> Pemisah antara "kami" dan "mereka" sebagai akar pokok dogmatisme,
> 
> mengingkari kenyataan bahwa kebenaran bisa dipelajari di mana-mana,
> 
> dalam lingkungan yang disebut "kami" itu, tetapi juga bisa di
> lingkungan
> 
> "mereka". Saya berpandangan, ilmu Tuhan lebih besar dan lebih luas
> dari
> 
> yang semata-mata tertera di antara lembaran-lembaran Quran.
> 
> Ilmu Tuhan adalah penjumlahan dari seluruh kebenaran yang tertera
> dalam
> 
> setiap lembaran "Kitab Suci" atau "Kitab-Tak-Suci", lembaran-lembaran
> 
> pengetahuan yang dihasilkan akal manusia, serta kebenaran yang belum
> 
> sempat terkatakan, apalagi tertera dalam suatu kitab apa pun.
> Kebenaran
> 
> Tuhan, dengan demikian, lebih besar dari Islam itu sendiri sebagai
> agama
> 
> yang dipeluk oleh entitas sosial yang bernama umat Islam. Kebenaran
> 
> Tuhan lebih besar dari Quran, Hadis dan seluruh korpus kitab tafsir
> yang
> 
> dihasilkan umat Islam sepanjang sejarah.
> 
> Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah
> 
> "proses" yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah "lembaga agama"
> yang
> 
> sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat
> Innaddina
> 
> 'indal Lahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai,
> 
> "Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah
> 
> proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha
> 
> Benar)."
> 
> Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama
> adalah
> 
> tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang
> 
> Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi,
> 
> tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan
> 
> religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama:
> 
> yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada
> 
> ujungnya.
> 
> Maka, fastabiqul khairat, kata Quran (QS 2:148); berlombalah-lombalah
> 
> dalam menghayati jalan religiusitas itu.
> 
> Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat,
> 
> apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama
> yang
> 
> harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri.
> 
> Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia
> adalah
> 
> organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan
> kualitatif,
> 
> maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia
> 
> itu sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena
> 
> manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan
> 
> soal agama ini.
> 
> Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru
> berlawanan
> 
> dengan maslahat manusia itu sendiri, atau malah menindas kemanusiaan
> 
> itu, maka Islam yang semacam ini adalah agama fosil yang tak lagi
> 
> berguna buat umat manusia.
> 
> Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi
> 
> maslahat manusia. Mari kita tinggalkan Islam yang beku, yang menjadi
> 
> sarang dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri.
> 
> ULIL ABSHAR-ABDALLA, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor
> ---------------------~-->
> 
> Share the magic of Harry Potter with Yahoo! Messenger
> 
> http://us.click.yahoo.com/4Q_cgB/JmBFAA/46VHAA/.DlolB/TM
> 
> ---------------------------------------------------------------------~->
> 
> ______________________________________________________________________
> 
> http://www.kmnu.org untuk informasi tentang KMNU (Keluarga Mahasiswa
> Nahdhatul Ulama), atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> 
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> 
> Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal
> Anda
> harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
> 
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> Your use of Yahoo! Groups is subject to
> http://docs.yahoo.com/info/terms/
> 
> 
> 
> 
> Wa Assalaamu`alaikum
> 
> Muhammad Yusuf
> 
> 
> 
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
> ===============================================
> Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
> anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
> 
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
> http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
> ===============================================
> 

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke