Puasa Ala Teroris
[Kompas Online, 17 November 2002]
Harry Roesli
[EMAIL PROTECTED]
Polisi - beberapa saat lalu - sempat mempublikasikan sketsa wajah - wajah
teroris Bali. Sketsa wajah ini dibuat berdasarkan kesaksian para saksi lewat
bahasa verbal. Jadi biarpun juru gambar polisi ini cukup hebat, tapi masuk akal
kalau wajah Amrozi tidak mirip sama sekali dengan sketsa wajah ketiga teroris
Bali tadi.
Ini bisa terjadi karena daya imajinasi juru gambar polisi tentunya tidak selalu
sama dengan imajinasi sang saksi ketika harus mendiskripsikan kembali wajah
teroris, sekaligus merekonstruksikan sebuah wajah yang baru sekali dilihatnya.
Contohnya, ketika deskripsi wajah Bang Akbar saya berikan pada juru gambar
polisi tadi, yaitu; hidung besar, mata agak sipit, berkaca mata, pipi berisi,
dahi lebar, maka yang muncul tergambar malahan wajah Pak Jaya Suprana (maaf Pak
Jaya Suprana).
Bahkan, ketika deskripsi wajah Bang Akbar tadi saya ubah atau tambahkan sedikit;
hidung besar dan... panjang, maka semua juru gambar polisi tadi kebingungan!
Padahal maksud saya tetap wajah Bang Akbar, tapi sedang... berbohong!
Tapi yang paling surprise adalah ketika saya mendeskripsikan wajah Brad Pitt
untuk direkonstruksi. Anda tahu wajah siapa yang tergambar? Ternyata juru gambar
polisi ini menggambar wajah saya! Padahal saya sama sekali tidak merasa mirip
Brad Pitt, malahan lebih mirip Jhonny Iskandar yang penyanyi dangdut itu!
***
Jhonny Iskandar tidak mirip Amrozi. Dan Amrozi tidak mirip sketsa wajah teroris
Bali. Tapi hal ini bukan berarti Amrozi bukan teroris Bali, karena dia sudah
mengaku keterlibatannya dalam terorisme di Bali itu.
Tentu saja sebagian masyarakat merasa ragu atas pengakuan Amrozi. "Masa teror
yang begitu dahsyat bisa dilaksanakan oleh orang desa yang lugu seperti Amrozi!"
begitu kata mantan Kepala Intelijen. "Saya tidak percaya Amrozi bisa membuat
Bom, bahkan membuat petasan saja dia tidak bisa" kata kakak Amrozi.
Bahkan, beberapa orang mencoba-coba membuat analisa bahwa pengakuan Amrozi itu
sebuah rekayasa: "Jangan-jangan Amrozi dibayar untuk mengaku seperti si Pak De
pada kasus peragawati Diece dulu. Alasannya, agar supaya negara asing jadi
berhenti berkomentar miring!"
Tapi kendati masih banyak komentar lain, saya sih cuman melihat bahwa Amrozi itu
beragama Islam, dan dia ditangkap saat bulan suci Ramadhan, masak sih dia berani
berbohong di bulan suci Ramadhan.
Jadi pengakuan Amrozi itu jujur? Entahlah, tapi sebagai orang Islam tentu dia
tidak tega berdusta di bulan suci Ramadhan.
Sebenarnya aksioma di atas bisa digunakan oleh polisi, jaksa, atau hakim! Maksud
saya, mumpung bulan suci Ramadhan, coba tangkapi itu para koruptor yang katanya
juga beragama Islam. Pasti mereka akan mengaku korupsi, karena takut berbohong
di bulan puasa!
Coba adili itu para pembunuh mahasiswa di Trisakti maupun di Semanggi. Pasti
mereka akan mengakui kejahatannya, karena kalau berbohong takut puasanya batal!
Coba interogasi para politikus, tentu di bulan suci ini mereka akan jujur
mengakui kebohongannya. Bukannya takut puasanya batal, tapi takut masuk neraka.
Kalau masuk neraka, lidah mereka dicabut. Tanpa lidah mereka tidak bisa
berbohong! Tanpa bohong... bukan politikus namanya!
Makanya, mumpung bulan suci, segera tangkapi mereka! Tapi celaka, Pak Polisi,
Pak Jaksa, Pak Hakimnya juga tidak berani berbohong! Tidak berani berbohong
bagaimana? Mereka tidak berani berbohong untuk mengatakan bahwa mereka ini
orang-orang jujur!! Wah ... Allah maha besar!!
***
Allah memang maha besar!! Menciptakan bulan Ramadhan sebagai bulan kesempatan,
bulan introspeksi, bulan penyucian, bulan lautan doa, bulan lahirnya manusia
baru, bulan penuh rahmat, dan lain - lain!
Tapi manusia maha kerdil! Menciptakan bulan Ramadhan sebagai bulan kesempatan,
tapi kesempatan menaikkan harga-harga! Sebagai bulan introspeksi, tapi
mengintrospeksi siapa-siapa yang bingkisan lebarannya tidak sebesar tahun lalu!
Sebagai bulan penyucian, tapi bukan dari kata dasar suci melainkan cuci. Jadi
bulan penyucian uang hasil korupsi.
Sebagai bulan lautan doa, untuk berdoa memohon ampunanNya karena sudah menindas
rakyat. Untuk selanjutnya pasca Ramadhan dia bisa menindas lagi! Sebagai bulan
lahirnya manusia baru! Artinya mencari sponsor dan iklan baru untuk mengongkosi
acara-acara di TV yang gemerlap dan hedonis jauh dari suasana renungan dan
religius! (Holly Ramadhan atau Happy Ramadhan sih ?)
Sebagai bulan yang penuh rahmat! Yaitu "Rahmat" mendapatkan kesempatan proyek
untuk pembagian bingkisan buat kaum papa, tentu ... di "mark up" dong!
Dan lain - lain!
***
Intisari berpuasa adalah: " Menahan semua hawa nafsu!" Mungkin bagi
mereka-mereka yang disebut di atas tadi, intisari ini mereka interprestasikan
secara harfiah! Jadi-menurut mereka-di bulan puasa ini diperbolehkan untuk makan
asal jangan pakai nafsu. Jadi makanlah tapi lemeees saja, jangan bernafsu!
Minum? Silahkan, asal itu tadi, lemeees saja jangan pakai nafsu!
Jadi di bulan puasa ini - masih menurut mereka-tetaplah "halal" menjadi teroris
koruptor, teroris pembohong publik, teroris pelanggar HAM, teroris lain-lainnya,
asalkan-yaitu tadi-jangan pakai nafsu atau lemeees saja! Buju buneng!!
Bahkan bulan suci ini, boleh saja untuk berperang, buktinya GAM dan TNI tetap
berperang. Toh mereka berperangnya tanpa hawa nafsu alias lemeees saja. Konon
senjata merekapun menyalaknya dengan lemeees, bukan : "Dor!!!!!" Tapi :
"Dooooor" (tanpa tanda seru!)
Dan darahpun berceceran dengan lemees! Nyawa anak negeripun melayang dengan
lemeees! Mayatpun berserakan dengan lemeees! Dan membaca teror inipun kita
menjadi lemeees!
Astagfirullahaladzim! Puasa ala teroris ini membuat kita lemeees dibuatnya!
Lemees ... Blekuwek Krenyeng! *
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================