----- Original Message -----
From: "Syafei" <[EMAIL PROTECTED]>
[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, November 20, 2002 8:48 AM
Subject: [Islampembebasan] Imajinasi


 Imajinasi

 Bukannya takut dengan hujan jika Paijo memilih berteduh di emperan toko
sampai saat menjelang buka puasa. Tubuh manusia di desain untuk tahan
terhadap air hujan, begitu yang diyakini Paijo. Rasa takut serta tidak biasa
terkena air hujanlah yang menyebabkan seseorang masuk angin kalau kehujanan.
Sedang bagi Paijo yang sejak kecil menjadikan hujan sebagai saat bermain,
tentu ketidak takutan dan daya tahan sudah terbentuk dengan sendirinya.
Paijo juga tidak khawatir motor bututnya ngadat jika lewat di genangan air,
yang seolah sudah jadi bagian tak terpisahkan dari jalan, kota dan hujan,
karena si butut telah dikerjai melalui proses kreativitas yang njlimet dan
mengagumkan oleh bengkel langganannya.

 Paijo sengaja memilih tempat berteduh agak ke pinggir, terpisah dari
orang-orang lain yang memilih ngobrol sesama peteduh. Tidak begitu jelas
apa-apa yang diobrolkan, karena suara tiap kelompok obrolan saling kemriyek
dan tumpang tindih tidak karuan. Belum lagi di tambah suara hujan yang cukup
deras. Paijo memilih menyendiri tentu bukan karena tidak mau berbaur dan
ngobrol dengan yang lain, tapi memang Paijo sedang ingin menyendiri
memanfaatkan momen yang tidak setiap hari di dapat. Saat bisa menyendiri
seperti itu adalah saat yang sangat berharga bagi si sableng. Itu saat yang
sangat tepat untuk melepaskan imajinasi mengikuti objek apa saja yang bisa
diikuti.

 Paijo bukan seorang pakar bahasa, jadi dia tidak tahu persis apakah
imajinasi itu sinonim dengan fantasi atau sekedar ada persamaan di satu sisi
dan berbeda di sisi lain. Paijo juga tidak tahu persis yang tepat menurut
tata bahasa, kapan harus pakai kata fantasi dan kapan digunakan kata
imajinasi. Tapi Paijo coba meletakkan imajinasi di antara fantasi dan rasio.
Jadi dalam benak si sableng itu, imajinasasi adalah perpaduan antara fantasi
dan rasionalitas. Tentu tidak ada yang mesti setuju dengan Paijo. Toh Paijo
tidak mengantongi sertifikasi apapun yang memungkinkannya cukup legitimat
melontarkan satu teori atau pendapat.

 Begitulah, yang di-imajinasi-kan Paijo ternyata soal imajinasi itu sendiri.
Apalagi anak itu punya "dendam" tersendiri terhadap sistem yang tidak ramah
terhadap imajinasi. Ketidak ramahan sistem itu begitu kuat menghajar
pembentukan imajinasi yang sehat, karena ia merasuk ke mana-mana termasuk
pula ke bidang pendidikan. Sistem itu telah begitu "kejam" mengintervensi
benak setiap orang mulai dari masa kanak-kanak dengan cara men-strukturisasi
benak anak-anak yang mestinya merupakan lahan subur untuk menyemaikan
benih-benih imajinasi.

 Diam-diam Paijo meneteskan airmata, saat ingat bahwa proses penghambatan
imajinasi yang bebas dan sehat itu masih ditemuinya sampai saat ini. Masih
sering Paijo temui larangan dari bentuknya yang halus sampai
terang-terangan, yang langsung ke anak-anak maupun melalui orangtua.
Teletubbies, Sin Chan, Doraemon, Digimon, Batman, Superman, Power Rangers,
Ultra Man dan yang sejenisnya, yang notabene merupakan tontonan yang kaya
fantasi dan sangat sehat membantu proses pembentukan imajinasi anak termasuk
dalam daftar utama yang dilarang. Paijo hanya bisa mengelus dada ketika apa
yang dialaminya selama kanak-kanak masih terjadi saat ini dalam bentuknya
yang berbeda. Perampasan hak anak-anak masih berlangsung, dan yang paling
menyedihkan itu dilakukan dengan berlindung di balik nama Tuhan.

 "Ada apa mas, kok geleng-geleng kepala sendirian ?" tanya seseorang yang
tiba-tiba sudah ada di belakang Paijo.

 "Nggak apa-apa Pak. Cuman baru mikir, apa iya sih kita harus menyembah
Tuhan yang tidak PeDe ?" jawab Paijo sambil tersenyum.

 "Maksudnya apa tho mas ?" tanya si orang itu sambil mengerutkan dahi.

 "Sudahlah Pak. Seperempat jam lagi maghrib. Maaf, saya mau pulang
sekarang," kata Paijo masih sambil tersenyum.

 "Tapi kan masih hujan mas ?" tanya orang itu lagi dengan sedikit heran.

 "Hujan toh tidak akan membunuh kita kan Pak ? Saya tidak ingin ketinggalan
buka puasa bareng teman-teman di rumah," jawab Paijo sambil men-starter si
butut.

 "Betul juga ya. Mas mau ke arah Barat kan ? Kalau begitu saya numpang
sampai simpang masjid Raya," kata orang itu sambil langsung nangkring di
boncengan tanpa menunggu persetujuan Paijo.




RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke