|
====
TREN INVESTASI Seandainya saja.....mengapa tidak? Oleh: Roy Sembel, PhD & Agung Baruno MM Masing-masing Direktur Program MM Keuangan plus dan dosen program MM Finance Plus Universitas Bina Nusantara. "Developed countries first got rich and then got old. Developing countries are getting old before they get rich." Demikian penjelasan Dr. Alexander Kalache dari WHO yang dikutip majalah Fortune. Keterangan itu dibuat berdasarkan survai otentik yang dilakukan WHO. Jadi apakah bangsa Indonesia yang dikategorikan sebagai developing country akan menjadi bagian dari statistik tersebut? Apakah masyarakat yang menjadi bagian dari bangsa besar ini akan melengkapi statistik itu? Jawabannya terletak pada keseriusan kita untuk ke luar dari statistik tersebut. Benar sekali untuk menjadikan Indonesia ke luar dari statistik WHO itu sangat sulit dikerjakan. Namun harapan selalu ada dan terowongan yang gelap ini memberikan secercah cahaya di ujungnya. Sering kita dengar untuk mengubah dunia harus dimulai dari perubahan individu- individunya. Indonesia memiliki lebih dari 200 juta jiwa dengan komposisi usia produktif lebih dari 40% total penduduk, jadi kurang lebih sebesar 80 juta jiwa. Menurut Pareto Principle 20% dari total populasi menguasai keberadaan 80% populasi lainnya. Mari kita bermain dengan angka sejenak. Taruh kata hanya 5% dari angkatan produktif itu yang memiliki kemakmuran dan dapat melawan statistik WHO, jumlahnya sebesar empat juta jiwa (200 juta x 40% x 5%). Bolehlah disebut bahwa keempat juta jiwa ini memiliki kemakmuran tapi tidak mempunyai akses untuk meratakan kemakmurannya. Kita memiliki 76 juta (80 juta - 4 juta) jiwa produktif yang diharapkan akan membawa kemakmuran bagi Indonesia. Lalu kita gunakan hukum Pareto tadi, 20% dari 76 juta jiwa adalah mereka yang memegang sinar sambil membantu saudara lainnya untuk berhasil juga. Jumlahnya kurang lebih ada 16 juta jiwa, diasumsikan mereka ini adalah para pengusaha dan calon pengusaha baru Indonesia yang siap untuk menembus tembok AFTA 2003. Mengapa diasumsikan ke 16 juta jiwa ini adalah para pengusaha? Pepatah mengatakan: "Apabila Anda ingin kebahagiaan satu hari maka berdaganglah, apabila Anda ingin kebahagiaan satu tahun tanamlah jagung, apabila Anda ingin kebahagiaan sepuluh tahun tanamlah pohon, apabila Anda ingin kebahagiaan seumur hidup kembangkan diri dan orang lain. Dari pepatah ini maka asumsi para pengembang diri dan orang lain adalah orang-orang dengan jiwa pengusaha, dengan jiwa entrepreneur. Pengembangan wirausaha Jiwa pengusaha itu bisa dalam bentuk entrepreneur ataupun intrapreneur. Entrepreneur adalah orang-orang yang memiliki visi sangat besar dan berani memulai sesuatu hal dari nol, serta mereka tahu bagaimana meraih visinya. Seorang intrapreneur adalah orang-orang yang telah hadir dalam suatu organisasi besar dan dengan visi serta kejeliannya dapat membuat organisasi tersebut berkembang semakin pesat. Mereka ini memiliki visi jelas dan tahu cara serta jalan untuk mencapai visinya. Mereka juga memiliki keberanian untuk mencoba, mengambil setiap peluang dan melakukan tindakannya dengan perhitungan matang. Sejarah membuktikan bahwa bangsa Indonesia dibangun dari para saudagar besar yang berani mengarungi samudra luas dan menjamah negara-negara terjauh, hanya untuk meluaskan usahanya. Bangsa yang menjajah kita selama ratusan tahun juga datang dengan biaya ekspedisi dari suatu kongsi dagang terbesar di zamannya. Di zaman modern ini kita menyaksikan bangkitnya bangsa-bangsa yang terpuruk karena krisis ekonomi besar. Bangsa-bangsa ini memiliki segudang orang dengan jiwa entrepreneur yang kuat. Ambil contoh Korea Selatan, yang telah berhasil menyelenggarakan dua event besar tingkat dunia setelah dirobohkan oleh krisis yang sama melanda Indonesia. Sudah saatnya kita membangun orang-orang dengan jiwa entrepreneur, jiwa pengusaha. Untuk menumbuhkan jiwa ini harus dimulai dari nol, harus melalui perjuangan yang cukup mendebarkan. Kalau kita kembali pada angka-angka di atas, 16 juta jiwa pengusaha ini diasumsikan lagi adalah para pengusaha yang belum tercatat dalam blantika perekonomian Indonesia, mereka benar-benar baru. Kemakmuran Indonesia akan lebih jelas lagi apabila ke 16 juta jiwa pengusaha ini memiliki omzet bulanan sebesar Rp50 juta, maka total mereka akan menghasilkan omzet sebesar Rp 800 triliun. Suatu angka yang fantastis. Coba kalau digabung dengan keempat juta pengusaha kawakan tadi yang bisa meraih omzet Rp200 juta per bulan, jadi total omzet mereka sendiri Rp800 triliun. Total omzet para pengusaha Indonesia ini menjadi Rp1.600 triliun. Misalkan para pengusaha ini sadar dan mereka membagikan kue ini kepada saudara se-Tanah Air, dengan kesempatan kerja lebih luas serta kemitraan yang kental. Maka sekarang omzet sebesar Rp1.600 triliun ini akan dibagikan kepada 40% usia produktif dari 200 juta jiwa rakyat Indonesia. Maka, masing-masing orang usia produktif akan memiliki omzet bulanan sebesar Rp20 juta per bulan. Indonesia pun berhasil menyusul kemajuan Malaysia, Thailand, dan Filipina. Banyak pengusaha baru kita bergerak di bidang pertanian, dan punya akses terhadap rekayasa genetika. Di bidang manufaktur kita sudah punya pengalaman. Teknologi informasi sudah bisa merebut hati masyarakat dunia. Bagaimana dengan pemerintahan kita? Kita ambil contoh Taiwan. Konon negara ini memiliki devisa terbesar di dunia. Dari sini bermunculan para pengusaha baru di bidang teknologi informasi. Sering menjadi berita dunia bahwa di tingkat parlemennya mereka saling baku hantam, lempar-lemparan kursi. Tapi di luar parlemen ekonomi mereka terus melaju tanpa henti. === Salam hangat, Kalau rekan-rekan ingin berdiskusi tentang masalah Supply Chain Management (SCM), Production/Operations Management (POM), Manufacturing Resource Planning (MRP 2), Enterprise Resource Planning (ERP), ataupun hal-hal lain yang terkait dengannya, silahkan kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Karena beberapa peserta ada yang berasal India, Cina, dan Korea, maka sebagian besar diskusi memakai bahasa Inggris. Jabat erat, Ahmad Syamil www.clt.astate.edu/asyamil === |

