Assalamu'alaikum wr. wb.

Mohon maaf kalau ado kato nan salah, ambo sato pulo ciek. Image masyarakat
urang minang = ummat islam sesuai ABS-SBK sebuah filosofis yang sangat
sering disebut, namun kurang sering diimplementasikan. Ada memang yang
disebut spirit atau ghiroh dalam beragama, sayangnya bagi sebagian orang
justru ini yang lebih didahulukan daripada kegunaan agama dalam kehidupan
seperti yang telah dikupas oleh Evi. Soal pernyataan Rarach, saya nilai
adalah sebuah interpretasi pribadi dalam context waktu, dimana
"pemberdayaan" lebih diperlukan daripada sekedar "kemegahan", kok para
mamak-mamak langsung mau angkat golok? katanya mau mambangkik batang
tarandam.
Pemikiran Rarach dan pemikiran apakah pajak itu bagian dari zakat adalah
wacana diskusi dalam Islam yang masih akan terus berlangsung, inilah
dialektika kehidupan, entah kalau kita semua mau menjadi Islam literal
seperti yang banyak di Pakistan dan Afgfhanistan, apalagi kalau bicara siapa
yang harus dibela, apakah tema Islam yang membela orang miskin itu banyak
dalam Al-Quran dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, persoalan kita
sekarang justru kehilangan kemampuan menjalankan itu. Kembali kepokok
persoalan, kebebasan berfikir itu yang dibutuh oleh urang minang, tanpa itu
kita hanya akan jadi jumud dan jauh dari pencerahan.
Salam

St. Bagindo Nagari

----- Original Message -----
From: " -- (*V*) --" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, November 27, 2002 7:52 AM
Subject: Re: [RantauNet.Com] Heh ...


> Assalamualaikum,
>
> Mak Buyuang yth,
>
> Kata orang ini adalah bulan ramadhan, bulan penuh berkat, bulan
> penuh hikmat, saya jadi bertanya pada sendiri, apa iya bulan
> penuh rahmat ini berlaku juga pada warga RN? Sekarang coba mak
> Buyuang buka lagi postinganya Rarach yang memicu "geregatan"nya
> warga RN, selain "menghujat" (menurut saya, ungkapan yang sangat
> represive), Rarach juga menuliskan tentang "membeli kambing"
> bukan? Disitu ada pro dan kontra yang kalau mau dipikirkan lebih
> cermat berisi sisi positif dan negatif.  Yang membuat saya
> prihatin adalah, seluruh reaksi yang di berikan kepada Rarach
> sejak kemarin, hanya membesar-besarkan sisi negatifnya saja.
> Hingga saya buat counter ini, belum satupun satupun dari warga
> RN yang bisa melihat sisi positif dari maksud si Rarach bahwa
> alangkah baiknya jika duit yang akan dibuat mesjid atau yang
> akan dipakai untuk menghajikan orang tidak mampu itu di belikan
> pada kambing. Jika menurut Ronal bahwa setiap jengkal bumi Allah
> ini adalah mesjid, untuk apa membangun "fisik" mesjid yang sudah
> kebanyakan dan 'kosong" pula di kampung awak. Bila uang tersebut
> dibelikan pada  beberapa pasang kambing, dan diberikan pada
> keluarga tidak mampu, sudah itu diberi pula cara2 mengembang
> biakannya, saya rasa mesjid akan jauh lebih kokoh terbangun di
> hati keluarga yang meningkat kesejahteraannya tersebut.
>
> Saya sedang baca Business Week yang memuat Kristen dan Yahudi
> kaya yang saat ini sedang ramai-ramai menyumbangkan kekayaannya
> pada seluruh umat manusia. Bill dan Melinda Gate menyumbang
> hampir 17 Miliar dolar AS untuk membuat sebuah organisasi
> filantropis. Sumbangan pertama organisasi ini adalah 750 juta
> dolar AS untuk Global Fund for Children's Vaccines. Ada Ted
> Turner yang menyisihkan 1 miliar dari kekayaan bersihnya untuk
> mendukung kegiatan2 PBB, ada George soros yang sedang
> giat-giatnya membangun masyarakat terbuka di eropa timur. Melok
> kebelakang, ada Jhon D. Rockefeller, Russel Sage, Andrew
> Carnegie (ini penulis the gospel of wealth yang terkanal itu)
> dll. yang menyisihkan beberapa persen dari kekayaan mereka
> kepada kemanusiaan.
>
> Mak Buyuang, maksud saya memberikan contoh diatas adalah, saya
> sedang miris bahwa Islam yang katanya penuh rahmat itu, kok
> belum melahirkan para filantropis yang sebanding dengan
> filantropis kristen dan yahudi diatas. Suka atau tidak dalam
> perubahan dan perkembangan dunia yang makin rasional, kita butuh
> filantropis seperti diatas untuk membangun Islam yang kuat.
>
> Kita memang butuh bangunan mesjid tapi untuk saat ini, apa tidak
> sebaiknya kita mulai memikirkan idenya Rarach untuk membeli
> bibit beberapa ekor kambing, sapi, ayam dan tanaman2 pangan
> untuk dibawa ke kampuang? suka atau tidak, Rarach memang seorang
> islam yang smart, apa mau di kata. Apabila sebuah kecerdasan
> diukur dari kemampuan manusia untuk berfikir secara abstrak,
> Rarach sudah memenuhi kualitas tersebut, apa mau di kata. Bila
> kecekatan berfikir manusia diukur dari kemampunya untuk terlepas
> dari simbol2 dan masuk kedalam esensial permasalahan, Rarach
> sudah menemukannya, apa mau di kata.
>
> Kesimpulan: Saya mendukung Rarach.
>
>
> ==Evi++
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Zubir Amin" <[EMAIL PROTECTED]>
>
> >        On dated,Tue,26 Nov 2002,sanak MIKO al wrote:
> >        "...harus gue akui...garah rarach itu"smart"..
> >        ----------------------------------------------
> >
> >        Kalau"caro" sanak Miko menegur "adinda"sanak itu,baru
> namonyo sangat elegance alias smart,alias haluih lambok,kecek rang



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke