|
Kayaknya nih orang lagi sakit & mati
rasa
----- Original Message -----
Sent: Friday, November 15, 2002 7:26
PM
Subject: [RantauNet.Com] : Mutiara
Tabarruj - Memamerkan
Aurat Sumber: Ni'mah Rasyid Ridha, bit tasharruf asy syadid waz
ziyadah.
Bila seorang wanita tidak memakai penutup kepala
maka ia telah bertabarruj. Bila ia membiarkan lengan tangannya tidak
terbungkus kain maka ia telah bertabarruj. Bila ia mempertontonkan betisnya
dinikmati orang maka ia telah bertabarruj. Apatah lagi jika aurat wanita itu
malah dilombakan. Kontes bibir indah, leher indah, betis indah, rambut indah
dsb. Semua itu tak syak lagi, termasuk tabarruj. Pendeknya, tabarruj,
sebagaimana dikatakan Imam Al Bukhari adalah perbuatan wanita yang
memamerkan segala kecantikan yang dimilikinya.
Tabarruj
diambil dari akar kata al buruj yang berarti bangunan benteng, istana atau
menara yang menjulang tinggi. Wanita yang bertabarruj berarti wanita yang
menampakkan tinggi-tinggi kecantikannya, sebagaimana benteng atau istana
atau menara yang menjulang tinggi-tinggi.
Tabarruj adalah perbuatan
nista yang tegas-tegas diharamkan Allah. Allah berfirman: "Katakan lah
kepada wanita-wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya
dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kerudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya
kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau
putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara saudara
mereka, atau putera-putera saudara-saudara perempuan mereka." (An Nur;
31)
Tidak Tahu Malu. Wanita yang bertabarruj kurang lebih sama
dengan orang yang menawarkan kecantikannya untuk dinikmati orang lain. Ia
menja jakannya di jalan-jalan, di pasar-pasar dan di berbagai tempat
pertemuan. Laksana seorang penjual gula-gula yang menghiasi barang
dagangannya dengan warna-warni yang menarik dan kertas-kertas yang
mengkilat, sehingga mengundang perhatian dan membangkitkan selera.
Demikianlah, wanita yang bertabarruj biasanya memoles bibirnya
dengan lipstik, memakai parfum yang wanginya menyengat hidung, mengenakan
pakaian warna-warni, ketat dan pendek, jalannyapun melenggak-lenggok. Bila
berbicara suaranya dibuat mendesah agar bisa memikat dan menyihir laki-laki.
Lisanul hal (fakta diri wanita) itu seakan berkata kepada setiap
laki-laki yang ditemuinya: "Tidakkah kau pandang kecantikanku ini ? Apakah
ada yang senang berkencan dan bersetubuh denganku ?" Duhai, sebegitu
rendahkah harga wanita? Sebegitu tebalkah kegelapan menyelimuti hatinya
sehingga tak sebersitpun punya rasa malu bahkan malah bangga dengan
kemaksiat annya? Sebegitu kuatkah wanita menahan perasaannya, padahal konon
wanita adalah makhluk paling perasa? Sebegitu kokohkah jiwanya sehingga tak
merasa risi ketika sorot nanar mata setiap lelaki singa menghunjam lekat
pada tubuhnya ingin menerkam dirinya? Atau malah mera sa ni'mat dengan nya?
Na'udzu-billah. Nabi bersabda: "Jika memang tak tahu malu, lakukanlah setiap
apa yang kamu mau", demikian kemurkaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Kecantikan Sejati. Biasanya, yang memotivasi wanita bersolek
dan berhias adalah agar dirinya dikatakan dan dipandang cantik oleh
laki-laki sehingga tertarik padanya. Maka, untuk mengejar target cantik ini
wanita terkadang rela mengorbankan segalanya, bahkan hingga reputasinya
sebagai wanita muslimah yang terhormat.
Di sini, banyak wanita yang
lupa tentang kecantikan sejati. Mereka mati-matian membentuk dan mengolesi
setiap anggota tubuhnya dengan bahan kosmetika. Benarkah dengan demikian
mereka menjadi cantik? Tidak, tetapi malah sebaliknya. Bibir basah yang
diolesi lipstik merah menyala adalah seperti anjing yang baru menjilat darah
mengalir. Pipi kemerah-merahan dan alis yang berbentuk bulan sabit
mengingatkan kita pada alis-alis setan yang digambarkan dalam berbagai
dongeng. Kuku yang dicat merah, seperti kuku binatang pemakan daging yang
tercelup oleh darah binatang mangsanya. Sedang melakukan telanjang dada,
lengan, betis, buah dada membuat lelaki sulit membedakan antara dirinya
dengan seorang pelacur.
Mengapa manusia memperburuk diri?
Segala sesuatu yang melewati batas akan menjadi sebaliknya. Kecantikan yang
hakiki adalah karya Allah, Dzat yang mencipta segala sesuatu secara cermat
dan sempurna.
Seorang pelukis yang piawai adalah yang mampu meniru
kecermatan ciptaan Allah. Dia mencoba memperhatikan unsur-unsur alaminya
dari segala sudut secara sempurna. Kalau sampai dia berle bihan, atau
mengubah salah satu warna atau menempatkan satu bagian tidak pada tempatnya
maka akan berantakanlah pekerjaannya.
Demikian pula wanita. Sudah
berapa banyak wanita yang mengotori kecantikannya dengan bersolek secara
berlebih-lebihan? Sudah berapa banyak wanita yang menjadi korban alat-alat
kosmetika, ingin mempercantik diri tapi malah menjadi tertawaan orang?
Kecantikan yang sesungguhnya adalah kecantikan alami. Warna merah
rona wanita yang timbul dari rasa malu, jauh lebih indah dan tak tertandingi
oleh warna merah kosmetik yang terbaik sekalipun. Bagaimanapun juga, tangan
manusia tidak akan mampu meniru kecantikan yang dicip takan oleh Allah.
Daya Tarik Wanita. Sebagian wanita mengira kecantikan adalah
daya tarik satu-satunya yang bisa menawan setiap lelaki. Karena itu,
seharian yang diurusnya adalah bagaimana bisa tampil cantik dan
memamerkan keindahan tubuhnya. Benar, dengan penampilannya yang cantik dan
erotis ia akan bisa memikat banyak laki-laki. Tetapi keterpikatan itu bukan
untuk sesuatu yang suci. Sebaliknya, untuk tenggelam bersama wanita
tersebut dalam syahwat dan lumpur dosa. Selanjutnya sikap demikian itu akan
menjadi bumerang bagi wanita itu sendiri. Karena yang hampir pasti dilakukan
laki-laki itu adalah seperti dikatakan pepatah "habis manis sepah dibuang".
Di samping, adakah laki-laki yang mau 'barang' bekas? Para lelaki
akan beranggapan, jika wanita itu dengan mudahnya melanggar perintah Allah
dengan bertabarruj maka tak menutup kemung kinan ia juga berani melakukan
yang lebih jauh dari itu. Akibatnya, tak seorang lelakipun yang
menyuntingnya sebagai isteri. Bahkan lelaki seburuk apapun akhlaknya, ia
akan lebih memilih wanita yang suci dan terhormat daripada wanita yang tiap
hari sudah 'dicicipi' oleh semua mata dan syahwat.
Identitas
Wanita Suci dan Terhormat. Allah berfirman:"Hai Nabi katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuan-mu dan isteri-isteri orang mukmin,
hendaklah mereka mengulur kan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka
tidak diganggu..."(Al Ahzab: 59) Sebelum turunnya ayat ini,
sebelum dikenal nya WC, para wanita muslimah seperti yang lain juga buang
hajat di padang terbuka. Sebagian orang mengira kalau dia adalah budak.
Ketika diganggu, wanita muslimah itu berteriak lalu laki-laki itu pun kabur.
Kemudian mereka mengadukan peristiwa tersebut kepada Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam sehingga turunlah ayat di atas.
Hal ini menegaskan, wanita
yang memamerkan auratnya dan mempertontonkan kecantikan dan kemolekan
tubuhnya lebih berpotensi menjadi korban pelecehan seksual bahkan perkosaan.
Sebab dengan begitu, ia telah membangkitkan nafsu seksual laki-laki.
Adapun wanita muslimah, ia senantiasa berjilbab, membungkus dan
menyembunyikan kecantikan dan perhiasannya. Tidak ada yang kelihatan dari
padanya selain telapak tangan dan wajah menurut suatu pendapat. dan pendapat
lain mengatakan, tidak boleh terlihat dari diri wanita tersebut selain
matanya saja.
Allah mensyariatkan jilbab agar menjadi benteng bagi
wanita dari gangguan orang lain. Jilbab adalah lambang ketakwaan dan Islam.
jilbab adalah bukti masih adanya rasa malu. jilbab adalah pagar
kehormatan dan kesucian. dan ia pula merupakan identitas wanita suci
dan terhormat.
Termasuk tanggung jawab Laki-laki. Pelaku
tabarruj tentu wanita. namun itu bukan berarti laki-laki lepas tanggung
jawab daripadanya. sebab, dampak buruk tabarruj tak saja bagi wanita yang
bersangkutan, tetapi juga segenap masyarakat.
Bahkan kalau secara
jujur diakui, sumber bencana tabarruj ini adalah kaum laki-laki yang tidak
becus memikul tanggung jawab sebagai pemimpin wanita. dan itu timbul karena
kebodohannya atau pura-pura bodoh. padahal mereka dituntut untuk menjaga
wanita baik selaku ayah, suami atau saudara sebagaimana Rasul Shallallahu
Alaihi wasallam bersabda "masing-masing kamu adalah pemimpin, dan setiap
kamu bertanggung jawab atas kepemim pinannya." (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Mereka diperintahkan memperhatikan dan mendidik akhlak, agama,
kepentingan dunia dan akherat wanita. dan itu salah satu tugas
kepemimpinan laki-laki atas wanita, sebagaimana firman Allah: "kaum
laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita." (An Nisa': 34) wanita
yang rusak di antaranya karena didorong dan diberi peluang oleh ayah atau
suami yang juga rusak dan tidak mengenal Allah.
Betapa banyak anak
wanita yang sengsara dan celaka karena disesatkan oleh ayahnya sendiri,
sehingga dia tidak mengenal agama dan tidak mengenal rasa malu. Berapa
banyak anak wanita yang merana hidupnya karena ayahnya lemah kemauan dan
menjadi budak nafsunya sendiri. dia hanya kenal Islam dan Iman kepada Allah
dan KitabNya. Dia hanya sekedar shalat, puasa dan membaca Al Qur'an, tetapi
tidak menyuruh yang baik dan mencegah yang mungkar. Buktinya dia sangat
mendukung tabarruj dan membenci jilbab. Jilbab dianggapnya
belenggu yang menghalangi kebebasan puterinya mempertontonkan kecanti kan
dan kemolekan tubuhnya. Konon, yang demikian itu ia lakukan karena rasa
cinta dan kasihan kepada puterinya agar bisa menikmati kehidupan remajanya.
lalu, sesudah agak besar, sang ayah melemparkannya ke dalam pelukan seorang
suami yang sama bejatnya. sang suami dan sang ayah sepakat untuk
menyesatkan. dalam gandengan ayah dan suaminya dia menuju ke Neraka Jahim.
Apakah itu cinta jika anda menyodorkan puteri Anda menjadi sasaran
murka dan siksaan Allah? Mengapa Anda tidak selamatkan puteri Anda dari
cengkeraman setan? Sesungguhnya Anda dan kita semua orang beriman wajib
merealisasikan seruan Allah: "Wahai orang-orang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu." (At Tahrim: 6)
|