�Indonesia, my country right or wrong. If it is Wrong, make
     it Right. If it is Right, keep it Right � (�Value� atau motto
     Milis �Apa Kabar� yang ditulis oleh Mas Dharmawan Ronodipuro).

Waktu adalah seperti anak panah yang meluncur dengan kecepatan dan
ketinggian konstan, menyusur langit, laut, gunung dan pepohonon; pagi,
siang dan malam, dan membawa purnama Ramadhan bergulir ke titik nadir.

Ini adalah Ramadhan yang berat bagi kapal besar yang bernama Indonesia
yang bocor di sana sini dan diterpa oleh parahara laut yang ganas,
dengan piston megap-megap---karena bahan bakar yang banyak dijarah di
sana sini oleh para pencoleng---memukul-mukul ruang pembakaran guna
menghasilkan energi yang diperlukan untuk memutar baling-baling guna
mendorong kapal  besar ini menuju pulau harapan.

Ledakan bom yang dilakukan para angkara  murka 12 Oktober 02 di Legian,
tidak saja meninggalkan luka kemanusiaan yang dalam, tetapi juga
menimbulkan kerusakan di ruang mesin dan meninggalkan lubang yang
menganga di lambung kapal, sehingga menyebabkan kapal Indonesia semakin
terseok-seok dan limbung.

�Indonesia belum menyerah!� pekik Majalah Tempo dalam edisinya
memperingati Hari Pahlawan 10 November yang lalu.

Indonesia belum menyerah, kapal besar, yang bocor di sana sini, kapal
besar yang sedang oleng diterpa prahara laut yang ganas memang belum
menyerah.

Tetapi apakah memang ada pilihan selain dari tidak menyerah?

Ledakan bom yang dilakukan para angkara  murka Tanggal  12 Oktober 02 di
Legian, memang telah  meninggalkan luka kemanusiaan yang dalam kepada
bangsa ini, dan menyebakan kapal Indonesia semakin limbung.

Tetapi luka kemanusiaan di republik tercinta ini jelas tidak hanya
Legian. Di Papua, Maluku, Poso dan---terutama---di Aceh, luka tersebut
masih menganga dan berdarah-darah.

(Menurut data yang dikumpulkan LBH Banda Aceh seperti yang dikutip
Kompas beberapa waktu yang, konflik bersenjata di NAD dalam satu tahun
terakhir ini telah menelan korban sebanyak 4.385 orang warga sipil. Dari
jumlah itu, 1.228 orang di antaranya meninggal dunia, 1.854 orang
mengalami penyiksaan, 330 orang penghilangan secara paksa, dan 973 orang
penangkapan dan penahanan sewenang-wenang. Dan manusia yang  4.385 jiwa
tersebut jelas tidak hanya sekedar angka! Mereka itu manusia Indonesia
seperti kita, tidak lebih dan tidak kurang. Mereka itu manusia-manusia
yang tidak berbeda dengan manusia-manusia yang kehidupannya tercerabut
secara paksa di WTC New York  oleh para angkara murka dalam tragedi 11
September tahun lalu. Mereka  manusia- manusia yang yang tidak berbeda
dengan dengan manusia-manusia yang kehidupannya tercerabut secara paksa
oleh para angkara murka dalam tragedi 12 Oktober lalu di Legian, Bali,
tidak lebih dan tidak kurang)

Setiap saya mengakses Web Milis �Apa Kabar�, mata saya selalu tertumbuk
kepada �values� atau motto yang ditulis Mas Dharmawan Ronodipuro yang
saya kutip di atas:  �Indonesia, my country right or wrong. If it is
Wrong, make it Right. If it is Right, keep it Right �. Sebuah motto
sederhana, tetapi kuat makna, dan merupakan sesuatu yang niscaya, kalau
kita ingin kapal besar yang bernama Indonesia ini tidak hanya sukses
bertahan untuk tidak menyerah terhadap gempuran prahara, tetapi juga
bisa melaju dengan kecepatan penuh menuju pulau harapan.

Persoalannya, sejauh mana kita---termasuk beliau-beliau yang berada di
anjungan Kapal Indonesia  yang bocor di sana sini, kapal besar yang
sedang limbung diterpa prahara---paham, ingin dan mampu menerjemahkan
ungkapan yang sederhana, tetapi kuat makna, dan merupakan sesuatu yang
niscaya itu dalam keseharian kita.

Faisal Basri, pakar dan pengamat ekonomi yang dikenal berintegritas
tinggi, berteriak-berteriak  tiap Senin di Harian Kompas mengenai
berbagai salah urus di Republik tercinta ini.

Tetapi Bung Faisal seperti berteriak di tengah Gurun Sahara!

Revrisond Baswir, pakar dan pengamat ekonomi lain yang juga dikenal
berintegritas tinggi, bahkan mendatangi dan berteriak-teriak di sejumlah
milis.

Tetapi Bung Sony juga seperti berteriak di tengah Gurun Sahara!

Padahal kita tahu tidak ada pilihan bagi Indonesia selain dari tidak
menyerah

Padahal kita tahu waktu adalah seperti anak panah yang meluncur dengan
kecepatan dan ketinggian konstan.

Padahal kita tahu---di atas segala-galanya---sejarah membuktikan bahwa
waktu tidak pernah mengenal kata maaf.

Sia-sia hutang tumbuh, cabar-cabar negeri (k)alah.

Mudah-mudahan duga-dugaan saya di atas salah

Ya, apalah awak ini.

Salam, Darwin



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke