Assalamualaikum ww
Manolah mamak & dunsanak sado alahno, selamat atas kelulusan ujian kenaikkan
tingkat dari Mosleem sejati menjadi Muttaqien Dan I, semoga predikat ini
tetap dipertahankan dan mudah2an Allah SWT memanjangkan umur kita agar dapat
pula mengikuti ujian berikutnya Ramadhan yad, insya Allaah, Amiiiin.

Hampia sabulan mamak indak kalapau, kok mamak indak salah tangkok ruponyo
sempat tajadi kalebuik dilapau kito ko, ehmmmm.... ehmmmm, maaf sajak sudah
rayo go mamak agak kohor saketek, mungkin agak talabiah makan kacang tojin,
ehhhmm, bialah nak mamak cubo sengenek manangahi.....ehhheeemmm...

Sebagaimana kita maklumi setelah Rasulullah dan khulafaurasyidin yang
berempat tiada pemerintahan Islam silih berganti dipimpin oleh beberapa
dinasti, dizaman dinasti Muawiyah abad ke 7, Islam berkembang hingga
keseluruh pelosok tidak terkecuali kearah matahari terbit, pada abad yang
sama di anak benua India juga telah ada kerajaan dan rakyat yang menganut
agama Budha

Penyebaran agama Budha yang diarahkan kekepulauan Nusantara lebih lancar
ketimbang Islam, hal ini disebabkan lebih dekatnya pusat agama Budha di anak
benua India ketimbang Islam yang nun jauh di Timur Tengah

Penyebaran agama Budha kepedalaman Sumatera di abad ke 7 melalui "Pesisir
Timur" terus menemukan muara2 sungai yang terus dimudiki hingga kepedalaman
sebagaimana tercatat Kerajaan Pamalayu Jambi maupun hulu pedalaman Sungai
Kampar dengan candi Muaratakus yang kelak sebagai titik awal berdirinya
kerajaan Melayu Minangkabau dilereng gunung Merapi Sumatera Tengah

Pada abad yang sama penyebaran agama Islam oleh para saudagar melalui
"Pesisir barat" pulau Perca terus berlangsung sejak dipesisir pantai di
utara seperti Singkil Aceh, Pasaman, Tiku, Pariaman, Ulakan, Padang dan
Inderapura Pesisir Selatan dan Bangkahulu, walaupun belum diketemukan bukti
tertulis, di Pariaman telah diketemukan batu nisan tertua bertahun 800an
jelas dari batu nisan ini siapapun yang telah berkubur disini menunjukkan
kuburan orang yang beragama Islam

Walau diyakini pesisir barat telah mengenal Islam sejak abad ke 7 namun
bukti yang paling dominan adalah kuburan Shekh Burhanuddin yang menerakan
wafat pada 15 Syafar 1116 (19 Juni 1704) di Ulakan Pariaman (para don snakes
yang belum pernah ke Ulakan silahkan kesana +/- 12 KM dari pasar kota
Pariaman)

De Haan seorang penulis yang membukukan kisah perjalanan Kapiten Thomas Diaz
(1684) mencatat bahwa daerah pedalaman Melayu Minangkabau pada tahun 1800an
telah menjadi pusat kehidupan keagamaan yang ditandai dengan telah
berhasilnya Alim Ulama melibatkan Rajo dan Panghulu Adat serta Anak &
Kemenakan kedalam percaturan politik agama dan kerajaan sebagai mana
disebutkan "Adat basandi Syara" ibarat Aur dengan Tebing, dimana aur tumbuh
kokoh karena uratnya menjalar mengokohkan tebing, tebing tidak longsor
karena dipegang kuat oleh urat aur (tamasuak korong Aua Tajungkang kampuang
proklamator M. Hatta yang tidak pernah longsor atau tajungkang itu) 

Masuknya Islam ke pedalaman Sumatera Tengah bukan tidak dengan membawa sekte
dan aliran2 yang telah berkembang dinegeri2 Islam lainnya seperti Turki,
Persia, Mesir, Iraq, Hadralmawt Yaman dan negeri2 Islam di Asia Tengah sebut
saja Sekte Tariqah Syattariyah yang berpusat di Ulakan Pariaman, kemudian
menyusul Shech Ismail Simabur yang berguru kepada Sayid Alawidis wal
Hadramawt Yaman Selatan mengembangkan Tariqah Naqsabandiyah di Luhak Agam
dan Luhak 50 Koto, kemudian Shech Achmad Kathib yang kemudian menetap di
Makkah menghujat kedua sekte sebelumnya yang menurut pandangannya telah
"diselinapi" bid'ah, demikian pula dengan masuknya Aliran Syi'ah ke pesisir
Pariaman dan Bengkulu (Aliran Syi'ah ini tidak dijumpai lagi di Pariaman dan
Bengkulu kecuali hanya terdapat beberapa sisa yang dianggap sebagai telah
menjadi budaya anak negeri yaitu " Tabuik" di Pariaman dan "Tabot" di
Bengkulu

Pada kurun pertengahan abad 18 hubungan Melayu Minangkabau dengan pusat2
Islam semakin mulus, hingga proses ortodoksi juga bertambah lancar, demikian
pula pengaruh pemikiran agama di Timur Tengah ditambah dengan semakin
banyaknya anak negeri yang kembali dari tanah suci yang kemudian dikenal
sebagai "Kaum Padri" yang oleh kebanyakan orang dinilai sebagai disamakan
dengan Kaum Wahabi karena kesamaan prinsip seperti sama2 membenci terhadap
merokok dan mengisok sugi atau tembakau, pemakaian perhiasan emas dan juga
kain sutera oleh lelaki, dan hal2 yang dianggap bid'ah atau meng-ada2 yang
tidak jelas asal usulnya menurut al Qur'an dan sunnah nabi dan tentu saja
telah secara beruntun melancarkan serangan atas "ketidak murnian" ajaran
Islam dan struktur sosial yang dianggap masih berlandaskan hukum jahiliah di
Nangro Melayoe Minangkabau.

Prof. BJO Scherieke dalam bukunya (1920-Pergolakan Agama di Sumatera Tengah
-diterjemahkan LIPI-1973) "membayangkan kegoncangan yang terjadi ketika umat
yang percaya dihadapkan kepada alternatif baru dalam cara penghayatan agama
dan adanya kegelisahan kulturil disaat tradisi yang telah lama dipupuk, kini
dinyatakan sebagai hal yang "terlarang menurut agama", ataupun
"terkebelakang dari sudut penglihatan dunia maju"

Kelompok terakhir sebagai "Kaum Muda" sebagaimana digambarkan oleh Prof. BJO
Schrieke dalam bukunya tersebut juga mencatat beberapa pertentangan mengenai
hal2 yang kurang berarti namun sangat sengit dilevel bawah seperti misalnya
ber"Usali"atau mengucapkan / melafazkan niat ketika akan memulai sholat,
mengucapkan "Bismillah.. ketika mulai membaca ayat2 dalam sholat, melafazkan
doa dengan suara keras, peringatan Maulud Nabi yang dianggap me-niru2
peringatan kelahiran Yesus Kristus (natal) kaum Nashara, Tahlil atau
pertemuan2 dirumah orang yang kematian pada hari matinya dan beberapa hari
sesudahnya seperti "manigo hari, manujuah hari, man dua kali tujuah hari, 40
hari dan 100 hari kematian simayit, dan tidak kurang sengitnya adalah
pertentangan penetapan permulaan puasa dan 1 Syawal dimana bagi "Kaum Tua"
yang oleh Prof. Schrieke disebut sebagai kaum "ortodoks kolot" yang tetap
masih berpegang teguh pada "Melihat" atau Ru'yath" anak bulan dan seandainya
anak bulan itu tidak nampak maka puasa harus digenapkan 30 hari 

Umat Islam yang telah meninggal hal2 kecil tersebut diatas tentu saja berhak
mengklaim dirinya sebagai "Pengikut Kaum Muda" sebagaimana istilah prof.
Schrieke diatas, walaupun tidak ikut berjuang bersama kaum Padri ataupun
tidak memiliki kartu anggota Muhammaddyah sebagaimana yang menjadi subject
dari maling list diatas, namun sekedar ka-buah barinyo dek mamak yang baru
pulang cuti ko, bahwa kita jangan mengartikan "melihat" itu dengan
pengertian "benar2 melihat dengan mata kepala" tetapi "melihat" itu dapat
berarti melihat dengan ilmu, katakalah melihat dengan ilmu falaq, melihat
dengan ilmu astronomi, melihat dengan ilmu matematika, melihat dengan ilmu
arithmatic atau ilmu hitung (ilmu hisab) dlsb

Kalau PP Muhammadyiah menyatakan bahwa Hilal 1 Syawal sudah pada posisi +
1.5 derjat diatas ufuk (horizon) yang berarti kita "harus" berbuka dan
diharamkan berpuasa pada 1 Syawal tersebut,  hendaknya diartikan jangankan +
1.5 derajat, + 0.00000015 derajat pun berarti sudah tidak bulan Ramadhan
lagi, kan jelas secara matematis kalau sudah pada posisi kordinat (>0.0) kan
berarti sudah tidak sama lagi dengan (=0.0) 

Demikian pula bila Allah mengatakan "Iqraq" bacalah sebagaimana bunyi ayat
alqur'an yang pertama turun , hendaklah kita artikan bukan "bacalah saja"
tetapi "bacalah dan pelajarilah", lhaa kita yang tidak emuh mempelajarinya,
kalau cuma dibaca doang, yaa.... begitulah jadinya, umat Islam ketinggalan
dari umat lain 

Amaaba'du, kemudian daripado itu, ambo nan indak pandai bana, kok lai bana
sakaciak itupun dapek man-danga2  dari urang, mohon maaf bilo kurang
berkenan
wasalam
Arman Bahar al Phili Malin Bandaro
mailto:[EMAIL PROTECTED] 
mailto:[EMAIL PROTECTED]

-----Original Message-----
From: asyrif zainal [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Monday, November 25, 2002 1:53 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [RantauNet.Com] Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal Jatuh pada 5
Desember
Buliah ba beda pandapek, asa jaan mambuek papacahan sasamo awak. dan jaan
pulo maraso paliang bana. Jaan
pulo manyarang pribadi sasamo dun sanak awak.
@rif
--- TLare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Khan awak alah tau, tabiat jo caro pemikiran angku awak ko dari dulu...
> ----- Original Message -----
> From: "Yenda" <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Friday, November 22, 2002 10:35 AM
> Mangucaplah Inyiak Basri Hasan oooooiiiiiiiiiiii  Baa dek katuju bana dek
Inyiak nan karuah karuah tu..!!!!. Dima ado nan karuah Inyiak lah ado pulo
disitu. Maaf kalau tasingguang.
> Best Regards,
> ----- Original Message -----
> From: "Andrizal Chaniago" <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Friday, November 22, 2002 9:38 AM
> Tadinya saya harapkan Basri Hasan akan memberikan suatu pencerahan yang
valid, namun ternyata dia hanya seperti seorang zionis (jangan artikan dalam
pikiran sempit) yang paling suka mencari celah untuk
> sekadar mencari gara-gara dan terus berlindung dibalik liberalis dan
demokratis. Kalau hanya sekadar menghujat dan cari gara-gara saya juga bisa
> Andrizal - Rang Sangka
> ----- Original Message -----
> From: "Irdam Syah" <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Friday, November 22, 2002 8:46 AM
> Subject: RE: [RantauNet.Com] Muhammadiyah Tetapkan 1
> Syawal Jatuh pada 5 Desember
> 'Ngku, labiah "fair" dipalajari dulu aa sabab-musababnyo baru komentar
atau diskusi... indak asa mambadia je doh..
> salam -tg-

-----Original Message-----
From: Madahar [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Friday, November 22, 2002 8:59 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [RantauNet.Com] Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal Jatuh pada 5
Desember
Ass. ww,
mak Ban, iko awak kirinan dari milis sabalah. tapi awak iyo ndak tau apokoh
nan iko mamak mukasuik.
salam

-----Original Message-----
From: Basri Hasan [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, November 21, 2002 10:15 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [RantauNet.Com] Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal Jatuh pada 5
Desember
Assalamu'alaikum wr. wb.
Ada nggak yang bisa memvalidasi bahwa perhitungan Muhamadiyah itu akurat,
seakurat perhitungan proyek Apollo 11 ke bulan dulu, rasanya bagi yang hidup
didunia astronomi nggak masalah tuh. Herannya kok urang Islam masih
penetapan tanggal saja masih persoalan, apalagi menegakkan syariah Islam.
Salam
SBN
-----Original Message-----
From: H. M. Nur Abdurrahman [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, November 21, 2002 7:45 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [surau] 1 Syawwal 1423 H
Assalamu 'alaykum wr.wb.
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
Mengapa Penentuan Awal Ramadhan Tidak Sama? 
Ada beberapa "protes" yang saya sempat pungut dari dunia maya tentang
penentuan awal Ramadhan, yang pukul rata maksudnya demikian: Di zaman modern
seperti ini, sudah ada komputer dan teropong bintang yang ditunjang oleh
satelit segala. Tetapi mengapa dalam menentukan awal Ramadhan mesti berbeda,
sehingga orang-orang awam jadinya serba tidak mengerti




RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke