Lintas Tengah Sumatera Jalur Padang-Pekanbaru Lumpuh - Rabu, 18 
Desember 2002

 Nusantara 
Rabu, 18 Desember 2002 

Lintas Tengah Sumatera Jalur Padang-Pekanbaru Lumpuh 
Padang, Kompas - 
Lintas tengah Sumatera jalur Padang-Pekanbaru lumpuh, menyusul 
terbannya badan jalan sedalam 20 meter sepanjang lebih kurang 100 
meter di Desa Alai, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Kampar, (Km) 
187,800 dari Pekanbaru, Provinsi Riau. 
Bus dan truk/tronton dari Jakarta atau Padang tujuan Pekanbaru 
disarankan melewati jalan alternatif Telukkuantan-Kiliranjao (170 km 
timur Padang).
Demikian dikatakan Kepala Dinas Kimpraswil Provinsi Sumatera barat 
(Sumbar) Ir Hediyanto WH MSCE dan Kepala Dinas Kimpraswil Provinsi 
Riau Ir Hendrik Sitompul, yang dihubungi terpisah di Padang dan 
Bangkinang, Selasa (17/12). "Peristiwa terbannya badan jalan dan 
lumpuhnya jalur Padang-Pekanbaru ini sudah kami laporkan ke Dirjen. 
Bus dan truk disarankan melewati jalur Telukkuantan-Kiliranjao bila 
hendak ke Padang atau sebaliknya," kata Hendrik Sitompul.
Hediyanto mengatakan, sehari sebelum badan jalan di Desa  Alai 
terban, badan jalan sepanjang 75 meter di Lubukjantan, Kecamatan 
Pangkalan, Kabupaten 50 Kota, Km 167 dari Padang, Sumatera Barat, 
tertimbun tanah longsor, sehingga jalur Padang-Pekanbaru pun lumpuh. 
Namun, timbunan tanah longsor dan bebatuan (galodo) tersebut baru 
berhasil disingkirkan sekitar 10 jam kemudian.
"Saya sudah menyurati Bupati 50 Kota agar penambangan batu/galian C 
di bukit pinggiran jalan jalur Padang-Pekanbaru tersebut dihentikan, 
apalagi sekarang musim hujan. Penambangan batu itu tidak bisa 
dibenarkan dan sangat membahayakan pemakai jalan," katanya.
Sejak Senin (16/12) pagi, jalan lintas tengah di wilayah Sumbar jalur 
Pekanbaru tidak ada masalah, namun harus tetap diwaspadai, karena 
longsor susulan bisa saja terjadi. Akan tetapi, badan jalan di 
wilayah Riau pula yang terban sehingga hubungan darat jalur  Padang-
Pekanbaru kembali lumpuh.
                        Tindakan darurat
                        Hendrik Sitompul yang dihubungi terpisah 
menjelaskan, 
                        amblas atau terbannya badan jalan Km 187,800 
di Desa 
                        Alai, Kabupaten Kampar, terjadi Senin pukul 
13.30 WIB. 
                        Saat kejadian tidak ada kendaraan yang lewat 
sehingga 
                        musibah itu tidak menelan korban jiwa. 
Awalnya, ratusan 
                        bahkan ribuan kendaraan, baik dari Padang dan 
juga dari 
                        Pekanbaru, terjebak.
                        "Sekarang sudah dilakukan tindakan darurat 
dengan 
                        mengerahkan 6 unit alat berat (buldoser) dan 
4 unit alat 
                        pemadat. Kalau cuaca bagus, tidak hujan, 
antisipasi 
                        secara darurat bisa dilakukan sekitar satu 
pekan. Untuk 
                        kendaraan kecil masih bisa melewati jalan 
alternatif, 
                        yakni jalan desa di Pulau Gadang Baru/Sungai 
Silau di 
                        Desa Pasir Pangaraian, sejauh 26 kilometer," 
katanya.
                        Badan jalan yang terban itu merupakan jalur 
utama 
                        Padang-Pekanbaru, yang sedikitnya dilalui 
11.000 unit 
                        kendaraan per hari. Dan merupakan pengalihan 
jalan 
                        akibat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga 
Air (PLTA) 
                        Kotopanjang. Untuk kendaraan jenis bus dan 
truk/tronton 
                        disarankan melalui jalan alternatif melewati 
                        Telukkuantan-Kiliranjao.
                        Menurut Hendrik Sitompul, terbannya badan 
jalan 
                        disebabkan jalan baru tersebut merupakan 
daerah timbunan 
                        tanah cadas. Akibat curah hujan yang tinggi, 
tanah cadas 
                        tersebut menjadi longsor.
                        Hal senada juga dikemukakan Hediyanto. 
Menurut Kepala 
                        Dinas Kimpraswil Sumbar itu, badan jalan yang 
dibangun 
                        baru akibat proyek PLTA Kotopanjang itu tidak 
terlalu 
                        baik, karena tanahnya gembur. "Apalagi 
pemadatan tidak 
                        dilakukan secara sempurna, sehingga 
memudahkan air masuk 
                        dan badan jalan menjadi terban,"ujarnya.
                        Baik Hendrik Sitompul maupun Hediyanto 
memperkirakan, 
                        jalan lintas tengah jalur Padang-Pekanbaru 
itu 
                        diperkirakan bisa pulih seperti semula dan 
bisa dilewati 
                        bus dan truk, memakan waktu sampai dua bulan.

( ........................)

                        dari gelombang pasang laut) di selatan. 
Akibatnya, 
                        aliran sungai selalu terhambat. (NAL/JAN)

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke