Satu hingga dua Minggu lalu banyak calon penumpang arus balik lebaran di
Bandara Tabing Padang berang-berang kepada maskapai Batavia Air. Kesal, sebal,
menggerutu, dan marah-marah itulah yang tampak pada calon penumpang.
Penerbangan Batavia Air yang seharusnya Jam 11.30 dicancel tanpa kepastian.
Dijanjikan penerbangan sore, ternyata tidak ada, lalu dijanjikan lagi malam
hari. Ada calon penumpang yang tidak sabar karena dia harus mengikuti
penerbangan lanjutan di Cengkareng pada sore harinya. Staf Batavia Air pun
sibuk melobi maskapai lain kalau ada bangku kosong, tapi nihil. Semua
penerbangan dari Padang ke Jakarta sampai tanggal 23 Desember full-book.
Ibu mertua kami pun merasakan kekecewaan yang mendalam. Datang dari Bukittingi
ke Padang jam 7 pagi, sampai di Tabing jam 9.00. Diperoleh informasi bahwa
pesawat ditunda entah jam kapan. Tapasolah ibu mertua bersama keluarganya
mencari hotel buat melepas penat di sekitar Tabing, karena Batavia Air
menjanjikan keberangkatan jam 20.30 (dari seharusnya jam 11.30). Biaya hotel
pun harus ditanggung sendiri. Ketika datang lagi ke Tabing setelah maghrib,
ternyata pesawat belum juga datang. Tunggu punya tunggu akhirnya pesawat pun
datang dan diberangkatkan jam 22.30 malam di tengah hujan deras yang mengguyur
kota Padang, sampai di Jakarta jam 24.00 malam! Air mata calon penumpang kalah
oleh derasnya suara hujan.
Apa yang dilakukan Batavia atas pelayananannya yang mengecewakan itu? Mereka
cukup menulis di secarik kertas di loket chek ini pengumuman berikut:
Penerbangan ditunda Jam 20.30 dan Jam 21.00. Mohon maaf
atas keterlambatan ini.
Cukup itu saja. Mereka merasa tidak bertanggungjawab terhadap kerugian moril
dan materil calon penumpang yang datang tidak hanya dari Padang, tapi juga dari
Dati II di Sumbar.
Bali Air? Tidak jauh beda (meskipun tidak separah Batavia). Pesawat yang kami
tumpangi dari Tabing tanggal 16 Desember yang seharusnya berangkat jam 15.25
akhirnya berangkat jam 18.45. Itupun setelah diperbaiki dulu kerusakan selama
45 menit, padahal penumpamg sudah dipersilakan naik pukul 17.30. Yang kasihan
adalah bayi/balita yang tidak nyaman dengan penundaan itu. Mereka menangis-
menangis di dalam pesawat. Pesawat yang dipakai pun tidak memiliki logo Bali
Air, tetapi pesawat no-name tanpa identitas (barangkali pesawat pinjaman).
Hal lain yang bikin kesal adalah proses chek in yang lama, baik di Jakarta
maupun di Padang. Berhubung mereka belum online, maka check in dilakukan secara
manual (tanpa komputer sebagaimana halnya Mandala atau Garuda). Bayangkan
puluhan sampai lebih seratusan orang antri menunggu chek in di ruangan bandara
yang sempit.
Itulah resiko naik pesawat dengan tarif murah (Bali Air = Rp 490.000, Batavia
Air = Rp 650.000). Mungkin tarif itu sebanding dengan pelayanan mereka yang
amburadul, tidak profesional, dan jika merasa bersalah cukup meminta maaf
(tanpa kompensasi apa pun).
Wassalam
Rinaldi Munir
Tinggal di Bandung.
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================