Senin, 23-12-2002 09:00 wib Silaturahmi Ulama Sumatra Berakhir, �Rekomendasi Padang�: Perbaiki Akhlak!PADANG, Mimbar � Akhlak adalah kata kunci untuk menyelesaikan berbagai krisis yang melanda bangsa ini. Maka itu inti dari 11 butir taushiyah atau rekomendasi dari pertemuan Padang adalah perlunya perbaikan akhlak, pemimpin maupun yang dipimpin. Silaturahmi ulama se-Sumatra yang juga diikuti kalangan cendikia wan, perguruan tinggi dan ormas Islam, yang berlangsung selama tiga hari penuh, Jumat-Ahad (20-22/12/2002) di Hotel Bumiminang berakhir sudah. Silaturahmi yang juga diikuti Sekjen MUI Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua PP Muham madiyah Prof. Dr. Syafii Maarif, man tan menteri Ir. Sis wono Yudohusodo, Ir. Sarwono Kusumaat maja, Kasum TNI Let jen TNI Agus Widjojo, berhasil menelorkan 11 butir taushiyah atau �rekomendasi Padang� (lihat tabel)Tim perumus taushi yah tersebut terdiri dari Prof.Dr. Ir.H. Fachri Ahmad, M.Sc (ketua), Prof. Dr. H. Maidir Harun, MA (sekreta ris), Dr. H. Muslim Ibrahim, MA (anggota), Drs. H. Shofwan Karim Elha, MA, Prof. Dr. H.Nasrun Haroen, MA. Anggota tim perumus lainnya Dra. Dewi Utama Fauziah, M.Ed, Prof.Dr. H. Wardini Ahmad, Prof. Dr.H. Mansur Malik Dt.Sigoto, Drs. H. Duski Samad,MA, Prof. Dr. H. Djalaluddin Rahman,MA, Dr.H. Syafruddin Karimi, MA, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap, MA, Hj. Mahdiah, SH, M.Hum, Drs. Icu Zukafril, M.Si dan Drs. H.Azhar Makmur, MA. Silaturahmi ulama se-Sumatra, kata Ketua tim pengarah Fachri Ahmad, didasari atas keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang tak kunjung bisa kelu ar dari krisis multidi mensional. Persoalan yang terjadi tersebut, bukan berarti tidak diketahui. Hanya saja, selama ini siapa yang akan memulai dan ka pan upaya pengentasan krisis tersebut akan dimulai. Apalagi krisis moral dan kepemimpinan hampir melanda seluruh negeri ini. �Nah, mungkin keti ka banyak pihak secara kelembagaan belum mampu untuk berpe ran, termasuk MUI sendiri, maka prakarsa yang dilakukan ulama sangat kita hargai,� sebut Fachri, dalam keterangan pers didam pingi tim perumus taushiyah, usai menutup silaturahmi ulama tersebut, Ahad sore (22/12/2002). Dalam silaturahmi ini, lanjutnya, akhlak merupakan kata kunci dalam pembahasan dari banyak nara sumber. Sebab ruh dari taushiyah yang dilahirkan secara bersama-sama tersebut adalah keteladanan. �Jadi, isi dari taushiyah tersebut bukan ditujukan atau �ditembakkan� bagi seseorang, melainkan untuk siapa saja,� jelasnya. Hal yang sama juga dikuatkan Hj. Mahdiah. Menurutnya, krisis kepemimpinan tersebut berawal dari krisis akhlak. Karena itu, tema silaturahmi ulama ini lebih menekankan pada aspek pembangunan akhlakul karimah. Dengan demikian, substansi dari pembicaraan dalam silaturahmi ini lebih banyak mengupas persoalan akhlakul karimah, di samping aspek pembahasan lainnya. Bagi ketua panitia acara silaturahmi ulama, Icu Zulkafril, gawe besar yang diangkatnya tersebut sama sekali tidak memiliki tendensius. Begitu juga, pertemuan tersebut sama sekali tidak bertujuan politis. Meski begitu, akunya, untuk menggelar acara tersebut pihaknya terpaksa kerja keras untuk meyakinkan banyak pihak di Jakarta. Bahkan sampai-sampai dia menerangkan secara rinci maksud digelarnya silaturahmi ulama tersebut kepada petinggi Mabes Polri, BAIS dan sejumlah pihak terkait lainnya. Icu mengakui, hal itu wajar saja. Sebab silaturahmi ulama tersebut tidak hanya diikuti para ulama dan cendikiawan se-Sumatra, akan tetapi juga melibatkan tokoh-tokoh nasional, termasuk dari kalangan TNI/Polri. Icu, salah seorang urang awak yang cukup berpengaruh di Jakarta ini membantah silaturah mi ulama tersebut memiliki agenda khusus, termasuk menjelang Pemilu dan suksesi 2004. �Silaturahmi ulama ini sama sekali tidak memiliki grand design (agenda besar) untuk kekuasaan,� tegasnya. Icu menegaskan hal itu, sebab untuk menggelar kegiatan berskala nasional, banyak menimbulkan interpretasi beragam di kalangan sebagian orang. Karena itu, lanjutnya, silaturah mi ini betul-betul untuk berupaya memperbaiki kondisi bangsa dan kemaslahatan umat. Selain itu, sesuai rencana bahwa silaturahmi ulama di Sumbar ini, merupakan tahap pertama dari empat kegiatan yang bakal digelar di tempat terpisah. �Usai di sini, acara serupa akan digelar di tiga kota lainnya yakni di Banten, Pontianak dan Manado,� jelas Icu. Silaturahmi di Padang, sambungnya, lebih menekankan aspek akhlak, umat. Silaturahmi di Banten nantinya lebih terfokus membahas ekonomi, di Pontianak membahas kehutanan. Sedangkan silaturahmi di Manado akan menitikberatkan pada aspek kelautan. �Hasil dari silaturahmi yang dituangkan dalam taushiyah ini nantinya kita sumbangkan kepada negara melalui para pemimpin, dalam upaya memperbaiki kondisi bangsa yang sudah porak-poranda ini,� sambungnya. Icu sendiri sendiri mengakui, dari pembicara yang diharapkan hadir, sebagian dari mereka tak bisa memenuhi undangan panitia. Diantara pembicara yang direncanakan ikut memberikan materi adalah praktisi hukum Abdul Hakim Garuda Nusantara, SH,MH. Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin, Prof. Nazaruddin Syamsuddin. �Kebetulan pada saat yang sama para pembicara tersebut ada acara, sehingga tak bisa hadir dalam silaturahmi ini,� jelas Icu. hen |
Title: Maize

